DI PRAHA, SAYA TAKUT, TAKUT SEKALI!
Residency Story 20 ———————————— Saya refleks terjaga ketika alarm ponsel berdering. Pukul 5 subuh waktu Ceko. Sepertinya kami mulai memasuki area perk...
Kumpulan tulisan dalam ruang Residensi Eropa 2019.
Residency Story 20 ———————————— Saya refleks terjaga ketika alarm ponsel berdering. Pukul 5 subuh waktu Ceko. Sepertinya kami mulai memasuki area perk...
Residency Story 19 —————————- Tidak seperti biasa, kali ini Ethile membeli tiket bus Regio untuk kami. Padahal Filxbus yang sering kami gunakan untuk ...
Residency Story 18 —————————— Saya tak bersemangat ke mana-mana. Rencananya hari ini saya hanya ngetik di apartemen—itu pun kalau mood-nya bagus. Mesk...
Residency Story 17 ___________________ “Bagaimana di sana, Eth?” tanya saya begitu menggeser tombol hijau di layar ponsel. “Kacau, Benn!” “Kacau?” sam...
Residency Story 16 Saya tak tahu harus bilang apa. Saya tak tahu harus berbuat apa. Ethile akhirnya memilih memenuhi panggilan pihak kepolisian Kroasi...
Residency Story - 15 Langit Budapest mulai buram. Pukul 9 petang, kami tiba di Hungaria. Magrib baru berlabuh. Saya menggeret koper menuju apartemen. ...
Residency Story - 14 Kepala saya pusing tak karuan. Setelah hampir dua jam menjadi penumpang mobil polisi yang dikemudikan dengan kecepatan 80-90 km/j...
—Bagian 3 Di pintu masuk danau dengan 113 air terjun itu, beberapa mobil polisi berangsur meninggalkan lokasi. Saya dan Ethile bergegas menuju ke mobi...
—Bagian 2 Beberapa orang berteriak kesetanan di tanjakan bawah area Danau Plivitce. Kami yang berada di bagian atas bisa dengan jelas melihat apa pun ...
—Bagian Pertama Hari kedua di Zagreb, saya dan Ethile berkeliling kota yang berakhir di kafe yang tak jauh dari apartemen hingga larut malam. Jangan b...