education.art.culture.book&media

SEMUA ‘KAN PATAH PADA WAKTUNYA

Karya: Dini Wijayanti

 

Gita telah pulang bekerja. Berdiri di depan rumah yang gelap gulita, padahal hari mulai gelap. Entah mengapa sang suami tidak menghidupkan semua lampu?! Gita berjalan perlahan dan membuka pintu dengan hati-hati. Hari ini ia pulang telat, ia rasa sang suami telah pulang ke rumah mendahuluinya. Harap-harap cemas melanda dirinya. Ia takut suaminya marah lagi karena lebih mementingkan pekerjaan ketimbang mengurus anak dan suaminya. Ini adalah cita-cita Gita untuk menjadi mandiri. Apakah yang dilakukan gita salah?

Menurut Gita ini adalah cara paling baik untuk menjadi mandiri. Menghasilkan uang dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Anak yang ia besarkan−walaupun tidak sepenuhnya menyaksikan tumbuh kembang anaknya−sekarang telah tumbuh dewasa dan terlihat baik-baik saja. Bagi Gita itu sudah cukup. Namun, apakah Gita tahu perasaan yang sebenarnya dari si anak?

Setelah memasuki rumah dan menyalakan semua lampu. Gita berjalan menuju kamar untuk membersihkan badan. Ya, Gita hanya sesekali memasak. Pekerjaannya sebagai manager di suatu perusahaan menuntutnya untuk selalu menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Akibatnya, Gita lalai dalam mengerjakan sesuatu yang dianggap wajib sebagai seorang istri. Entah setelah resign dari pekerjaannya nanti, Gita akan melakukan kewajibannya atau tidak.

Malam itu, suami Gita berada di ruang makan. Ia hanya melirik ketika Gita memasuki kamar. Lama-lama, ia muak dengan semua perlakuan Gita yang lalai dengan kewajibannya. Ketika Gita telah keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan untuk mengambil minum. Suaminya mulai angkat bicara, “Aku kepala keluarga di rumah ini! Aku berhak mencampuri urusanmu!” Suami Gita merupakan salah satu suami yang termasuk tegas. Tetapi, Gita terlalu menganggapnya santai ketika sang suami marah.

Pertengkaran hebat terjadi di ruang makan tersebut. Dua orang yang mengungkapkan isi hatinya melalui marah. Tetapi tidak sadar jika kemarahan tersebut dapat menimbulkan rasa sakit yang kian bertambah. Ego menyelimuti diri masing-masing. Sang suami yang ingin istrinya tidak melalaikan kewajibannya dan malah menuruti keinginannya sendiri untuk bekerja dengan dalih ingin menjadi mandiri. Gita yang egois dan sama sekali tidak mengkomunikasikan apa yang ia lakukan dan rencanakan kepada suaminya.

Kejadian itu, berakhir dengan panas, Gita pergi begitu saja. Berjalan dengan cepat memasuki kamar dan menutup keras pintunya. Gita tidak peduli lagi dengan ocehan sang suami. Gita merasa, ia sudah benar melakukan ini. Ya, hanya Gita yang tahu. Sang suami terduduk di kursi meja makan, emosinya terkuras habis malam ini hanya untuk melayani keegoisan istrinya. Suami Gita merasa sangat tidak dihargai lagi.

 

 

Dini Wijayanti, lahir pada tanggal 08 Februari 2004 yang masih menempuh Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, semester 2 di Universitas PGRI Silampari Kota Lubuk Linggau. Menurutnya, menulis adalah sebuah pengalaman yang dituangkan ke  dalam bentuk aksara, jika tidak ada pengalaman maka tulisan tersebut tidak akan terwujud sesuai yang diinginkan. Selain hobi mengarang indah, ia juga menggeluti bisnis jasa di bidang seni yaitu henna art sejak tahun 2021. Kunjungi akun media sosial penulis di Instagram @dnwjynti_di.

Comments
Loading...