education.art.culture.book&media

NO, MARIA, YOU ARE NOT FINE ….

Residency Story 16

Saya tak tahu harus bilang apa. Saya tak tahu harus berbuat apa. Ethile akhirnya memilih memenuhi panggilan pihak kepolisian Kroasia. Di telepon, sekitar setengah jam sebelum berangkat, saya mendengar perdebatan hebatnya dengan pihak Zagreb. Ia berkeras kalau polisi tidak harus memanggil saya, cukup dirinya. “I am more than enough as a witness!” teriaknya. Padahal, sayalah yang melihat kejadian itu dan saya yakin, celetukan saya di mobil malam itulah yang “dikejar” David dan Feo. Namun akhirnya Ethile berhasil. Paling tidak itu yang saya simpulkan ketika akhirnya ia harus pamit sebelum menghabiskan sarapan pastanya yang masih panas di meja makan apartemen.

“Kamu punya janji dengan narasumbermu pagi ini, ‘kan?”

“Hmm …”

“Sudah, jangan dipikirkan. Saya aman kok.”

“Tapi, Eth?”

“Sekarang saya yang mau minta maaf dan izin meninggalkan kamu paling lama dua hari untuk menjadi saksi di sana ya.”

“Tapi kamu tidak melihatnya sebagaimana aku …”

“Aku sudah tahu semua. Aku akan memindai ceritamu.”

“David dan Feo?”

“Can’t you trust me?” Dia menatapku, lurus dan tajam. “Sudah 6 negara yang kita lewati sama-sama lho.”

***

Saya memutuskan membeli tiket hop on hop off seharga 745 forint. Dengan tiket ini, saya bisa menikmati Budapest dari lantai dua bus tanpa atap. Sebagai orang baru, saya ingin tahu bagaimana Buda dan Pest bersatu, termasuk jejak-jejak Jengis Khan di negara ini lewat fasilitas audiophone yang disediakan untuk semua penumpang. Kata Ethile, narator akan menceritakan tempat-tempat yang kita lalui.

“Ambillah tempat di lantai dua bagian tengah. Karena itu spot favorit. Jadi berangkatlah sekarang juga. Kita akan berpisah di underground. Kamu susuri tangga B, saya akan terus ke C, naik trem, mencari trem yang akan membawa saya ke jalur kereta yang saya pesan,” terang Ethile beberapa saat yang lalu.

Kini, saya berada di lantai dua hop on hop off. Ethile benar, dari sini, pemandangan indah kota Budapest dengan leluasa bisa dinikmati. Dan … saya tak tertarik menggunakan audiphone sebab saya ingin berkonsentrasi mencari Maria Dusnav yang katanya akan naik di …—nah itu yang saya lupa sehingga harus mengamati tiap wajah dan perawakan perempuan yang masuk di setiap pemberhetian bus. Kami cuma kenal di sebuah forum sastra di Ubud tahun 2010 dan saya baru mengontaknya lagi ketika membutuhkan bantuannya seperti saat ini. Ah, kenalan macam saya ini’

Karena satu dan lain hal, Maria tidak jadi naik bus keliling kota itu di seberang Gedung Parlemen—ya, sekarang saya baru ingat di mana ia berjanji akan naik bus dan kami akan berbincang seraya keliling kota!

Kami akhirnya bertemu di pelataran bangunan megah itu dan bercakap-cakap seraya jalan-jalan.

Maria menceritakan bagaimana pengalamannya menangani orang-orang yang stres di panti sosial, tapi ketika sembuh, pihak keluarga malah tak mau menerimanya dan menyerahkannya secara penuh ke lembaga sosial tempatnya bekerja. Happy You, begitu Maria menyebut nama tempatnya bekerja. “Orang-orang Eropa hari ini,” kata Maria kemudian, “lebih gemar memelihara anjing daripada mengurus anak—apalagi melahirkannya!”

