education.art.culture.book&media

Pupus Kembali Cahaya (Tugas BWC #3)

Pagi berganti malam, terus bergulirnya waktu tak menjadikan sosoknya yang teguh jatuh dan bangkit lagi tak sudah-sudah kejadian seperti itu. Apa yang salah? Apa yang benar? Tak usai berputar, seiringnya waktu berjalan dengan proses ikhlas timbullah suatu cahaya dikeadaan yang dibubuhkan sinar.

Hua….. menguap nya bangkit dari tempat tidur, selepas dia bermimpi membuat badan menjadi tak sesegar di pagi hari biasanya. Yang biasa tiap pagi selalu lari pagi, push up kecil-kecilan, ntah kenapa aktivitas itu terus menurun tiada artinya lagi, sehingga dia pun mengabaikan alarm pagi yang keras itu disamping bantalnya. Tak lepas pergi dari kamar, dia langsung menggapai aktivitas rutin yang dia alami yaitu belajar di sekolah. Dia menuju ditingkat sekolah menengah atas tepatnya di SMK jurusan Tata Busana yang itu bukan sekolah keinginannya dia berumur 18Tahun, Lubuklinggau 01 Oktober 1999 kebiasaan nya sering bernyanyi dikamar mandi.
“Dek, sekolah di SMK saja ya soalnya nilaimu tidak mencukupi untuk masuk ke SMA…”ujar si Bapak berbaring main hp, umur si bapak 58tahun.
“Hm…iyalah pak…” mendesah nafas seolah kecewa si nayla
“ambil jurusan tata boga saja dek, biar bisa ahli masak bahkan jadi chef” tanggap si bapak ingin menambahkan semangat nayla.
“aku tak berani terhadap minyak goreng pak, lebih baik aku ambil jurusan tata busana” ujar si nayla terhadap bapaknya.
“oh ya sudah nak, itu lebih bagus bisa jadi ntar seperti designer yang populer, seumpamanya inilah dia Nayla Natania Sihotang designer Lubuklinggau modern” lugas harapan si bapak kepada nayla.
Padahal impian nayla itu bukan untuk sekolah bagian kejuruan, ia ingin sekolah bagian jurusan IPA, IPS sekalian ada sekolah peralatan dan fasilitas sekolah tersebut menggunakan alat musik dan ingin menuju seni musik untuk menuju kuliah di luar lubuklinggau dengan jurusan musik, namun semuanya kandas hilang arah menuju impiannya. Seorang mamak memberi saran dan ucapan nasihat bermutu sehingga membuat nayla ikhlas menerima keadaannya sekarang. “Dek, dimana pun sekolah itu sama saja, lagian juga rasa keinginan itu bisa timbul lagi setelah dikau menjalani keadaanmu sekarang hingga timbul hal baru, karena nayla kan anak bungsu yang inginnya kami, nayla lah yang merawat kami hingga tua” ujar nasihat harapan untuk nayla umur mamak menunjuk 50tahun. Pada akhirnya nayla pun sadar tak bisa membantah dengan keras kepalanya sendiri, sosok nayla biasa dipanggil adek di rumahnya itu tak berani nekat untuk terlalu jauh lari dari orangtuanya yang sudah ada dibenak pikirannya untuk merantau se usai tamat SMA. Seiring waktu berputar semakin larut nayla menjalankan kegiatannya di sekolah kejuruan tata busana itu, semakin mulai menyukai lalu ia berpikir lebih mendalam.
“rupanya asik juga sekolah kejuruan tata busana ini, ada kesenian nya juga dalam merangkai busana, tak selalu musik saja menjadi seni yang asik” kecap nayla menghadap cermin dikamarnya seakan mulai ikhlas.
Seketika nayla yang sudah nyaman terhadap keadaannya mencintai kejuruan tata busana di SMK itu, mulailah melintasi di benaknya mengenai kedepannya untuk kembali melanjutkan perguruan tinggi di Yogyakarta jurusan busana dan mencoba bicarakan kepada sosok penyemangat dihidupnya yaitu kedua orangtua, namun terbesit lagi seolah pesimis akan keinginannya belum tentu disetujukan karena kendala di hidupnya banyak, mengingat perkataan nasihat mamaknya jadi kusut arah bicaranya, mamaknya pernah bilang kepada nayla “dek, janganlah pernah berpikir jauh dari orangtua” ucap sendu mamaknya. Karena rasa khawatir orangtua nayla itu besar penyebabnya pernah cidera patah tulang tangannya di waktu SD, terbenturnya hidung saat di kolam renang waktu SMP, bahkan kecelakaan motor terbentur kepalanya waktu SMA sejak kejadian itulah mengapa orangtuanya keras tak rela lepaskan anak perempuan bungsunya ini. Tak hanya itu saja adakalanya 2 tahun lagi bapaknya pensiun, profesi bapak nayla sebagai guru. Sosok bapaknya takut nantinya nayla akan berhenti ditengah perjalanan karena dana kuliah, nayla juga anaknya penakut keman-mana tak mau naik ojek maupun angkot, banyak kendala yang buat pupus nayla untuk merantau.
“dek, jika ingin melanjutkan pendidikan kuliah lah di linggau, berat bapak melapsmu” tanya bapak kepada nayla rasa sendu.
“ambil jurusan apa pak, sedangkan di linggau ini tak ada menyangkut tentang busana. Adanya di Yogyakarta, Padang, Medan, Bandung, paling dekat Padang pilihlah pak” tanggap balik tanya si nayla nada keras.
“pikirlah lebih realita lagi dek, jangan pikirkan kondisimu saja pikirkanlah keadaan keluarga kita” ujar tegas bapak kepada nayla.
Dan pada akhirnya nayla memang tak bisa melebihkan keinginannya, dengan ikhlas lagi memulai keadaanya yang baru bukan dengan kenyamanannya sendiri, memilih untuk kuliah di Lubuklinggau dengan jurusan Guru di STKIP-PGRI membuat pikirannya terbuka menyukai yang terjadi, yang selama ini nayla tak mampu mandiri, tak berani naik angkot bahkan ojek, kini mulai beranjak sosok yang mandiri. Sosok bapak berjanji jika nayla kuliah di linggau diperbolehkan mengendarai motor, itu membuatnya gembira tak berkesudahan. Berpikir akhirnya aku tak merepotkan siapapun untuk mengantar jemput kemanapun aku pergi, tak payah membuat kendala orang disekitarnya, dengan nayla bisa mengendarai motor dia bahagia bisa jalan-jalan berdua bersama mamaknya yang di impikan. Walaupun tak bisa merantau saat ini, mungkin ada jalan lain diberikan Tuhan Yesus lewat rancangan-Nya.

Janganlah terlalu keras terhadap keinginan sendiri tanpa memikirkan sekitar, bahwa keinginan itu ada tipe masing-masing, bisa tercapai bisa juga tidak. Jika tidak tercapai bukan berarti terhentikan yang lainnya. Justru banyak terbuka jalan yang belum kita ketahui kedepannya.

Comments
Loading...