BRATISLAVA, BLABLACAR, ISLAMIC CENTER, & PUASA 18 JAM
Residency Story 25 ———————————- Setelah menikmati keindahan danau dari jendela yang membelakangi dipan saya, saya ke kamar Ethile yang tampaknya baru ...
Kumpulan tulisan dalam ruang Benny Arnas.
Residency Story 25 ———————————- Setelah menikmati keindahan danau dari jendela yang membelakangi dipan saya, saya ke kamar Ethile yang tampaknya baru ...
Residency Story 24 ______________________________ Saya refleks memejamkan mata saking takutnya. Pun ketika seseorang itu membekap dari samping, saya p...
Residency Story 23 —————————————————— Kepala saya pusing sekali. Berat sekali. Menyat-menyut. Wajah rasanya tebal sekali, pedas berdenyar-denyar seper...
Residency Story 22 ______________________________ David dan Feo tersenyum di seberang. Saya refleks melangkah mundur sebelum kembali melongok ke luban...
Residency Story 21 _____________________________ Saya baru tahu sekarang kalau berada dalam semacam bungker itu seperti menunggu ajal yang akan datang...
Residency Story 20 ———————————— Saya refleks terjaga ketika alarm ponsel berdering. Pukul 5 subuh waktu Ceko. Sepertinya kami mulai memasuki area perk...
Residency Story 19 —————————- Tidak seperti biasa, kali ini Ethile membeli tiket bus Regio untuk kami. Padahal Filxbus yang sering kami gunakan untuk ...
Residency Story 18 —————————— Saya tak bersemangat ke mana-mana. Rencananya hari ini saya hanya ngetik di apartemen—itu pun kalau mood-nya bagus. Mesk...
Residency Story 17 ___________________ “Bagaimana di sana, Eth?” tanya saya begitu menggeser tombol hijau di layar ponsel. “Kacau, Benn!” “Kacau?” sam...
Residency Story 16 Saya tak tahu harus bilang apa. Saya tak tahu harus berbuat apa. Ethile akhirnya memilih memenuhi panggilan pihak kepolisian Kroasi...