education.art.culture.book&media

Anti Tetap Anakmu Ayah (Tugas BWC #3)

            Seorang anak kecil yang kesepian tanpa kasih sayang orang tua, ia selalu berusaha sendiri untuk apa yang ia butuhkan, namanya adalah Anti Saputri. Biasanya orang-orang memanggilnya anti. Anti adalah gadis kecil yang sangat manis, dengan terurai rambut panjang yang sedikit tipis. Anti berumur 12 tahun, sekarang duduk dikelas enam bersekolah di salah satu SD yang berada di lubuklinggau. Anti tinggal bersama ayahnya sedangkan ibunya telah meninggal delapan bulan lalu. Sejak ibunya meninggal anti tidak pernah mendapatkan cinta dan kasih sayang dari ayahnya, ayahnya tidak pernah memperdulikan ataupun memberikan perhatian pada anti, dan sejak delapan bulan terakhir ini anti seperti orang luar yang tidak ada arti, ayahnya jarang ada dirumah, ia selalu keluar entah apa yang dia lakukan di luar sana anti tidak mengetahuinya.

            Saat itu hari minggu anti sedang mengerjakan tugas sekolah dan terdengar teriakan ayahnya memanggil “anti…”

.“iya sebentar ayah” jawab anti kelabakan menuju ayahnya

“kamu masih mau tinggal disini kan, kamu harus bantu ayah mencari uang diluar sana”

“tapi ayah aku takut, diluar sana banyak orang yang tidak aku kenal” ucap anti

“alasan kamu saja, ayah tidak mau tau kamu harus mendapatkan uang yang banyak hari ini” ujar ayahnya

“iya ayah” jawab anti dengan sedih

Sungguh kejam seorang ayah yang membiarkan anaknya sendiri menderita, padahal tugas seorang ayah adalah membesarkan anaknya dengan baik dan benar. Orang tua yang tidak pernah berpikir betapa terluka hati seorang anak yang disakiti oleh ayahnya sendiri, ia hanya membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, bahkan ia hanya meminta sedikit saja perhatian. Seorang ayah yang membiarkan putrinya bekerja mencari uang , dan uangnya kau ambil darinya dengan kejam. Kau selalu berteriak di hadapannya dengan penuh kebencian, anti hanya berdiam dan tak berkutik sedikitpun karena dia takut jika ia berkata sedikit saja ia akan di beri hukuman yang membuat dirinya terluka.

“apa yang membuatmu begitu marah dan kesal ayah hingga kau perlakukan aku seperti seorang musuh” ucap anti dalam hati.     

            Keesokan harinya anti bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, dia mengambil tas dan meminta izin ayahnya untuk pergi.

“ayah aku pergi sekolah ya” ujar anti dengan lembut.

“iya pergi sana, pulangnya jangan terlalu lama nanti kamu harus cari uang” ucap ayahnya.

Kemudian anti pergi dengan berjalan kaki ke sekolah karena dia tidak punya uang untuk naik kendaraan, sekitar 15 menit anti tiba di sekolah. Di saat istirahat tiba anti tidak bisa berjajan seperti temannya yang lain karena tidak diberikan uang, ia hanya duduk di kelas dan membaca buku. Bel pulang telah berbunyi pertanda pelajaran sekolah telah selesai, salah satu teman anti memanggil “anti jam 02:00 main sepeda yuk”.

“maaf aku tidak bisa ada yang harus aku kerjakan di rumah” jawab anti.

anti langsung bergegas pulang kerumah sesampai dirumah anti langsung bekerja mencari uang, anti terpaksa berkata seperti itu pada temannya jika dia mengatakan yang sebenarnya pasti ayahnya akan malu. Anti yang sangat polos, baik hatinya rela melakukan apapun demi orang tua yang ia kasihi, anti kini sudah terbiasa bekerja hingga pulang malam hari untuk mendapatkan uang dan dia berikan kepada ayahnya, ia berlarian kesana-kemari dengan kaki yang tanpa menggunakan alas, kaki nya yang mungil seperti lukisan yang penuh dengan goresan-goresan. Ia menahan sakit dan perih baik di tubuhnya maupun di hatinya, sakit yang begitu mendalam tapi ia tetap menggangap ayahnya sebagai pahlawan hidupnya, sungguh mulia hati anti.

            Selama hidup ia tak pernah mendapatkan kasih sayang layaknya anak-anak seusianya hanya siksaan lah yang dia dapatkan, anak-anak yang bermain dan bersenang-senang bersama orang tuanya tapi tidak dengannya yang selalu menderita. Seorang anak yang malang yang rindu akan kasih sayang, mencari rezeki untuk orang tua yang tidak bertanggung jawab. Dia hanya ingin berjuang bersama orang tuanya dan mencapai tujuan hidupnya nanti, dia ingin seperti anak-anak lainnya yang setiap pagi dibangunkan ayah dan ibu, memeluk dirinya dengan erat dan penuh kasih sayang, berbeda dengan anti yang selalu dibangunkan dengan teriakan begitu keras yang membuat dirinya bangun dengan penuh ketakutan.

            Gelap telah berganti terang, terdengar suara teriakan lagi yang memanggil namanya “ Anti…” dia langsung berlarian secepat mungkin menuju teriakan itu.

