education.art.culture.book&media

WE ARE BROTHERS

Residency Story 28

————————————

Kami akhirnya tiba di Zagreb pukul 6 sore. Satu setengah jam lebih lambat dari waktu yang tertera di Blablacar. Namun tak ada yang protes. Kami tidak merasa sedang menumpangi BMW berbayar sebagaimana Andrej tampaknya mendapat keuntungan berlipat karena memiliki rekan perjalanan yang “satu frekuensi” dengannya.

“Untung kalian semua sudah mentransfer ongkos perjalanan. Kalau membayar tunai begitu kita tiba di sini, atas semua keseruan tadi, aku akan kagok menerimanya,” ujar Andrej usai mengeluarkan koperku dari kap belakang.

“Bagaimana kami bisa memercayai kata-katamu, Ndrej.” Ethile terpancing rupanya.

Laki-laki murah senyum itu tertawa. Seraya mengibas-ngibaskan tangannya—yang mungkin agak berdebu usai mengeluarkan bagasi kami, ia menunjuk arah barat. “Saya pernah makan di Libanesi Delicija. Favorit saya humus dan pitta-nya. Nasi juga ada. Saya traktir kalian di sana!”

Kami tersenyum lebar. Bagaimanapun, perut kami dalam keadaan yang sangat kompromistis untuk diajak ke rumah makan. Semoga saja menunya bersahabat dengan lidah ini, batin saya.

Libanesia Delecija hanya berjarak 25 meter dari tempat Andrej memarkirkan BMW-nya. Meski dari namanya kita bisa menebak kalau makanan Libanon atau Timur Tengah akan menjadi sajian utamanya, tapi desain restoran ini menurut saya tidak memiliki rasa Libanon sedikit pun—meskipun saya juga tidak tahu, desain “rasa Libanon” itu seperti apa. Interior dan penataan perabotnya, sebagaimana umumnya kafe dan bar di Kroasia, sangat fungsional. Kalapun ada sentuhan artistik, ia merupakan konsekuensi atas fungsi yang menuntut bentuk—yang mungkin bagi sebagian orang terlihat cukup indah. Seperti, untuk penerangan ruangan yang proporsional, tiap meja memiliki bola lampu dengan payung bahan aluminium yang lebar seperti caping, atau untuk memberi kesan hangat, dinding dicat warna kuning yang dipadupadankan dengan warna merah—warna wajib yang katanya bisa membangkitkan gairah makan.

Meja-meja kayu dan kursi stenlis disusun sebagaimana biasa kita jumpai di restoran-restoran Padang. Tak ada vas bunga. Namun tiap dinding yang bersisian dengan meja, selalu menyediakan colokan listrik di bagian bawahnya. Ada TV besar di dua sisi dinding yang berseberangan. Makanan di-display di pintu masuk dalam lemari kaca rendah dengan penerangan yang maksimal. Meski di pintu masuk, restoran ini melabeli dirinya sebagai Vegetarise Paradicja, tampaknya mereka juga menyediakan steak dan kebab ayam.

Ketika kami masuk, restoran cukup ramai. Bahkan beberapa meja sudah diberi semacam papan keterangan di tengah meja bertuliskan “Reservicja” alias sudah di-booking. Oukay, restoran tampaknya diminati. Artinya Andrej mengajak ke tempat yang diminati banyak orang alias punya banyak pelanggan. Logikanya, agak susah menuduh sebagian besar pelanggan—yang tampaknya merupakan orang-orang berwajah Kroasia—memiliki selera kuliner yang mengenaskan. Kesan pertama, Libanesi Delicija, dalam istilah yang populer di Indonesia, bukan kaleng-kalenglah!

Saya memesan pasta dengan topping ayam giling dicampur saus tomat dan semangkuk besar salad. Saya memang melihat ada nasi di lemari display, tapi penampilannya tidak menggugah selera; Ethile memesan steak dan salad tanpa potongan tomat ceri; Faisal memilih kebab porsi jumbo; dan si tukang traktir memesan seloyang pizza dengan topping bawang bombai yang ia minta diperbanyak.

