education.art.culture.book&media

Semur Ayam Basi

 

Teruntuk wanita hebat ‘single mother’ terima kasih atas segores inspirasi yang kau beri.

Sungguh kau wanita hebat, malaikat tak bersayap. Dipundakmu sanggup menopang kekuatan, kesabaran, dan tanggung jawab yang luar biasa. Sebagai orang tua satu-satunya. Sesaat kau menjelma menjadi seorang ayah yang tegas dan penuh tanggung jawab. Disaat yang bersamaan kau mampu menjadi seorang ibu yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Meskipun terkadang hatimu menangis karena mengenang luka yang menyayat hati, namun kau selalu tampak tegar melangkah demi cintamu, buah hatimu. Bersabarlah duhai wanita hebat, kelak kau akan memetik betapa manis buah dari kesabaranmu itu yang membuatmu terpana dan lupa pedihnya rasa sakit.

Pagi ini tubuhku terasa sakit dan pegal-pegal semua. Sudah dua minggu ini aku menahannya  karena banyaknya aktivitas yang belum terselesaikan. Namun semakin ditahan, rasa sakit justru bertambah dan Senin besok hari pertama masuk sekolah. Iya, aku harus segera mencari tukang urut. Aku harus menemui Mbak Nur tetanggaku.

Mbak Nur adalah seorang janda yang dianugerahi tiga orang puteri. Si sulung Aminah kelas 2 SMA. Anak kedua Rina penyandang ‘difable’ tidak bersekolah karena tidak punya biaya, kalau bersekolah kira-kira kelas 2 SMP. Si bungsu Mita kelas 2 SD. Sejak si bungsu lahir, suaminya kabur menikah dengan perempuan lain. Hingga detik ini tak pernah memberi kabar apalagi nafkah. Pekerjaannya sehari-hari adalah pagi menjadi asisten rumah tangga Ibu Agni, sisa waktu luang selain mengurusi anak-anaknya, ia juga menjadi tukang urut kalau ada yang memanggilnya. Dengan bayaran seikhlasnya. 

Ketika aku mengucapkan salam dan mengetuk pintu, Mbak Nur dengan senyum ramahnya menyilakan aku untuk masuk dan duduk.

“Lho, libur _apo_ Mbak?” Tanyaku.

“Mbak idak begawe lagi, Ummi.” Jawabnya singkat.

Apa benar Mbak Nur telah dipecat karena kejadian itu, ia sering bercerita Ibu Agni merasa terganggu dan sering menegurnya karena Mbak Nur sering pulang ke rumah disaat jam kerja belum selesai. Maklum kalau hari sekolah si sulung dan si bungsu ke sekolah tak ada yang menjaga Rina sang anak istimewa. Mbak Nur terpaksa setiap hari harus mengikat tangan buah hatinya itu dengan kain atau tali rafia di kaki ranjang tidurnya. Supaya Rina aman. Akupun kadang tak sampai hati melihatnya, apalagi saat ia kumat kepalanya sering dihempaskan ke dinding, tak terasa air mata ini mengalir. Demi memenuhi kebutuhan hidup kata Mbak Nur. Kalau si sulung dan bungsu libur, mereka bergantian menjaganya. Setiap hari ia pulang sebentar, memastikan Rina kalau-kalau ikatannya lepas atau ia dalam keadaan bahaya. Jarak ia bekerja kelang dua rumah dari rumahnya._

Tetiba aku teringat akan ceritanya dulu. Kalau si Rina pernah menangis minta makan sama semur ayam. Mbak Nur tidak punya uang untuk beli ayam, terkadang uang gaji bulan depan sudah ia ambil lebih dulu untuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Saat ia masih bekerja, Ibu Agni memintanya masak menu semur ayam kesukaan Nazwa dan Nayla anak kembarnya yang masih duduk di kelas 3 SD. Setiap hari ia hanya bekerja sendiri. Ibu Agni dan Bapak Herman adalah seorang pegawai yang biasa berangkat pagi pulang sore. Anaknya Nazwa dan Nayla pulang sekolah jam 2 karena ada les tambahan. Setelah selesai masak semur ayam Mbak Nur tetiba teringat tangisan Rina yang minta makan sama semur ayam. Lalu diambil satu potong semur ayam, dimasukkan ke kantong plastik ukuran seperempat, kemudian ia mengikatnya, dan menyelipkannya ke dalam saku celana.  Tapi hati kecilnya berteriak, astaghfirullahal’azhiim Ya Allah.. hampir saja aku memasukkan makanan basi ke dalam mulut anakku, bagaimana aku mengharapkan mereka tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Ibu macam apa aku ini. Tidak!!!” Biarlah Rina menangis daripada aku harus memberikan makanan basi ini. Lalu ia membuka dan mengembalikan sepotong semur ayam itu ke dalam wadahnya. Maasyaa Allah Mbak Nur.

“Silakan minum, Mi.” Ucap Mbak Nur sembari menyuguhkan segelas teh hangat dan beberapa potong ubi rebus di dalam piring.

” Iyo Mbak mokasih. Maaf, laju ngerepotin, Mbak.” Jawabku.

“Idaklah, Mi.” Tambahnya sambil tersenyum.

Setelah menyeruput teh hangat, Mbak Nur menyilakan aku masuk ke kamar. Sekilas aku mengintip Rina yang masih terlelap tidur dalam keadaan tangan terikat tali rafia.

Have a nice weekend all. Don’t forget to smile and say alhamdulillah😊😊😊

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757