education.art.culture.book&media

CERITA DARI SEBERANG (Catatan Kecil dari 2nd LSMF 2018)

Saya (tengah) dan pemain (kanan saya) dan sutradara (kiri) film kami, LUBUKLAUT, ketika menerima penghargaan Penata Gambar Terbaik 2nd LSMF 2018 (Gedung Kesenian Kota Lubuklinggau, 9-6-2018)

 

Lubuklinggau Short Movie Festival atau yang lebih akrab disebut LSMF itu kembali hadir di tahun  2018. Kali ini cakupan tema yang  diusung lebih luas, yaitu Kearifan Lokal Sumatera  Selatan. Dengan demikian, seluruh calon peserta LSMF  dapat mengekplorasi ide seunik mungkin untuk menyambut event bergengsi di Kota Lubuklinggau ini. Event ini terbuka untuk semua kalangan berskala nasional. Dengan begitu, maka persaingannya pun tentu akan lebih ketat.

Hingga pada suatu ketika flyer LSMF 2018 itu menyambangi layar gawai saya. Saya baca persyaratan dan deadline.  Kala itu rentang waktu yang tersedia masih cukup panjang, lebih kurang dua bulan. Saya pun sudah menetapkan tanggal berapa untuk menggarap film itu.Namun, semakin kesini saya semakin kalah oleh waktu dan keadaan. Kuliah, kerja, organisasi, event ini itu,  semua itu mulai mendesak saya. Sampai suatu ketika, UAS di depan mata, darinya seakan tumbuh sepasang  tangan yang mencecik leher. Oh sungguh, saat itu saya ingin mengutuk diri saya sendiri. Hati saya susut sekali kala itu. Namun Tuhan selalu pandai memeluk hambanya.

“Del, lomba film diperpanjang  10 hari,” kata seorang teman.

Saya masih saja benegosiasi dengan diri saya sendiri. Yakin mau bermain-main dengan 10 hari? Sampailah diri saya menjawab, “Kesempatan  tidak datang tiga kali bukan?”

Setelah memutuskan untuk mengikuti lomba film itu, sebenarnya saya masih dirundung  pertanyaan besar di benak mengenai cerita apa yang akan saya angkat nantinya. Saya masih berpikir keras untuk itu. Di warung makan, di kos, di jalan, saya masih menggali ingatan, berharap menemukan peti ide maha keren. Namun, tak kutemukan jua peti itu. Beberapa hari hanya meguap begitu saja.

Hingga sebuah kalimat menampar saya keras sekali. Kala itu persiapan sidang karya, matakuliah batik tulis. Sidang karya, begitu kami menyebutnya  untuk UAS Desain Produk. Kala itu, saya terlambat, itu  adalah petaka  buruk untuk saya. Pasalnya  dosen itu tidak menerima mahasiswa/i yang terlambat. Seketika itu  saya lemas sekali, saya berdiri di pagar gedung kuliah lantai dua itu. Satu plasik karya saya letakkan di samping kaki. Saya berdiri, mengatamati suasana kampus di bawah, sebagai pelarian atas rasa takut yang berkerumun di hati saya.

Seorang teman menghampiri saya,dia terlambat juga rupanya. Dibukanya plastik yang berisi karya saya. Ada enam batik tulis yang saya buat, dengan dua motif  yang saya buat sendiri. Dia sibuk membuka karya saya. Lalu dilayangkanya beberapa pujian. Setelah dia amati dengan teliti, dia eja tulisan di batik tulis itu,  dia baru menyadaribahwa itu  motif batik yang saya angkat dari cerita Dayang Torek  dan Bujang Kurap Lubuklinggau. Seketika  itu juga  dia berujar,

“Lubuklinggau? Kau membuat batik tulis motif Lubuklinggau?” ujarnya.

Aku mengangguk,  “Kenapa memangnya?”

“Sebegitu cintanya kamu dengan  Lubuklinggau? Apa mereka bisa menghargai karyamu. Kamu ingat ini kali keberapa kamu membuat karya dengan ide lokalitas kotamu? Terlampau sering, Del. Lah, karyaku saja terbilang jauh dibawahmu saja mendapat apresiasi kok. Mendingan kamu  garap  saja pesanan  motif batik dari  kepala sekolah kota X itu, daripada untuk Lubuklingaumu, apa yang Lubuklinggau berikanpadamu? ” ujarnya panjang lebar.

