education.art.culture.book&media

Cahaya dalam Kegelapan

Cahaya dalam Kegelapan

Menghitung jasa seorang ibu, siapa yang bisa? Jasa seorang ibu di dunia ini tak pernah bisa ternilai dan terhitung seberapa banyaknya. Jika kalian bisa menghitung jasa seorang ibu dan pengorbanan yang telah ia berikan, maka kalian termasuk orang-orang yang tidak menghargai dan bahkan tidak menyayangi ibu kalian.

Pernahkah terlintas dibenak kallian untuk menghitung jasa seorang ibu yang sudah ia berikan untuk kalian. Sebagian besar dari kalian pasti pernah merasakan, jika kalian di marah oleh ibu kalian karena hal sepele, kalian malah ikut marah dan menyalahkan ibu. Ibu yang tidak mengerti kalian, ibu yang tidak menyayangi kalian dan lain sebagainya yang jika terdengar ditelinga ibu, itu akan sangat menyakitkan hati ibu kalian.

Kejadian yang pernah terjadi di suatu desa terpencil, seorang anak dengan teganya mengusir ibunya, dan membiarkan ibunya menjadi gelandangan. Ibu tua yang sudah mulai keriput ini bernama Ibu Aminah, yang kira-kira sudah berumur 60th. Ibu Aminah ditemukan oleh seorang warga tengah pingsan di pinggir jembatan. Dengan wajah yang sudah mulai pucat, diketahui bahwa Ibu Aminah sudah dua hari ini tidak makan. Lalu Ibu Aminah di ajak oleh salah seorang warga dan dibawa kerumahnya untuk diberi makan dan di urus layaknya mengurus orang tua yang sudah tidak berdaya lagi.

Dari cerita Ibu Aminah, ia bisa sampai di jembatan itu karena tiga hari yang lalu ia diusir oleh anaknya. Penyebab dari Ibu Aminah diusir oleh anaknya yang bernama Nina itu hanyalah karena hal sepele. Karena pada hari itu Ibu Aminah tidak memiliki uang, Nina yang saat itu meminta uang kepada Ibu Aminah untuk membeli handphone. Satu bulan yang lalu, Nina pernah meminta dibelikan handphone tetapi Ibu Aminah belum memberikannya. Mereka bisa makan sehari-hari saja sudah Alhamdulillah, dan ketika itu Ibu Aminah juga msih berkata “Nanti kalau ada uang Ibu belikan”. Tetapi hingga pada saat Nina memintanya lagi, Ibu Aminah belum juga memberinya uang. Akhirnya Nina marah kepada ibunya dan Nina dengan teganya memaki Ibu Aminah dan mengusirnya dari rumah. Sejak hari itulah Ibu Aminah berjalan seorang diri tanpa tau arah tujuannya akan kemana, hingg akhirnya Ibu Aminah terbaring lemas di tepi jembatan.

Empat hari setelah Nina mengusir Ibunya, tepat pada hari Ibu yaitu pada tanggal 22 Desember. Ibu Aminah diantar pulang oleh seorang warga yang menemukan Ibu Aminah di tepi jembatan itu, dan ternyata ketika Ibu Aminah masuk ke rumahnya, Ibu Aminah melihat Nina sedang memandang foto Ibu Aminah sambil menangis. Ibu Aminah menghampiri Nina, lalu memeluknya dan menangis.

Kejadian itu membuat Nina tersadar bahwa jika tidak ada seorang ibu disampingnya akan membuatnya merasa sendiri. Pertemuan antara Nina dan Ibu Aminah tepat pada hari Ibu itu merupakan kado terindah karena Nina sudah tersadar dari kesalahannya dan dapat membuat Ibu Aminah kembali tersenyum.

Ibu tidak pernah mengatakan nanti untuk menyuapi anaknya makan, ibu tidak pernah mengatakan nanti untuk menenangkan anaknya ketika menangis, ibu tidak pernah mengatakan nanti ketika anaknya ingin menyampaikan keluh kesahnya, ibu tidak pernah mengatakan nanti untuk merawat dan membesarkan anaknya. Jangan hanya karena ibu hanya mengatakan nanti untuk memberikan uang kepada anaknya, lalu anak dengan teganya mengusir ibu kandungnya sendiri.

Namun, apa yang sudah kalian lakukan untuk ibu kalian? Apa kalian sudah membuatnya bahagia?

Dengan kejadian ini semoga dapat membuat kalian para pembaca tersadar jika tidak ada perjuangan ibu yang bisa diperhitungkan, dibandingkan dengan apapun dan dibayar dengan apapun itu, sekalipun kalian akan membayar dengan nyawa kalian, itu semua tidak akan pernah bisa membayar semua perjuanagn ibu yang telah mereka berikan untuk kalian. “Saya bangga memiliki anak seperti Nina, meskipun dia anak yang suka marah-marah, tetapi dia tetap saja anak kesayangan saya.” Ujar Ibu Aminah dengan tersenyum.

Comments
Loading...