education.art.culture.book&media

Sunflower Sleeps on the Moon (Tugas BWC #3)

Sunflower Sleeps on the Moon

Dian Oktavia

 ““Sunflower sleeps on the moon. Kau dan aku menyadari bahwa itu bukan sesuatu yang mungkin. Tapi ternyata, semuanya menjadi mungkin.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

‘Kring…Kring…Kring…’ Suara jam weker yang sengaja diabaikan oleh seorang pemuda yang masih berdamai dengan selimut tebalnya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ibunya telah beberapa kali menggedor pintu kamarnya serta waktu sekarang yang menunjukkan pukul, “APA? SUDAH JAM SETENGAH TUJUH?”, sadar pemuda itu kemudian setelah ia terbangun dari alam mimpinya. Ia segera membersihkan diri serta menata dirinya agar terlihat pantas ke sekolah. Dan jangan lupakan kebiasaan paginya jika ia terlambat, menyambar sepotong roti isi coklat kesukaannya.

Eomma, aku berangkat dahulu. Nyam…Nyam.”

“Seung Hwan! Habiskan sarapanmu pelan-pelan!”, dan percuma saja sang ibu meneriakinya karena Seung Hwan sudah terlebih dahulu melesat keluar rumahnya. Nampaknya ia sangat terburu-buru dan seperti mengejar sesuatu. Ya, mengejar bis sekolah.

“TUNGGU AKU! TUNGGU AKU!”, teriak Seung Hwan sembari mengejar bis sekolah yang melaju pelan-pelan mengingat bis itu masih melewati kompleks perumahan. Seung Hwan berusaha menghentikan bis itu hingga usahanya tidak sia-sia. Bahkan, ketika ia memasuki bis itu, banyak pasang mata yang masih melihatnya. Rambut yang belum tersisir rapi, tali sepatu yang belum ditalikan, dan jangan lupakan potongan roti yang masih setengah tergigit itu.

“Pasti telat bangun lagi. Iya ‘kan?”, celetuk seorang gadis yang tengah duduk manis di sebelah Seung Hwan.

“Hehe…Kau pasti tahu sendiri alasannya, Hae Jin. Semalam aku—“

“Melembur tugas.”, potong Hae Jin akhirnya.

“Yah tidak ada alasan lain.”, jawab Seung Hwan santai.

“Yak! Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Bangun siang hanya gara-gara tugas sekolah. Bukankah kau bisa menyelesaikannya ketika sore hari? Atau bahkan sepulang sekolah?”

“Tenanglah sedikit,Hae Jin. Kenapa jadi kau yang repot?”, jawab Seung Hwan tidak terima. Dan benar saja, adegan mereka berdua telah menjadi pusat perhatian seisi bis sekolah tersebut.

Suasana dalam bis sekolah mendadak hening. Hingga sampai sekolah pun tetap sama. Seung Hwan berjalan santai menelusuri koridor sekolahnya guna mencapai ruang kelasnya. Jujur saja, ia masih sangat mengantuk pagi ini. Ia merasa menyesal telah membuang waktu tidurnya tadi. Mungkin ia bisa beralasan sakit, atau ada cara keluarga supaya bisa melanjutkan tidurnya tadi. Tapi, itu memang kesalahannya semalam. Ia berbohong kepada ayah dan ibunya untuk mengerjakan tugas. Padahal, Seung Hwan semalam menuju lotengnya diam-diam untuk melanjutkan lukisannya yang belum selesai. Mengingat kejadian itu, Seung Hwan hanya tersenyum tipis. Usahanya semalam tidak sia-sia. Lukisannya telah jadi sempurna dan sesuai harapannya. Dengan cekatan, ia mengambil buku sketsa beserta pensil gambarnya untuk mengusir rasa kantuknya. Tak perlu waktu lama untuk memilih objek apa yang akan ia gambarkan karena Seung Hwan selalu menjadikan gadis itu sebagai sebuah objek lukisannya. Katakanlah Seung Hwan mulai terobsesi dengan gadis itu.

“Ehm” “Yak! Kau mengagetkanku,Hae Jin!”

“Haha. Maafkan aku. Kau seperti lupa dunia jika sudah bertemu dengan benda-benda itu.”, Hae Jin melihat buku sketsa yang tengah ditutup rapat-rapat oleh Seung Hwan.

“Anggap saja ini sebagai kekasihku. Puas kau,hah?”

“Lee Seung Hwan! Setelah kau ditolak mentah-mentah oleh Minri, kau jadi berubah tidak normal begini. Yah, sebagai teman dari taman kanak-kanak dahulu, aku jadi prihatin tentang kondisimu sekarang.”