Seketika perasaan saya kering, sangat kering, lalu seperti tanah yang retak-retak, menyisakan debu yang beterbangan. Kutatap matanya dalam-dalam, dia lantas diam dari omongannya  yang  panjang lebar juga menancap itu. Ditengah  terlukanya perasaan  saya kala itu, justru lahirlah ide untuk membuat karya dalam LSMF 2018 ini.

 

Saya ajak diskusi  beberapa teman, dan kami mulai menyusun jadwal untuk penggarapan film pendek  ini. Sembari UAS, sembari mengejar SKS yang dihimpit oleh lebaran, yang jelas apapun dan bagaimanapun  keadaannya, film  pendek ini akan kami garap  semaksimal mungkin. Ya walaupun sedikit malu sebenarnya, sepertinya dari seluruh perserta LSMF ini, hanya kami saja yang menggunakan tiga orang penata gambar. Hal itu karena  jadwal kuliah kami yang begitu padat, akhirnya kami menyesusaikannya sebisa mungkin, dan membagi tugas ketika take film pendek ini.

***

Seminggu kemudian lahirlah film kami dengan judul Lubuk Laut. Di sana memang tak saya angkat cerita tentang batik itu. Tapi jantungnnya adalah tentang dilema yang dialami anak rantau. Sebagai anak yang tumbuh di Kota kecil Lubuklinggau, dan merantau ke kota yang jauh lebih besar, dengan segala hal yang memadai. Setelah usai menyeselesaikan  pendidikan di bangku kuliah, dilema yang paling mendalam adalah : pulang dan membangun  Kota Lubuklinggau atau menetap saja  di kota rantau dengan segala hal yang menjanjikan.

Saya hanturkan terimakasih yang teramat sangat kepada seseorang yang telah mengatakan begini, “Del, menetaplah  di Jogja saja. Di Jogja kau lebih bermanfaat. Di kotamu, belum tentu mereka bisa menangkap apa yang kau lakukan, Del.”

Di sinilah saya terharu, entah kenapa Lubuklinggau dengan segala yang ada di dalamnya mampu mengikat hati saya untuk selalu kembali. Meskipun saya akui  bahwa di luar sana, saya mendapatkan tempat yang lebih. Namun, tiap cahaya harus pulang.

Usai penggarapan film itu, beriringan dengan UAS yang juga usai. Saya pulang, esoknya saya hadir di acara penganugrahan tersebut. Saya memasuki gedung kesenian Kota Lubuklinggau, bertemu  Bang Ben, Mbak Mimi, Mbak Hesti,dan yang lainnya. Perasaan saya begitu merona kala itu, dan bagi saya berjumpa kembali dengan mereka merupakan kemenangan itu sendiri. Karena bersama mereka saya dahulu belajar menulis, menulis, dan menulis.

Lalu, kami semua disambut  dengan tarian-tarian, serta pertunjukan. Perasaan saya sungguh biru menyadari bahwa iklim kesenian kota ini kembali hangat. Dari lubuk hati terdalam, terlepas dari hubungan antara murid dan guru, saya sungguh menggapresiasi Benny Arnas karena telah  mngeksekusi acara tersebut di kota kecil yang begitu kita cintai  ini, Benny Arnas yang saya kenal, bukanlah seorang penulis kala itu, tapi beliau adalah seorang anak rantau yang kembali ke kotanya, dengan membangun Kota Lubuklinggau ini dengan kemampuannya, karenanya saya memetik jawaban besar atas pertanyaan pahit oleh teman saya dahulu, bahwasannya bukan tentang: Apa yang Lubuklinggau berikan padaku, melainkan apa yang kuberikan untuk Lubuklinggau.

Besar harapan saya LSMF ini akan kembali diselenggarakan di tahun-tahun berikutnya. Karena dengan begini, anak-anak Lubuklinggau akan mempunyai wadah  untuk menampung kreativitasnya, sekaligus sebagai ajang pembelajaran. Meskipun pada festival kali ini tim saya tidak mendapatkan anugrah Film Terbaik, tapi bagi saya kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika karya kita telah saya sampai dihadapan penonton, dan mereka meluangkan sejenak waktunya untuk menyaksikannya dan mereka tahu bahwa ada sebuah kota kecil nan jauh disana bernama Lubuklinggau. Dan bahagia yang paling besar adalah ketika menyadari bahwa di Kota kecil ini sudah diselenggarakan event bergengsi seperti LSMF 2018 ini.

 

Juni, 2018

Salam hangat,

De-Nara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments
Loading...