education.art.culture.book&media

Memahami Generasi kids Zaman Now (Esai Lingkaran Kopdar #9)

Oleh Lutfiah Anggi Aprillia

 

ABSTRAK

Generasi kids “zaman now” adalah sebutan untuk generasi yang lahir di tahun 1995-2010. Nama lain dari generasi ini adalah generasi Z yang sangat berteman akrab dengan teknologi, kreatif, multitasking dan lain-lain. Namun, suara sayup-sayup terdengar membicarakan kekhawatiran tentang generasi ini. Kecakapan mereka mengikuti perkembangan teknologi, dianggap membahayakan dan seringkali melanggar norma-norma dalam masyarakat. Setiap kita boleh mempunyai persepsi masing-masing terhadap istilah generasi ini, hanya saja agar tidak termakan hoaks “paham” harus menjadi kata kunci untuk memberikan penilaian terhadap generasi ini. lalu, apakah kita termasuk di dalam generasi ini? atau kita adalah generasi “old” yang terjebak di “zaman now” .Tulisan ini, diharapkan dapat memberikan gambaran untuk mengenal dan memahami dengan cara yang santun terhadap generasi kids zaman now.

Kata kunci: zaman now, generasi z, teknologi

Siapakah “Kids Zaman Now”?

Istilah “kids zaman now” beberapa tahun terakhir begitu viral di kalangan masyarakat luas. Seringkali istilah ini menjadi plesetan untuk menggambarkan suatu keadaan anak-anak zaman sekarang yang berlomba-lomba menjadi anak “gaul”. Istilah yang sama sekali tidak sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia ini digunakan masyarakat untuk menyebut generasi muda yang tengah terjebak mengikuti pola hidup kekinian. Sehingga, generasi “zaman now” dikenal sebagai generasi yang begitu up to date mengikuti perkembangan zaman, mulai dari trend fashion, gadget, food dan sebagainya.

Tri Haryanta, Agung dan Eko sujatmiko (2012:153) menuliskan, pergeseran sikap dan pola pikir masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan zaman disebut dengan modernisasi. Itu artinya modernisasi secara umum menyangkut perubahan dari cara-cara tradisional menuju cara yang lebih modern atau lebih maju. Dengan kata lain, generasi “zaman now” adalah generasi yang memiliki identitas sebagai generasi modern. (https://www.kompasiana.com/twenty/5a146ffd51699537992926b2/yukk-jadi-generasi-jaman-now?page=all)

Dalam sebuah tulisan yang dimuat di republika.co.id (Salim, Satiwan; 2017; http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/11/03/oyu6oz396-teacher-dan-parent-zaman-old-mendidik-kids-zaman-now) kids zaman now didefinisikan sebagai generasi Z yang lahir di rentang tahun 1995-2010. Jika dihitung, anak-anak generasi ini memiliki rentang usia 7-24 tahun dan saat ini sedang duduk di bangku sekolah mulai dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.

Generasi ini sering juga disebut sebagai generasi Z. Era baru lanjutan dari generasi Y, yang dikenal sebagai generasi milenial[1].  Generasi Z jauh lebih milenial dari generasi Y.  Generasi Z sangat cakap menggunakan alat teknologi terutama gadget , yang telah memenangkan hati mereka. Sehingga, dalam satu hari pun tak akan pernah bisa membiarkan diri tanpa menggenggam gadget/smartphone. Kemungkinan besar, keadaan ini sering kita jumpai di lingkungan kerja, sekolah, masyarakat bahkan rumah. Perhatikan saja, di tengah keramaian atau perkumpulan, setiap diri masih tetap lebih banyak melirik ke arah smartphone.

 

“Kids Zaman Now” dalam Paradigma Positif

Perkembangan teknologi yang semakin pesat dewasa ini, menuntut setiap orang untuk ikut mempercepat langkahnya agar tak ketinggalan. Istilah gagap teknologi pun mulai dikenal seiring dengan meningkatnya ragam produk-produk teknologi terbaru beserta aplikasi dan inovasinya.

Sebagai anak generasi Milenial yang lahir di tahun 1994, saya benar-benar merasakan perubahan pesat di bidang teknologi. Meskipun, di zaman milenial teknologi juga telah berkembang, namun pergerakannya tidak semaju sekarang.

Dulu, ketika duduk di sekolah dasar anak-anak generasi milenial belum terlalu akrab dengan smartphone. Bahkan tak banyak sekolah-sekolah yang telah mengenalkan pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) untuk murid sekolah dasar. Keadaan ini sangat berbanding terbalik dengan yang terjadi sekarang. Anak SD, anak TK bahkan balita telah mampu mengoperasikan smartphone yang berlayar sentuh.

