education.art.culture.book&media

MAAFKAN (PRASANGKA) KAMI, DOD!

Residency Story 18

——————————

Saya tak bersemangat ke mana-mana. Rencananya hari ini saya hanya ngetik di apartemen—itu pun kalau mood-nya bagus. Meski bukan kategori penulis yang beriman pada mood, saat ini saya hanya akan bekerja kalau “makhluk” itu datang. Lagi pula saya gak punya beban naskah atau apa pun yang harus diselesaikan. Menulis, saat ini, ingin saya posisi-perlakukan sebagai pengalih kepenatan. Lagi-lagi, itu pun kalau berhasil!

Maka ketika Dody, begitu nama pemilik apartemen yang kami sewa di Budapest ini, melongokkan kepalanya di pintu kamar dan mengatakan apakah pemanas ruangannya menyala dengan baik, saya refleks balik bertanya tentang kesibukannya hari ini. Saya memikirkan urusan lain untuk membuang kecemasan pada Ethile jauh-jauh. Paling tidak, untuk saat ini.

“What to do, Benn?” Laki-laki 45 tahunan itu akhirnya masuk dalam permainan tanya balas tanya. “Sampai pukul 12 aku kosong. Bagaimana?” Masih diakhiri pertanyaan. Dua lapis pertanyaan. Dia gak mau kalah sepertinya.

“Hmm.” Saya tiba-tiba ragu.

“Kamu suka salju?”

Saya bingung mau bilang apa. “Di Hungaria, di mana kita bisa memegangnya langsung?” Akhirnya saya tak mampu menyembunyikan kenorakan.

“Ada. Di selatan. Kemarin adikku baru pulang dari sana dan … katanya masih ada banyak sisa salju di perbukitan rendah di sudut utara desa.”

“Itu kampung halamanmu?” Saya bangkit dari dipan. Menuju microwave yang berbunyi.

“Kampung halaman?” Ia mengangkat kedua bahunya. “I am not sure. Jarang pulang dan tak pernah antusias ke sana. Tempat lahir. Ya, tempat lahir saja. Mungkin itu lebih tepatnya.”

“Oke, Dod. Apa punlah. Apa nama daerahnya?”

“Asotthalom.”

Nama yang unik. “Sangat Hungaria, Dod,” celetuk saya kemudian.

“Sangat Hungaria?”

“Ya, ribet dan unik!” Saya kemudian menertawakan kata-kata saya sendiri. “Nggak seperti namamu yang pasaran!” Saya masih tertawa.

Dody mengibaskan tangannya. “Ada-ada saja kamu, Benn.” Kelihatan sekali laki-laki ini tidak terbiasa bercanda. Wajahnya saat ini masih merah bunga magnolia.

“Berapa lama perjalanan ke sana?” Saya mulai penasaran.

“Dua jam dengan bus. Tiga jam dengan kereta.”

“Aku ikut saja.”

“Ikut saja?”

“Ya!” Saya mendongak. “Kalimatku salah?”

Dody terdiam.

Oh saya baru ingat. Dody tadi bilang kalah dia hanya kosong hingga tengah hari.

“Tunggu. Saya akan kembali sebentar lagi.” Dody mengejutkan saya.

“Dod, mau ke mana?” buru saya cepat.

“Siapa tahu kita bisa pergi hari ini, Benn!”

Wah, baik sekali!

Saya melirik koper yang terbuka. Berantakan. Dari Asotthalom nanti, apakah saya akan langsung menuju negara lain atau akan kembali ke Budapest, saya masih ragu. Namun tidakkah pergi jalan-jalan ketika Ethile sedang dalam masalah adalah egois yang sebenarnya egois sebagaimana yang Ethile tuduhkan. Ah, saya serba salah.

—Benn.
Pesan WA baru masuk dari Ethile.
—Yup?
—Maaf tadi aku emosian.
—Nope. Everything’s oukay!
—Are you sure?
—You may doubt me if I am not a man.
😂👏
—Ada apa ni? Apa kabar Aida?
—Aku sudah di kereta. Menuju Budapest.
—Lho, cepat sekali! Ini baru 3 jam dari telepon terakhir kita lho.
—Aku tak menemukan Aida di Dukhaba.
—Tentu saja tidak. Kamu menganggap dirimu ditipu oknum yang mengaku polisi, tapi di lain pihak, kamu percaya informasi tentang Aida yang ia berikan padamu. Kamu kok tiba-tiba lemot, Eth?
—Cinta memang membutakan segala, Benn.
—Huhahhaaa.
—Jangan bully saya setiba di apartemen nanti ya.

Saya memutuskan menelepon Ethile. Saya pun menceritakan rencana ke Selatan kepadanya agar dia tak terkejut kalau tiba-tiba saya tak ada di apartemen.

“Dody mengajakmu?” Nada suara Ethile berubah.

“Tidak persis begitu.”

“Ceritakanlah yang jelas.”

“Awalnya aku ingin mengajaknya jalan, ya jalan di sekitar Budapest saja. Kupikir itu bisa mengusir kecemasanku terhadapmu, tapi … Dody malah menawarkan melihat salju di Selatan.”

“Kamu mau?”

“Hmm, kurang lebih begitu jawabanku, tapi ….”

“Benn, jangan mudah percaya dengan orang asing.”

Saya berpikir sejenak.

“Kita baru kenal Dody tiga hari.”

“Oke, Eth.” Saya mengalah. “Tapi Dodi sedang keluar. Hmm, sepertinya mencoba memastikan kalau janjianya pukul 12 siang ini bisa dibatalkan agar dia bisa menemaniku ke Asotthalom.”

