education.art.culture.book&media

Hobiku

Karya: Suci Setianingrum

Nama ku Indria Fatma Sari kalian bisa memanggilku dengan Indri. Saat ini usiaku 19 tahun dan aku akan menceritakan tentang skenario kehidupanku selama umurku menginjak 19 tahun ini.

Aku adalah anak tunggal dari kedua orang tuaku, tinggi badanku saat ini 165 cm, berat badanku 47 kg, dan hobiku adalah berlari dan melukis. Tapi, hobi yang paling aku dalami adalah berlari.

Suatu hari, ada perlombaan memperingati hari 17 Agustus-an di kampungku. Aku hanya coba-coba saja untuk mengikuti lomba lari lapangan dan ternyata dari mengikuti lomba di kampung, aku bisa mengikuti lomba atlet tingkat kabupaten. Saat itu, aku dipilih oleh kepala desa di desaku untuk menjadi salah satu perwakilan lomba atlet tingkat kabupaten. Aku tak mengira, ternyata ketika aku berlari ada yang memperhatikannya sehingga aku ditunjuk untuk mengikuti lomba ke kabupaten.

Senyumku semringah. Sepanjang jalan menuju rumah, aku tak berhenti tersenyum bak orang gila. Aku sangat senang. Mendapatkan mandat tersebut.

Sesampainya di rumah, raut wajah yang bahagia kegirangan masih terpatri jelas di wajahku. Aku tersenyum manis kepada orang tuaku dan mencium kedua tangannya. 

“Wahai putriku, ada kabar baik apa yang kau dengar sehingga membuat dirimu seceria ini?” ibuku menyambutku dengan pertanyaan heran.

Tanpa ba-bi-bu, aku pun memberitahunya bahwa diriku dipilih Pak Kades untuk mewakili lomba atlet tingkat kabupaten.

Mata ibuku langsung menyipit mendengarnya, seakan tidak percaya dan mungkin bisa jadi kaget. Ia masih terheran-heran, bagaimana bisa hal itu terjadi?!

Keesokan harinya, aku mulai berlatih di lapangan ditemani oleh ibuku dan Pak Kades, serta seorang pelatih untuk diriku. Selama seminggu, aku berlatih dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Sungguh aku sangat kaget saat tiba di tempat perlombaan. Aku melihat para pesaingku badannya ada yang lebih tinggi dariku padahal jika di kampung menurut pendapat orang-orang aku adalah remaja perempuan yang memiliki tinggi badan yang setara dengan tinggi badan laki-laki, tapi ternyata badanku ini tidak sebanding dengan orang-orang kota. Tapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangatku mengikuti lomba. Aku akan tetap semangat sampai kedua orang-tua-ku bangga kepadaku bahkan aku juga tidak ingin mengecewakan nama desaku.

Lomba segera dimulai, para peserta lomba segera baris di lapangan sesuai dengan nomor punggungnya dan kebetulan sekali nomor punggungku 03 jadi nomorku dipanggil awal. Tidak bisa diceritakan lagi bagaimana rasanya baris di lapangan besar. Jantungku berdetak kencang, pikiranku saat ini hanya berfokus dengan garis finish.

Peluit dibunyikan, aku berlari sekencang mungkin, sambil mengingat peraturan yang diajarkan pelatihku di desa. Awalnya aku disalip oleh peserta 02, tapi aku tidak ingin gegabah, aku juga harus mengikuti aturan yang sudah diajarkan dan akhirnya nomor 02 berhasil aku salip lagi. Tidak lama kemudian aku melihat garis finish sudah dekat Aku berlari sekuat mungkin dan akhirnya aku lah yang memotong pita garis finish.

Aku dinyatakan juara 1 dalam lomba lari tingkat kabupaten. Aku pun pulang membawa piala dan medali emas. Ayahku sangat bangga pada putrinya ini, terlihat dari matanya yang berkaca-kaca sambil memelukku dengan erat.

Pada malam harinya setelah perlombaan, aku sedang di kamar beristirahat sambil menatapi pialaku. Aku dipanggil kedua orang tuaku untuk makan malam, lalu aku keluar kamar dan menghampiri kedua orang tuaku yang telah menungguku di meja makan. Saat kami sedang makan, tiba-tiba pintu depan ada yang mengetuk dan mengucapkan salam. Ibuku pun berjalan menghampiri pintu depan dan membukanya sambil menjawab salam tamu tersebut.

