education.art.culture.book&media

KECELAKAAN DI WEINER NEUSTADT

Residency Story 26

—————————-
—Sebab Kata Adalah Doa

Andrej Rudolf, begitu laki-laki jangkung yang usianya saya taksir tak terpaut jauh dari saya itu memperkenalkan diri dengan air muka semringah. Saya yakin pemilik BMW itu juga melakukan hal yang sama pada Ethile yang sudah ada di dalam. Saya sebenarnya ingin duduk di depan agar dapat berbincang banyak dengan orang baru sekaligus mendapat kawan baru, bukan sekadar kenalan baru, apalagi bahasa tubuh Andrej ketika berkenalan sudah menunjukkan sikap yang hangat. Ya, bagi saya, bertemu dan bercakap-cakap dengan orang baru adalah hal yang harus dilakukan ketika bepergian, sebab salah satu faedah perjalanan adalah menguji kualitas kita sebagai makhluk sosial; mengasah kepercayaan diri dan kemandirian; mengenal kebiasaan dan bahasa tubuh khas seseorang dalam berkomunikasi; mengukur kehangatan pembawaan diri di lingkungan yang mulanya asing; sekaligus mengoreksi sejumlah kata dan respons bawaan yang belum tentu sesuai dengan orang-orang di negeri lain. Apalagi saya ingat pesan ibu: Di tanah orang, hendaknyalah kita tetap jadi manusia, bukan turis. Namun saya harus mengurungkan niat itu, paling tidak saya harus menganulir anggapan bahwa membangun komunikasi dengan pengendara BMW yang baru dikenal harus dimulai dengan memilih posisi duduk di sebelahnya. Ya, sebagaimana kata Andrej di kotak pesan Blablacar—ada 3 orang yang akan membersamainya ke Zagreb. Sudah ada penumpang lain di kursi depan.

“Oh, saya kira semua penumpang harus berkumpul di kilometer 7 Stefanka Road ini,” ujar Ethile ketika saya kembali membuka pintu belakang. Dia tampaknya juga baru sadar kalau ada penumpang lain.

“Sebenarnya begitu, tapi dia mengontak saya dengan penjelasan yang cukup masuk akal. Katanya, kalau saya berangkat dari dari Lozorno, dia mohon saya berhenti di daerah Marianka. Sebab Marianka ke Stefanka Road ini memang cukup jauh. Ketika saya menjemputnya, saya merasa telah melakukan hal yang benar. Dia tampak kelelahan sekali. Jambangnya yang lebat tak mampu menyembunyikan keletihannya. Eh, aku tak tahu apakah haji ini mendengar kita atau dia memang masih terlelap.” Andrej tertawa kecil. Kami akhirnya tahu kalau nama penumpang di depan adalah Haji. “Maafkan kami ngomongin kamu di depan.” Andrej memandang Faisal sejenak, lalu kami semua tertawa.

Andrej menyalakan mesin. Mobil melaju di Stefanka Road.

“Kamu sudah mengenalnya?” Ethile tampaknya melihat peluang menciptakan percakapan yang hangat dengan si empunya BMW.

“Hmm, lebih tepatnya saya tahu haji ini.”

“Sudah sering naik mobilmu dengan Blablacar?”

“Baru kali ini.”

“Haji punya review yang bagus?”

“Tidak.”

“Tidak?” Saya dan Ethile serentak mengulang kata yang sama dalam intonasi bertanya yang tebal.

“Lebih tepatnya dia belum memiliki review alias ini kali pertamanya menggunakan Blablacar.”

“Bagaimana kamu memutuskan menerima calon penumpang tanpa review—maksudku ini bukan hanya untuk Haji sih, tapi juga untuk yang lain.”

Andrej tersenyum ke arah saya lewat kaca spion yang menggantung 30 sentimeter di atas tape

“Sorry kalau kurang berkenan, Drej,” ujar saya seperti menyadari kelancangan barusan.

“Maklumi saja, Drej,” timpal Ethile. “Rekan saya ini penulis. Jadi bawaannya riset everytime. Semuanya kudu detail dan tidak cacat logika.”

