education.art.culture.book&media

Siapa yang Masih Peduli Silampari Itu Apa dan Milik Siapa?

oleh: Yuhesti Mora

Ketika pertama kali mendengar kabar film dokumenter “Silampari, setelah 2001” dibuat, hal pertama yang saya pikirkan adalah bahwa ini angin segar bukan hanya bagi pecinta dan perawat sejarah dan kekayaan budaya khas lokal namun juga bagi anak-anak muda macam saya yang sadar tidak tahu tetapi tidak mencari tahu atau abai soal itu. Makanya kehadiran film dokumenter ini saya pikir dapat mentrigger diri saya sendiri (dan bisa jadi anak-anak muda lainnya) untuk bisa lebih peduli dan memahami bahwa kekayaan khas budaya itu berharga lebih dari sekedar nama-nama yang terpampang besar di papan reklame.

Dari film dokumenter yang bertajuk “Silampari, Setelah 2001” yang tayang hari ini di Cinemax Lippo Lubuklinggau saya mencatat beberapa poin.

Pertama, Silampari milik siapa?
Seperti ekspektasi saya semula, setelah menonton film ini saya dapatkan banyak pengetahuan baru soal budaya lokal yang kita sama-sama ketahui tidak begitu intim dengan anak-anak muda. Sejujurnya saya katakan bahwa jika tidak karena menonton film ini, saya tidak akan tahu bahwa “Silampari” itu masih diperdebatkan kepemilikannya. Dan perdebatan bukan hanya sebatas itu saja tetapi juga tentang apakah ia merupakan legenda atau sejarah. Narasumber-narasumber mengemukakan hasil riset atau pengetahuan mereka dalam sudut pandang masing-masing. Namun terbersit di pikiran saya mengapa sudut pandang yang ditampilkan hanya milik ahli/budayawan? Saya sebenarnya juga menunggu-nunggu sudut pandang yang mewakili saya dan masyarakat awam tentang apakah mereka tahu soal budaya lokal Silampari ini. Jika mereka tahu maka seberapa tahu dan seberapa besar pengaruhnya bagi kehidupan mereka sehari-hari.

Saya sepakat bahwa sebuah film dokumenter adalah menangkap hal-hal yang nyata atau menampilkan apa adanya yang sesuai fakta, data dan apa yang disampaikan narasumber. Bang Benny selaku produser film dokumenter ini berkata bahwa demi untuk menampilkan “kenyataan” itu, para narasumber tidak dipertemukan satu sama lain. Mereka diberi kebebasan mengemukakan sudut pandang mereka tanpa adanya potensi dipengaruhi oleh satu sama lain. Akan tetapi, dari setiap film dokumenter apapun, bahkan dokumenter sains pun, saya selalu berharap bahwa saya tidak hanya mendapatkan pengetahuannya saja namun juga soal nilai-nilainya. Apa nilai atau core value dari Silampari ini? Lingkup kecilnya, saya ingin tahu apa dampaknya bagi saya jika saya tahu soal Silampari ini. Apa pengaruhnya bagi kehidupan saya dan anak-anak muda seperti saya di luar sana karena adanya cerita Silampari ini? Lingkup besarnya, saya ingin tahu, selain soal branding, apa pengaruhnya silampari itu bagi masyarakat lokal secara ekonomi, sosial dan sebagainya? Saya sempat berpikir, jangan-jangan Silampari ini hanyalah sebatas diskusi milik para budayawan dan harta warisan yang sedang diperebutkan oleh pemerintah daerah setempat saja. Oh, semoga tidak demikian.

Saya menyepakati yang dikatakan Pak Suwandi Syam sebagai salah satu narasumber dalam film ini bahwa budaya khas lokal itu adalah jati diri suatu daerah. Namun ketimbang “mengurat leher” untuk meyakinkan kami anak-anak muda yang-terlanjur-menderita-abai-akut-soal-budaya untuk mencintai Silampari, usaha Bang Benny dan Tim Produksi yang telah bekerja keras untuk memproduksi film ini patut diapresiasi. Dengan dibuatnya film ini, ada potensi Silampari menjadi beberapa langkah lebih intim dengan anak-anak muda dewasa ini yang begitu enggan melirik bacaan setelah sebelumnya melalui media tarian, batik dan sebagainya.

Akhirnya, “Silampari, Setelah 2001” ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ia menjadi pionir. Ia menjadi sebuah standar yang harus dilampaui pada karya-karya berikutnya dan juga memberikan semacam inspirasi bagi pegiat seni lainnya untuk juga mengangkat budaya-budaya lokal lainnya dengan mencoba segala macam usaha untuk membuatnya lebih dekat, intim tanpa membuatnya menjadi eksklusif namun bisa dinikmati oleh siapa saja yang katanya harus merasa memiliki dan merawatnya.(*)

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 3783