“dasar anak pemalas, cepat kerja sana” ujar ayahnya sambil menunjukkan wajah yang sangat marah.

“tapi aku harus sekolah ayah” jawab anti

“sudah hari ini kamu tidak usah ke sekolah, besok-besok bisa” ujar ayah

“iya, tapi aku sangat lapar ayah izinkan aku untuk memakan sesuatu” ucap anti

“pagi-pagi seperti ini kamu mau sarapan kerja dulu sana cari uang yang banyak” ujar ibu tirinya.

Anti pergi dengan perut yang belum di isi dengan apapun, dia memegang perutnya yang selalu berbunyi, anti menahan lapar dan haus saat bekerja, saat di jalan anti melihat seseorang yang sedang makan gorengan dan anti hanya melihat saja dan melanjutkan perjalanannya untuk mencari uang agar pulang tidak akan dimarahi oleh orang rumah. Begitu lelah dirinya dan begitu berat ujian hidupnya, sungguh malang nasib seorang anti

            Saat di jalan anti meminta-minta kepada seorang bapak yang memakai seragam guru yang sedang lewat “pak tolong berikan saya sedikit uang “ ujar anti meminta kepada salah satu seorang guru yang sedang melintasi jalan, lalu guru itu memberikan anti uang dua puluh ribu.

“terima kasih pak” ucap anti

“iya sama-sama nak” jawab seorang guru itu dengan penuh rasa kasihan

Di perjalanan hendak pulang kerumah anti tak sengaja melihat seorang anak seusianya memakan es cream berjalan bersama ayah dan ibunya dan tertawa bersama, anti tak sadar bahwa air mata telah menetes di pipinya dan dia langsung menghapus air mata dengan tangannya yang mungil, ia sangat merindukan sosok seorang ayah dan ibu yang menyayanginya. Anti teringat waktu ibunya masih bersamanya dahulu tertawa bersama memeluk dirinya dan membacakan dongeng saat hendak tidur, anti selalu dimanja dan di sayang dan apapun kemauannya pasti diberikan orang tuanya berbeda sekali dengan sekarang untuk membeli buku sekolah saja anti harus bekerja keras, tak lama kemudian anti langsung pergi dari tempat itu sambil berlari. Adzan maghrib telah berkumandang, anti lekas pulang kerumah, sesampai dirumah anti langsung di tanya oleh ibu tirinya yang sedang memakan sepiring mie “mana uang yang kau dapatkan hari ini, berikan padaku”.

“ini bu” jawab anti

“seharian kamu kerja cuma dapat uang segini” ujar ibu tiri

Anti hanya diam dan tak berkata apapun, dia langsung ke dapur dan mengambil sepiring mie.

Terdengar teriakan lagi “ngapain kamu disana” ucap ibu tiri

“mau makan, aku sangat lapar bu” jawab anti

“nanti ayahmu makan apa kalau mie nya kamu makan hah” ujar ibu tirinya sambil menguncangkan badan anti dengan keras.

Anti hanya diam meletakkan piring itu ketempanya lagi dan pergi ke kamar, anti teringat ada tugas sekolah yang harus dia kerjakan ia langsung mengerjakan tugas itu. Setelah mengerjakan tugas anti duduk di samping jendela kamarnya sambil memandangi langit yang bertaburan bintang. “sungguh indah bintang-bintang itu” ucap anti sambil meneteskan air mata. “aku merindukan ibu, apa kabar bu ? aku disini sendirian tanpa teman” ucap anti lagi. “dan ada apa dengan ayah yang begitu kejam padaku, anti kan tidak nakal lagi” ucap anti dengan lugu.

Setelah berapa lama memandanggi bintang, anti duduk di tempat tidurnya sampai ia tertidur pulas.

            Beberapa minggu kemudian anti mendadak deman tinggi, badannya panas sekali tetapi tidak ada yang peduli dengannya. Anti sangat kelelahan karena setiap hari tidak pernah beristirahat dengan tenang, sehabis pulang sekolah dia langsung diperintahkan oleh ayahnya untuk bekerja, itupun bekerja dengan perut yang kosong tidak diberikan ibu tirinya makan. Saat sedang demam dia tidak diberikan obat apapun ia hanya meminum air putih saja, ibu tiri dan ayahnya tidak memperdulikannya, anti berjuang sendiri untuk bisa sembuh.

            Keesokan harinya banyak orang-orang yang mengetahui bahwa anti diperlakukan dengan buruk oleh ayah dan ibu tirinya. Dan pada akhirnya ada seorang wanita yang ingin membesarkan anti selayaknya seorang gadis kecil yang membutuhkan banyak kasih sayang, ia adalah ibu ratna. Ibu ratna adalah seorang wanita yang sudah lama menikah tetapi belum juga diberikan keturunan, dan akhirnya ibu ratna dan suami sepakat untuk mengambil dan merawat anti. Saat itu anti tidak mau pergi bersama bu ratna, dan lama-kelamaan anti menyetujui untuk pergi karena ia sudah tidak sanggup lagi diperlakukan tidak baik oleh ayah dan ibu tirinya.

“Dan semoga jalan ini adalah yang terbaik nantinya, aku harap ibu ratna dan suaminya dapat merawat serta menjagaku dengan baik”. Ucap anti dalam hati sambil tersenyum memegang tangan bu ratna.

***SELESAI***

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757