education.art.culture.book&media

Kesungguhan Rasa (Tugas BWC #3)

Kesungguhan Rasa

 

Aisah, itulah namaku. Aku tak pernah berfikir tentang cinta, aku tak pernah menbayangkan bagaimana rasanya mencintai dan cintai, mungkin karna aku lebih suka menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman. Kurasa itu sudah cukup membuatku merasa bahagia. Hingga pada suatu hari, waktu membawaku kedunia sejuta warna, dunia yang belum pernah aku rasakan. Dunia yang kuanggap biasa-biasa saja. Pandu, ya dialah laki-laki yang menarik diriku akan kebahagiaan tentang cinta.

Tak seujung kuku bayangannya hadir dalam benakku, tak pernah kubayangkan, sosoknya yang telah menyadang status duda menjadi pemilik sah hati ini. Tak jarang orang berkata buruk tentangnya, terutama saudara-saudaraku. Mereka sangat menentang aku, untuk tidak menikah dengannya. Ya, aku mengerti bagaimana sikap mereka yang begitu  tidak menyukai Pandu, mungkin karna status pandu sebagai seorang duda dan perbedaan usia kami yang telampau jahu. Pandu berusia 32 tahun sedangkan aku beranjak 20 tahun. Namun waktu memberikan kenyataan yang berbeda. Kini dia adalah ayah dari anak-anaku, kini dia adalah pasangan hidupku. Terlebih dari itu, dia adalah sosok yang sangat aku cintai 10 tahun yang lalu hingga saat ini.

Ya sepuluh tahun telah berlalu, kini usia pernikahan beranjak perlahan menunju angka 11. Namun kenapa pada tahun ini, aku merasa ada perubahan dalam dirinya yang dulu begitu mencintaiku sekarang berubah seperti tumpukkan es yang memuncak. Bahkan ia tak pernah lagi mencium keningku, disaat ia pulang kerja. Kucoba untuk memahami sikapnya, mungkin mas Pandu letih karna telah seharian bekerja dikantor mengurusi nasabah-nasabahnya yang belum membayar kredit perumahan didaerah Jakarta timur.

“Mas, mau mandi dulu atau makan dulu? Kalo mas mau mandi, dek siapkan air hangatnya. Ucapku kepada mas Pandu yang duduk kursi disudut kamar sembari menghelus tangannya.

“nanti aja, mas mau istirahat dulu. Udah kamu tidurah dek, ini kan sudah jam 10.00 malam. Ucap Pandu yang perlahan melarikan diri dari sentuhan tangan Aisah.

Entah mengapa hatiku beradu dengan ucapan mas Pandu, ingin aku tanyakan ada apa dengannya hingga berubah begitu dingin padaku, aku istrinya, aku ibu dari anak-anaknya tapi mengapa, bahkan genggaman tanganku ia lepaskan. Tapi jika aku bertanya saat ini, kasihan mas Pandu. Ia baru pulang kerja, ya sudahlah. Umpatku di dalam hati sambil berkata ia kepada mas Pandu.

Dalam kensunyian malam, aku benamkan hasrat untuku bertanya akan sikapnya yang bertolak belakang dengan dirinya yang dulu. Aku termenung, mengingat bagaimana ia berusaha mendapatkan cintaku disaat aku masih duduk dibangku kulia. Dengan sabarnya ia membawakan segalah keperluanku ke kampus, hingga keringat becucuran didahinya, dengan sabarnya ia menghadapi saudara-saudaraku yang acuh kepadanya.

Ping..ping..tiba-tiba suara pesan masuk pada jam 2.00 malam di handphone mas Pandu. Menyadarkan aku dari lamunan panjang. Serentak aku terjaga dan melihat kearah mas Pandu. Ternyata mas Pandu tertidur seperti biasanaya dimeja kerjanya. Perlahan kakiku merangkak meraih handphone mas Pandu. Dan betapa tekejutnya aku, ketiaka aku melihat pesan dihandphone mas Pandu.

“Malam mas Pandu, mas dek rindu sama mas. Biasa besok kita ketemu lagi?

 

Kurasakan cairan hangat dipelupuk mata membasahi pipi yang terdiam meratapi wajah mas Pandu, hatiku begitu sakit menghadapi perlakuanmu mas, bagai terujam sebilah besi yang menyayat setiap kulit ditubuhku. Kenapa engkau begitu tega menduakan aku istrimu mas, apa kau lupa bagaimana dulu ketika kamu ingin mendapatkanku mas. Apa kau lupa bagaiman dulu janjimu kepadaku untuk sehidup semati selamanya. Sekali lagi, aku terdiam menyimpan duka dibalik senyuman. Perlahan aku merangkat menuju tempat tidur yang dihiasi bayanganya yang begitu lembut memperlakukanku, yang selalu mencium keningku sebelum tidur.

