CATATAN KEBERKARYAAN SEPANJANG 2018—JELANG 2019: NULIS BOLEH LIBUR, KREATIF JALAN TERUS!

Kalau saja Badan Bahasa tidak mengirim saya untuk menunaikan residensi di Seram Bagian Barat, Maluku, pada April 2018, mungkin tahun ini saya tidak akan menulis-terbitkan (draf) buku. “Berburu Suami”, begitu kumpulan catatan perjalanan program sastrawan Berkarya di Wilayah 3T itu mulanya saya juduli, saya serahkan dummy-nya pada Juni 2018. Akhir November ini buku tersebut diperbanyak Badan Bahasa di bawah judul “Bercerita dari Piru”. Saya diundang dalam acara peluncurannya pada pembukaan Kongres Bahasa namun jadwal yang padat di Lubuklinggau membuat saya harus urung ke Jakarta.

Ya, novel “Cinta Menggerakkan Segala (bersama Helvy Tiana Rosa) yang dirilis Republika ketika saya masih menjalankan residensi di Maluku sejatinya telah rampung saya tulis pada 2017. Buku puisi “Hujan Turun dari Bawah” (Grasindo, Juli 2018) bahkan sudah ditulis sejak 2008 dan rampung ketika saya berada di bandara Abu Dhabi, Maret 2015.

Dua cerpen saya yang dirilis Jawa Pos tahun ini juga memiliki catatan proses kreatif yang unik. Mulanya saya tak menulisnya sebagai “cerpen” sebelum kemudian saya sadar kalau keduanya bisa saja menjelma “cerpen-(dalam format)-yang-lain”. “Lubuk-lubuk itu, Raudal, Ada di Lubuklinggau” yang terbit pada bulan April sejatinya adalah esai perjalanan yang saya tulis pada tahun 2014 dan dua bagian “Gadis Kamarian, oh Gadis Kamarian” (Desember 2018) mulanya adalah catatan antropologik Negeri Kamarian, Seram Bagian Barat.

Kalaupun ada yang benar-benar saya tulis di tahun ini dan sempat saya publikasikan ialah dua puisi—“Bayangan” dan “Rahasia”—di laman kurungbukadotcom, media sastra daring yang diinisasi oleh Komunitas Rumah Dunia dan mengudara secara resmi Desember ini. Redakturnya meminta puisi-puisi saya untuk edisi perdana media ini sehari setelah saya merampungkan dua puisi yang mulanya hendak saya simpan saya di arsip laptop saya. Ini yang namanya jodoh!

Selebihnya, tahun ini saya menulis sebuah esai tentang caleg di Berita Pagi dan sebuah esai tentang tsunami Palu di Sumatra Ekspress.

Meskipun Badan Bahasa menyilakan karya hasil residensi saya di Seram Bagian Barat dicetak secara masif—baik oleh penerbit mayor atau tidak, namun saya merasa himpunan catatan perjalanan itu belum cukup matang untuk dilempar ke publik. Sejatinya, saya memendam kekhawatiran kalau-kalau nasib “Bercerita dari Piru” akan sama dengan “The Birds Walking in Auckland/Semua Burung Berjalan Kaki di Auckland”, kumpulan esai perjalanan dwibahasa hasil residensi saya di Selandia Baru (November-Desember 2016) yang saking perfeksionisnya pekerjaan menyunting saya, hingga hari ini ia belum juga diterbitkan. Namun, saya tak ingin ngotot memaksakan sebuah karya harus menemui pembacanya kalau saya merasa memang belum saatnya. Saya percaya sekali dengan insting!

Ya, secara kekaryaan, saya memang sengaja mengambil jeda. Saya tak lagi mengejar produktivitas yang menciptakan pengulangan belaka tanpa temuan dan tawaran baru pada bentuk-bentuk kegembiraan yang mungkin saya dapatkan. Kegembiraan saya lho ya? Kegembiraan pembaca mah urusan mereka masing-masing. Saya termasuk kategori penulis yang tidak nafsu banget untuk memenuhi hawa nafsu pasar.

Saya memilih bersenang-senang dengan kegiatan kreatif untuk khalayak lewat lembaga kebudayaan yang saya rintis sejak 2012: Bennyinstitute!

Bennyinstitute Acting Class (BWC) dan Bennyinstitute Writing Class (BWC) angkatan ke-2 dan ke-3 (Januari 2018—sekarang), 2nd Lubuklinggau Short Movie Festival (April-Juli 2018), Seminar Sejarah Lubuklinggau (Juli 2018), 2nd Lubuklinggau Student Short Movie Festival (Agustus-September 2018), menyutradarai pertunjukan “Bila Mencintai Dayang Tari” berdasarkan buku naskah lakon berjudul sama yang saya tulis-rilis pada 2016 dan Silampari Arts Fair (November 2018) adalah rangkaian kegiatan yang membuat masa jeda saya tak terasa membosankan. Bahkan saking menikmatinya, membuat saya meninggalkan aktivitas menulis—paling tidak merilis esai pendek pekanan—dalam beberapa bulan. Tapi tak apa, saya tak menyesalinya. Namanya juga jeda kok. Mengambil liburan cum berjibaku dengan urusan yang menawarkan kreativitas yang lain. Nulis boleh libur, kreatif jalan terus! Lumayan lelah memang, namun tak ada apa-apa bila dibanding dengan kegembiraan yang saya raup kemudian, dengan energi yang siap-pakai untuk 2019!

