education.art.culture.book&media

Siapakah Kayu Lapuk Membuat Kapal?

Oleh: Sasti Gotama

Buku Bang Benny Arnas ini baru saja selesai saya lahap tepat pukul 15.41 sore ini. Usai membacanya, yang terpikir pertama kali oleh saya adalah berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk melakukan riset. Pasti butuh sumber bacaan yang melimpah dan waktu yang tidak sedikit di sela-sela ibadah salat dan mengaji dan puasanya yang dijalankan dengan begitu khusyuk.

Jika perihal Sirah Nabawiyah, mungkin bukan hal yang rumit bagi Bang Benny Arnas karena ia telah memahaminya sebagaimana ia memahami sejarah hidupnya sendiri. Tetapi perihal sejarah dunia yang berjalan pararel, peradaban di belahan bumi lain yang berlari seiring dengan sejarah Islam, tentu membutuhkan riset yang tak main-main.

Pemerian sejarah secara pararel tersebut menurut saya suatu langkah yang cerdas karena menjadikan sejarah Islam tidak terlihat berjalan sendirian seperti seorang gadis pemalu. Sejarah Islam tampak bergandengan tangan, melangkah seirama dengan sejarah di kekaisaran Bizantium dan kerajaan Melayu dan bumi Tiongkok. Islam tak terlihat bertumbuh secara soliter, tetapi menjadi bagian dari kawanan pertumbuhan peradaban di berbagai kawasan dunia, sehingga pembaca seolah-olah menyaksikan potret lanskap waktu yang dipaparkan secara holistik.

Untuk memotret perjalanan dimensi waktu secara holistik tidaklah mudah, tetapi dengan cerdik Benny Arnas menyiasati itu dengan menjadikan sudut pandang sehelai daun sahabi sebagai saksi semua itu. Tak seperti manusia yang terbatas keberadaannya dalam dimensi ruang dan waktu, sehelai daun sahabi bebas merenangi dimensi ruang dan waktu dibantu karibnya, sang angin.

Tak hanya terhibur, usai membaca karya ini, yang menurut saya lebih dari sekadar novel islami karena begitu kentalnya aroma sejarah, saya merasa setingkat lebih cerdas dalam hal sejarah Islam dan peradaban dunia. Menurut saya ini membuktikan bahwa sastra tak hanya berguna sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai pembawa pesan adi luhung yang berguna bagi kehidupan Homo sapiens.

Pada akhirnya, usai menyimak hingga kata pamungkas, terjawab sudah pertanyaan saya: Siapa si kayu lapuk yang membuat kapal itu. Namun, saya pikir kamu akan lebih senang jika menemukan sendiri siapa yang dimaksud daripada saya bisiki. Jadi, selamat melayang-layang melewati puluhan dimensi waktu dan ruang bersama angin dan daun salabi dan sampaikan salam saya kepada si kayu lapuk.

Sumber:
https://www.facebook.com/100025325259749/posts/1088378355349663/?d=n

Comments
Loading...