education.art.culture.book&media

Sepenggal Kisah di Ruang 3 (Tugas BWC #3)

“Tolongin ibu, nak! Anak ibu ingin bunuh diri..”

Siang itu, di pertengahan tahun 2016. Dalam satu ruangan berukuran 3x3m di sebuah klinik psikologi swasta yang terletak di kota Bukittinggi. Lila terlihat sedang merapikan beberapa dokumen dan berencana akan menyerahkan laporan anamnesa salah satu klien kepada rekannya. Ketika sedang membuka pintu dan ingin melangkah masuk ke ruang kerja rekannya. Tiba-tiba Lila didatangi oleh seorang ibu paruh baya yang kebingungan dengan tissue dalam genggaman yang sesekali diusapkan ke matanya. “Maaf ibu, ada yang bisa saya bantu?” ucap Lila.

Ibu itu diam saja. Sambil terus menangis, akhirnya dengan langkah gontai ibu itu dituntun Lila untuk duduk di ruang tunggu. Lila juga memberikan segelas air mineral kepada ibu itu. Melihat ibu itu meminum air mineral yang diberikannya, Lila tersenyum.

“Bagaimana bu? Sudah lebih tenang sekarang?”.

“Alhamdulillah, terimakasih ya nak. Nama anak siapa?”

“Saya Lila bu, ibu dari mana? Kenapa bisa sampai disini?”

“Ibu dari Kamang, nak Lila. Kemarin ibu dikasih tau teman kalo ada tempat yang bisa bantu menangani permasalahan psikologis, benar disini tempatnya?”

Dengan senyuman, Lila menjawab. “Oh iya ibu, benar ini tempatnya. Ada yang bisa saya bantu, ibu?”

Jeda sejenak. Tak ada yang bicara.

“Tolongin ibu, nak! Anak ibu ingin bunuh diri..” Tangis ibu itu pun pecah kembali. Lila yang saat itu duduk berseberangan dengan si ibu, memutuskan berdiri. Kemudian berjalan memutari meja agar bisa duduk di sebelah ibu itu.

Saat itu Lila dihampiri dua orang temannya yang kebetulan mendengar tangis ibu itu. Sesekali Lila bertukar tatap dengan dua orang temannya. Lila, Shabira, dan Devi mengamati penampilan si ibu. Berkerudung dan bergamis panjang warna coklat tua. Dengan wajah yang tertutup niqab (cadar), berulang kali ibu itu mencoba menghapus air mata yang terus keluar seperti tak ada habisnya.

“Ibu sama siapa kesini, bu?” tanya Devi.

“Sama anak ibu yang kedua, dia sedang menunggu di dalam mobil.” Lila, Shabira, dan Devi otomatis mengikuti arah telunjuk ibu itu menunjuk. Kebetulan klinik tempat Lila bekerja bagian depannya di lapisi kaca, sehingga bagian luar klinik bisa terlihat dari dalam. Mereka bertiga terlihat saling bertukar pandang, kemudian saling melempar senyum yang sedikit tertahan.

“Ibu, maaf kalo boleh tau nama ibu siapa, bu?” Tanya Lila.

“Nama ibu, bu Ratih nak. Tolongin ibu nak! Anak ibu…” bu Ratih kembali menangis dan mengusap air matanya.

Lila, Shabira, dan Devi menunggu tangis bu Ratih mereda. Setelah bu Ratih merasa sudah mampu mengatur nafasnya. Lila mulai bertanya kembali, “Jadi, bisa ibu ceritakan apa permasalahannya bu?”

“Anak ibu, nak Lila..” bu Ratih berulang kali menghapus air matanya menggunakan tissue yang ada di genggamannya.

“Kalo ibu bingung, tidak apa-apa. Ibu bisa cerita dari mana ibu ingin bercerita.” Jelas Lila.

Bu Ratih masih diam. Melihat itu, Lila bertukar tatap dengan Shabira dan Devi. Lalu tersenyum dan berkata, “Atau kalau ibu merasa kurang nyaman bercerita di sini, kita berdua bisa masuk ke ruang 3 sebentar, ibu?”

Bu Ratih menyetujui usul Lila. Mereka berdua pun berjalan beriringan memasuki ruang 3. Setelah duduk berhadapan, sambil tersenyum Lila kembali berucap. “Sudah lebih tenang, bu?”

Bu Ratih tersenyum sambil menghapus air matanya.

“Kalau begitu, bisa ibu ceritakan apa permasalahannya, bu?”