“Aku tidak butuh rasa prihatinmu sekarang.”, jawab Seung Hwan tidak kalah sewot, sementara Hae Jin hanya terkikik geli.

“Sepertinya gambaranmu menarik. Coba aku lihat—“

Seung Hwan mengangkat buku sketsanya tinggi-tinggi agar Hae Jin tidak bisa meraihnya. Usahanya berhasil.

“Ini privasiku. Percuma aku membuat ruang privat di loteng jika pada akhirnya ada seseorang yang mengetahui lukisanku.”, jelas Seung Hwan.

“Yah…Aku janji tidak akan membocorkannya kepada siapapun.”, mohon Hae Jin.

“Sekali tidak tetap tidak. Lihatlah, Kang seosaengnim[1] sudah memasuki kelas kita.”, Seung Hwan mengejutkan Hae Jin dengan informasi dadakannya tersebut. Mereka langsung saja mengambil posisi duduk bersiap di bangku masing-masing.

Pelajaran pun dimulai, tidak ada pergerakan dari murid lain kecuali mencatat ataupun mendengarkan penjelasan dari Kang seoasaengnim. Kecuali satu makhluk yang duduk belakang dan paling pojok. Ia masih asyik dengan gambarannya yang sepertinya belum juga selesai. Hingga …

‘TUK!’, sebuah benda mendarat di kepalanya. Tepat sasaran.

“Lee Seung Hwan! Apakah gambaranmu itu lebih menarik dari pada pelajaranku,hah? Majulah kedepan untuk menyelesaikan soal-soal di papan. Aku kira kau sudah mahir tentang materi ini.”

“Apa?”, kaget Seung Hwan akhirnya. Kini ia tengah menjadi sorotan seisi kelas karena ulahnya.

“Ayo, majulah!”

Dengan berat hati, Seung Hwan maju kedepan dan menuruti perintah Kang seosaengnim.

‘Ah, soal seperti ini saja. Bagian mananya yang sulit?’, ucap Seung Hwan dalam hatinya.

Seung Hwan mulai menuliskan jawaban yang telah ia susun. Membuat Kang seosaengnim terkejut dan terheran-heran karenanya.

“Kau…Kau sudah mengerti? Lee Seung Hwan…Bagaimana bisa?”, heran Kang seosaengnim.

“Semalam aku telah memelajarinya, seosaengnim. Bolehkan aku duduk kembali?”, Kang seosaengnim hanya membalasnya dengan anggukan ringan.

Sebenanrnya, Seung Hwan bukanlah murid yang terlalu populer di sekolahnya. Gayanya yang biasa-biasa saja dan sedikit pendiam membuat beberapa siswa lainnya sungkan mendekatinya. Apalagi Seung Hwan selalu dipandang sebelah mata oleh teman-teman seangkatannya karena menurut temannya, Seung Hwan seperti makhluk yang belum memiliki masa depan. Ditambah lagi dengan latar belakang keluarganya yang terbilang biasa saja. Ayahnya pemilik sebuah kedai kecil dan ibunya yang seorang pengelola toko bunga di rumahnya. Namun beda lagi dengan pandangan orang yang telah dekat dengan Seung Hwan. Menurut beberapa teman satu kelasnya, Seung Hwan adalah ‘musuh dalam selimut’. Tidak pernah belajar, tapi selalu menjadi bintang kelas.

“Itulah yang membuatku bosan belajar. Seung Hwan selalu menjadi bintang kelas tanpa belajar. Mengambil jam tambahan pun tidak pernah. Ia pasti memilih pulang dahulu untuk membantu kedua orang tuanya di kedai. Atau malam harinya ia akan membantu ibunya merangkai bunga.”, ujar Hae Jin panjang lebar pada teman-teman perempuannya.

“Memang kau tidak tahu apa alasan Seung Hwan selalu bangun siang? Dia selalu beralasan mengerjakan tugasnya sampai malam. Jangan meremehkan dia dahulu, Hae Jin.”, lipur Ah Ra.

Di tengah asyiknya perbincangan para gadis itu, Hae Jin dikejutkan dengan tangan seorang pemuda yang tiba-tiba terulur di depannya, dan memerinya sebuket bunga matahari.

“Ini bunga matahari pesananmu,’kan? Maaf, aku terlambat memberikannya kepadamu dan bunganya menjadi layu. Kau bisa meminta ganti rugi sepulang sekolah kalau kau mau.”

