RENJANA

Beberapa hari yang lalu saya diundang sebuah instansi untuk memberikan materi kepenulisan dasar kepada hampir 200 orang pegawainya. Karena tahun lalu saya telah mengisi acara serupa di sana, tahun ini panitia mewanti-wanti agar saya tidak memberikan jenis materi yang sama. Tidak masalah. Dan saya juga tidak pernah terpikir akan memberi materi yang itu-itu saja.

Saya tak punya pakem materi untuk level kepenulisan tertentu. Saya tak menginginkan hal itu. Kalau itu terjadi, itu adalah alamat kalau saya tidak terus belajar. Bukan (hanya) dari teori sana dan sini, melainkan dari pengalaman saya menulis, mengampu Bennyinstitute Writing Class, dan pengalaman saya membaca buku-buku (bagus). Makin banyak saya menulis, makin kerap saya mengisi materi di kelas, makin banyak buku yang saya baca, seyogyanya menyulut saya melakukan perubahan-perubahan yang bisa membuat orang-orang yang ingin belajar menemukan kepraktisan dalam menulis. Ya, kepraktisan. Kalau bukan atas alasan ini, orang-orang tidak akan masuk kelas. Ya, orang-orang yang masuk kelas menulis adalah para pragmatis. Kalau ingin belajar dengan alami dan mengalir saja bersama waktu, ia harusnya lebih banyak baca buku dan menulis terus, dan … itu sungguh memberinya kejutan: menghasilkan tulisan bagus yang tak terbayangkan sebelumnya dalam waktu lebih cepat atau tidak pernah tahu caranya menulis dan selalu menjadi penikmat buku-buku bagus dan … itu bukan masalah!

Lho, jadi? Ya, begitu.

Para peserta kelas itu yaaa mereka yang pragmatis. Termasuk instansi atau lembaga atau komunitas atau sekolah atau perkumpulan atau orang-orang yang menghadirkan penulis untuk melatih mereka menulis. Termasuk. Mereka menginginkan kepraktisan itu. Sesuatu yang tak jarang mereka sadari sebagai sesuatu yang mustahil atau sebagai seremonialitas, atau paling banter menghadirkan kembang api di dalam jiwa peserta. Semangatnya menyala sebentar lalu padam selama-lamanya.

Maka, sesi saya siang itu, saya mulai dengan tidak menerapkan prinsip menghidupkan kelas. Ya, saya tidak mulai dengan puja-puji terhadap mereka yang mau belajar nulis—tah saya tahu karena mereka diwajibkan kantornya untuk berada di sana. Saya justru memulainya dengan membawa-bawa program literasi di kantor mereka: Satu kegiatan satu halaman. Ya, para pegawai itu diharuskan pimpinannya menulis minimal satu halaman untuk tiap kegiatan yang mereka ikuti. Masalahnya adalah “kegiatan” yang dimaksud oleh kepala kantor adalah segala hal yang mereka alami tiap harinya (di kantor atau pun di luar kantor). Jadi, tugas literasi itu bunyinya sama saja dengan “Satu Hari (minimal) Satu Halaman”.

Kembali ke acara hari itu. Mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 dan para peserta mulai banyak yang mengantuk, saya memanfaatkan waktu satu jam dengan menampilkan video riset saya terkait kreativitas di hadapan mereka. Apa hubungan video itu dengan materi literasi yang saya ampu, tentu saja ada, meskipun saya tak menyampaikan kepada mereka. Saya mengajak mereka menggambar, menulis, dan berceita apa saja yang mereka sukai pada 15 menit pertama. Semua “bergerak” hingga semua lupa pada kantuknya. Lalu apakah saya mulai memberikan pelatihan menulis? Tidak. Dan memang tak perlu. Buat mereka, itu tidak penting dan hanya buang-buang waktu. Orang pragmatis kok diberi pelatihan serius segala, rak mashok!

Saya memulai materi dengan sangat tidak motivatif, katakanlah begitu. Saya langsung memerankan diri sebagai pembaca pikiran, pembaca kebiasaan buruk mereka. “Anda mendapat tugas untuk menulis dari kantor, bukan?” Mereka mengangguk. ”Sedikit-banyak, sebagian dari bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, tentu sudah ada yang mulai menulis meskipun tak kunjung jadi tulisannya, dan tentu ada juga yang tidak atau belum melakukannya sama sekali, bukan?” Mereka tersenyum. Mereka mengiyakan. Memang, dalam sambutannya, kepala kantor mengeluhkan tentang sangat sedikitnya pegawai yang mengumpulkan tugas. “Ya sudah, saya tahu kendalanya!” cetus saya kemudian. Ah lagak saya benar-benar seperti motivator di TV-TV itu.

Saya menampikan slide demi slide. Semuanya tentang alasan mereka belum memenuhi tugas tulisan itu, dan semuanya sepakat kalau saya pembaca pikiran yang baik, eh bukan, maksudnya kalau semua yang paparkan adalah yang mereka alami. Mereka lupa kalau judul besar materi itu justru mendiskreditkan mereka: “9 + 1 Kesulitan Menulis yang Kamu Buat-buat”.

Jadi tidak ada yang tidak bisa, apa pun itu, termasuk menulis, kalau kita tidak mulai membesar-besarkan hal-hal remeh sehingga hal-hal remeh itu naik statusnya menjadi Kesulitan, sehingga hal-hal remeh itu nyata sekali statusnya menjadi Kesulitan yang Dibuat-buat. Satu-satunya yang dibutuhkan agar kita tidak manja dalam melakukan urusan-urusan yang bukan renjana kita adalah dengan menciptakan renjana-buatan untuk hal-hal yang harusnya kita lakukan. Renjana alias gairah atau perasaan bersemangat untuk menuntaskan sesuatu, memang kerap disangkut-pautkan dengan hal-hal yang berbau romansa dan—maaf—seks, tapi … kalau ia bisa dibawa ke ranah yang membuat kita lupa bagaimana caranya mengarang-ngarang hambatan dalam berkarya atau sekadar memenuhi tugas menulis, yaaa nggak apa-apa, sah-sah saja renjana itu dihadirkan, apalagi untuk para pragmatis, asal nikmat dan beres urusan, yaaa cocok itu! Sama seperti kita yang tiba-tiba berhasrat menjilat es krim di pagi buta hanya karena tak sengaja menonton iklan Magnum (bisa saja karena ekspresi gadis-gadis yang membintangi iklan itu yang begitu menggoda ketika menjilat Magnum dengan penuh renjana atau memang visual magnumnya yang melelehkan liur) padahal kita pada dasarnya tidak suka es krim. Sesederhana itu. Lho, tapi, ‘kan, perasaan nikmat makan es krim, ‘kan, berbeda dengan gairah yang muncul saat melakukan sesuatu?

Semuanya berbeda kalau kamu menganggapnya begitu, sebagaimana kamu bisa masturbasi ketika menulis sesuatu yang paling kamu impikan terjadi di atas ranjang di layar komputermu. Sepraktis itu. Sepragmatis itu.

Begitu.

Benny Institute, 26 Agustus 2019

Comments (0)
Add Comment