Saya memikirkan sesuatu. Ya, sejumlah negara Barat yang saya datangi menunjukkan pemandangan itu. Orang-orang lebih banyak berjalan kaki mengitari kota, bertemu teman di kafe, atau bahkan berangkat kerja dengan anjing yang bersih terurus bersama mereka.

“Salah satu penyebab rasisme hidup kembali di Barat adalah karena bumerang yang dilemparkan oleh manusia modern itu.” Maria makin bersemangat. “Mereka tak ingin punya anak. Barat krisis populasi asli. Imigran yang datang membawa habit negerinya ke Barat, ke Eropa, salah satunya—maaf—sering melahirkan. Populasi mereka tak terbendung. Mereka pun membentuk koloni dan komunitas sendiri. Lalu kebutuhan industri membuat mereka masuk dalam daftar tenaga kerja untuk sirkulasi ekonomi Barat. Mulanya Barat senang karena mendapatkan tenaga dengan upah di bawah rata-rata—apabila dibandingkan dengan meng-hire tenaga kerja Barat. Namun … beberapa dari imigran itu—katakanlah dari India, Turki, Tiongkok, Pakistan, Vietnam—memiliki etos dan loyalitas yang cemerlang. Karier mereka menanjak. Mereka mendapat posisi di tengah-tengah lingkungan Barat. Seperti baru sadar, ketika semuanya sudah terjadi, Barat kemudian sangat membenci imigran. Ini memang masih diperdebatkan. Tapi sentimen itu jelas sekali. Barat pun (kembali) menjadi rasis. Tapi telat. Tapi percuma!”

Saya memikirkan Ethile. Telah sampaikah ia di Zagreb. Lalu apakah ia harus ke Plivitce lagi. Lalu Aida …

“Benn, kamu baik-baik saja?”

Oh ini kali kesekian Maria memastikan hal itu. Saya sungguh sulit konsentrasi. Pikiran saya pada Ethile. Bagaimana ia mengarang cerita seakan-akan ia adalah saya. Saya sih percaya kalau ia mampu bermain peran dengan baik, tapi bagaimana David dan Feo yang sudah mengetahui segalanya. Yang sudah mengetahui kalau akulah yang berada di lokasi kejadian, bukan Ethile.

Lalu Aida. Ah. Kenapa pula saya memikirkan gadis itu. Sampai saat ini, sejujurnya saya masih tidak percaya. Gadis dengan pipi yang selalu merah dan rambut pirang mengilap ketika diterpa sinar matahari, yang ketika menceritakan peristiwa terbakarnya Notre Dame di Paris sungguh berhasil membuat saya dan Ethile terperangah.

“You know, kami sedang di atas kapal feri yang melintas tepat di posisi terbaik untuk melihat Notre dan ternyata katedral ini terbakar, uuggghh!” Aida ekspresif sekali. Sampai-sampai saya yang duduk di kursi belakang bisa merasakan perasaannya ketika menyaksikan ‘peristiwa bersejarah itu’ secara langsung. Ketika kami rehat di depot pengisian bahan bakar, Aida sempat menunjukkan video terbakarnya Notre Dame yang ia ambil dari feri.

Saya dan Maria akhirnya menyudahi pertemuan lebih awal. Saya yakin, perempuan 39 tahun itu pasti kecewa dengan sikap saya. Sebelum berpisah saya pun menyampaikan permintaan maaf karena saya tidak bisa konsentrasi. “Saya dan fasilitator saya sedang dibelit masalah yang tak pernah saya prediksikan sebelumnya. Saya benar-benar minta maaf, Maria.”

Maria tersenyum sekenanya. “Don’t worry, Benn. I am fine,” katanya seraya menerima uluran jabat tangan saya. Ia pun meninggalkan saya.

Saya percaya. Ketika perempuan yang kecewa bilang “Saya baik-baik saja” sebenarnya ia sangat tidak baik-baik saja.

Ponsel saya berdering.
Telepon dari Ethile.***

Sevilla, 30 April 2019

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 3729