 

Seabaikanya aku sholat, menenangkan hati dan pikiranku. Mudah-mudahan Allah memberikan aku petunjuk dalam menghadapi masalah ini..

 

“Yah allah yah Tuhanku, ampuni hambamu yang selalu mengeluh. Yah Allah yah Tuhanku, kuatkan hatiku dalam menghadapi masalah ini. Bantu aku menyadarkan mas Pandu, bahwa apa yang ia lakukan itu salah..Ucapku dikala sujud semabari menangis meratapi nasib yang begitu buruk.

 

Waktu berlalalu seperti biasanya. Aku menyiapkan sarapan pagi untuk mas Pandu dan anak kami putri, menyiapkan bekal makan siang mereka.

 

“ Mas bangun…udah mau jam 7.00. Mas..mas..

“Iya dek,mas mandi dulu ya.

“Iya mas, pakaian mas udah adek siapkan. Yah udah, mau nyuapin putri dulu mas.

 

Biasanya saat engkau bngun tidur, kau selalu mengucapakan “selamat pagi istriku” kini kata itu hanya tinggal kenangan. Tak pernah lagi kudengar semenjak satu bulan terakhir ini mas. Umpatku di dalam hati.

 

“Ayah…yah..ayaaah?

“Apa anak ayah yang cantik. Ucap Pandu sembari mendaratkan kecupan

lembut di dahi putri.

“Besok kan hari minggu yah, kita pergi jalan-jalan ke taman bermain yah?

“Putri mau ketaman bermain? Ada syaratnya!!

“iiiiihhhh ayah,,kenapa begitu. Emang apa syaratnya?

“cium dulu. Ucap Pandu dengan menyodorkan pipi kanannya.

“Emmuaaach”

“Ayah gak cium mama? Mama kan sayang sama ayah?

“iya nanti ayah cium mama donk.

 

Setelah sarapan, mas Pandu pergi mengantarkan putri semata wayang kami kesolah dasar 48 jakarta. Ia lupa dengan perkataan yang ia ucapkan kepada putri kami. Saat itu aku hanya bisa menunduk, menumpahkan semua rasa sakitku lewat air mata yang tak lagi bisa terbendung. Sesulit itukah mas kamu mengasihi istrimu sendiri, ibu yang melahirkan anakmu mas, istri yang hidup setia selama 10 tahun. Apa kurangku sebagai istrimu mas, kenapa tak kau sampaikan padaku. Justru kini kau tega membagi hati dengan perempuan lain.. yah Allah beri aku kekuatan, tabahkan hatiku yah Allah. Tapi siapa wanita itu, kenapa dia merindukan suamiku?..Mungkin sebaiknya aku memeriksa lemari mas Pandu, siapa tahu aku bisa menemukan sesuatu yang berkaitan dengan wanita itu. Ungkapku seakan kereta yang melaju menggapai lemari mas Pandu.

Rasa kalut seolah bergelora dalam jiwaku, seakan menerjangku untuk mengetahui siapa dinding penghalang kebahagiaan rumah tanggaku,,,hingga pada suatu titik sudut lemari. kutemukan buku kecil berwarna hitam yang aku tak pernah tahu buku apa itu. Perlahan namun pasti kubuku setiap lembar demi lembar yang ternyata buku itu, adalah curahan hati suamiku. Dan kubaca pada lembar pertama dengan sejuta tanya menghiasi otakku.

 

20 Oktober 2015

 

“ Di dunia ini, ada dua tipe wanita. Wanita yang harus kau temui dan wanita yang sebainya tidak perlu kau temui. Hari ini aku bertemu dengan tipe wanita yang ketiga. Seorang wanita yang seharusnya tidak kutemui lagi. Wanita jahat itu, mantan istriku yang dulu sangat kucintai. Namun dengan teganya dia meninggalkan aku untuk lelaki yang lebih baik dariku. Tapi kenapa dengan hatiku ini, mengapa aku merasa bahagia berjumpa dengannya lagi. Maafkan aku istriku, aku akan berusaha mulupakan dia untuk selamanya.”