Semua makanan disajikan dalam porsi besar. Saya mafhum dan pengalaman sekali urusan ini. Meskipun bukan di tempatnya berasal, restoran Timur Tengah memang tidak akan menyesuaikan ukuran porsi dengan tempatnya berada—meskipun beberapa restoran terbuka apabila kita ingin memesan setengah porsi. Saya sengaja memesan porsi utuh. Kepala dan perut sedang bersekongkol untuk membereskan rasa lapar dengan upaya maksimal!

Usai makan, saya memeriksa ponsel. Daniel mengirim link lokasinya saat ini. Jalan Petra Betrislavikha No. 77. Diimbuhi teks “Waited, Benn. There’s an urgent thing you have to know!” Oh jadi dia tidak lagi di RS. Atau … Erica memang tidak meninggal di RS? Lalu hal mendesak apakah itu? Ahhh.

“Ada apa, Benn?” Ethile yang duduk di seberang tampaknya menangkap kegelisahan saya. “Pesan dari siapa?”

Tak mau pusing menjelakan, saya serahkan ponsel kepadanya. Ia membaca pesan Daniel sebentar sebelum berkata, “Sedekat apa kamu dengan dia?”

Saya bingung menjawabnya.

“Baru kenalan di kereta dari Villach ke Ljubljana, ‘kan?”

“Plus ketemuan di Bled,” tambah saya.

“Dengan begitu kau anggap kalian sudah sangat dekat?”

“Maksudmu apa, Eth?” Saya tak mengerti arah kata-kata rekan perjalanan itu. “Ada yang salah dengan pesan Daniel ini?”

“Salah sih tidak. Ganjil iya!” Ethile melotot. “Coba mainkan nalarmu, Wahai Penulis!”

Saya diam seraya mengaduk-aduk mangkuk salad yang hanya menyisakan dua potong paprika hijau. Memikirkan kata-kata Ethile dengan saksama. Mencari letak ketaklazimannya.

“Bagaimana?” kejar Ethile. “Dapat?”

“Masalah apa lagi kalian berdua ini?” Andrej yang duduk di samping Ethile menoleh.

“Hmm.” Saya masih menganalisa.

“Pensiun dini saja jadi penulis kalau nalarmu gak sampai!” Ethile kembali ‘menyerang’ saya. “Saya sedang meminta penulis kita ini berpikir jernih, Drej,” ujarnya pada Andrej yang menunggu jawaban. “Cuma itu.”

“Ah, kalian berdua, setelah kenyang, bukan makin terang ucapan, malah makin membingungkan!” Lalu Andrej menoleh Faisal yang duduk di seberangnya. “Jadi ke mana tujuanmu selanjutnya, Sal?”

“Saya akan tinggal di sini 40 hari,” jawab Faisal tenang.

“Kamu benar, Eth. Saya baru nyambung sekarang.” Saya menatap Ethile. Suara saya pelan, sebab tak ingin mengganggu Andrej dan Faisal yang baru saja membuka kavlingan percakapan sendiri.

“Maksudku, kamu akan tinggal di mana di sini?” Andrej mengerucutkan pertanyaan. “Aku punya beberapa kenalan di sini, Sal. Meski bukan orang sini, aku sering ke sini karena urusan pekerjaan.”

“Nah, sekarang, pikirkanlah itu baik-baik, Benn.” Ethile melipat tangannya di dada. Ah, ia merasa menang saat ini.

Faisal menunjukkan semacam kartu nama kepada Andrej. Andrej mengerutkan kening, sebelum memandang Faisal dengan air muka heran. Ia menggeleng-gelengkan kepala cukup lama. Sepertinya ia menemukan hal yang sulit ia percayai.

“Ada apa, Drej?” tanya Faisal cepat. Wajahnya mendadak benyai.

“Saranmu apa, Eth?” Lalu saya menepuk kening beberapa kali. “Ah bagaimana aku bisa berpikir selugu ini ya.” Saya kesal pada diri sendiri.

