QUEEN OF DREAMS

Ulasan ini mengandung spoiler

___________

Buku yang versi bahasa Inggrisnya terbit pada 2004 ini memuat kisah keluarga kecil Amerika berdarah India. Mrs. Gupta si penafsir mimpi, putrinya—Rakhi—seorang pelukis yang membuka kafe dengan Belle, rekannya sesama India, dan Sonny, mantan menantunya yang seorang seniman yang menjadi pengusaha kelab malam. Ada juga Mr. Gupta si pemabuk dan Jona, cucunya yang berbicara lebih dewasa dari usia 6 tahunnya. Dua tokoh yang mulanya saya kira sekadar pemanis, tapi … ach!

Ditulis dengan pendekatan sudut pandang orang pertama—Mrs. Gupta lewat serial bab Jurnal Mimpi dan putrinya lewat bab-bab Rakhi—plus mata orang ketiga lewat bab-bab tanpa keterangan, melainkan hanya judul, Citra Banerjee Divakaruni, leluasa menghadirkan hubungan ibu-anak yang tampak tenang di permukaan, tapi mengandung ketegangan dan kecanggungan yang mereka simpan sekaligus pertanyakan.

Dibuka dengan bab terkait Jurnal Mimpi, bagi pembaca yang tidak sabaran dan menginginkan cerita yang langsung ketahuan maunya apa, mungkin harus merelakan bab ini mengambang di kepala. Ya, hingga pertengahan cerita, bab-bab ini seperti terlepas dari realisme yang dibangun Divakaruni. Lantas, apakah kehadirannya tak penting alias sekadar menebal-nebalkan cerita? Tentu saja tidak. Melalui serial bab ini, Divakaruni seolah mau mengatakan bahwa, sebagai mimesis, novel tak seharusnya menampilkan daging-dagingnya saja, sebab tak semua bagian kehidupan ini harus mentah-mentah bersikait satu sama lain dan secara permukaan dengan mudah dilihat pengaruhnya dalam dinamika kehidupan. Seperempat akhir buku setebal 400 halaman ini, bagian ini baru menemukan tulang cerita yang … lagi-lagi tak memiliki kaitan secara langsung dengan dua serial bab lainnya, namun ia tak bisa terpisah dari keseluruhan cerita terkait dunia mimpi ini, bahkan menyimpan twist yang tidak membuat kita berteriak atau menarik napas “wow” saking telatennya tiap bagian cerita dijahit.

Barulah ketika memasuki dua seri bab lainnya, kita akan tahu kalau kita sedang berhadapan dengan lanskap cerita yang unik! Bayangkan, setelah bagian Jurnal Mimpi itu, plot mengetengahkan hubungan Ratu Mimpi yang lebih akrab dengan mantan menantunya (Sonny) daripada anak perempuan satu-satunya, Rakhi, yang sesekali dipanggil Rikks. Di sini, sekitar halaman 30-an, saya langsung menjentikkan jemari. Novel ini berhasil “mengganggu” saya!

Queen of Dreams ibarat aliran sungai yang tenang menghanyutkan. Konflik psikologis dibentuk oleh benturan karakter-karakter yang berkembang tanpa label protagonis dan antagonis. Semua tampil manusiawi, dengan kelebihan, kekurangan, kemenyebalan, dan kelucuannya masing-masing.

Mulanya, saya pikir novel ini adalah tentang Mrs. Gupta dan Rakhi. Namun, makin ke ujung, saya makin ragu. Ternyata Mr. Gupta adalah belantara yang menyimpan banyak rahasia dan Jona yang makin kerap menceritakan kehadiran tokoh-tokoh—yang dianggap orang-orang sekitar—imajiner dalam celotehannya, sungguh tak bisa diabaikan. Apalagi begitu sepertiga akhir, saya dibuat sadar kalau novel ini mengambil latar California, 2001. Saya juga seperti baru ngeh kalau, karena kemiripan fisik, orang-orang Asia Selatan ternyata juga banyak menjadi korban aksi-aksi rasisme di Amerika setelah peristiwa WTC 9/11/2001.

Saya tak bisa membayangkan perasaan Mr & Mrs. Gupta yang tak pernah lagi balik ke India setelah pernikahan mereka yang syarat misteri dan putri mereka, mantan menantu, atau rekan-rekan India-nya yang bahkan tak pernah menginjakkan kaki ke India karena lahir dan besar di Amerika, di tengah-tengah kecamuk rasisme pasca peristiwa itu. “Lalu kami yang Asia Selatan dan mirip Arab ini dan sudah lahir dan besar dan sepenuhnya hidup di Amerika takkan pernah bisa mengantongi sebutir debu California yang penuh kenangan ini sekalipun?” Begitu kurang lebih kecamuk pertanyaan yang meriap dalam diri keluarga India itu setelah kafe mereka diserang orang-orang berwajah Amerika beberapa jam setelah menara kembar itu runtuh.

Bagian favorit saya adalah ketika di hari kematian sang ibu, Rakhi yang hanya mengundang 20-an pelayat di upacara pembakaran, terenyak mendapati upacara yang dipadati oleh orang-orang yang tak ia kenal namun memiliki air muka yang seragam, sebelum kemudian ia menyadari kalau mereka semua adalah klien sang ibu, orang-orang yang Mrs. Gupta baca mimpinya sekaligus bantu memecahkan masalah mereka.

“Sayang sekali, kepandaian ini tak berguna bagi orang-orang terdekatku,” batin Mrs. Gupta yang langsung membuat saya menarik napas tiap kali Rakhi merasa iri dengan kepedulian sang Ibu pada masalah orang lain, bahkan pada mantan suaminya sendiri, tapi tidak dengan dia dan ayahnya!

Akhir cerita melemparkan saya pada ending “Mother”, film besutan Bong Joon-ho yang menurut saya jauh jauh jauh lebih bagus daripada “Parasite”. Rakhi yang membenci Sonny akhirnya membiarkan dirinya bergabung dengan para pengunjung kelab suaminya, menikmati musik dan membiarkan tubuhnya bergoyang dan menutup akses kehidupannya yang introvert untuk menjamahnya saat itu. Bukan. Itu bukan tumpahan frustrasi atas apa-apa yang menimpa hidupnya, melainkan perayaan atas kesadaran yang terlambat bahwa, setelah jurnal-jurnal sang ibu yang diterjemahkan sang ayah, kehidupan paling keras justru akan dihadapi Jonna, putri semata wayangnya!

Lubuklinggau, 16 April 2020

NB: Makasih Cici Hanna Fransisca sudah mengirimkan buku ini beberapa tahun yang lalu, buku yang baru sempat dibaca sekarang 😊🙏

Comments (0)
Add Comment