education.art.culture.book&media

ETHILE, MAAFKAN SAYA

Residency Story 17

___________________

“Bagaimana di sana, Eth?” tanya saya begitu menggeser tombol hijau di layar ponsel.

“Kacau, Benn!”

“Kacau?” sambar saya cepat. “Maksudmu?” Perasaan saya berkecamuk.

“Kereta kami sempat tertahan di Rijeka.”

Oh. Saya tiba-tiba ingat Bregana. Perbatasan Slovenia-Kroasia. Petugas imigrasi Kroasia juga melakukan pemeriksaan—lebih tepatnya membiarkan kami menunggu lama dalam antrean. Entah karena apa. Padahal urusannya hanya mengamati kesesuaian wajah kita dan foto di visa, lalu menstempelnya. Sesederhana itu. Namun … bisa saja saya sok tahu dengan opini ini.

“Seharusnya aku sudah di Zagreb sejak 4 jam lalu, Benn,” keluh Ethile.

Ethile pasti lelah sekali sebab perjalanan kereta ke Kroasia memakan waktu 6,5 jam. Dan kini ia harus tertahan di Rijeka.

Agak rumit menjelaskan status Rijeka, serumit penjelasan yang Ethile utarakan ketika kami dalam perjalanan ke Budapest dari Zagreb dua hari lalu. Sepenangkapku, kota pelabuhan itu, secara historis memiliki keterikatan dengan Kerajaan Hungaria-Austria sekaligus merupakan bagian wilayah militer gabungan Kroasia-Slovenia. Nah bayangkan saja. Saya sih membayangkannya agak ngeri. Dan kini ada pemeriksaan di sana hingga membuat Ethile tertahan hingga empat jam. Apakah hubungan Kroasia-Hungaria memanas? Rasanya gak mungkin. Nggak ada berita pun terkait hal itu. Pun saya tak ingin itu terjadi karena rekan saya sedang ada di sana. Terlalu banyak kekacauan yang saya pikirkan beberapa hari ini!

“Kamu sudah menghubungi mereka, Eth?” Saya akhirnya kembali ke fokus masalah.

“Mereka siapa nih?”

“Kepolisian Zagreb-lah.”

“Sudah, tapi gak ada jawaban. Aku juga menulis di kolom komentar mengontak website dan email yang berhasil ku-searching di Internet. Sama saja. Gal ada respons!”

“Nomer yang kemarin mengontakmu?”

“Itu nomer kantor. Ya, kantor polisi.”

“Dan karena nomer itu kantor, maka tampaknya itu meyakinkan sebagai panggilan resmi kepolisian. Kamu percaya saja, Eth? Maksudmu begitu?”

“Benn, aku harap tidak begitu.” Ada kecamasan dalam suara Ethile.

“None hopes it, Eth …” Tiba-tiba saya ikut cemas. Lebih cemas, mungkin. “… but ….”

“Aku tahu, Benn. Aku ceroboh sepertinya.”

“Tapi alangkah teganya orang yang melalukukan ini padamu, pada kita, Eth.”

“Wait, Benn!” Ethile setengah berteriak.

“Kamu sudah mengontak nomer resmi kantor polisi yang bisa kamu dapatkan di Internet?—Maksudku kau jangan hanya bersandar pada nomer kantor yang spekulatif itu.” Aku pun heran. Tumben saranku lumayan sistematik.

“Itu juga yang aku lewatkan, Benn,” jawab Ethile cepat. “Aku kok bisa tidak meng-crosscheck nomor kantor itu dengan yang tertera di web ya?”
Ethile bertanya-tanya sendiri. “Tunggu, Benn, akuakan kabari lagi kamu segera!”

Di dalam hop on hop off saya gelisah. Saya jadi lebih awas pada hape. Tiap sepersekian detik saya intip layarnya, seakan-akan tiap pesan dan panggilan masuk berasal dari Ethile.

Tiba-tiba saya menepuk jidat karena menyadari ketololan saya. Bukankah saya pun bisa mencari nomor kantor polisi Zagreb tanpa harus menunggu Ethile. Saya membuka Google. Tak lama saya menemukan website-nya.

Policija.hr.

Saya terdiam sejenak. Saya memelototi beberapa nomor telepon kantor dengan kode depan +385 seraya memikirkan bagaimana kalimat yang akan saya gunakan agar saya tidak membuat segalanya lebih buruk. Belum lagi kalau pihak kepolisian setempat tidak melayani aduan dalam bahasa Inggris—hadeuh!