“Sal, Kamu harusnya memilih mobil jurusan langsung ke Zirje lewat Blablacar itu.” Andrej masih saja geleng-geleng kepala.

Ethile benar. Atas perkenalan dan percakapan yang singkat kami, bagaimana Daniel menganggapku sepenting ini untuk datang menemuinya usai kematian seseorang yang baru dekat dengannya. Apalagi ada hal urgen yang harus ia beritahukan padaku. O oh, ada hal lebih jauh yang harusnya tak luput dalam analisaku. Apakah iya, lewat pertemuan tak terencana di Plivitce, Daniel menjadi sebertanggungjawab seperti ini dengan apa yang Erica alami. Setahuku, mereka hanya “jalan” di Bled, seraya Daniel menunggu teman perempuan satu kampus yang ia taksir lebih dulu untuk menjawab pesannya. Tapi … tapi, kan, mungkin saja itu terjadi sebab Daniel ‘diperangkap keadaan’; ia ada bersama Erica di Plivitce waktu itu. Bisa saja Daniel adalah tipe pemuda yang lugu dan baik hati, sehingga ia merasa harus mendampingi Erica yang baru ia dekati, sebagaimana ia merasa perlu mengontakku sebab ia mengetahui kalau aku ada di Plivitce dan saat ini juga aku ada di Zagreb. Mungkin dia ingin tahu banyak tentang peristiwa itu. Ah, masak pertemuan nanti akan diisi percakapan-percakapan yang interrogatif. Ah, pusingggg! Akhirnya kutumpahkan semua kegelisahan itu pada Ethile.

“Kamu harus tahu, Sal.” Andrej memasang aksi dengan mengarahkan telunjuknya di atas meja dan menggunakan kotak tisu dan sendok sebagai representasi dua daerah. “Zagreb-Zirje itu lebih jauh dari Bratislava-Zagreb.”

“Ya Allah!” Refleks Faisal “nyebut”.

“Sekarang baru aku akui kalau kamu penulis, Benn.” Menghadapi analisaku yang rada rumit, pemuda ini malah tersenyum. “Analisamu itu seperti seseorang yang sedang menciptakan masalah atau konflik bagi sesuatu yang akan ditulisnya!”

“To the point aja, Eth!” Aku jengah juga dengan gayanya kali ini.

“Zirje itu pulau tersendiri, Sal. Dengar: pulau! Daerah terpencil yang dikelilingi pantai. Aku pernah ke sana. Memang daerah yang indah dan … memang ada masjidnya, tapi kecil. Kecil sekali. Jauh lebih besar restoran ini daripada masjid di sana!” Pandangan Ethile menyapu langit-langit restoran.

“Abaikan saja pesannya, Benn!”

“Tapi telanjur kubaca, Eth.”

“Ya gak papa,” jawab Ethile santai. “Memang dia siapa, sampai-sampai harus kamu balas semua pesannya. Biasa sajalah. Apalagi kalian cuma kenal di jalan!” Ethile mengibaskan tangannya. “Don’t sweat yourself for small stuff!”

“Memangnya berapa lama perjalanan Zagreb-Zirje?” suara Faisal bergetar.

“Enam jam darat. Dua atau tiga kali naik bus yang berbeda. Kalau mau mengakses Blablacar, kita bisa cek dulu. Itu pun kamu harus ke Sibenik dulu. Lalu naik kapal untuk menyeberang ke sana.”

“Ya Allah.” Faisal mengusal-usal rambutnya.

Oh, Faisal pasti lelah sekali dengan perjalananan-tak-hentinya, batinku seraya memikirkan diksi untuk merespons Ethile.

“Jadi, Benn?” Ethile memandangku seraya menaikkan sebelah alisnya. Ia punya ekspresi “menagih” yang unik, memang.

“Baik, Eth. Aku putuskan akan membalas pesan Daniel, tapi nanti. Aku akan mengarang jawaban agar ia bisa menerima keadaanku. Agar ia tidak tahu kalau aku sedang merasakan ada ketidakberesan.”