Andrej tertawa. “Haji ini setahu saya sering ke Islamic Center Bratislava. Dia sepertinya relawan di sana. Sejak tiga tahun lalu. Jelang bulan puasa hingga beberapa pekan setelah hari raya muslim. Dia mungkin mengajar mengaji atau memberi siraman rohani atau … ah saya tak terlalu paham, tapi feeling saya bilang dia orang baik, makanya saya terima. Feeling, intuisi, kata hati … itu yang main,” terang Andrej menunjuk dada kirinya.

Saya dan Ethile manggut-manggut.

“Oh ya, benar kamu penulis?” setengah berteriak Andrej memastikan.

“Multigenre, Drej. Dua puluh lima buku. Googling saja. Dia orang terkenal di negaranya!” Ethile menjadi jubir tanpa persetujuan saya.

“Oh ya?” Andrej benar-benar mengangapnya serius. “Benn, need your confirmation, Man!”

Saya cengengesan saja. “Yes, I am,” jawab saya agak grogi. “I am a writer, I mean,” jelas saya. Jujur, saya sebenarnya tertarik sekali dengan cerita Andrej tentang Haji yang menjadi relawan di Islamic Center, tapi … tentu tak asyik membincangkan Haji saat ia sendiri sedang tidur. Mungkin ketika ia terjaga, saya akan menanyakannya sendiri.

Andrej tertawa dan menepuk kemudi.

Saya sedikit terkejut.

“Benn, will you write about us?”

“May be.” Ethile nyolot. “Walaupun gak usah terlalu berharap.”

“Oh ya? Kenapa?” Andrej masuk dalam pusaran percakapan yang Ethile mainkan.

“Ya, tak usah terlalu berharap, kecuali pertemuan ini meninggalkan kesan tersendiri baginya.” Ethile benar-benar sok tahu.

“Misalnya?” kejar Andrej.

“Misalnya …”

“Eth?” Saya melotot ke arahnya.

“Misalnya mobil ini kecelakaan, terguling …”

“Owhhh!” Refleks Andrej berteriak.

“… masuk jurang dan hancur lebur, tapi kita semua selamat di dalamnya.”

Andrej tertawa. “Selera humormu membahayakan, Eth. Bagaimana bisa kita selamat dalam kecelakaan mengerikan itu?”

“Yaaa harus selamat. Kalau tidak, bagaimana Benny bisa menuliskan pertemuan ini?”

Ethile dan Andrej ngakak. Saya memandang Ethile dengan muka masam. Ethile sok tahu sekali.

“Bagaimana, Benn?” Andrej lagi-lagi meminta konfirmasi.

“He’s right.” Saya berusaha santai. “Meskipun tak sepenuhnya benar. Kurang sempurna, lebih tepatnya.”

Ethile menoleh ke arah saya.

Andrej bertanya dengan nada tinggi, “Tell us your perfect version, Benn!”

Saya memasang senyum sinis pada Ethile sebelum menjawab, “Kalau urusannya tentang menuliskan pertemuan ini, tidak harus ada kecelakaan …”

“Anggaplah kecelakaan itu ada!” Andrej benar-benar gila.

Ethile tertawa tanpa suara. Dia merasa menang telah “memegang” Andrej.

“Oke!” Saya mencoba mengembalikan humor ini pada tensinya. “Agar saya bisa menulis tentangmu dan kamu masih tetap bisa membacanya, tak perlu semua orang dalam mobil ini selamat dalam kecelakaan maut itu, Drej.”

“Cukup kita berdua saja!” Andrej langsung nyambung. Dia tertawa keras sekali. “Eth, you listened to him, didn’t you?”

“Urusannya hanya tentang menulis lho!” Ethile tak mau kalah.

“So?” Andrej penasaran.

Saya meliriknya tajam.

“So, kita berdua gak perlu selamat. Cukup Benny aja yang hidup. Itu pun kakinya patah dan tubuhnya remuk. Sisakan tangannya saja untuk bisa menulis …”

Astaghfirullah. Saya ‘ngucap’ dalam hati.

“Kita akan membaca tulisan tentang kita di surga. Akur, Drej?”

Tiba-tiba mobil oleng. Andrej memutar habis setir ke kiri dan mengerem mendadak ketika mobil kami hampir menabrak pembatas jalan dengan ladang bunga lili di sebaliknya. Kami semua terlonjak dari tempat duduk, tak terkecuali penumpang di sebelah Andrej yang sedari tadi terlelap.