Saya mulai menekan deretan nomor telepon yang pertama yang biasanya merupakan nomor yang paling serig digunakan. Baru saja saya akan menyentuh tulisan OK, layar ponsel berkedap-kedip. Nomor rumah (atau nomor kantor?). Nomor tak dikenal.

Angkat-tidak.
Angkat-tidak.
Angkat-tidak.

Bismillah.

“Hallo.” Saya menata suara sedemikian rupa agar tampak tenang.

“Eh Benn, sorry, paket dataku habis.”

Ethile! Syukurlah.

“Ini meminjam telepon petugas imigrasi di Bregana. Untung mereka baik. Baru selesai semuanya. Bangsat memang penipu itu!”

“Oke, Eth. Jadi bagaimana?” Saya tak sabar ingin tahu kelanjutannya.

“Aku akan menukar sebagian forint-ku di dekat sini dulu. Kamu tahu, ‘kan, kalau semua mata uang Kroasia itu habis kutukarkan dengan forint kemarin. Lalu aku akan mengisi ulang paket data, dan langsung ke KB Dubrava.”

“KB Dubrava? Itu nama kantor polisi di Zagreb atau Plivitce?”

“Klinicki Bolnicki Dubrava. Rumah sakit umumnya Kroasia. Di Zagreb.”

“Kamu mau menemui Aida?”

“Bukan, mau ajak neneknya David jalan-jalan ke mall!”

“Eth?”

“Sudahlah, Benn. Cobalah memosisikan dirimu dalam keadaanku.”

Aku diam.

“Kamu jangan terus meneror begini.”

“No, Eth. Kamu salah paham.”

“Kamu …”

“Maaf, Eth, aku potong. Aida itu urusanmu. Aku mau kembali ke topik perihal telepon yang katamu …”

“Hoaks!”

“… oke hoaks tadi.”

“Kan sudah kujawab.”

“I don’t need the answer only. I need a clear short explanation.”

“Benn, saya sedang crowded, kamu …”

“Well, Eth. Let’s make it easier, okay?” Saya mencoba mengambil kendali tempo dengan harapan dia mau ikut dalam irama yang saya tawarkan.

“You made it complicated.”

“Oke,” saya memejamkan mata sejenak. Mungkin saya harus mengalah sejenak. “Aku minta maaf kalau menurutmu aku membuat semuanya makin rumit. Nah sekarang bisa dengarkan aku sebentar?”

“Hanya sebentar ya?”

“Hanya sebentar.”

“Oke, take your time now!”

“Jadi kamu sudah menelepon nomer yang tertera di policija.hr dan mendapatkan konfirmasi bahwa panggilan menjadi saksi itu hoaks?”

“Tidak.”

“Tidak menelepon atau tidak mendapatkan konfirmasi?”

“Tidak perlu!”

“Jawab yang terang, Eth!” Saya mulai emosi. “Aku mengkhawatirkanmu di sini!”

“Memang tidak perlu kukonfimasi. Aku memang ceroboh. Sorry.”

“Nope, Eth. Justru itu yang paling penting kamu pastikan.”

“Bukan itu, Benn.”

“Bukan bagaimana? Itu yang paling penting!”

“Kamu kenapa?”

“Kalau kamu tidak mau, aku yang menelepon mereka!” Saya mulai mengancam.

“Kamu egois!”

“Egois?”

“Ya. Kamu ingin memastikan kalau kamu takkan dilibatkan sebagai saksi kejadian di Plivitce, ‘kan? Kamu memikirkan dirimu sendiri!”

“Eth?”

“Yang paling penting saat ini adalah Aida, bukan yang lain. Paham?”

Saya terenyak. Menelan ludah. Saya tak tahu, saya atau Ethile yang egois, saya atau dia yang keliru. Semuanya menjadi kusut, makin kusut sejauh ini.

“Kamu salah paham, Eth.”

Sambungan terputus.

Entah, tiba-tiba saya geram sendiri. Eth, percayalah, saya mengkhawatirkanmu. Sungguh.

Bus sudah tiba di jalan utama Nagykoros. Saya harus turun. Meski langit masih biru, hari sudah menunjukkan pukul delapan malam.

Satu menit kemudian saya sudah menyusuri belokan ke arah apartemen setelah menuruni jalan bawah tanah yang mulai sepi.

Tampaknya di luar suhu di bawah sepuluh derajat.

Maafkan saya, Eth.***

Brussel, April 2019

Comments
Loading...