Oh tidak. Ya, tahun ini sejatinya saya tetap menulis. Namun saya meneroka genre lain. Yang tetap menantang dan mengasyikkan. Saya menulis tiga (draf) buku cerita anak untuk saya bacakan pada ketiga putri saya untuk mengantar mereka terlelap. Kalian tahu, bukan, betapa mahalnya harga buku cerita anak di pasaran? Kenyataan itu kami (saya bersama istri) jadikan energi kreatif untuk melahirkan siasat. Kami akhirnya menulis sendiri buku untuk anak-anak kami. Kabar gembiranya, istri saya mengikutsertakan naskahnya “Halimah dan Bainai” di Sayembara Menulis Buku Cerita Anak 2018 yang ditaja oleh Kemdikbud dan menjadi satu-satunya penulis asal Sumatra Selatan yang memenangkan kompetisi itu.

Lalu apa kejutan yang saya raup tahun ini?

Hmm, selain ketakpercayaan kalau saya bisa menulis buku cerita untuk anak-anak sendiri, beberapa perkara yang masuk ranah “kejutan” adalah:

Pertama; Saya tak pernah menyangka kalau novel “Cinta Menggerakkan Segala” akan beririsan dengan layar lebar, tayang sebagai film bioskop: 212 The Power of Love! Saya juga tak menyangka kalau karya itu membuat teman-teman dekat saya—yang menganggap perbedaan pandangan politik saya dengan mereka adalah sebuah bencana bagi persahabatan—bukan hanya menggali lubang-tanpa-jembatan dengan saya, lebih dari itu: menyerang saya terang-terangan. Dari memelesetkan film itu dengan bunyi “The Power of F*ck”, menyebut saya bagian dari timses kampanye salah satu capres, hingga menuduh saya sebagai bagian dari kelompok penyebar teror. Saya sempat emosi dibuatnya sebelum kemudian saya menyadari kalau mengabaikan suara-suara sumbang itu adalah tindakan yang lebih patut saya ambil. Belajar, belajar, dan belajar.

Kedua; Pada April 2018 saya mendapatkan sponsor untuk melakukan perjalanan residensi ke Maroko dan—beberapa negara—Eropa pada bulan April 2019. Akh, benar kata pepatah; Banyak jalan ke Roma! Akhir November kemarin, fasilitator yang akan membawa saya ke sana mengunjungi saya, seakan-akan hendak meyakinkan bahwa, “Benn, you are not dreaming again!”. Saya masih tremor mengetik bagian ini. Ini sudah H-100 residensi saya, Wan-Kawan, dan saya akan mencoblos presiden pilihan saya di Kroasia!

Ketiga: Putri pertama kami, Dinda Sahasika Arnas, telah menulis sekitar dua puluh cerita sangat pendek. “Karena Ayuk Dinda ingin ceritanya dibacakan Ayah sebelum tidur,” jawabnya ketika saya bertanya dengan binar ketakpercayaan di mata saya seraya menerima tumpukan kertas A4 yang berisikan tulisan tangannya yang acakkadut dan ilustrasi lucu di bagian belakangnya. Awal Desember 2018, aktivitas paling menyenangkan yang saya lakukan adalah mengetik ulang tulisan putri kami yang baru berusia 6 tahun itu sekaligus memindai ilustrasinya di mesin pemindai.

Dan …. tahun 2019 akan bertandang dalam hitungan menit.

Saya tak punya resolusi selain tak sabar mengeksekusi urusan-urusan berikut yang memang harus dituntaskan sesuai tenggat:

– Merampungkan novel dengan setting Palestina-Indonesia yang versi layar lebarnya insya Allah akan tayang sebelum akhir 2019.
– Merampungkan sebuah biografi seorang tokoh Indonesia yang berjuang di bidang pendidikan di Timur Tengah.
– Merampungkan novel yang sudah lamaaaaaa sekali malas saya sunting-ting-ting!

Ketiganya harus saya rampungkan sebelum April 2019! Kenapa? Ya nggak kenapa-napa. Tanpa deadline, semua pekerjaan potensial menggunakan diksi “mood” dan “belum matang” untuk mengganti kata “malas” yang kadung nyaman nangkring di dalam kepala dan ujung jari.

Kenapa saya menulis ini di pengujung maklumat akhir tahun ini? Sederhana sekali. Awal 2016 saya pernah mengumumkan—baik di media sosial maupun dalam sebuah esai saya di jawa Pos–bahwa saya tidak akan aktif di Facebook sebelum buku baru saya lahir. Dan …. I did it! It worked, Wan-Kawan! Ini adalah pengingat sekaligus peringatan apabila saya menelantarkan rencana-rencana positif dalam berkarya, dalam meraup lebih banyak kegembiraan, sebelum tanggal lahir saya berulang di awal pekan kedua Mei 2019.

Lubuklinggau, 31 Desember 2018

Comments (0)
Add Comment