education.art.culture.book&media

Petir di Sore itu Merenggut Nyawa Aida dan Anak Yang di Kandungnya

Oleh : Tampu Bolon Suvardi

Di rusuk malam yang lelap, daun-daun berguguran Aida menemui payau di belakang gubuknya pagi ini ia tumpahkan seluruh air mata, kepedihan hingga patah hatinya karena di tinggalkan oleh jejaka yang amat ia cinta

Di bibir payau di belakang gubuknya Aida perempuan cantik berumur 22 tahun itu menyendiri menelan pahitnya kesendirian, mengenang puing demi puing cinta yang selama ini ia bangun, cinta yang selama ini ia tenun dengan tekun, cinta yang selama ini ia tulis berdaun beringin yang ia berharap rindangnya adalah keabadian, tapi kenyataannya kini setelah merajut kasih selama 3 tahun. Misba lelaki tempatnya menampung semua harapan itu telah tega meninggalkannya tanpa pamit dengan mempersunting Rojema perempuan cantik berkulit kuning langsat berasal dari desa Remban itu, betapa kabar pernikahan itu adalah kebun baginya yang sudah hangus dan yang tinggal hanyalah air mata dan kekecewaan.

Petang hampir habis Aida menengadah ke wajah langit kelam sedang langkah kakinya terus berjalan menuju pulang ke rumahnya, setelah sampai ia bersandar pada daun pintu yang palangnya sudah ia buka sedari tadi, tak lama ia sampai Wak Risba dan Nenek Sina (Ayah dan Ibunya Aida) baru juga sampai, nek sina menanyakan pada Aida perihal ladang mereka di tepi sungai semantung, Aida bagaimana ladang kita? Apa sudah kau bakar semua rumput-rumput yang sudah kita buat bak tumpukan kecil itu 3 hari yang lalu? Ya sudah Mak, sudah Aida bakar semua, lagian 2-3 hari lagi sudah bisa kita tugal ladang kita dengan benih (biji padi) padi yang sudah Aida olah di mesin Wak Cikyan Goeng, 3 karung rasanya sudah lebih dari cukup Mak untuk ladang kita yang lebar itu, cukuplah untuk makan Bak dan Umak (Ayah dan Ibu) beserta 4 adik perempuan dan 4 adik laki-laki Aida Mak, pas nak nugal Aida ajak semua Kenti-kenti (teman-teman) Aida untuk membantu kita menyemai biji padi ini, satu hari selesai untuk ladang kita ini Mak. Nek Sina menghampiri. Lepaskan tengkulukmu Nak, mandilah bukankah habis magrib ini kamu di undang Nek Dijah untuk melantunkan satu dua ayat Al-Baqarah di rumahnya sebagai ucapan syukurnya setelah pulang dari haji 2 hari yang lalu. Kamu memang anak yang berbakti Aida, gumam Nek Sina dalam hati. Di perjalanan pulang di temani lampu colok bersama Ciknona kenti (teman) akrabnya, tak sengaja pula Ciknona nyeletuk, Aida apa kau tak sakit hati pada Rojema itu yang dengan lancangnya mencabut akar cinta yang selama ini kau tanam di hati Misba, aduhai…bahagianya kau dulu bersamanya? Sungguh aku menyimpan dendam teramat sangat padanya Cik, tapi apalah dayaku Cik, tebuh yang selama ini ku tanam semaknya menghujam sedalam-dalamnya ke dasar hatiku, jika ia luka mungkin cukuplah daun pandan memerbannya berdarah dan terluka bisa kulihat, tapi sakit dan pedih ini tak bisa kulihat aku menderita bertahun-tahun bersamanya, tapi sudahlah Cik, kini takdirnya bukanlah untukku menikah dengan siapapun? tak pula kutemukan bahagia karena kesejatian rasa ini hanya ada pada Misba. Ciknona menceracau, Ya Tuhan…Aida tak baik berucap begitu,jangan timpakkan sumpahmu pada lelaki yang mencintaimu kelak, apakah kau tak kasihan pada suamimu nanti tinggal dalam satu atap tapi kau tak mencintainya, ah sudahlah Cik aku tak ingin mengingat-ingat ini lagi.

