education.art.culture.book&media

TRAUMA LOGIKA

Residency Story 29

—————————-

Setelah perut kami terasa hangat oleh teh gratis Libanesi Delijica, Ethile mengetukkan pantat gelasnya yang kosong ke meja dan bangkit. Tentu saja saya paham kode itu. Seorang perempuan gembul yang berdiri di balik etalase makanan di dekat di pintu masuk melempar senyum ketika kami berjalan keluar restoran.

“Bagaimana menurutmu, Benn?” tanya Ethile ketika kami sudah di pinggir jalan, lima meter dari Libanesi Delicija.

“Apanya yang bagaimana?” Saya mengeret koper agar sejajar dengan posisi saya berdiri. “Kita melalui banyak sekali kejadian hari ini. Jadi, saya tidak bisa menangkap bagian mana yang kamu tanyakan?”

Ethile mengeluarkan ponselnya lalu beberapa kali menggeserkan telunjuknya di layar. “Kita menyeberang sekarang, Benn. Kereta kita 100 meter di depan.” Ethile memang multitasking. Bagi yang belum mengenalnya, bisa saja melabel dia nggak sopan. Namun, sepengalamanan saya, materi percakapan yang sekilas-lalu tampak ia abaikan, akan ia respons kemudian. Pikirannya otomatis terarahkan untuk merespons hal-hal yang menurutnya mendesak, bukan menyelesaikan hal yang sudah dimulai sebelumnya.

Saya tak menjawab, tapi langsung mengikutinya.

“Aku lihat kamu habis tiga gelas teh manis. Tentu ada sesuatu yang sebaiknya kamu ceritakan, Benn.” Ethile berbelok ke kanan begitu kami tiba di seberang.

Saya tertawa dalam hati. Cerita, tidak? Cerita, tidak?

“Ngopi saja kamu tak pernah pakai gula, Benn. Hmm, walaupun jarang ngeteh, setahuku, kamu juga tidak menambahkan gula di dalamnya, ‘kan?”

Kali ini saya benar-benar tertawa, tapi tak bersuara. “Penting sekali ya, Eth?”

“Untung kita sama-sama memesan salad ya.” Ethile berhenti dan menoleh ke saya yang berada dua langkah di belakangnya.

Koper saya agak kesulitan digeret di atas trotoar berkonblok. Terlalu banyak lubang dan lekuk membuat rodanya kesulitan menstabilkan fokus gesekan.

“Semua sayurannya segar. Dressing-nya pun cuma minyak zaitun dan mayonaise yang tampaknya baru dibuat. Tapi itu tidak cukup. Ketika melihat teh panas gratis, kupikir itu akan cukup membantu membereskan rasa pizza yang berantakan di lidah, sekaligus membuat usus yang kosong terkejut mendapat asupan roti superkeras, sosis dan daging yang kering, saus tomat yang asam kepahit-pahitan, dan … ah bawang bombay yang banyak itu seperti dicuci dengan air sabun sebelum ditaburkan di atasnya.”

“Saya turut berbela sungkawa, Eth.” Saya menahan tawa.

“Aku pikir, kalau bukan karena perjalanan 5 jam dengan perut kosong, kita akan berpikir berkali-kali untuk menghabiskan menu-menu tadi, Benn.”

“Oh ya?” Saya dan Ethile berhenti lagi di dekat tiang lampu merah. “Anggap saja, khusus kasus barusan, kita menghabiskannya atas dua alasan: Pertama, menghormati Andrej yang mentraktir kita di restoran pilihannya. Kedua, kita jadi tahu bagaimana rasanya makan untuk hidup!” tawa saya pun pecah.

Ethile menggeleng-gelengkan kepala. “Mumet juga aku dengan ungkapan-ungkapanmu ya.”

“Abaikanlah kalau begitu, Eth.” Saya mencoba bersikap cool di antara tawa yang belum reda. “Hitung saja belasungkawa tadi sebagai kata-kata yang keluar dari mulutku.” Saya benar-benar berusaha keras meredakan tawa.

“Lah, kecuali Andrej, kamu dan Faisal terpancing juga dengan tindakanku yang mencicipi menu kalian, ‘kan? Kenapa kalian juga melakukannya? Tentu saja untuk tujuan yang sama: memastikan hidangan siapa yang paling enak, dan hasilnya … kita senasib! Semua makanan rasanya mirip kain pel yang disiram air bacin. Berbau dan hambar!”

Tawa saya pecah lagi. “Makanya kusampaikan ucapan belasungkawaku tadi, Eth.”

