Menulis dan Belajar tanpa Kejujuran

Seseorang, yang saya kenal lama dan selalu bilang kalau mimpi terbesarnya adalah menjadi penulis, bertandang petang tadi. Setelah menyerahkan berkas cetak cerpen saya yang dimuat media hari ini, ia bertanya tentang bagaimana menulis bagi seorang penulis seperti saya.

Saya diam sejenak. Saya sedang melihat-lihat kertas cerpen itu ketika istri saya menghidangkan secangkir teh di atas meja di hadapannya. Saya sebenarnya ingin bertanya maksud ia menyerahkan cerpen yang dicetaknya itu, tapi saya malah menyilakan ia yang sudah duduk di sofa untuk membuka masker dan menyeruput teh yang baru saja istri saya hidangkan.

Saya yaaa menulis, kata saya ogah-ogaham, sebelum kemudian saya sadar kalau saya sebaiknya jangan buang-buang waktu. Lalu menulis terus, lanjut saya lagi. Dan begitu. Selalu begitu. Di antara aktivitas lain, termasuk membaca yang “menghidupi” aktivitas itu serta-merta.

Dia mungkin mengharapkan jawaban yang ringan atau semacam guyon atau basa-basi sebagai awalan, tapi, seperti saya bilang, saya sedang malas buang waktu petang ini.

Ya, saya menulis, kata saya dengan perasaan bosan (ya, saya bosan mengulang tulang belakang proses kreatif yang siapa pun dia, yaaa kalau profesinya penulis, yaaa dia pasti menulis). Hmm, saya benar-benar menulis, terang saya lagi. Bukan hanya memikirkan dan membuat simulasi (atas) tulisan yang ingin saya tulis di dalam kepala, apalagi sampai memaklumatkannya kepada orang-orang yang bertanya maupun tidak.

Dia menyeruput tehnya lagi.

Saya menulis. Langsung menulis. Bukan sibuk menceramahi diri apalagi orang saja tentang menulis. Tentang ini dan itu. Tentang calon karya atau tutorial yang bahkan saya sendiri tak pernah menerapkannya. Asalkan disertai aktivitas membaca yang intens dan semangat belajar di labirin tanpa ujung, menulis bukan hanya akan menggembirakan, ia juga akan mengayakan, menggerakkan, meng-ada-kan, menjadikan, mendirikan, dan menyiar-kekalkan visi dan banyak urusan.

Tehnya hampir tandas. Saya ingin bilang apalah ia minta tambah, tapi saya sedang malas buang waktu.

Bahkan, untuk penulis yang (telah/pernah) menulis, apabila ia tidak menulis sekian lama dan merasa karya-karyanya di masa lalu lebih dari cukup untuk menegaskan siapa dirinya, sungguh dia bagaimanapun sudah bukan penulis lagi.

Ketika menulis dan kau terus dipanggilnya dan kau terus berada di lingkarannyalah yang membuatmu tetap penulis. Tetap menjadi penulis. Tetap sebagai penulis. Perkara kau bisa hidup (layak) atau menderita karenanya, itu urusan lain. Itu urusan yang sudah semestinya kauusahakan sebagai manusia yang ingin terus melihat matahari esok dengan nyaman dan perasaan yang raya-raya.

Dia masih memegang cangkir teh, tapi wadah minuman itu transparan sehingga saya tahu kalau isinya sudah habis.

Kau bisa menulis dengan atau tanpa meninggalkan pekerjaan atau aktivitas apa pun yang tidak menggugurkanmu sebagai manusia, tapi kau tidak bisa menjadi penulis dengan hanya menulis di waktu luangmu, dalam mood terbaikmu saja, atau dalam mimpi yang bahkan kau sendiri bingung bagaimana terjaga darinya.

Ia menggaruk-garukkan kepala.

Saya ingin bertanya, mengapa kepalanya gatal serta-merta setelah saya memberi jawaban panjang lebar, tapi … ia seperti sudah mengantisipasinya. Ia berdehem dua kali (atau tiga kali, saya tidak ingat persis) sebelum meminta saya menjadi gurunya.

Kenapa kamu tiba-tiba berkata begitu?

Dia diam. Saya memperhatikan tangannya. Saya pikir ia hendak menggaruk kembali kepalanya, tapi tangannya malah mengetuk-ngetuk meja ruang tamu yang terbuat dari kaca. Mungkin keningnya sudah berkeringat, tapi saya tidak terlalu memperhatikan tadi—saya hanya tiba-tiba teringat kalau ketegangan merangsang pori-pori membuka lebih lebar sehingga air asin lebih mudah menyeruak.

Kalau kamu berharap hal itu dapat mengurangi intensitas ceramah saya yang terdengar menjengkelkan, sungguh kamu lebih buruk daripada Dammahum, kata saya dengan nada agak tinggi seraya mengembalikan berkas cetak atas cerpen “Dammahum Menjadi Mercusuar” yang ia tunjukkkan ketika kami bertemu tadi.

Dua jam setelah ia meninggalkan kediaman saya, ia mengirim pesan WhatsApp: Bang, aku baru saja membaca cerpen itu, aku tentu saja menolak menjadi Dammahum, apalagi lebih buruk darinya—dengan emotikon tertawa setelahnya.

Kamu baru saja membacanya atau membacanya untuk kali kedua, saya memastikan.

Aku baru saja membacanya, Bang, balasnya cepat.

Saya diam. Saya terenyak. Mengelus dada cum menggeleng-gelengkan kepala (sebenarnya saya tidak mempraktikan adegan ini, tapi rasanya pas saja saya tulis di sini, huhahaha). O, jadi buat apa kamu memamerkan berkas cetak cerpen yang kamu unduh dari laman Jawa Pos itu? Sekadar mencari muka atau menjliat orang yang kau pikir bisa menjadikanmu mercusuar? O, bukan main. Main bukan, ya, rutuk saya dalam hati.

Bang—pesannya masuk.

Saya abaikan.

Bang.
Bang.
Bang.
Bang.

Saya sangat percaya, kata saya dalam hati, tidak ada syarat apa pun dalam berkarya, selain belajar, belajar, dan belajar. Tapi, hari ini, pengalaman barusan membuat saya perlu mengimbuhinya menjadi “belajar dengan jujur”. Belajar dengan tipu daya tidak akan memberi apa-apa, kecuali waktu yang terbuang dan ketololan yang terbuka tanpa aba-aba, sebagaimana yang barusan dia alami lewat pesan WhatsApp-nya malam ini.

Bang.
Bang.
Bang.
Bang, saya minta maaf.

Tentu saja, saya sudah memaafkan. Saya tidak punya kepentingan untuk tidak memaafkan, apalagi dendam. Selebihnya, tentu kita tak harus berurusan.

Lubuklinggau, 3 Januari 2020

Comments (0)
Add Comment