Di akhir musim padi yang hampir habis di tuai bak’da isya 22 Desember 1977 langkah kaki Wak Deli dan Nek Saleha berjalan dengan pelan semabari membawa emas 10 gram (3 suku) hendak menunaikan niat baik mereka berdua ke rumah Wak Risba dan Nek Sina hendak merasan (melamar) Aida untuk Rinawan anak lelaki sematawayangnya. Assalamu’alaikum? Walaikumsalam sahut Wak Risba. Begini Ba sudah cukuplah kiranya Rinawan memendam perasaannya selama ini pada Aida, maka pada malam ini sesuai cerita perjodohan kita kala itu, kami berdua bermaksud ingin melamar Aida? untuk anak lelaki kami Rinawan agar penantiannya selama ini sampai pula. Aida belum juga pulih setelah ditinggal nikah oleh Misba anak Sulaiman supir itu, tapi tak apalah kesedihan Aida harus segera diakhiri dengan pernikahan ini, Aida harus segera bahagia dalam pernikahan ini demi menyembuhkan luka masa lalunya? Dan demi hubungan baik keluarga kita maka saya terima lamaran ini untuk Rinawan dan Aida agar kelak bisa membina rumah tangga yang bahagia, kepada Rinawan saya berpesan terimalah Aida dalam kurang dan lebihnya, bimbinglah ia dalam kasih dan cinta,berilah ia keleluasaan untuk belajar mencintai karena kalian berdua tidak menjalin hubungan sebelumnya atau bahkan Rinawan yang amat mencintai dalam diamnya sedang Aida tidak melakukan apapun untuk itu, sahut Risba pada Deli dan Saleha, baiklah Ba terima kasih atas diterimanya lamaran ini dan kita sama-sama berdoa semoga pernikahan mereka berdua kelak abadi hingga ajal mengakhiri.

Setelah Deli dan Saleha meninggalkan rumah, dikamar belakang setelah ruang tamu Aida menanggis tersedu-seduh tengkurap dengan bantal yang sudah basah oleh air mata di hadapan ibu dan kedua adik perempuannya Siti dan Ainur Aida berucap. Mak bagaimana aku menerima lamaran ini sedang aku tak sedikitpun mencintai Rinawan? Deh (kakak) maafkanlah kami yang mungkin terlalu lancang, mungkin ini yang terbaik buat deh (kakak) ini takdir Tuhan untuk deh Rinawan lelaki yang baik, tekun ulet dan pekerja keras selalu terdengar suara azannya lewat toa masjid pinggir sungai itu. Ah apapun pujian yang kau timpakkan kepadaku tentang Rinawan itu tetap tak mengurungkankan niatku untuk tidak menerima pinangannya melalui lamaran orang tuanya sudahlah Dik kalian tak tahu apa yang ku rasakan saat ini betapa malangnya nasibku dengan percintaan yang tak kunjung berujung bahagia. Sudahlah Nak berdamailah Mak mohon menikahlah dengan Rinawan dia sangat tulus mencintaimu, Mak dan Bak menerima pinangan ini tidak ada niat apa-apa melainkan kami memintamu menikah dengan lelaki yang mencintaimu buknan lelaki yang dengan teganya meninggalkammu begitu saja, sudah Mak hentikan mengungkit masa lalu itu lagi, bukan karena itu aku tidak bisa menerima Rinawan melainkan aku tidak ada perasaan sedikitpun dengannya mau dilalui jalan inipun takkan bisa aku belajar suka apa lagi mencintainya jauh panggang dari api Mak. Sudahlah Mak terlalu lama aku memendam ini perjodohan ini sudah kudenger jauh sebelum pinang ini terjadi, apapunlah Mak di hadapanmu dan kedua adik perempuanku ini jika aku benar-benar menikah dengan Rinawan aku bersumpah hidupku tidak akan selamat, aku pastikan rumah tangga kami tidak akan bahagia, lebih baik aku mati muda, jikapun nanti aku mengandung anak Rinawan dari pernikahan ini birlah ia mati bersamaku kelak. Aida hentikan ucapanmu!!tarik ucapanmu sekarang tak baik anak perempuan berucap begitu kau tau sumpah ini jadi kenyataan bahkan sampai tujuh turunanpun takkan pernah hilang.

Aida pergi Nek Sina menangis meratapi Aida kepergian Aida dari rumah malam itu di iringi hujan gemuruh petir. Aida kembali setelah di nasehati dan di bujuk Mang Idit adik Nek Sina. Setelah kepulangan itu selang satu Minggu tarup sudah berdiri kokoh di hiasi kembang kelopak tujuh dan bunga penanda di ujung jalan masuk dusun bahwa di kampung ini ada pesta pernikahan antara dua anak remaja yang di mabuk cinta dalam persangkaan baik orang-orang Karam Panggung ini.

Setelah penikahan ini selesai kau anggaplah aku orang asing yang di paksakan menyatu denganmu dalam keadaan belum bisa mencintai sama sekali bisik Aida pada Rinawan di atas pelaminan.