“Tapi kamu juga merasakan hal yang sama, ‘kan? Karena kebabmu menurutku terlalu amis dan lembek. Tekstur ayamnya malah mirip lemak sapi yang mengambang di kuah sup. Seladanya pun tak sesegar selada yang digunakannya untuk salad.”

Saya mengangguk seraya mengeret koper sebab lampu hijau untuk pejalan kaki baru saja menyala. “Ucapan belasungkawaku tadi kutujukan bukan hanya untukmu lho, Eth, tapi untuk kita semua. Entah kalau untuk Andrej.” Saya tak ingin sesporadis Ethile dalam mencaci-maki makanan. Satu, karena semuanya sudah kadung masuk dalam perut. Kedua, Ibu tak pernah mengajarkanku bersikap demikian pada makanan.

“Andrej harusnya lebih tahu tempat yang bisa memuaskan kita semua.”

“Saya pikir dia sudah benar, Eth, tapi selera masing-masing kita saja yang berbeda, bukan?”

“Hanya karena dia satu-satunya orang Bratislava di antara kita?” Ethile mengedarkan pandangan lalu melihat lagi layar ponselnya. Ia sedang mencocokkan tempat kami berdiri dengan petunjuk peta digital di ponselnya.

“Menurutku, lidah Slovakia dan Kroasia rada mirip.”

“Aku ada garis Kroasia, Benn. Ibuku yang Vienna. Ayahku kelahiran Duvronik. Walaupun mereka semua orangtua tiriku.” Lalu ia tertawa. Saya tahu ia sedang menghibur masa lalu yang baru saja ia buka sendiri itu.

“Lagi pula, kamu memang lebih banyak tinggal di Austria, Eth,” saya berlagak menyanggah, demi mengalihkan perasaan nelangsanya. “Hmm, maksudku sebelum kamu memutuskan berkeiling dunia empat tahun terakhir ini.”

“Poinmu apa, sampai bawa-bawa lidah Slovakia-Kroasia yang mirip tadi?”

“Saya pernah membaca di sebuah majalah. Aku lupa nama majalahnya. Oh ya, saya baru ingat!” Saya meninggikan suara di kalimat terakhir. “Majalah resmi Maskapai Luftansa dalam penerbangan Paris-Munich tengah bulan ini. Entah bagaimana maskapai Jerman itu membahas Kroasia di edisi terbarunya.”

“Trus?”

“Orang-orang Kroasia tidak terlalu menyukai makanan dengan rasa yang mencolok. Tidak menyukai rasa saus yang tajam, apalagi hasil racikan aneka rempah yang jadi andalan kami orang Asia Tenggara ataupun Faisal seorang Arab. Mereka memberikan rasa pada makanan pascamakan, bukan makanan yang memberikan mereka rasa.”

“Memberikan rasa pada makanan pascamakan?” Ethile menyipitkan sebelah matanya. “Kamu sedang menjelaskan lidah dan makanan Kroasia atau sedang mengarang sebaris puisi nih?”

Saya sudah menduga Ethile akan memberikan respons demikian, tapi saya tetap saja tertawa. “Pascamakan, orang-orang Kroasia menenggak anggur. Apa pun jenis anggurnya.”

“Bukankah sebagian besar orang Eropa melakukannya? Aku pun tadi minum anggur, di sela-sela makan, sebagai ganti air mineral, dan …”

“Iya. Orang Eropa juga biasa makan dengan anggur—wine, katakanlah—sebagai ganti air putihnya. Akan tetapi, apa kamu tidak melihat ada yang berbeda dengan orang-orang Kroasia? Hmm, paling tidak, dengan mereka yang makan di restoran tadi?”

Ethile menggeleng. Ia sepertinya sedang malas berpikir. Saya maklum, kepalanya sedang diperas menemukan tempat kami mendapatkan kerete yang akan menuju ke tempat Aida tinggal.

Orang-orang Kroasia—katakankah sebagian besarnya atau katakanlah mereka yang makan di Libanesi tadi sebagai sampelnya—tidak menenggak anggur ketika sedang makan. Kamu memerhatikannya?”

Ethile mengerutkan kening. “Hmm, aku tak terlalu perhatian, Benn.”

Saya nyengir. “Artinya kamu belum bisa jadi penulis. Kamu tidak peka dengan keadaan sekitar. Kamu …”

“Benn, kita ke sana!” Ethile menunjuk ke turunan di utara. Multitaskingnya kumat.