Sebuah truk yang sedikit keluar dari jalur dan Andrej yang larut dalam candaan berbahaya hampir saja menggali kuburan buat kami semua.

Napas kami terengah-engah di dalam BMW. Andrej keluar dan memeriksa mobilnya. “Kita masih berada di Austria. Daerah Weiner Neustadt. Semuanya baik-baik saja.”

“Kalimat terakhirmu itu pertanyaan atau pernyataan?” Ethile mencoba meluruskan pinggangnya.

Andrej tersenyum. “Maksudku BMW-ku aman dan tak kurang sesuatu apa. Walaupun … setelah mendengar kata-katamu barusan, kuganti status pernyataan itu jadi pertanyaan buat kalian.”

Saya masih syok.

“Aku gak apa-apa, Drej.” Kali ini Ethile merenggangkan kedua tangannya. “Kamu, Benn?”

“So I am.” Saya masih bersandar pada pintu. Mensyukuri pertolongan Allah barusan. “Candaan kita memang kelewatan.”

“Kamu juga terlibat, Benn,” protes Ethile.

“Aku memakai ‘Kita’ sebagai subjek, bukan ‘Kalian’. Bisa bedakan?” Saya protes balik.

Ethile menurunkan kedua ujung bibirnya ke bawah. Tak terima dengan serangan balikku.

“Sudah, jangan bertengkar. Benny benar. Tak seharusnya candaan kita tadi separah itu.”

“Dan Ethile yang memulai,” celetuk saya.

Ethile menoleh. Air mukanya kusut.

“Kata adalah doa, termasuk canda.”

“Dan kamu juga menyusun kata itu. Kamu gak perlu cuci tangan, Benn!”

Andrej masuk dan duduk di belakang kemudi. Tangan kanannya menyetel ulang Google Map di LCD mini di atas tape mobilnya.

Saya mengambil sebotol air mineral dalam tas ransel, lalu menyerahkannya pada Ethile setelah saya menenggaknya beberapa teguk.

Ethile memandang saya dengan menyipitkan sebelah matanya. Sisa ketaksenangan masih tampak di wajahnya. Ia menerima botol itu dan meminumnya hingga botol itu hanya berisi seperempat air mineral.

“Jadi kita baru saja selamat dari kecelakaan. Begitu?” Pemuda di samping Andrej tampaknya sudah benar-benar terjaga. Dia pasti agak bingung kenapa mobil terlalu menepi.

“Kita semua mungkin jarang olahraga sehingga harus melakukannya di tengah perjalanan,” ujar Andrej santai.

Selera humornya boleh juga.

Pemuda yang Andrej panggil Faisal itu lalu menoleh ke belakang. Ia mengulurkan tangan. Ethile menyambutnya dan menyebutkan nama.

Oh, nama lengkap pemuda di depan ini. Nama itu sungguh tak asing di telinga saya. Saya penasaran dengan wajahnya.

Karena saya berada tepat di belakang tempat duduknya, Faisal harus memutar badan sedemikian rupa sebelum kemudian memandang saya agak lama. Uluran tangannya belum saya sambut. Saya tercekat. Lalu wajah kami serta-merta semringah raya.

Wah, ini mah namanya bukan Haji. Kepala saya bekerja keras mengeruk ingatan.

“Benny!”

Nah sekarang dia menyebut nama saya, sementara saya masih berurusan dengan tanda, citra, dan kilasan tentangnya.

Ah apa pun itu. Saya pikir daun kelor cuma ada di Slovenia, ternyata dalam perjalanan Bratislava-Kroasia via Austria pun saya menemukannya. Oh, dunia, apakah orang-orang di dalamnya memang bepergian mengikuti magnet yang melekat pada diri orang-orang (lain) yang pernah berkelindan dalam kehidupannya?

O o, saya baru ingat siapa dia! Lekas saya jabat tangannya erat. Kalau saja keadaan memungkinkan, kami pasti berpelukan. Dapat saya rasakan; Ethile melongo lama dengan mulut setengah menganga dan Andrej dengan gaya khasnya berteriak, “How could it be, men?!***

Malaga, 2019

Comments
Loading...