Petang tiba malam pun berlalu Rinawan tak kunjung pulang hingga Aida menunggu kepulangannya dari mencari ikan dengan jala yang sudah ia sulam beberapa hari yang lalu, pintupun diketuk Aida tahu tempo ketukan itu dengan muka merah ia membukanya. Dari mana saja kau Pak pergi menjala ikan baru pulang hingga larut begini mungkin kau sudah lama pulang tapi bercerita terus tiap malam dengan kenti-kenti (teman-teman) mu itu yang tiada bermanfaat sama sekali, sudahlah Buk betapa aku lelah terus bertengkar denganmu, tak sedikitpun berkurang rasa cinta ini untukmu Buk, aku terus mencintaimu tanpa lelah jika kau ingin mengingat-ingat ini lagi sampai saat ini air putih yang kau beri dalam gelas ini hanya setetes menyembuhkan dahagaku begitulah cintamu untukku tidak akan bisa utuh sama sekali kesalahan bukan ada padaku buk, tapi kamu buk yang belum utuh belajar untuk mencintaiku, apa kau bilang pak!!, jawab Aida, lebih baik aku bercerai denganmu sekarang juga syukur aku masih mau menerimamu jika tidak apa yang terjadi denganmu sekarang kau jadi lelaki tua yang tak kunjung menikah aku sudah mulai belajar mencintaimu kau malah nyeloteh yang membuat emosi ku naik ke ubun-ubun, hentikan ucapanmu Buk bercerai adalah kata paling lazim di bibirmu tapi tidak padaku! apapun dan bagaimanapun keadaannya aku tidak akan bercerai denganmu sungguhpun aku sangat mencintaimu dalam kurang dan lebihmu dalam keadaan tidak mencintai sekalipun aku tetap utuh mencintaimu, tangis pecah di ranjang berkelambu itu, Aida menanggis dan memeluk Rinawan dalam linangan haru semalaman.

Subuh tiba Aida sudah bangun menyiapkan bekal untuk suaminya pergi menyadap getah para dengan megendarai kereta unta. Sedang Saiful anak lelakinya yang berumur 4 tahun itu masih saja rewel minta di belikan kereta, setelah bapaknya pulang Rinawan bertanya pada Aida mengapa wajah Saiful murung terus Buk dari tadi pagi, entahlah Pak dia minta dibelikan kereta yang baru, ah tenanglah Iful besok bapak belikan kereta untukmu di pasar Rupit ya Nak, janji ya Pak jawab Iful benar saja kereta yang di tunggu-tunggu Iful datang juga yah Pak ko sepeda buntut seperti ini, maafkan bapak Nak uang dari jual getah tidak cukup untuk membeli kereta baru untukmu, Iful merajuk Rinawan lelah membujuknnya, sudahlah Iful jika kau tak ingin kereta ini bapak buang saja ke sungai, mau kau!! Bujuklah anakmu Buk bikin susah hati saja tiap hari, ah Pak kau tidak bisa jadi ayah yang baik carilah pinjaman diluar sana agar bisa membelikan kereta baru buat Iful, sudahlah buk jangan banyak gerutuk nanti Bapak carikan pinjaman, untunglah Iful tidak kena imbasnya dari sumpahmu Buk pas pertama kali kau tidak ingin menikah dengan ku, apa kau bilang Pak? cukuplah sudah kau timpakkan singungan ini padaku aku lelah sekali menghadapimu bila kita ribut kau selalu mengingat-ingat sumpah itu, sungguh aku tak tahan lagi menghadapi sikap burukmu harusnya kau bersyukur Pak ada Iful yang hari ini terus membuat ku bertahan denganmu jika tidak karenanya sudah beratus tolak yang ku lemparkan ke mukamu itu!

Buk pagi besok Iful ke rumah Neknang Risba ya? ya sudah nak pergi saja pagi besok ya, setelah pulang dari rumah Neknangnya Iful menyampaikan pesan. Mak pesan dari Neknang dan Nekno ngajak nugal di ladang tepi sungai tiris, oh Ya lah Nak nanti malam bak’da Isya Umak ke rumah Neknang nak bantu-bantu masak untuk perayan (gotong royong) nugal padi pagi besok.

Aida dengan wajah yang entah pagi ini bahagia sekali tak seperti biasanya tingkahnya pada Rinawan aduhai seperti orang baru menikah saja menja berlebihan. Di tengah nafas yang agak tersengal karena lelah dari perjalanan beristirahat sejenak di pondok ladang tiris membaringkan perutnya yang hamil 6 bulan itu. Sementara Bapak dan Adik-adiknya yang lain terus menyemai padi yang lobangnya sudah dari tadi di tugal, kemana saja Rinawan, Aida dari tadi belum juga sampai di ladang kita ini, Rinawan ambil getah parah Pak untuk dijualkan ke Wak Husein toke paling kaya di pasar Rupit Pak. Oh baiklah Aida semailah benih padi ini Da lagian masih sedikit lagi.