“Halah, melingkar-lingkar ujungnya ke sana juga. Sastrawan, sastrawan!!!” Ethile sengaja mengambil garpu dan menjatuhkannya ke piring steak sehingga menghasilkan bunyi dentang yang menjadi ilustrasi atas kalimatnya barusan.

Saya menoleh ke Faisal yang tampaknya sedang mengontak sponsornya, tapi tak kunjung mendapat jawaban.

“Jadi, Eth, saya akan menemaniku mencari Aida ya?” Aku mengonfirmasi rencana di Zagreb.

Ethile justru memandang Faisal cukup lama.

“I took pity on him, really,” ujar Andrej dengan memasang wajah empati.

Faisal masih bergumul dengan wajah cemasnya karena Liga Islam Arab belum menjawab teleponnya. Ia bisa saja tidak mendengar celetukan Andrej barusan.

“Any idea?” Ethile menoleh Andrej. Ah Ethile sudah pindah fokus, rupanya.

Andrej diam.

Ponsel Faisal berdering. Lucunya, wajah kami bertiga seperti kompak memasang ekspresi kelegaan, seakan-akan itu telepon balik dari sponsornya. Faisal mengangkat telepon dan berjalan menjauh dari meja setelah menjawab salam.

Ethile merogoh dompet di saku belakang jinsnya dan menyodorkannya pada Andrej.

Andrej menoleh.

Saya tak paham apa maksud Ethile. Saya khawatir Andrej tersinggung.

“Ambil berapa yang kamu perlukan untuk membawanya ke Zirje.”

Ohhh.

“Kalau ia punya cukup uang, atau sponsornya loyal, dia takkan mengambil Blablacar begini. Naik pesawat sajalah hingga ke lokasi tujuan,” lanjut Ethile.

“Dia bekerja di Imigrasi Jeddah dengan posisi yang cukup bagus, padahal,” gumamku seperti kesulitan mencocokkan analisa dan kenyataan.

“Kamu tahu seberapa berat beban finansialnya? Berapa jumlah adik dan kakaknya? Bagaimana orangtuanya—sehat atau sakit keras? Jangan-jangan semua di bawah tanggungannya.” Ah kata-kata Ethile benar-benar melampaui usianya.

“Saya sepakat, Eth!” dukung Andrej. “Dalam kekaburan akan banyal hal, hanya nurani paling layak didengar!”

“Hei, bagaimana kalian jadi sehebat ini malam ini!” Saya berlagak protes.

“Saya kuliah di Filsafat, Benn,” kata Andrej kemudian. “Kata-kata tadi auto saja keluarnya. Kalau kamu gak percaya, anggap saja kami sedang kesurupan!”

Andrej dan Ethile kompak tertawa.

“Jadi ambillah sesuai keperluan perjalanan nanti, Drej!” Ethile kembali menyodorkan dompetnya yang dianggurkan saja Andrej di atas meja. “Sebagaimana katamu tadi, kita tak punya banyak waktu, ‘kan?”

Andrej tampaknya mengalah. Ia membuka dompet Ethile, tapi ia menutupnya kembali. Ia menggeleng-gelengkan kepala.

“Aku sedang mengambil peranku, Drej.” Ethile berusaha meyakinkan. “Aku menyumbang ongkos perjalanan. Kamu, ambillah peranmu. Dia butuh teman jalan yang memahami keadaannya. Semoga kamu tak keberatan.”

Andrej malah memandang saya.

“Jangan menagihnya!” ujar Ethile seperti protes. “Benny dan aku itu satu paket. Apalagi urusan uang, aku semua yang pegang!”

Saya tersenyum. “Saya berjanji akan menulis kebaikan hatimu di bukuku, Drej. Swear!” Saya mengangkat tangan dengan jari tengah dan telunjuk yang muncul ke permukaan. “Saya telah mengambil peran ya!” Saya mengonfirmasi. “So, it’s your turn!”

“Nah, cocok!” Ethile membuka dompetnya dan menunjukkan isinya kepada Andrej. “Come on, we are brothers now!”