Dengan kemudahan-kemudahan teknologi yang ada, generasi “kids zaman now” banyak juga dikenal sebagai anak-anak kreatif yang mampu berinovasi menciptakan sesuatu. Siapa yang tak kenal keluarga Gen Halilintar? Ya, keluarga yang dipimpin oleh ayah dan ibu kreatif dengan sebelas orang anak ini sangat dikenal di masyarakat dan kalangan anak muda. Hal tersebut karena, kepiawaiannya mengolah teknologi membuat konten-konten kreatif di Youtube. Seringkali pula, keluarga ini dihadiahi penghargaan dari hasil kreatifitas mereka. Bagaimana tidak, kesebelas anak mereka yang tergolong sebagai generasi “kids zaman now” sangat pandai menciptakan peluang untuk melejitkan diri. Salah satu contohnya, anak yang masih duduk di sekolah dasar sudah berani dan mampu menjual produk-produknya, sehingga bisa disebut sebagai pengusaha muda. Dari berbagai kekreatifannya, keluarga “zaman now” ini termasuk salah satu keluarga yang mempunyai penghasilan besar di Indonesia.

Keluarga Gen Halilintar di atas adalah salah satu cerminan dari generasi “kids zaman now” dalam paradigma positif. Multitasking, “melek” teknologi, kaya dan piawai melejitkan potensi diri. Tentu saja, hal tersebut terjadi karena kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan zaman secara cepat dan tepat.

Dalam tulisannya yang dimuat di republika.co.id, Satiwan Salim juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data demografis pada tahun 2010, keberadaan “kids zaman now” ini sangat potensial dalam pengembangan pertumbuhan perekonomian nasional.

 

Generasi “Kids Zaman Now” dalam Paradigma negatif

Sayup-sayup terdengar bersama hembusan angin dan bahkan beberapa kali nyata nampak di depan mata, sebagian bibir-bibir tertentu mempunyai paradigma buruk terhadap generasi “kids zaman now”. Tak khayalnya, hidup ini selalu seperti medan magnet yang mempunyai dua kutub positif dan negatif. Lalu, pada akhirnya jika didekatkan akan saling tarik-menarik.

Psikolog Anak Saskhya Prima, dalam Metro Plus, Senin 4 Desember 2017  mengatakan terdapat kelemahan pada generasi Z, fokus perhatian mereka semakin lama semakin pendek karena topic of interest yang banyak serta keinginan yang serba cepat.

Banyak mata yang memandang jika generasi “kids zaman now” adalah mereka yang kekinian, kemana-mana membawa smartphone, dengan headshet yang selalu terpasang ditelinga. Lalu, bukan hanya smartphone yang menjadi penunjang agar nampak menjadi generasi “kids zaman now”. tapi juga dengan menerapkan gaya hidup lainnya. Seperti yang sedang hits, berkumpul di kafe bersama teman, menghabiskan waktu berjam-jam untuk nongkrong, berfoto selfi atau wefie dengan pose atau gaya kekinian yang kemudian diunggah di akun sosial media masing-masing, mulai dari facebook, instagram dan watshapp. Biasanya, orang-orang menyebut keadaan seperti ini sebagai gaya hidup socialita.

Saskhya Prima, mengatakan dalam banyak pemberitaan di media massa, generasi Z disebut ‘membahayakan’ sebab dinilai terlalu ekspresif dan mudah mengungkapkan opininya melalui beragam media, khususnya di media sosial. Padahal generasi Z diprediksi merupakan generasi paling bagus untuk hidup di zaman sekarang lantaran kemampuan multitasking-nya.

Tidak hanya sampai disitu, sering pula label “kids zaman now” diberikan kepada sekelompok pemuda yang ikut serta dalam geng motor, komunitas anak funk dan kelompok sosial lainnya. Pelabelan “kids zaman now” pada ranah ini adalah salah satu yang meresahkan hati masyarakat khususnya orang tua. Dalam hal ini, banyak perilaku generasi “kids zaman now” yang menyimpang dan melanggar norma-norma, contohnya seperti kecanduan games online, menjadi pecandu rokok saat masih berseragam sekolah, pergaulan bebas, obat-obatan terlarang, berperilaku kasar terhadap orang tua dan tentu banyak lagi perilaku menyimpang lainnya.

Dalam hal ini, sosok yang paling mungkin menjadi korbannya adalah anak-anak dan remaja. Sebab secara psikologi, anak-anak merupakan peniru yang hebat. Mereka juga sangat mudah mempelajari sesuatu bahkan tanpa bimbingan orang dewasa sekalipun. Sedangkan remaja yang sedang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, cenderung lebih labil, lebih egois tidak mudah untuk mendengarkan pendapat orang lain, sekalipun pendapat itu benar. Sehingga pola perilaku tersebut, sangat mudah masuk dan mempengaruhi cara hidup anak-anak dan remaja.