Saya mengikutinya yang turun duluan. Di bawah, kami menghampiri sebuah warung—yaaa dari tampilannya yang apa adanya saya menyamakannya dengan “warung”. Menjual aneka kudapan dan minuman dalam kemasan. Ethile membeli tiket kereta di sana.

“Kamu yakin ini tempatnya, Eth?” Saya sangsi. “Resmi?”

Ethile tak menjawab. Ia membayar 25 kuna dan menerima dua tiket dari penjaga warung. Ternyata uang sejumlah itu sudah termasuk dua botol air mineral yang salah satunya Ethile sodorkan padaku.

“Lain tempat, lain pula kebiasaannya, Benn.” Ethile hendak naik tangga yang baru saja kami turuni sebelum ia menoleh ke saya sesaat. Ia turun dan mencangking koper saya, lalu membawanya tanpa sempat saya cegah (ah, lagian kenapa saya harus cegah?)

Di atas, kami berbelok ke Zagreb Square yang hanya berjarak 100 meter dari warung tiket tadi. Ternyata di tempat yang terbuka itu, banyak sekali warung yang menjual tiket kereta. Saya ingin mengolok-oloknya, tapi urung. Kami sudah terlalu lelah.

“Kita menunggu di sini, wahai Pak Penulis yang peka dengan keadaan sekitar,” oloknya dengan lirikan nakal. Benar, ‘kan? Ia merespons kata-kataku terkait ketidakerbakatannya sebagai penulis setelah ia menemukan tempat pemberhentian kereta dalam kota.

Pandangan saya menyapu sekitar. Di atas gedung tua yang megah di seberang, sebuah videotron berukuran raksasa menampilkan video promosi pariwisata China dalam durasi 2 menit yang terus diulang-ulang. Saya yakin, tak ada yang menontonnya di pengulangan keempat, sebab pengulangan yang ketiga sudah membuat kepala keliyengan.

Di kiri-kanan kami, bangunan tua dengan penerangan seadanya mengepung square. Lima meter di belakang kami, sebuah patung kuda raksasa yang mengangkat dua kaki depannya di atas fondasi setinggi 5 meter berdiri gagah.

“Sudah dapat detail lanskap tempat ini untuk bahan tulisanmu?”

“Hmm, kalau siang, mungkin akan lebih jelas lagi gambarannya ya, Eth,” jawab saya masih dengan pandangan yang memerhatikan keadaan sekitar. “Bagaimana kalau pagi besok kita ke sini lagi?”

Ethile mengangkat kedua alisnya.

“Hmm, maksudku kalau kita bisa menemukan Aida malam ini dan memastikan kalau semuanya baik-baik saja.” Ah, tiba-tiba saya merasa ngomong di tempat dan situasi yang salah.

Ethile memaksakan diri tersenyum. “Terima kasih sudah menjadi rekan perjalanan yang tangguh, Benn.” Ethile menatapku sebelum melihat ke barat. “Keretanya lima menit lagi datang.”

“Terima kasih juga sudah menghadiahiku banyak sekali kisah untuk ditulis, Eth.” Ah, kenapa jadi melankolik begini!!!

“Oh ya, besok pagi kamu memang harus ke sini. Di belakang patung kuda itu, ada pasar tradisional Zagreb yang luas sekali. Pasarnya hanya buka hingga pukul 11 pagi. Buah, bunga, dan sayur mayur dijual dengan harga sangat murah.”

Oh, thanks, Eth. Dia tahu sekali kalau rekannya ini penggila buah.

“Kamu bisa mendapatkan stroberi hanya dengan 7 kuna dan anggur hitam 5 kuna.”

“Per kilonya?” sambar saya cepat.

“Per kilonya!” tegas Ethile dengan ekspresi kebanggaan seorang fasilitator yang telah menunjukkan kliennya sebuah tempat yang disukainya.

Bunyi bising terdengar dari arah Barat. Tak sampai satu menit kemudian, pintu kereta di hadapan kami sudah terbuka. Kami baru menyadari kalau orang-orang yang ngobrol di sekitar kami juga menunggui kereta ini ketika mereka mendekat. Dalam kereta yang sesak penumpang, kami beruntung mendapatkan tempat duduk, meskipun terpisah.

“Kita turun di pemberhentikan ke-7!” Ethile menoleh ke belakang seraya mencari-cari wajahku di antara tubuh orang-orang yang berdiri. Ia mengeraskan volume suaranya. Kami dipisahkan oleh dua baris tempat duduk.

Di kereta saya tertawa sendiri ketika melihat tiket mungil yang saya pegang. Kereta yang kami tumpangi ini bernama Trauma Logika. Ah ada-ada saja nama kereta di Kroasia ini.

