education.art.culture.book&media

Di Balik Sebuah Kata ‘Silampari’

oleh: Muhammad Yazir

Duduk di barisan kursi yang cukup dekat dengan layar, hari itu Aku menyaksikan pemutaran film yang genrenya Aku sukai. Dokumenter, film yang memuat banyak hal menarik walaupun jarang menampilkan sisi romantisme layaknya film-film yang digemari oleh remaja pada umumnya.

Duduk di samping dua wanita cantik semakin membuatku semangat untuk menonton film yang akan ditayangkan pada sore itu. ‘Silampari, setelah 2001’, ya!! Itu judul film yang Aku tonton di salah satu¬† ruang bisokop yang ada di kotaku tercinta, Lubuklinggau.

Penayangan film dokumenter itu juga turut dihadiri oleh wakil walikota Lubuklinggau dan jajarannya, para narasumber film tersebut, penikmat sejarah dan orang-orang yang akan menciptakan sejarah termasuk saya. Tapi sepenting apapun orang yang hadir di ruang itu lebih penting lagi kalau kita membahas dari konten filmya.

Ok, film yang mempunyai judul seksi itu membuatku terpantik untuk mengetahui apa yang penting dan paling penting informasi yang bisa Aku dapatkan. Ternyata, sesaat dan sesudah penayangan film itu Aku sedikit-sedikit membuat diskusi kecil dengan dua gadis cantik di sampingku tadi, bukan diskusi tentang masa depan ya ūüôā tetapi diskusi tentang apa yang bisa kami ambil hikmahnya dari film tersebut.

‘Silampari’ suatu kata yang mungkin cukup menarik perhatian orang terutama orang-orang yang tertarik tentang sejarah dan budaya sehingga munculnya film besutan sang produser Benny Arnas selaku¬†founder¬†Bennyinstitute dengan judul ‘Silampari, Setelah 2001–Antara Lubuklinggau dan Musirawas, di mana putri yang hilang itu merumahkan dirinya?‘. Ketertarikan ini terkadang tidak selalu positif itu yang Aku perhatikan dari beberapa perkataan beberapa orang.

Selama Aku menonton, Aku bertanya-tanya apakah kata ‘silampari’ hingga hari ini belum mencapai sepakat baik dari penulisan ataupun pelafalan. Karena klaim mengenai kata itu sendiri masih terlihat jelas dari diskusi yang disampaikan sesaat dan setelah film itu ditayangkan. Menurutku, sah-sah saja orang memaknai suatu kata selama mereka mempunyai landasan filosofis yang bisa diterima akal dengan pembuktian yang beragam karena makna kata itu bersifat arbitrer (mana suka). Jadi berdasarkan prinsip ini tidak ada yang salah dong, tapi perlu juga untuk mengklaim makna suatu kata, kita mengaitkannya dengan beberapa elemen lainnya jadi konteksnya harus diperjelas dan budaya juga tidak bisa dikesampingkan supaya tidak ada keambiguan.

Selain pemaknaan suatu kata yang juga  masih diperdebatkan, adanya klaim siapa yang kira-kira pantas untuk memiliki kata silampari yang seksi itu, katanya juga sangat terlihat jelas. Aku sih tidak masalah siapa saja yang mau mengakui kata ini menjadi miliknya, bukannya bahasa itu milik semua orang ya, lagipula masyarakat banyak yang tidak peduli dengan kata itu. Jadi yang suka mengkalim itu siapa ya? Masayarakat atau pemerintah?! Bukannya maksud nyinyirin orang-orang yang mengklaim kata itu dan bukan juga Aku tidak peduli dengan kata itu. Aku malah pengennya, pemerintah dan masyarakat lebih mementingkan moral value dari kata itu daripada sibuk mengklaim itu punya siapa. Terlepas cerita ini memang legenda atau mitos, maka hal yang paling urgen ialah bagaimana caranya dengan kata magis ini bisa mempersatukan, menanamkan nilai-nilai moral, nilai sosial dan historis bagi masyarakat banyak yang ada di Lubuklinggau dan Musirawas termasuk juga Muratara.

Jadi hal terakhir yang bisa Aku nyinyirin ialah janganlah suatu kata itu dijadikan suatu ikon politik yang ke depannya bisa menimbulkan kegaduhan-kegaduhan kecil dan sebaliknya kata itu jadikan alat kita untuk berpikir lebih jauh dan memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk berdiskui  sehingga memberikan kontribusi-kontribusi positif.

Eitss, hampir lupa, kalau bisa di film dokumenternya juga jangan hanya menampilkan ahli sejarah saja, jika memungkinkan narasumbernya juga biar berimbang masukin dong pendapat dari masyarakat umum, apakah mereka tahu dan peduli dengan kata ‘silampari’ ini.¬†Over all, film ini cocok untuk semua kalangan dan banyak juga hal-hal positif serta pengetahuan baru yang bisa didapatkan.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 3783