Itu adalah identitas negatif dari generasi “zaman now” atau generasi modern yang ada dipikiran kebanyakan orang. Padahal, sebenarnya ada yang lebih penting daripada tampilan luar untuk dianggap  menjadi generasi “zaman now” atau anak modern, yakni sifat dari manusia modern itu sendiri. Tentu saja ini merupakan pekerjaan kita bersama, para generasi “zaman old” maupun generasi milenial yang hidup dan menjadi manusia dewasa pada masa generasi “zaman now” ini.

Generasi “Zaman Now” Sesungguhnya

Menurut Soerjono Soekanto (2011:704-705) yang dikutip dari tulisan di www.kompasiana.com bahwa manusia modern adalah manusia yang memiliki beberapa ciri, yakni sebagai berikut :

1.Orang yang tidak cepat menyerah atau pasrah pada nasib

Ciri ini menunjukkan manusia modern adalah manusia yang tidak cengeng yang tidak mudah menyerah pada keadaan. Generasi “zaman now” harusnya adalah mereka yang memiliki semangat juang yang lebih tinggi dari pada generasi “zaman old” atau generasi jaman dulu. Generasi jaman now diharuskan menjadi pribadi yang penuh strategi untuk mempersiapkan masa depan yang penuh  tantangan, bukan menjadi anak yang malas atau anak yang memiliki mental tempe yang sekali gagal kemudian enggan untuk mencoba kembali.

2.Orang yang menyadari potensi-potensi yang ada pada dirinya dan yakin bahwa potensinya itu dapat dikembangkan

Ciri manusia modern berikutnya adalah orang yang mengerti tentang apa yang menjadi kelemahan dalam diri sendiri dan potensi diri yang mungkin bisa dikembangkan. Generasi “zaman now” bukanlah mereka yang hanya ikut-ikutan yang tanpa mengerti kegunaannya baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Generasi “zaman now” adalah pribadi yang sangat paham betul akan dirinya sendiri, memahami mulai dari kelemahan diri sendiri sehingga bekerja keras untuk mampu meminimalisir kelemahan tersebut agar tidak merugikan diri sendiri dan bahkan orang lain. Serta paham tentang apa yang menjadi potensi dalam diri yang bisa dikembangkan yang bukan hanya menjadi hobi akan tetapi dapat dikembangkan untuk masa depan diri dan lingkungan, bahkan untuk kebesaran bangsa ini.

3.Orang yang lebih memilih banyak berorientasi ke masa kini dan ke masa yang akan datang

Generasi “zaman now” bukanlah generasi yang hobi update status dengan mengobral keterpurukan pada diri sendiri yang menggambarkan ketidakmampuan untuk bergerak maju istilah jaman sekarang adalah susah move on. Akan tetapi menjadi pribadi yang memahami keadaan masa kini dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Mampu memanfaatkan kemajuan teknologi di zaman sekarang untuk kesuksesan di masa yang akan datang. Bukan hanya itu  generasi “zaman now” adalah generasi yang selalu berfikir kedepan atau selangkah lebih maju.

Generasi “zaman now” sangat paham bahwa masa depan harus dipersiapkan dengan baik, dengan segala bentuk persaingan sekarang yang semakin mengglobal sehingga waktu, tenaga, dan pikiran selalu terfokus untuk mencari inovasi untuk masa depan.

4.Orang yang mempunyai kepekaan tehadap masalah yang terjadi disekitar

Ketika generasi “zaman now” sering disebut dengan generasi menunduk karena semua kepala tertunduk khusuk melihat layar smartphone, maka sejatinya kita bukanlah generasi “zaman now” sesungguhnya. Dapat dibayangkan apabila kita terus tertunduk? maka yang terjadi adalah kita tidak memperhatikan yang terjadi disekitar kita.

Apakah orang tua kita membutuhkan kita, apakah kita sudah menyelesaikan pekerjaan kita dengan baik, apakah teman kita tengah sedih, apakah teman kita sedang terkena musibah. Kita tidak menyadarinya karena kita asyik dengan dunia kita sendiri dalam layar ponsel. Ketika generasi “zaman now” sibuk dengan smartphone nya, dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, maka sebenarnya itu bukanlah generasi jaman now yang sesungguhnya`

Apakah kita akan turut serta dalam gaya-gaya hidup generasi “zaman now”? ataukah kita akan tampil menjadi pencerah sehingga pandangan negatif terhadap generasi “kids zaman now” lambat laun menjadi berkurang? Tentu, hati dan pikiran kita sendiri yang mampu bersinergi untuk menjawabnya.