Baru saja saya menenggak air mineral yang Ethile belikan di warung tiket tadi, saya dikejutkan oleh teriakannya. Ya, teriakan Ethile!

“Benn, kita turun sekarang!” Ia mengeret koper saya keluar. Seorang laki-laki paroh baya mengikutinya dengan air muka kusut.

“Tapi, Eth!” Ah saya tak punya waktu bertanya dan mendebat. Di Eropa, setahu saya, kereta hanya berhenti kurang dari satu menit di tiap pemberhentian. Saya gegas keluar. Mengerti dengan ketergesa-gesaan saya, beberapa penumpang memberi jalan.

Di luar, saya ingin bertanya mengapa kami malah berhenti di pemberhentian pertama sebelum kemudian saya menyaksikan perdebatan sengit Ethile dengan laki-laki yang tadi mengiringinya.Saya sungguh tak paham apa yang mereka ributkan sebab semuanya berlangsung dalam bahasa Kroasia. Sepertinya laki-laki seusia ayah saya itu orang Kroasia asli. Sepertinya mereka sudah saling mengenal satu sama lain.

“Ada apa, Eth?” Akhirnya saya memberanikan diri bertanya.

“Benn, ayo kita pergi dari sini!” Ia berjalan cepat. Saya dan laki-laki bertubuh gempal yang terus mengoceh dalam bahasa Kroasia itu terus mengikutinya. Ada yang janggal di telinga saya. Intonasi mereka dalam berbicara benar-benar bertolak belakang. Ethile yang marah dan laki-laki itu yang memaksa, tapi sesekali juga terdengar memohon.

Ternyata kami menuju pol taksi. Beberapa mercy parkir di pinggir jalan. Ya, mercy. Ethile memanggil saya untuk bergegas, sebelum kemudian ia meminta sopir yang baru keluar dari pintu depan salah satu mercy untuk memasukkan koper saya dan ransel besarnya ke kap belakang. Setengah berlari saya masuk ke pintu belakang yang sudah Ethile buka.

Di dalam, dari balik kaca jendela yang agak gelap, saya melihat dengan jelas Ethile menunjuk-nunjuk wajah lelaki yang kali ini memasang wajah memelas. Tak lama kemudian, Ethile membuka pintu dan duduk di sebelah saya. Di luar, laki-laki itu mengetuk kaca, tapi Ethile justru memerintahkan sopir taksi untuk bergegas.

Saya tak berani memecah kebekuan. Saya tak sanggup memulai percakapan. Lima menit kemudian, setelah memberitahu tujuan kami—yang artinya taksi kami harus putar balik 50 meter untuk kemudian belok kanan ke jalan yang lebih kecil, Ethile mengambil botol air mineral di tangan saya dan menenggaknya sampai habis. Saya sendiri tak tahu di mana ia meletakkan botol air mineralnya tadi.

“Semoga Aida ada di tempat, Benn,” ujarnya seperti bergumam. “Paling tidak, itu bayaran yang pantas atas mimpi buruk yang menghadirkan laki-laki tak bertanggungjawab barusan!”

Saya diam. Mengambil peran sebagai penyimak.

“Ia meninggalkanku ketika usiaku 9 tahun dan darinya pula aku tahu kalau aku bukan anak kandung, dan sekarang ia ingin minta maaf atas nama seorang ayah yang tak bisa melupakan bayi yang katanya telah ia rawat sejak diadopsi dari rumah bersalin. Taiklah!”

Saya masih diam. Menatap lurus ke depan seraya mencuri pandang dari kaca spion sopir. Ethile membuang muka. Ia menangis. Saya yakin, ia menangis.

Oh, ternyata: menyerahkan sapu tangan yang ia sebut barang jahanam, ke Museum of Broken Relationships di Zagreb pekan lalu, tidak cukup ampuh membuat hatinya yang patah itu kembali utuh. Malam ini, dengan sangat menyesal, saya melihatnya patah lagi. Patah lagi. Bisa disambung lagi atau tidak, saya tak berani membayangkan.

Satu, dua, empat, enam detik kemudian, Ethile melepaskan raungan sekeras-kerasnya di dalam mercy itu hingga si sopir refleks menepikan mobilnya dan menoleh ke belakang. “Something wrong just happened?”

Jantung saya berdegup lebih kencang.
Tiba-tiba pikiran saya mampir ke nama kereta yang hanya beberapa menit kami tumpangi tadi.

Trauma—
Logika.***

(Paris, 2019)

Comments
Loading...