 

Bagai luka tertaburkan garam, betapa perihnya hatiku membaca setiap lembar demi lembar buku itu. Hanya air mata yang menjadi saksi bagaimana hatiku dalam kemelutan, beradu dengan kenyataan yang ada. Walaupun dia berusaha melupakan mantan istrinya tetapi dihatinya terpendam cinta untuknya. Suamiku..maafkan aku, bila aku tak sepenuhnya baik untukmu, tapi aku berjanji mulai hari ini, detik ini, dan saat ini aku akan senantiasa memberikan kamu perhatian dan cinta yang luar biasa dari apa yang aku berikan selama ini. Aku tak ingin rumah tangga kita hancur menjadi debu, aku tak ingin anakku menangisi ayahnya yang pergi bersama wanita lain. Aku berjanji suamiku. Umpatku denga bola mata yang seakan melutus dipenuhi cairan hangat sembari menggenggam erat sebuah buku.

 

“Assalamualaikum… nak Aisah. Suara mbah Darmi menyadarkan aku dari keheningan air mata. Sontak membuatku bergerak, berjalan menyusuri dinding rumah menuju pintu utama.

“ Iya mbah, masuk mbah.

“ini tadi mbah,masak bubur kacang hijau. Kamu dan suamimukan suka sama bubur kacang hijau.

“Subhanallah, makasih mbah. Jadi ngerepoti mbah. Ucapku memeluk mbah Darmi.

“Ya sudah, mbah pulang dulu ya. Mbah mau main sama anak-anak diluar dulu.

“iya mbah, mau Aisah anterin mbah.

“gak usah nak…kan di depan sini rumah mbah. Udah kamu masak aja, ini kan udah sore. Bentar lagi suamimu pulang nak.

“iya mbah.

 

Bismillahirrahmanirrahim, permudahkanlah setiap langkahku ya Allah. Mas Pandu sangat menyukai rendang daging, sayur kangkung tumis lalep perkedel. Sebaiknya hari ini aku masak itu aja buat mas pandu dan putri anakku. Dengan sabarnya Aisah menyiapkan segala bahan-bahan yang ia beli dipasar dekat rumahnya sambil menjemput putri semata wayangnya disekolah.

 

“Mama..mama..mah..tadi,putri maju kedepan. Putri bisaloh jawab pertanyaan ibu guru mah. Ucap Putri yang memeluk Aisah.

“Wiih pinter anak mamah ya, tos dulu.

“iya mama, Putri gitu loh.

“Yah udah, kita langsung pulang ya nak. Mama mau masak makanan kesukaan ayah. “wiiiiiiih…enak dong mah. Yuk ma, kita pulang.

 

Sesamapinya di rumah, aku langsung bergegas memasak makanan kesukaan mas Pandu.  Setelah selesai aku pun bergegas menyiapkan diri sebaik mungkin seperti putri yang akan mengikuti ajang kontes kecantikan. Lama sekali mas pandu, hari sudah larut malam. Apa terjadi sesuatu kepada mas Pandu. Yah Allah lindungi suamiku dimanapun ia berada. Waktu terus berlalu namun Pandu tak kunjung pulang ke rumah. Hingga pada akhirnya membuat Aisa tertidur diatas meja makan.

 

“Sudah jam 1.00 malam, sebaiknya aku lanjutkan besok lagi pekerjaanku. Di mana aku letakkan kunci mobil ya..oooh ini kunci mobil. Ucap Pandu meraih kunci dibalik berkasnya.

 

Ping…ping..Telfon dari siapa, hari sudah larut malam. Umpat Pandu di dalam hatinya.

 

“Mas Pandu, tolongi delisa. Mobil Delisa rusak mas, gak bisa hidup. Sementara Delisa sekarang dijalan kayu ara. Mas tahu sendirikan, daerah sini nggak ada bengkel mas.

 

“Maafkan saya Delisa, saya tak bisa pergi kesana. Saya tahu itu hanya alasanmu saja agar aku pergi menjumpaimu. Ya aku akui, aku sempat terbuai, aku terlena ucapan manismu. Hingga membuatku melupakan cinta dan kasih sayang istri dan anakku. Aku sadar, bagaimana buruknya sikapku selama satu bulan ini kepada istriku. Aku tidak lagi terlalu perhatian kepadanya karna kehadiranmu Delisa. Aku sadar, kelakuanku melukai hatinya. Maafkan aku Delisa. Aku mohon kamu pergi dari hidupku. Ucap Pandu dengan tegas.

 

“Jika memang istrimu sangat mencintaimu, mengapa kamu terbuai dan terlena akan diriku. Kamu tidak tahu sesungguhnya perasaan istrimu mas. Istrimu itu tidak mencintaimu mas. Kembalilah padaku mas, aku akan memberikan kamu kebahagiaan yang belum pernah kamu rasakan dengan istrimu mas.