Langkah-langkah untuk Menghadapi “Generasi Kids Zaman Now”

Kita memang tidak bisa menahan laju perubahan zaman. Setiap masa ada generasinya. Sekarang kita tengah dihadapkan pada generasi “zaman now”. Entah di masa yang akan datang kita akan berhadapan dengan generasi apa, bisa jadi yang lebih “now lagi.

Ini adalah tantangan besar untuk kita, sebagai orang tua ataupun saudara yang mempunyai anak ataupun adik yang tengah terjebak dala pola hidup “kids zaman now”. Pendekatan khusus tentunya perlu dilakukaan.

Jika posisi kita sebagai orang tua, meluangkan waktu untuk berdiskusi dan bermain dengan anak adalah solusi terbaik untuk mengurangi dampak negatif “kids zaman now. Setelah itu pilihlah sekolah yang di dalamnya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan agar anak kita terbentengi. Dan terakhir, buatlah anak-anak sibuk dengan kegiatan yang mengarahkannya kepada minat dan bakat. Dalam bukunya “PhD Parent’s Story” seorang penulis hebat yang berpendidikan tinggi dan seringkali memperoleh gelar Cumlaude, Ario Muhammad mengungkapkan Masa depan anak-anak begitu panjang usianya, jauh melebihi umur kita generasi setelahnya lahir dari pola asuh yang kita buat. Maka pastikan mereka tumbuh dengan baik. Dan buatlah lingkungannya bersih dari hal-hal negatif agar tidak mematikan potensinya.

Lalu, jika posisi kita sebagai saudara, ajaklah saudara kita yang terjebak dalam gaya hidup “kids zaman now” untuk lebih sering berkumpul bersama keluarga. Dan ciptakanlah diskusi-diskusi ringan di tempat yang bisa membuat rileks, karena melalui diskusi ringan biasanya akan timbul kesadaran-kesadaran tertentu jika rutin dilakukan.

Mari Merubah Cara Pandang terhadap “Generasi Kids Zaman Now”

Ingatlah, seperti yang telah dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, kita dapat menyimpulkan dikatakan sebagai manusia modern apabila kita mampu menjadi manusia yang lebih baik dari masa sebelumnya, tidak hanya di bidang teknologi, gaya hidup tetapi juga dari perilaku dan sikap. Sebab, perilaku dan sikap adalah penentu baik-buruknya penilaian terhadap seseorang. Bukan kecakapan menggunakan teknologi ataupun kecakapan bergaya.  Jadi, mulailah sedikit demi sedikit untu tidak menunduk menatap layar smartphone tanpa mempedulikan lingkungan sekitar. Membaca ratusan pesan whatsapp yang masuk, dan melihat jumlah like dari unggahan foto di akun media sosial atau berkumpul di kafe-kafe kekinian untuk sekedar berfoto selfie dan wifie ria. Perbanyaklah menginvestasi waktu untuk hal-hal penting yang mampu melejitkan potensi diri.

Terakhir, setujukah jika ungkapan “kids zaman now” hanya kita tunjukkan untuk generasi-generasi kekinian hebat yang tetap peka terhadap lingkungan sekitar dan berorientasi ke masa depan. Sepakatkah, jika generasi generasi “ kids zaman now” bukanlah untuk menyebut generasi yang up to date bergaya, tapi tidak meng-upgrade diri. Semoga paradigma ini bisa berubah.

Daftar Pustaka

https://www.kompasiana.com/marla_lasappe/59e837a9b464260c8843e713/pusing-hadapin-anak-jaman-now?page=all diakses hari Kamis, 14 Maret 2019 Pukul 15. 20 wib

https://www.kompasiana.com/twenty/5a146ffd51699537992926b2/yukk-jadi-generasi-jaman-now?page=all diakses hari Kamis, 14 Maret 2019 Pukul 15. 20 wib

https://www.medcom.id/rona/keluarga/PNgJ6roK-mengenal-generasi-milenial-dan-kids-zaman-now  diakses hari Kamis, 14 Maret 2019 Pukul 15.15 wib

Muhammad, Ario. 2018. PhD Parents Stories. Jawa Barat: Nea Publishing

Soekanto, Sarjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press

 

 

[1] Menurut Psikolog anak Saskhya Prima, dalam Metro Plus, Senin 4 Desember 2017. Milenial dimulai dari kelahiran 1982-1994

 

 

*Esai pemantik diskusi di atas kemungkinan besar akan direvisi sesuai bentuk terbaiknya ketika akan dibukukan dalam Bunga Rampai Esai Lingkaran kelak.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 3729