education.art.culture.book&media

Konsep acara pernikahan yang tak biasa

 

Malam ini, aku menghadiri acara suka ria atas pernikahan teman akrabku, Ripaldi. Aku dan dia berteman dari sejak kecil hingga sedewasa ini. Acara suka ria ini tentu saja tidak seperti acara yang biasa ku hadiri yang hanya dikhususkan untuk anak muda saja (pesta muda mudi) melainkan acara suka ria ini dihadiri oleh para keluarga dekat dan tetangga mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Berbeda emang tapi kemeriahannya tetap saja tak jauh berbeda dengan pestanya anak muda. Aku yang malam itu hadir, sangat merasakan suasana berbeda dikarenakan aku melihat talenta-talenta yang luar biasa dari bapak-bapak yang tak lagi muda yang mampu bernyanyi bak artis-artis di dangdut akademi. Hal ini mungkin biasa bagi sebagian orang, namun bagiku yang jarang dan hampir tidak pernah melihat mereka menyanyi di atas panggung bagiku itu hal yang luar biasa. Aku tahu suara mereka merdu tapi tidak untuk bernyanyi melainkan mengkholifai Yasin atau menjadi imam di masjid. Sepanjang mereka bernyanyi aku hanya bisa tersenyum sungringah saking senangnya hatiku.

Namun menonton talent-talent hebat ini bukan satu-satunya yang unik bagiku karena malam itu aku juga melihat ada keakraban yang luar biasa melalui pembagian hasil perlombaan berong. Berong iya berong, permainan kartu remi yang biasa digunakan atau dimainkan untuk berjudi. Ssstttt ini hanya permainan ya !!! Bukan untuk berjudi, tetapi tujuannya untuk menghibur keluarga yang mempunyai hajat.

Jadi menurutku, dari pesta suka ria yang aku saksikan malam itu bisa dikatakan hiburan boleh-boleh saja asalkan ada batasan-batasannya dan diisi dengan hal-hal yang positif supaya stigma-stigma negatif yang melekat dengan pesta bisa kita hindari.

Comments
Loading...