“Nama anak ibu Bara, 19 tahun. Beliau lulusan pondok pesantren di Padang Panjang. Saat ini tidak mau melanjutkan kuliah dan tidak mau bekerja. Sejak dua tahun belakangan ini, hobinya mengurung diri di kamar. Jarang mandi dan tidak pernah keluar rumah, kecuali untuk membeli rokok di warung.” Ibu itu menarik nafas sejenak. Lalu melanjutkan ceritanya, “Padahal setau ibu, Bara tidak pernah merokok sewaktu sekolah. Entah kenapa dua tahun ini, Bara justru seringkali terlihat sedang merokok di kamarnya. Rokok itu haram, nak Lila! Ibu tidak mau anak ibu melakukan hal-hal yang Allah tidak suka.”

Lila mengamati wajah ibu itu, yang sejak masuk ke ruang 3 sudah melepaskan niqab-nya. Teduh, batin Lila.

“Ada satu kenyataan yang ingin ibu ungkap disini, nak Lila. Ayahnya Bara adalah ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan). Beliau menderita skizofrenia sejak Bara dan adiknya masih kecil. Setelah kali kedua keluar dari Rumah Sakit Jiwa, ayahnya Bara sampai saat ini masih suka ngamuk-ngamuk dan seringkali memukul kami bertiga, nak.”

Lila menggenggam tangan ibu itu, berharap dapat memberikan penguatan agar ibu itu terus tegar.

“Sejak sekolah menengah pertama dulu, ibu sering mendengar Bara di bully oleh teman-temannya karena keadaan ayahnya. Bara tidak pernah cerita apapun. Ibu pikir emang Bara anaknya seperti itu, pendiam. Tapi, sejak 4 bulan belakangan, Bara seringkali bertanya kepada ibu mengenai pandangan agama terkait hukum bunuh diri.”

Mendengar hal itu, Lila menahan ekspresi terkejutnya. Lalu, ibu itu menangis kembali.

“Ibu takut sekali Bara berniat bunuh diri, nak Lila. Tolongin ibu.. Apa yang harus ibu lakukan?”

“Ibu tenang dulu, ya bu. Maaf, kalo boleh saya tau, apakah Bara pernah mengucapkan kalimat bahwa dirinya ada keinginan untuk bunuh diri?”

Bu Ratih terlihat mengingat, sambil menahan tangis bu Ratih menjawab “Pernah, nak. Beberapa kali.”

“Baiklah, kalo seperti itu. Gambaran cerita permasalahan anak ibu sudah saya catat garis besarnya. Begini bu, prosedur di tempat kita untuk pemeriksaan awal, ibu harus bikin janji dulu. Nanti untuk jadwalnya kita atur di bagian admin di depan. Disini, saya akan menjelaskan prosedurnya ya bu.”

Bu Ratih mengangguk.

“Jadi, untuk pemeriksaan awal nanti bu Ratih dan Bara akan melewati sesi tanya jawab dengan asisten psikolog atau sarjana psikologi yang sudah disupervisi oleh Psikolognya langsung. Bisa dengan saya langsung atau rekan saya yang lain. Pemeriksaan ini dilakukan hanya empat mata bu, ibu dan Bara akan bertemu masing-masing dengan tenaga ahli secara bergantian. Tujuannya agar kita benar-benar mendapatkan informasi secara objektif, tanpa merasa tertekan atau perasaan saling “gak enakan” satu sama lain. Ini kita sebut dengan anamnesa atau pengumpulan data, normalnya akan menghabiskan waktu selama 3 jam. Bara juga akan diberikan beberapa psikotes ringan, agar kami mengetahui gambaran kepribadian Bara. Seminggu setelah itu, setelah data-data terkait bagaimana kepribadian dan kebiasaan Bara sudah kami kumpulkan. Bara baru akan bertemu dengan Psikolognya untuk sesi konsultasi dan mendapat penanganan, seperti terapi atau saran-saran lain misalnya.”

Lila melihat kearah bu Ratih, mencoba menerka apakah bu Ratih bisa memahami penjelasannya. Melihat bu Ratih terus menyimak penjelasannya, Lila melanjutkan. “Dan yang perlu kami sampaikan juga, proses yang akan dilewati Bara tidak sedikit ibu. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bisa saja diperlukan beberapa pertemuan dengan tenaga ahli disini sampai permasalahan Bara bisa kita tangani dengan baik. Semoga Allah mudahkan ikhtiar kita ya bu.” Ucap Lila sambil tersenyum.

“Baik, nak Lila.”

“Apa ada yang ingin ibu tanyakan?”

“Mohon maaf, kalau boleh ibu tau tenaga ahli disini ada yang laki-laki, nak Lila?”

“Kebetulan semua tenaga ahli di sini perempuan, bu.”

“Sebenarnya ibu sangat nyaman dengan pelayanan klinik ini, nak Lila. Semua staf dan karyawannya sepanjang ibu lihat tadi sudah menutup auratnya dengan baik. Ibu senang sekali melihat anak-anak muda yang sudah sadar untuk berhijab syar’i. Ibu pikir nilai-nilai yang dipegang oleh klinik ini cukup kondusif karena banyak yang sesuai dengan syari’at.”

