MENDAMBA LUPA DALAM KAJIAN FILOSOFI

Oleh: Tampu Bolon Suvardi

Pertunjukan lakon satu babak “Mendamba Lupa” yang diadaptasikan dari cerpen Benny Arnas, berjudul “Gulistan”, sedangkan “Mendamba Lupa” adalah judul puisi Helvy Tiana Rosa. Dalam pertunjukan lakon “Mendamba Lupa”  ini Benny Arnas hendak menyampaikan keserasian antara kenyataan yang di-alami sepasang kekasih laki-laki berumur 75 tahun sedangkan perempuan berumur 67 tahun di mana mereka hidup di lingkungan yang afatis soal membaca buku. Jangankan gerakan literasi digital, membuat jadwal satu hari satu jam membaca buku saja mereka malas. Padahal, di zaman Revolusi 4.0 penting sekali bahkan seharusnya membaca adalah asupan gizi akal/pikiran yang harus dilakukan setiap hari agar kita terus menuju pada insan yang paripurna di manapun dan keadaan apapun. Kita harus terus berkarya dan berkontribusi, sedangkan “Mendamba Lupa” adalah review atau pengingat bagi sepasang kekasih yang hijrah dari kampungnya. Pindah ke sebuah daerah yang bagi sepasang kekasih ini di mana buku-buku dihargai dan dicintai. Tapi kecelakaan menimpa mereka hingga mereka terpisahakan selama 1237 tahun dan dipertemukan di sebuah gua yang dalam seting pertunjukan ini menambah sentuhan sangat baik bagi interaksi aktor dan aktrisnya. Sepasang kekasih ini mencoba mengingat kenangan mereka dalam menebar motivasi soal kecintaan mereka pada buku-buku dan perpustakaan keliling yang mereka lakukan. Gadis kecil, anak sepasang kekasih ini adalah kunci ingatan mereka sehingga pulih kembali.

Pada pertunjukan lakon “Mendamba Lupa” ini saya sangat tertarik mengkajinya dalam perspektif filosofi. Sebelum sampai pada kajian filosofi, terlebih dahulu saya sampaikan bahwa pemeran aktor lelaki tua sederhana dalam pertunjukan lakon ini kurang natural dalam menyampaikan makna yang dikehendaki dalam cerpen “Gulistan” karya Benny Arnas. Aktor seharusnya bisa mengunakan karakter alaminya sendiri dalam memainkan peran baik gaya bicara dalam dialog yang disampaikan, maupun gerak tubuhnya. saya tidak temukan karakter asli lelaki tua sederhana itu, malah saya temukan karakter keaktoran Benny Arnas  dalam pertunjukan lakon “Mendamba Lupa” ini. Padahal, seharusnya aktor bisa mencari cela untuk tidak ketergantungan pada keaktoran penulis cerpen “Gulistan” ini. Aktor bisa mengeksplorasi karakter alaminya sendiri dengan panduan naskah dan acting yang bisa membuat penonton serta pengamat lebih mendapat sedikit kepuasaan terhadap peran yang ia mainkan. Sekali pun pemeran istri dalam lakon ini sudah pas pada karakter kelembutan yang berangkat dari ruh/jiwanya yang tulus, sehingga membuat keadaan yang menderita pun akan di kembalikan pada keadaan sebelumnya, ialah kembali mencintai suaminya, anaknya, dan terkhusus terhadap buku-buku yang menjadi nafas kehidupannya. Tetapi ketulusan istri dengan jiwa kelembutan sikap dan dialognya membuat seting yang tampak mati dan tidak berfungsi jadi lebih hidup karena ia adalah nyawanya dalam lakon “Mendamba Lupa” ini.

Mendamba Lupa dalam kajian filosofi artinya lelaki tua sederhana dalam lakon ini sudah menyampaikan kebijaksanaannya dengan mencintai buku-buku. Ia menjadikan hidupnya lebih bermakna dan bijaksana dalam menyikapi masalah kehidupan baik antar keluarga dan sesama. Ia mencoba menyampaikan pesan: mencerdaskan generasi harus dimulai sejak dini bahkan dari desa yang terisolir sekali pun. Selagi niatnya adalah membaca apapun, maka akan tetap dilakukan dengan niat yang tulus karena membaca adalah sarana untuk mengembangkan diri. Lelaki tua sederhana dalam lakon ini sudah memulai dari dirinya sendiri kemudian berangkat mengajak generasi untuk membaca guna menajamkan pikiran karena Rasulullah. saw dalam keadaan sulitpun terus membaca hingga akhir hayatnya. Sama halnya dengan filsuf, ilmuan, sastrawan, politikus, dan negarawan seperti Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Jendral Sudirman, Tan Malaka, Ali Syariati, Imam Khomaini, dan Murtadha Muthahhri dan tokoh-tokoh hebat lainya pun terus membaca dalam keadaan tertindas oleh penjajahan fisik dan non fisik. Lelaki tua sederhana dan istri yang tulus mencintainya adalah tauladan kebijaksanaan bagi kita untuk tetap terus istiqomah dalam membaca dan mencintai buku-buku karena hanya dengan mencintai buku-buku kita terus menuju pada kesempurnaan. Karena membaca adalah berpikir maka Dr. Ali Syariati Sosiolog Iran pernah mengatakan bahwa “kemiskinan sejati bukanlah semalam tanpa makan, melainkan sehari tanpa berpikir.

Tampu Bolon Suvardi

(Guru Sosiologi dan Sejarah di SMA Plus Bina Satria Rupit Kab. Muratara)

Comments (0)
Add Comment