Andrej bergeming. Matanya menatap isi dompet Ethile agak lama, lalu mengambil dua lembar pecahan 50 euro. Oh, itu bilangan cukup besar. Setara 1.700.000,-. Andrej lalu mengambil botol air mineralnya dan menenggaknya sampai habis. “Baik, kami harus berangkat sekarang. Agar tiba di Sibenik tengah malam dan dia bisa menginap dulu di sana, sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya.”

Belum sempat saya dan Ethile bicara, Faisal muncul dengan wajah agak panik. “Kawan-kawan, maaf sekali, sepertinya aku harus pamit duluan. Aku mau mencari bus atau mobil via Blablacar dulu.”

“Sal.” Andrej bangkit. “Saya yang akan mengantarmu ke Sibenik.”

Faisal mengerutkan kening. “Tapi …?”

“Jangan pikirkan ongkos atau yang lainnya. Kamu duduk saja di samping kemudi sampai tiba di tujuan,” Andrej menegaskan.

“Oh No, Drej,” Faisal menggeleng-geleng. “Jelas saja di awal. Daripada nanti saya tak sanggup membayar setibanya di tujuan.”

“Kamu tak perlu membayar, Sal!” Kini Ethile yang bangkit.

“Yup!” timpal saya. “Now we are brothers.” Saya baru saja meng-copy-paste kata-kata Ethile tadi. Kata-kata favorit saya malam ini.

Faisal menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Ia kemudian memeluk kami satu per satu. Matanya memerah karena haru. “Terima kasih banyak, Brothers. Allah takkan tinggal diam atas kebaikan yang kalian lakukan ini!” Beberapa saat kemudian, ia dan Andrej meninggalkan Libanesi Delicija.

“Kita ngeteh dulu, Benn.” Ethile beralih ke sisi kanan restoran. “Ayo! Gak asyik kalau kita juga keluar. Tunggu hingga segelas teh tandas.” Ethile lalu masuk antrean yang hanya berisi 3 orang.

Di muka antrean, saya mendapati sebuah tembikar besar dengan kran kecil yang mengucurkan teh kental di bagian bawahnya, tertulis “Tea for Free”. Ah, Ethile memang bisa! Saya gegas mengambil barusan di belakangnya.

Dua menit kemudian, ketika kami sedang asyik menyeruput teh, Andrej setengah berlari menghampiri kami.

“Ada apa, Drej?” tanya Ethile cepat dengan gerakan hendak bangkit dari tempat duduk.

“Faisal mana?” timpal saya tak kalah cepat.

“Faisal di dalam mobil. Aku bilang, aku ingin buang air kecil sebentar.” Lalu Andrej merogoh kantong jaketnya. Mengeluarkan dua lembar pecahan 50 euro. “Aku tak bisa menerima ini, Eth. Aku gelisah, sehingga tak kunjung bisa menyalakan mesin mobil dari tadi.”

“Maksudmu apa, Drej!” Ethile sudah berdiri demi menolak uang itu.

“Kenapa kamu berubah pikiran?” Saya agak kecewa pada sikap Andrej yang plin-plan. “He needs us now. He needs you now, Drej.”

Andrej tersenyum ke arah kami berdua. Lalu pelan-pelan melipat uang dalam gengamannya kecil-kecil. “Kalau saya menerima uang ini!” Ia menunjukkan lipatan kecil 100 euro itu ke arah kami. “Apa arti kata ‘we are brothers’ yang kalian nyatakan sesaat sebelum saya dan Faisal meninggalkan tempat ini tadi?”

Saya dan Ethile tak bisa berkata-kata.

Andrej memeluk kami berdua dan Ethile tak punya pilihan lain kecuali menerima kembali uangnya.

Kami menatap punggung Andrej dengan kekaguman dan rasa haru yang menggelegak di kepala masing-masing.

Oh, Allah. Residensi ini, alangkah mustajabnya kisah-kisah yang menghadahiku—padahal Ramadan masih dua pekan lagi …. ***

Miradouro de Santa Lucia, Mei 2019

Comments
Loading...