Lila menyimak setiap kalimat yang keluar dari pengakuan bu Ratih.

“Tapi nak Lila, ibu khawatir dengan Bara. Setelah penjelasan nak Lila tadi, bagaimanapun tidak baik seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan yang bukan mahramnya. Ibu tidak menyalahkan nak Lila, mungkin prosedurnya memang sudah seperti itu. Hanya saja ibu sedikit keberatan, takut Bara terkena fitnah perempuan. Apalagi jika berduaan dengan perempuan cantik berkerudung syar’i, yang lembut tutur katanya, memiliki ketulusan hati, serta murah tersenyum seperti nak Lila.”

Lila tersenyum masam. Sedikit tersinggung menyadari tidak ada yang salah dengan perkataan bu Ratih. Membuatnya menyadari satu hal.

“Ibu minta maaf jika perkataan ibu menyinggung perasaan nak Lila. Ibu takut selama proses anamnesa nanti, Bara justru semakin merasa tidak nyaman. Karena selama ini Bara juga sangat menjaga pertemanannya, sehingga tidak pernah berinteraksi dekat dengan perempuan yang bukan mahramnya. Sekali lagi, ibu tidak menyalahkan nak Lila, ya nak.”

“Baik ibu, saya mengerti. Saya juga sangat menghargai nilai-nilai keagamaan yang dipegang oleh keluarga ibu.”

Bu Ratih tersenyum hangat.

“Lalu bagaimana solusinya, nak?” Tanya bu Ratih

“Begini saja bu, kalau ibu bersedia kita akan merekomendasikan Bara ke klinik lain saja. Klinik yang memiliki tenaga ahli laki-laki agar Bara dan ibu merasa tenang menjalani proses penanganan masalah ini. Apa ibu bersedia?”

“Ibu berharapnya begitu nak Lila. Jika memang ada, ibu senang dan bersyukur sekali.”

“Baik bu, kalau seperti itu ibu bisa meninggalkan nomor telepon yang bisa kita hubungi. Nanti saya yang akan menghubungi pihak klinik lain yang bisa menangani kasus Bara. Ibu tinggal menunggu kabar dari saya saja.”

“Baik, nak Lila.”

“Apa ada yang ingin ibu tanyakan lagi, bu?”

“Tidak ada, nak Lila.”

“Baik kalau seperti itu bu, ibu yang semangat ya bu. Jangan terlalu khawatir, kita do’akan Bara selalu dalam lindungan Allah. Semoga Bara tidak memiliki niat seperti itu, ya bu. Saran saya, kalau bisa Bara tidak dibiarkan sendiri di rumah. Sebisa mungkin Bara tetap berada dalam pengawasan ibu atau keluarga yang lain.”

“Terimakasih, nak Lila. Akan ibu usahakan untuk terus mengawasi perilaku Bara di rumah.” Bu Ratih tersenyum.

Lila kemudian berdiri dan mempersilakan bu Ratih meninggalkan ruang 3. Setelah memakai kembali niqabnya, bu Ratih berdiri dan memeluk Lila dengan haru. “Terimakasih banyak, nak Lila.” Bisik bu Ratih.

“Sama-sama bu, senang bisa sedikit membantu.”

Lila menghantarkan bu Ratih sampai di depan pintu klinik. Setelah berpamitan, bu Ratih mengucapkan salam kepada Lila.

“Hati-hati di jalan, bu.” Ucap Lila sambil tersenyum hangat.

Setelah menutup pintu klinik, Lila kembali ke ruangan dan menyerahkan laporan anamnesa yang tidak jadi ia serahkan kepada rekannya tadi. Kepada rekannya, Lila menyampaikan beberapa informasi penting terkait laporan yang ia serahkan. Lila juga menyampaikan permasalahan bu Ratih dan meminta untuk segera diteruskan ke pihak klinik lain yang bisa menangani permasalahan bu Ratih. Mengingat kasusnya yang mendesak, Lila meminta agar bu Ratih dan Bara segera mendapatkan penanganan secepatnya.

Lila pun kembali ke ruangannya. Duduk dan mengingat kembali setiap perkataan bu Ratih. Iri sekali rasanya dengan Bara, bahkan dalam kondisi mendesak seperti ini Bara masih memiliki ibu yang tetap mempedulikan kebaikannya di dunia tanpa mengabaikan kebaikannya di akhirat. Melihat bu Ratih, Lila merasa malu sekaligus tersentil dengan dirinya sendiri. Membuat Lila memikirkan kembali tentang nilai-nilai yang Lila pegang dalam berinteraksi dengan lawan jenis. “Terimakasih sudah mengingatkan, Lila. Bu Ratih.” Batin Lila.

Comments
Loading...