“Asotthalom? Oh no no!” Kecemasan dan kengerian bercampur dalam suara Ethile.

Tentu saja saya penasaran.

“Ini mungkin saja akan lebih gila dari rasisme yang kamu dapatkan di Slezthal, Benn.”

“Tell me clearly, Eth.”

“Asotthalom itu antimuslim.”

“Kamu yakin?”

“Penduduknya sepakat untuk menolak kedatangan imigran muslim. Walau kamu statusnya cuma pendatang sementara alias turis alias tamu, tapi itu sungguh takkan mudah.”

Saya masih belum, masih sulit, untuk percaya.

“Mereka melihat imigran muslim di belahan Eropa makin terus beranak-pinak, membuat koloni yang eksklusif dan memiliki posisi tawar.”

“Eksklusif? Bagaimana …?”

“Benn, itu bukan pendapatku atau siapa pun.” Ethile cepat menyanggah. “Itu pendapat penduduk Asotthalom.”

Hmm.

“Menurut mereka biarlah kristen murni dengan kekristenan mereka, pun Yahudi, Islam, atau agama lainnya. Untuk menghalau muslim, mereka mengajak masyarakat Eropa Barat yang Kristen untuk menetap di tempat mereka. Dan … itu lucu! Wong di mana-mana Barat sedang kebingungan dengan masa depan gennya yang tidak sebanyak orang-orang Asia, dunia ketiga, apalagi muslim!” Ethile nyengir.

Imigran. Krisis populasi. Rasisme. Ah tiba-tiba saya teringat Maria Dusnav. Apakah dia masih marah?”

“Benn?”

Tiba-tiba saya ingat satu hal. “Kapan kesepakatan itu dibuat Asotthalom, Eth?” Saya khawatir Ethile sedang berbual semata. “Tahun 1800 atau …?”

“Tahun 2015!” jawab Ethile cepat. “Kalau kamu tidak mau mendengarku karena waktu lima tahun lebih dari cukup untuk membuat penduduk Asotthalom menghargai pluralitas, terserah kamu!”

“Sorry, Eth.”

“Mereka trauma mungkin. Tahun 2015 itu lebih 10.000 pengungsi Irak dan Suriah melewati desa ini. Traumanya apa dan kenapa, I don’t know.” Ethile mengangkat bahu.

“Masih ada saja ya daerah yang menetapkan kebijakan antipluralitas seperti itu. Padahal Eropa lho. Barat.”

“Sebenarnya tahun 2017 Mahkamah Konstitusi Hungaria sudah mencabut sejumlah larangan yang dibuat Asotthalom karena bertentangan dengan prinsip globalisasi dan kehidupan modern yang makin baur, tapi …”

“Memangnya Asotthalom melarang apa saja?”

“Pembangunan masjid, pengumandangan azan, hingga penggunaan busana muslim.”

Wow! Sebegitunya. “Tapi … bagaimana Dody tidak tahu ini ya?”

“Ya, bisa saja.”

“Tapi dia lahir di sana, Eth!”

“Ya bisa saja!” Ethile mengulangi jawabannya. “Jangan-jangan dia cuma numpang lahir dan tak pernah lagi ke sana kalau bukan karena ada keperluan.”

Saya mengangguk-angguk. Ethile benar.

“Atau …” Ethile sengaja menggantungkan kalimatnya.

“Atau apa, Eth?”

Ethile tak menjawab.

“Jangan berpikir jauh ya. Aku sudah cukup lelah dengan multikonflik yang hadir di tengah perjalanan ini.”

“Who knows, Benn!”

Astaghdfirulllah. Saya refleks berdoa dalam hati. Semoga dijauhkan dari orang-orang yang memiliki niat jahat. Dody? Ah, tak mungkin dia ingin mencelakaiku dengan menggiringku ke Asotthalom. Astaghfirullah.

“Jadi, saranku, carilah alasan yang tak menyinggungnya. Batalkanlah.”

“Baik, Eth.” Suara saya rada bergetar. Ethile sukses menumbuhkan benih kecemasan dalam kepala saya.

Pintu apartemen diketuk. Saya terkejut. Persis seperti orang yang sedang bersembunyi dari kejaran penjahat atau roh jahat.

“Eth, sudah dulu. Sepertinya Dody datang. Doakan aku bisa bermain peran dengan baik.”

“Aku doakan kamu selamat di sana.”

“Eth!”

Ethile tertawa di seberang. “Selamat berjuang, Benn. Bye!”

Wajah Dody muncul di balik daun pintu yang baru saja dibuka. Kalau ia teliti, mungkin ia dapat melihat wajahku yang mendadak benyai. Baru saja saya mau mengutarakan permintaan maaf, Dody sudah bicara duluan.

“Sorry, Benn. Aku nggak bisa mencari penggantiku di kantor. Rekan kerjaku yang lain sudah mengambil jadwal lain hari ini. Bagaimana kalau besok?”

Tiba-tiba aku merasa disuntikkan nyawa baru. Aku—dan Ethile—perlu belajar lagi bagaimana memelihara prasangka baik pada orang lain. Tak terkecuali pada orang yang baru dikenal. Ah malu sekali diri ini.

“I wish I could, Dod. Ethile akan tiba petang ini dan kami harus berkemas ke Praha besok.”

“Oke, Benn. No worries.” Lalu Dody minta diri dan saya mengangguk dengan cengiran paling janggal yang pernah wajah saya praktikkan. Tidak, saya tidak sukses bermain peran kali ini.***

Al Hambra, April 2019

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 3729