Setelah nugal selesai Wak Risba dan Nek Sina mengajak Dahri, Suardi, Toiba, Ainur, dan Siti. Aida ajaklah adik-adikmu pulang hari sudah sore tampaknya sebentar lagi akan hujan, benar saja belum sampai pada jamban yang menghubungkan antara ladang dan seberang menuju jalan ke dusun hujan deras disertai angin kencang mengiringi perjalanan keluarga Pak Risba, perjalanan akhirnya sampai pada jamban di atas sungai tiris itu. Iful berteriak ketakutan di atas tenguk leher Aida mendengar gemuruh petir dan hujan deras disertai angin kencang, Nek Sina Wak Risba dan adiknya sudah sampai di seberang sedang Aida terus berjalan dengan pelan melewati jamban itu setelah sampai di tengah Geleder,blarrrr,Dur suara petir bergemuruh tepat menyengat dimuka dan badan Aida yang lagi hamil juga Iful anaknya mati mengenaskan tidak tertolong, Ya Tuhan Nak mengapa sumpah ini akhirnya terjadi padamu kenapa tidak pada bapak dan ibumu ini, Tuhan jangan kau ambil anakku, maafkanlah ia dari sumpahnya, kami mohon hidupkanlah ia kembali tanggis Risba dan Sina berlinangan diantara belerang dan derasnya air sungai tiris di akhir hujan yang hampir habis itu.

Jenazah Aida, Iful dan anak yang dikandungnya sampai pula di kediamannya mendengar berita yang tidak baik, Rinawan bergegas pulang sesampainya di rumah ia melihat orang-orang berpeci dan bertengkuluk hitam padam, melihat wajah Rinawan Nek Sina dan Nek Saleha memeluk Rinawan. Aida, Iful dan anakmu yang dalam kandungan Aida sudah tiada Nak malang nian nasibmu nak, Mak tak tahu mau berkata apa lagi sesudah ini Mak tak tahu apakah kau sanggup menjalani hidup ini tanpa Aida perempuan yang amat sangat engkau cintai? Rinawan menguatkan diri membuka wajah Aida yang sudah di tutupi jilbab putih tembus pandang, Buk sungguhpun aku ingin mati bersamamu saat ini, mengapa secepat ini kau tinggalkan aku padahal di saat-saat kau mengandung anak kedua kita kau sudah mencintaiku tulusmu takkan bisa ku balas dengan apapun, kembalilah Buk aku mohon kembalilah sayang…aku tak percaya ini kau masih hidup Buk dengan anak kita Iful dan Putri dalam kandunganmu ini kita akan membangun rumah kebahagiaan Buk di tanah yang sudah ku beli kini suratnya ada padaku aku ingin memberi tahu ini di peringatan 3 tahun pernikahan kita, kita akan terus menuai kebahagiaan cinta kita Buk…tapi ya Tuhan kembalikan istri dan anak-anakku sungguh kau tidak berlaku adil padaku. Wak Risba dan Nek Deli menanggis melihat kesedihan yang teramat sangat Rinawan bersabarlah Nak mungkin ini sudah jalannya apapun kematian yang sudah di kehendakinya tak akan bisa kita lawan, melainkan kita harus berpasrah dan ikhlas pada takdir yang sudah ditentukan olehnya.

Dengan wajah pucat pasih air mata yang hampir habis Rinawan mengiringi jenazah istri dan kedua anaknya, selesai pembacaan talqin Wak Subuh orang-orang yang menghadiri pemakaman begegas pergi yang tinggal hanyalah Rinawan yang masih terus menanggis teseduh-seduh meratapi Aida perempuan yang ia nikahi tiga tahun yang lalu kini 27 Juni 1979 ia menyaksikan takdir yang tak ia kehendaki.

Aida kini rinduku t’lah mati bersama perginya jiwamu dan kedua anak kita sungguh hingga detik inipun aku tak siap menerima kepahitan dan kepedihan ini, apapun tentangmu Aida tetap tertanam abadi dalam jiwaku ini, Ya Tuhan timpakkanlah kutukan ini lagi padaku matikanlah aku dalam keadaan seperti Aida dan kedua anakku ini, aku menerimanya dengan lapang dada.

Dua bulan ditinggal mati Aida dan keduanya anaknya Rinawan meregang nyawa di Suungai Rawas hanyut karena menembak ikan lalu jenazahnya di kuburan di sebelah kuburan Aida dan Anak lelakinya.

Karam Panggung, 27 Juni 1979

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757