education.art.culture.book&media

Dek Wira

            Tujuh tahun yg lalu,waktu aku masih duduk di kelas Dua SEKOLAH DASAR NEGERI 3* Namanya WIRA adalah seorang anak yg berusia Dua tahun.PADA TAHUN 2013 ia berpindah ke karya bakti,lubuklinggau timur II yg bertepatan di belakang rumahnku milik alm.golby ,dengan ayah dan ibunya yg berasal dari Palembang.

             Hampir tiap pagi aku pergi ke rumahnya,dengan masih memakai baju tidur,belum membasuh muka ataupun mandi,sambil menunggu jam 07.45 pagi untuk berangkat ke sekolah. dulu ialah seseorang yg bisa aku anggap adik.

             Kembali ke paragraf pertama, WIRA adalah seorang anak kecil yg berusia Dua tahun.dan aku juga pada saat itu masih berusia Delapan tahun,aku datang ke rumahnya pukul 08.00-09.00 pagi sambil menunggu untuk pergi kesekolah.selagi ibunya melakukan kewajibanya sebagai seorang ibu,aku dan wira selalu bermain sebagaimana kakak dan adik bermain. Ayahnya berprofesi sebagai tukang ojek.setelah ibunya melakukan kewajibannya lalu ibunya mulai memandikannya,setelah ibunya memandikannya,kemudian ibunya memakaikan baju lalu dengan wajah sedih dan sabar membersihkan bisul yg hampir memenuhi kepalanya.

             Sampai pada jam 9 pagi aku kembali ke rumah untuk bergegas pergi ke sekolah. Kadang tak seharipun ketika di tinggal sebentar pergi kesekolah ia mulai sejadi jadinya menangis.sampai pada jam 12 siang ketika aku pulang ke rumah terkadang ia berada di rumahku bersama ibunya untuk bermain.terkadang ketika ia digendong untuk di ambung ambung oleh ibuku,ia tak ingat kepada ibunya sampai sampai ibunya berkata “naakk….ininah mamak kau,itu tuh wawak.balek yok…bentar lagi ayah nak balek makan siang,balek dulu yok!” sambil tertawa melihat anaknya bertingkah seperti itu untuk mengalihkan perhatiannya tetapi ibunya berkata dengan jujur bahwa ayahnya sebentar lagi pulang untuk makan siang.ia menangis dan tidak mau lepas dari gendongan. Dan kemudian ibunya berkata kepada ibuku “wak tetep wira dulu yo aku nak balek sebentar nak nyiapin makanan Eko dulu,bentar wak yo…”ia berlari dan kemudian menyiapkan makanan untuk ayahnya wira. Hingga sampai pada jam Lima sore ayahnya pulang bekerja.dengan raut wajah senang sambil digendong ibunya,wira meronta meronta kegirangan diatas gendongan ibunya.kemudian sama seperti hari hari biasanya pada pagi hari kami bermain dan melakukan kelakuan kami seperti biasanya. Sampai pada suatu hari ibunya mencari kesana kemari dan entah bagaimana cara agar ia bisa menitipkan wira akhirnya ia menitipkan wira ke pada keluarga kami dengan tergesa gesa ibunya mencari ayahnya yg tak pernah pulang sampai selarut malam ini,ibunya mulai gelisah dengan terlambatnya suaminya pulang ke rumah.namun pada pukul 01.00 dini hari ayahnya pulang dengan lelah ibunya wira meneteskan air mata kemudian berkata “darimano kau kak wong lah cemas nungguin kau entah ado apo apo di jalan!!!,ngapo kau balek malam nian?” dengan nada tinggi disertai suara degupan menangis,kemudian ayahnya menjawab “aku taditu nganterin wong sampe simpangsemambang bolak balek jadi balek malam,dem jadilah nangis tuh,dem tedoklah dak usah nagis lagi.”sambil mendekap istrinya yg tengah menangis hingga bersedu sedu. Kemudian mereka masuk kerumah dan melihat wira tertidur lelelap

              Namun pada suatu hari tanpa alasan yg jelas ia beserta orang tuanya kembali ke Palembang. Tanpa mengatakan sesuatu pada kami.mungkin sebab rumahnya sering dimasuki oleh ular dan beberapakenis bintang ganas lainnya.  hingga pada hari ini kami tak mendapati kabar bagaimana keadaan wira sekarang.

Comments
Loading...