education.art.culture.book&media

Kedamaian Sejati

Karya: Khoirunnisa

Pagi itu, aku memulai perjalananku dengan tekad dan kesungguhan hati. Aku bersiap dengan pakaianku, perlengkapan, dan teman-temannya. Sesampainya di kantor pun, aku menyapa orang-orang di sana; siapa tahu bisa menambah relasi?

Namaku Ghea, dan sekarang ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai marketing. Kerja di hari pertama terkadang memang membuat jantung berpacu, bukan?! Semoga aku berhasil. Semoga.

Di samping itu, sebenarnya, aku ingin menghapus kenangan buruk. Dulu saat di bangku sekolah, aku sering di-bully dan dimusuhi tanpa alasan yang jelas. Keluargaku juga jarang mengapresiasi apa yang sudah kuraih ataupun lakukan. Hingga aku pun tumbuh menjadi orang yang tertutup.

Sampai suatu ketika, aku memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Dengan tekad yang baru, harapan baru, aku memulai segala sesuatu dengan fresh. Berharap kali ini, lingkungan berbaik hati padaku.

“Ghea Ericka Jesslyn Tabudlo, ya?” tanya pria jangkung yang menghampiriku.

“Iya, Pak,” kujawab dengan penuh antusias yang nyata.

“Oke, sebelumnya nama saya Arthur Mckerry. Saya adalah kepala marketing di divisi ini, salam kenal,” dia menjabat tanganku dengan ramah.

“Terimakasih, Pak. Mohon kerjasamanya.” Aku pun mengangguk dengan ramah.

“Saya ingin seminggu ini kamu tunjukkan kinerja kamu. Seberapa mumpuni, kamu di bidang marketing,” dia berkata dengan ramah, namun terdapat nada superioritas di sana.

***

Sejak saat itu, aku mulai bekerja dengan baik. Tak peduli malam, siang, pagi, sore, pancaroba, atau apapun, aku tetap terus bekerja. Hingga hujung minggu sore, aku berhasil mendapatkan Rp10.000.000,00 pertama, sebagai pegawai baru.

Dengan bangganya, ku-tunjukkan laporan itu pada Pak Arthur, namun reaksinya hanya sebatas, “Oh iya.”

Astaga! Apa ini?! Kenapa begitu?! Hati ini terasa sakit melebihi putus dengan pacar. Aku sudah bekerja keras selama seminggu ini, tapi rasa-nya tak sesuai ekspektasi.

Namun, aku tak patah semangat. Meski tak diapresiasi dengan baik, aku bertekad untuk terus bekerja dengan baik dan sempurna. Aku juga mulai membantu teman-teman se-divisiku. Bahkan di urusan yang tak berkaitan dengan kantor sekalipun.

Suatu hari, rapat bulanan divisi dilakukan, semua orang menyumbangkan idenya untuk mengembangkan divisi ini. Aku pun tak ingin menyiakan kesempatan, segera ku-acungkan tanganku untuk memberi saran.

“Menurut saya, ada baiknya kalau kita mencoba mempromosikannya di pasar-pasar tradisional, Pak. Apalagi produk olahan ikan asap kalengan, saya yakin tidak ada salahnya kita promosikan di pasar-pasar tradisional.” Semua orang yang awalnya tak terlalu memperhatikanku, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mendengar usulanku.
“Ghea, Ghea, kamu konyol sekali. Maksud kamu kita jajakan di pasar?! Kita ini marketing, bukan distributor,” Pak Arthur menatapku dengan geli hati.

Segera aku mencoba meluruskan ide yang sudah aku sampaikan, namun tetap tak ada yang setuju, malah mereka semakin tertawa terbahak-bahak. Bahkan, cacian non-verbal itu aku dapatkan terus hingga akhir jam kantor.

Aku sedih, frustasi, dan depresi. Semua harapanku untuk hidup lebih baik di dalam lingkungan baru, pupus seketika. Semua rasa sakit dan luka yang kutahan selama ini, juga mulai memperkeruh isi kepalaku. Sambil menangis, aku berlari tak tahu arah menuju hutan yang aku juga belum familiar, begitu saja mengikuti hatiku yang tak karuan.

Sampai suatu ketika, seorang gadis familiar dengan dress putih yang cantik, muncul begitu saja dengan waktu hanya sekilas. Gejolak dalam hatiku segera menuntunku mengikuti gadis itu. Kakiku berjalan begitu saja, hingga akhirnya aku sampai di depan sebuah cermin bulat yang lumayan besar.

Betapa terkejutnya aku setelah menatap cermin itu. Ternyata, gadis itu adalah aku sendiri. Aku dengan versi yang lebih positif. Dia tersenyum dengan ramah padaku, nampak sangat kontras dengan wajah berantakan yang kusut dan depresi.

“Ghea, kamu sudah cukup. Kamu hebat, kamu kuat, kamu sudah melakukan yang terbaik. Tak masalah mereka tak mengapresiasi-mu, yang penting kamu sudah melakukannya dengan baik,” perlahan lengkungan bak bulan sabit terbentuk dari mulutnya.

Setelah mendengarnya, hatiku mulai bergejolak, tangisku pecah bagai derasnya air terjun di sebuah ngarai. Tanpa kusadari, aku sudah jahat pada diriku sendiri. Haus validasi hingga tak memikirkan dampaknya untukku, hanya karena trauma masa sekolahku. Aku mulai merasa kasihan dan merasa bersalah atas diriku, karena telah memaksakan diri menjadi perfeksionis, padahal diriku sudah cukup hebat dengan apa yang kubisa.

Aku tak mau lagi menjadi begini, karena hal seperti apresiasi, adalah hal yang berada di luar kendaliku. Aku memutuskan untuk merubah mindset diriku. Tak masalah jika orang lain tak mendengarkan atau mengapresiasi atas yang telah ku-kerjakan, yang terpenting aku sudah melakukan yang terbaik dari versi Ghea Ericka Jesslyn Tabudlo.

*Cerita terinspirasi dari lagi Jiwa yang Bersedih, karya Ghea Indrwari

===

Khoirunnisa atau yang kerap disapa Nisa atau Cicha (oleh orang tertentu) merupakan gadis yang lahir 18 tahun lalu. Ia menyukai buku-buku filsafat, motor classic, dan mobil sport. Selain itu dia juga memiliki minat terhadap dunia kepenulisan. Minatnya tersebut sudah terlihat sejak di bangku Sekolah Dasar. Motto hidupnya adalah, “Serahkan semuanya kepada Allah SWT.”

Comments
Loading...