education.art.culture.book&media

Metamorfosis Sayap Kecilku

Cintaku retak dan pecah. Gemilangnya kehidupanku yang lalu, ternyata hanya fatamorgana belaka, aku dengan kesibukanku hanya meminta pengakuan diri, dan itu merupakan tipuan saja. Kenyataannya, aku memang bersama orang-orang yang begitu cerdas, orang-orang yang memiliki ambisi dalam hidupnya, orang-orang yang begitu pandai dalam pengelolaan kata dipodiumnya dan aku bagian dari itu, dulu. Namun ada hal yang kosong, ada ruang yang hampa ketika semua ambisi sudah tercapaikan. Jiwa ku meronta, batin ku berteriak. Bukan ini yang aku cari. Hingga tak kuasa ku bertahan cinta yang dulu kurawat sepenuh hati, ia mulai retak dan pecah.

Beriringan langkah, bergantian deruan gelombang ditepian pantai. Hempasan satu menerpa, mengelus lembut bibir pantai yang diiringi dengan lambaian syahdu hamparan ombak lainnya. Dengan panorama lonjakkan tak beratur para batuan karang, desiran angin menghela merdu seakan berbisik bahwa diri enggan untuk meranjak walau hanya sejenak, hamparan halus butiran putih tepian pantai yang menjadi satu kesatuan dalam perpaduan skema pesona pantai nan menawan. Sosok malu-malu menampakkan dirinya dibalik bebatuan, sosok elok dipandang namun sangat cukup membuat sakit jika ia melakukan pembelaan dirinya, karena sosok itu sosok hewan mungil nan cantik yang memiliki sepasang capit. Mengintip, malu untuk menampakan wujudnya.

Sendiri termenung berdiri, jauh pandangan menyambut sang lembayu senja yg tersenyum lega menenggelamkan dirinya diufuk sore. Riuhan pantai membawa jauh ingatan sebuah guritan perjalanan panjang hari ini. Tepat sembilan tahun silam, pertemuan ini dimulai. Sambut, disambut dan bersambut dengan penuh kehangatan. Candaan renyah, genggaman tangan yang kuat menandakan bahwa ikatan ini tidaklah mudah untuk dilepaskan.

Aku yang dikala itu masih tergolong anggota anyar mencoba untuk mendekati diri dalam sebuah kelompok, yang mereka bilang; kelompok orang-orang yang sosialis, kelompok orang-orang yang menentramkan, kelompok orang-orang yang kuat, kelompok orang-orang yang baik, kelompok orang-orang yang penuh semangat bahkan kelompok orang-orang eksklusif, katanya. Aku tertantang, ya tertantang untuk mendekatinya. Berawal dari dia yang menitipkan sebuah group kemanusiaan yang ingin dibenahi perhelatan akhlaknya. Dan aku, siapa aku? Aku Cuma orang yang sok sibuk namun mencari glamor, bangga dengan ketenaran diri yang diketahui di setiap sudut komunitas, sok berjuang tapi butuh pujian, sok socialist tapi butuh publikasi, sok faham tapi bodoh. Itulah aku, munafik, bobrok dan bodoh. Pantang bagiku mengeluarkan butiran bening dari mata, namun saat itu bagai seorang pramuniaga kebingungan yang menerima titipan barang belanjaan sangat banyak dari customernya. Hingga kali pertama mataku mengeluarkan butirannya hanya untuk sebuah titipan.

Kuhantarkan titipan itu pada sosok yang menentramkan, ia menjadi ramuan mujarab ditengah sakit parah hatiku, ia racikkan obat paten ditengah skaratnya jiwaku, ia embun pagi ditengah gersangnya kalbuku. Bersamanya kurajut anyaman jalinan ini dengan penuh seksama dan kehati-hatian. Perjalanan ini bukanlah hal yang membahagian ternyata, bukan juga hal yang membuat bangga kedua orangtuaku. Diawal ku mulai ayunkan langkah kecil ini, diawal juga menjadi ranjau untuk langkah-langkah besar kedepannya yang kini baru kunikmati buah tapakkan suram terdahulu. Sosok lembutnya yang tidak begitu banyak mengeluarkan kalimat ketika berbincang namun begitu sangat menentramkan jika berbicara dengannya. Ia orang pertama menginjakkan kaki kegubuk lusuh kami untuk membawaku menerawang sempitnya dunia ini, liciknya kehidupan ini, buramnya potret negeri ini. Ia orang pertama yang mampu menaklukkan kerasnya ego si sulung ini. Dan ternyata tak mudah untuk bercengkrama kala itu ditengah bermunculannya fenomena sekte-sekte sesat, yang menjadi ketakutan luar biasa bagi kedua orang tua ku. Namun ia tetap mampu meluluhkan kekar pemikiran picik kedua orang tuaku. berhari-hari aku menghabiskan waktu bersamanya bercerita panjang tentang sakitnya hidup ini. Menelusuri setiap sudut kota kecil ini dengan sekelumit permasalahan masyarakat, jalan yang kami lalui, sebenarnya hampir setiap hari kususuri dulu namun cuma bersamanya baru tersadarkan bahwa itu adalah gambaran keruhnya negeriku. Pecutan demi pecutan lembut yang didamparkannya untukku, hingga melotot mata terbelalak tak sanggup lagi untuk memicingkannya. Kembali buliran-buliran dari alat indera penglihat ini meneteskan butirannya yang merupakan tanda kepedihan. Dan kesadaranku kembali dengan penuh tekad yang kuat untuk mengikuti dan membersamai diri dalam mengarungi jalan sempit namun kehangatan ikatannya mampu membuat ruang luas didalamnya perlahan langkah demi langkah.

Dia. Kepada dia kuucapkan terimakasih yang sesungguhnya tak bisa kuucap langsung dari bibir ku yang penuh kenistaan. Tak sanggup ku berucap walau kata cintaku untuknya. Keluh lidahku berbincang ringan dengannya. Berat tak berarti hal yang kosong. Sampaikan padanya wahai mentari bahwa aku disini masih gerimis tak berwujud dengan kecintaan yang luar biasa dahsyatnya. Kubalaskan pecutan-pecutan penyadarannya dengan doa lirihku. Katakan padanya wahai rembulan, sampaikan padanya bahwa kutitipkan nama diri ini untuk senantiasa diingatkan dalam setiap sujud-sujud terbaiknya. Sebutlah namaku, nama yang pernah masuk dalam bagian hidupnya, nama yang pernah ingin bertekad melompat jauh untuk jalan yang curam ini melalui perantara gaya hidupnya, ucapan perkataannya. Sampaikan padanya; jalanku mulai terlunglai dan tergopoh, sambutlah dengan ejaan kata pedasnya yang akan mampu menegakkan kembali tegappan langkah ini. Dan sampaikan padanya kakiku mulai rapuh, lelah dan keropos, topanglah dengan rangkulan cinta ikhlasnya yang akan mampu menjadi pijakkan kuat dalam kerapuhan kaki ini, yang akan menjadi supplement mujarab dalam kelelahan raga ini, yang akan menjadi cairan baru murni dan sehat dalam kekeroposan tapakkan ini. Sampaikan padanya bahwa aku sangat begitu mencintainya dan mengaguminya hanya karena Rabb nya sang Penggenggam setiap isi semesta.

Dia dengan untaian balutan kain kerudungnya yang sesekali berkibas mengenai tangan dan menambah getaran pada hati ini. Kusampaikan kerinduanku yang begitu mendalam padanya. Semoga kau tenang dialam sana, do’a ku selalu menyertaimu.

————————–

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757