Perjalanan Menggapai Mimpi

Malam itu hujan turun deras sekali. Air bagai ditumpahkan dari langit. Gelap gulita di atas sana kilat bersambung saling menyambar. Ada seorang anak perempuan yang sedang duduk di kursi kayu rotan yang tampak sudah tua merasakan suasana alam yang sedang murka itu, dengan sepasang mata bening anak perempuan itu. Ia bisa melihat cahaya kilat yang saling menyambar dari tempat duduknya, melalui celah-celah dinding atap yang bocor dan reyot itu.

Anak perempuan itu berumur tujuh tahun ia tinggal dengan Ayahnya. Dulu ia tinggal bersama ibunya, tetapi ibunya sudah tenang di surga sana. Ia ditinggalkan ibunya sejak umur empat tahun karena sakit parah waktu itu. Sejak itu kehidupannya dan ayahnya jadi merasa sulit. hari demi hari ia lalui bersama ayahnya dikala senang maupun susah.

Sudah seharian ia menunggu ayahnya. Di gubuk reyot itu ia kini tinggal sendirian. Ayahnya meninggalkanya petang tadi untuk mencari nafkah.

“Ayah harus pergi mencari uang untuk kita makan nanti,” kata ayahnya sambil tersenyum kepada purtinya sebelum meninggalkanya.

“baiklah ayah, hati-hati ya” dan dibalas senyuman dan anggukan putrinya itu.

Anak perempuan itu bernama Nurul, ia menunggu kepulangan ayahnya dari bekerja memburuh pabrik, walapun pendapatan nya tidak besar cukuplah untuk makan mereka berdua. Nurul adalah anak yang pintar dan pemberani maka dari kepintaran itu  ia mendapatkan Beasiswa. Melihat keadaan nya sekarang Nurul berniat untuk mengurungkan niatnya untuk mengambil beasiswa. Tetapi ayahnya kekeh ia harus bersekolah. walapun mereka kurang bercukupan tetapi ayahnya mengutamakan pendidikan anak perempuan satu-satunya itu. Sekarang Nurul duduk di bangku sekolah SMP. Sehari-harinya ia berjualan gorengan untuk membantu ayahnya. Walapun pendapatan tidak banyak tetapi bisa membantu meringankan ayahnya.

Tak lama terdengar suara seseorang mengetuk pintu membuyarkan lamunannya, segera anak perempuan itu membukakan pintu tersebut, terdapat seorang paruh baya yang terlihat lesu dan lelah, tapi masih menampilkan senyumanya itu dan ternyata bukan lain Ayahnya yang sudah pulang. Sebernarnya ayahnya itu sudah sakit-sakitan semenjak ibunya meninggalkanya, tetapi ia harus mencari nafkah. Nurul menyabut ayahnya dengan senang.

” Ayah sudah pulang, pasti ayah lelah ya” sambil mengandeng ayahnya untuk masuk rumah.

“ Tidak Putriku, kau belum makan kan, ayo kita makan sama-sama” pinta ayahnya

Hari- harinya seperti biasa ayahnya bekerja buruh pabrik sedangkan Nurul berangkat sekolah. Sepulang sekolah Nurul berjualan gorengan di tempat biasa, ia tidak pernah malu dengan teman-temanya karena berjualan.

“ Untuk apa ia harus malu ini kan bekerjaan halal” batinya. Ada kalanya temanya mengejeknya tapi apa peduli Nurul, ia senang melakukan pekerjaanya karena bisa membantu ayanya.

Sekarang Nurul beranjak dewasa menduduki bangku SMA, ia keinginan kuat masuk perguruan tinggi maka itu Nurul tidak hanya berjualan ia memanfaat kan waktu luangnya itu dengan bekerja paruh waktu. Setelah Tiga tahun menempuh pendidikan SMA, saatnya Nurul masuk perguruan tinggi Pendidikan dengan Beasiswa. Sekarang keadaan Ayahnya semakin tua dan sakitnya semakin parah

“Ayah apa Nurul berhenti kuliah saja ya, untuk merawat ayah”

“ Tidak putriku lanjutkan pendidikan mu, senbentar lagi kau akan menyandang sarjana” berbicara sambil memandang Nurul dari pembaringannya.

Sebernanya Nurul tak kuat melihat ayahnya sakit-sakitan, dan juga ia harus bekerja paruh waktu sehingga meninggalkan ayahnya seorang diri dirumah gubuk itu. Dan akhirnya Nurul bertekat menyelesaikan pendidikannya. Akhirnya hari yang ditunggu-tungu telah tiba dimana Nurul akan menyadang sarjana. Rasa bahagia bercampur terharu menjadi satu saat itu. Tak lupa Ayahnya yang bahagia dan bangga pada putrinya yang sekarang ada didepan sedang memakai toga itu, sebenarnya Nurul melarang ayahnya ikut mendampinginya tapi ayahnya tidak mau melewatkan moment bahagia ini, walapun ayahnya harus melawan rasa sakitnya. Dengan memandang sang putri bahagia.

“Ayah, sekarang Nurul sudah menjadi sarjana” bantinya menatap sang Ayah yang sedang duduk di kursi roda itu, yang mana kedua mata bening itu sudah dibasah oleh  air mata bahagia.

“ Terimakasih Ayah selama ini sudah berjuang dan berkorban untuk Nurul, Nurul berjanji akan menjadi orang sukses dan selalu buat Ayah bahagia dan bangga” ucap Nurul sambil memeluk sang Ayah

“ Iya Putri ku, doa ku selalu menyertai mu dan semoga apa kau cita-cita kan akan terwujud ayah bangga padamu” membalas pelukan sang Putri.

Sekarang Ayah dan putrinya itu sangat berbahagia dimana perjuangan selama ini tidak sia-sia, ayahnya yang ingin melihat putrinya menyandang sarjana itu pun terwujud.

 

Biodata Penulis

Nama   : Anggi Ferliana

TTL     : P.1 Mardiharjo, 07 April 1999

Saat ini sedang menempuh Pendidikan Tinggi Keguruan di STKIP-PGRI Lubuklinggau. Cita-citaku ingin menjadi orang sukses, bermanfaat kepada orang lain dan tak lupa  membahagiakan kedua orang tua ku.

 

 

Comments (0)
Add Comment