 

“ Kamu justru salah Delisa, istriku sangat mencintaiku. Pada suatu malam aku terjaga, dan aku melihat betapa kecewanya, betapa sakitnya, ia menangis sejadi-jadinya dalam sujudnya kepada Tuhan. Aku merasa heran dan takut apakah ia tahu dengan apa yang ada pada otaku. Kubuka handpone dan kulihat sebuah pesan darimu yang sudah terbaca, yang aku sendiri belum membacanya. Tidak mungkin anak kami, ia baru berusia tujuh tahun. Pada saat itu aku diam saja, aku memperhatikan bagaimana tindakannya kepadaku selanjutnya. Dan kamu tahu Delisa, bagaimana sikapnya??..

 

“ Kamu terlalu berlebihan mas, memang bagaiman sikapnya? Ucap Delisa dengan suara yang membentak.

 

“Dia tidak mengubah cintanya padaku, dia tetap seperti biasanya. Dia tidak mengubah perhatiannya padaku Delisa walapun sejatinnya hatinya terluka bahkan hancur bak daun yang terhempas angin lalu. Dia tetap setia dan berusaha memahami tindakanku. Terima kasih Delisa, berkat kehadiranmu aku menyadari betapa besar cinta istruku kepadaku. Selamat tinggal Delisa, semoga Tuhan, memberikan jodah yang tepat untukmu. Assalamualaikum. Ucap Pandu dengan tegas, merangkak menuju pintu mobil.

 

“Mas…mas..tunguu jangan dimatiin dulu. Sialan si pandu. Ya sudah kalo gak mau, aku bisa mencari laki-laki yang lebih darimu Pandu. Umpat Delisa yang begitu emosinya.

 

Tin..tin…kenapa belum dibuka gerbangnya. Mungkin dek sudah tidur. Ya wajar saja, hari sudah jam 2.00 malam. Dimana kuletakan kunci rumah ya, ooh ini dia.

 

Dengan perlahan Pandu membuka  pintu rumahnya, merangkak maju memasuki ruangan. Dan betapa kagetnya   ia dengan apa yang ada dihadapnnya. Begaimana tidak, ia melihat istrinya begitu cantik dengan balutan gaun mini berwarna putih. Tanpa sadar air matanya terjatuh, seketika melihat betapa banyaknya bekas luka dikaki dan tangannya yang sinari lilin putih.

 

“Maafkan suamimu ini istriku, maafkan suamimu yang tidak memperhatikanmu, yang tidak tahu bagaiman sulitnya, kamu menjaga dan merawat anak dan suamimu ini. Dirimu selalu senantiasa perhatian kepadaku, aku berjanji kepada mu istriku. Aku akan selalu mencintaimu, tak kan pernah kubiarkan orang lain merusak kebahagiaan rumah tangga kita. Sebuah kecupan mendarat dipipi Aisah menyadarkan Aisah dari tidur lelapnya.

 

“Mas sudah pulang? Mas mau makan atau mandi dulu? Biar dek siapin air hangat mas.

“Mas gak mau makan, gak mau mandi.

 

Ya allah ada apa dengan suamiku, mengapa sikapnya begitu aneh. Apakah ada sesuatu hal terjadi kepada mas dan perempuan itu!!umpatku di dalam hati.

 

“Ya terus mas mau apa? Biar dek siapin mas.

“ Mas maunya kamu, aku mencintaimu istriku. Ucap Pandu disudut pipi Aisah yang terbelangak keheranan. Maafkan suamimu ini Aisah. Mas sadar, mas telah menlukai hatimu hingga membuatmu meneteskan air mata. Tapi ada suatu hal, yang  harus kamu ketahui istriku?

“Apa itu mas, ucapku menggenggam jemari mas Pandu dengan sejuta Tanya berterbangan di atmosfer.

“ Kamu jangan pernah berfikir bahwa mas tidak lagi mencintaimu, bahwa mas mencintai perempuan lain selain dirimu. Sebulan yang lalu, mas memang berjumpa dengan mantan istri mas. Kehadirannya membuat pikiran mas kalut tapi dengan cintamu yang begitu besar untuk mas, mas menyadari bahwa kamulah perempuan yang sangat mas cintai. Hati mas terluka, melihat kamu meneteskan air mata.  Maafkan suamimu yang jahat ini?

 

“Yah Allah terima kasih telah mendengar doaku, ia mas. Dek percaya sama mas. Dek juga sangat mencintai mas. Terima kasih suamiku telah menjadi suami dan ayah yang luar biasa hebatnya.

 

 

Selesai

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757