Ternyata Pak Kades dan istrinya datang ke rumah. Setelah berbincang-bincang ternyata tujuan Pak Kades ke rumah kami adalah untuk menawarkan diriku ikut perlombaan lari lagi, tapi kali ini tingkat provinsi. Aku yang mendengarnya merasa kaget dan masih tidak percaya.

Setelah memikirkannya, aku pun memutuskan untuk mengikuti perlombaan tersebut dan tidak lupa aku meminta izin terlebih dahulu kepada kedua orang tuaku. Mereka mengizinkan, namun kemungkin pada saat perlombaan hanya ibuku saja bisa menemani. Bapakku tidak bisa karena harus menjaga hewan ternaknya yang sudah waktunya untuk diberikan suntik anti virus pada malam hari.

Pagi harinya, aku dan ibuku menyiapkan beberapa baju dan peralatan yang dibutuhkan selama aku dan ibu di kota. Sore harinya, kami berangkat ke kota, dijemput menggunakan mobil Pak Kades. Sebenarnya Pak kades sengaja mengajak aku dan ibuku berangkat sore hari supaya sampai di kota nanti pada subuh hari. Jadi pada saat diperjalanan, aku bisa tidur untuk menjaga stamina kesehatanku, karena perjalanannya jauh, sekitar 8 jam jika tidak antri di jalan.

Setibanya di kota, aku dan ibuku beristirahat di salah satu hotel yang sudah disiapkan oleh Pak Kades untuk tiga hari ke depan. Sebelum perlombaan dimulai, ada waktu dua hari untuk berlatih sendirian sambil mengingat-ingat poin yang sudah pernah diajarkan pelatihku di desa.

Akhirnya hari perlombaan pun tiba. Seperti sebelumnya, aku merasakan hal yang sama, jantungku berdetak kencang, bibirku mulai kedinginan tapi aku selalu mengingat bahwa aku tidak boleh mengecewakan kedua orang tuaku dan nama desaku!

Pembawa acara mulai bersuara bahwa peserta diharapkan berbaris di lapangan yang telah disiapkan. Tapi ada yang aneh bagiku, saat itu aku seperti merasa bahwa ibuku memberi kode kepadaku tapi aku tidak paham kode apa yang diberikan ibuku. Ah, tiba-tiba saja fokusku teralihkan, namun karena pluit sudah ditiup aku berlari sekencang mungkin tapi pada saat berlari aku masih saja memikirkan kode dari ibuku dan ternyata ibuku memberikan kode bahwa tali sepatuku lepas dan belum diikat kembali. Karena hal kejadian inilah kakiku patah pada saat mengikuti perlombaan tingkat provinsi. Aku pulang ke desa dengan tangan kosong, hanya membawa kesedihan dan kekecewaan.

Saat itu, aku sangat terpukul dengan kejadian yang menimpaku. Aku tidak bisa menerima kenyataan, air mataku menetes setiap aku melihat kakiku yang dibungkus dengan kain putih. Aku benar-benar kecewa kepada diriku sendiri. Aku malu untuk keluar rumah. Aku malu karena telah gagal atas nama desaku. Semua ini karena kecerobohan diriku sendiri.

Tapi, aku tidak ingin terus menerus seperti ini, aku ingin bangkit! Aku ingin bahagia kembali! Aku harus melakukan sesuatu hal yang bisa membuktikan bahwa diriku tidak akan gagal.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mendalami hobiku yang kedua yaitu melukis. Meskipun orang tua menentang aku melukis di depan umum karena mereka khawatir dengan kakiku yang belum sembuh.

Aku tidak ingin menyepelekan nasihat dari kedua orang tuaku, aku menurutinya dan aku hanya melukis di rumah, lalu membagikan momen lukisanku di media sosialku sehingga ada beberapa komentar pengikutku yang memberikan nilai positif pada lukisanku.

===

Suci Setianingrum, biasa dipanggil Suci. Ia lahir di Musi Rawas pada tanggal 19 Februari 2005. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Universitas PGRI Silampari, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Perempuan yang memiliki hobi menulis, mencatat/merangkum materi pembelajaran, bercita-cita menjadi seorang guru. Ia adalah anak pertama dari Bapak Juwantaro dan Ibu Tusri Yanti.

Comments
Loading...