Hae Jin memandangi sebuket bunga matahari pemberian Seung Hwan dengan muka terkejut. Bunga pesanannya layu. Gara-gara kelalaian Seung Hwan.

“KAU HARUS MENGGANTI RUGI SEMUANYA!”, Hae Jin berteriak tidak terima sembari melemparkan bunga matahari tersebut ke dada Seung Hwan.

“Lagi pula, kau ‘kan sudah memiliki kebun bunga sendiri. Kenapa harus repot-repot membeli bunga dagangan ibuku? Kau bisa memetiknya sendiri.”, ucap Seung Hwan santai.

“Kau benar-benar tidak tahu sopan santun kepada pelanggan. Akan aku adukan kepada ibumu!.”, ancam Hae Jin kemudian.

‘Silakan saja. Sudah berapa kali kau mengadukan kesalahnku kepada ibuku? Terhitung semenjak kita duduk di taman kanak-kanak dahulu.”, Seung Hwan meninggalkan sekumpulan gadis tersebut dengan santainya. Dan jangan lupakan Hae Jin yang masih geram dengan tingkah laku Seung Hwan.

“POKOKNYA AKU MAU GANTI RUGI!”, sementara yang diteriaki Hae Jin hanya mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda persetujuan.

“Kapan kalian akan akur,hm?”, celetuk Ah Ra.

“Setelah bunga matahari tidak berwarna kuning lagi.”, jawab Hae Jin kesal.

Sore hari adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh para siswa, karena itulah waktunya mereka pulang. Tak terkecuali Seung Hwan. Tak sulit untuk menemukan bis pada sore hari seperti ini. Selanjutnya, ia akan turun di halte dan berjalan kerumahnya. Rutinitas sepulang sekolah yang ia lakukan. Menelusuri kompleks perumahan yang dekat dengan toko-toko kecil pada sore hari adalah sesuatu yang menyenangkan bagi Seung Hwan. Namun, tiba-tiba alisnya berkerut setelah menemukan sosok gadis yang saat ini tengah berada di depan toko bunga ibunya. Seung Hwan tidak bertanya lagi siapa gadis itu. Pasti Hae Jin yang sedang meminta ganti rugi karena kesalahannya tadi.

“Maafkan kesalahan Seung Hwan. Dia tidak biasanya begitu. Sekali lagi maafkan atas kesalahannya.”, sang ibu berkali-kali meminta maaf pada Hae Jin atas insiden tadi pagi.

“Saya harap maklum,Ahjumma[2]. Lagi pula Seung Hwan tadi sepertinya hampir terlambat,ya. Makanya ia lupa menaruh bunga mataharinya di air.”, Hae Jin tersenyum tulus pada ibu Seung Hwan.

“Hae Jin? Sudah lama di sini?”

“Seung Hwan! Apa yang kau lakukan pada Hae Jin? Cepat minta maaf padanya.”, perintah sang ibu.

“Bukankah mengganti rugi sudah sama saja dengan minta maaf, Eomma[3]?”

“Itu sudah beda lagi. Ini urusanmu dengannya, Seung Hwan.”

Seung Hwan menghela nafasnya. Lebih baik ia menuruti kata ibunya dari pada berakhir tidak baik.

“Hae Jin, aku minta maaf atas kesalahanku tadi pagi. Jika kau mau, aku akan mentraktirmu makan Jjangmyeon[4] di kedai. Aku tahu kau sedang kelaparan.”, tawar Seung Hwan final. Sementara Hae Jin hanya menunduk, nampak berpikir.

‘Sret!’, Seung Hwan mengambil sebuket bunga matahari dalam botol kaca dari tangan Hae Jin dan menarik tangan Hae Jin untuk masuk ke kedai milik ayah Seung Hwan.

Appa[5], aku pulang.”

“Oh, kau sudah pulang Seung Hwan. Dan…Kau membawa Hae Jin juga?”, ayah Seung Hwan tersenyum kepada Hae Jin.

Anneyong haseyo,Ahjussi[6].”, Hae Jin membungkukkan badannya sopan.

“Bukankah kau teman kecilnya Seung Hwan?”

“Benar sekali,Ahjussi. Dan sekarang kami berada di kelas yang sama.”

“Wah, benarkah? Kenapa Seung Hwan tidak pernah bercerita padaku ya,hahaha.”

Sementara membiarkan ayah dan Hae Jin berbincang-bincang, Seung Hwan pergi ke dapur kedai untuk membuat Jjangmyeon. Nampaknya, ia telah ahli dalam hal semcam itu. Mengingat ia adalah anak dari pemilik kedai ramai nan mungil ini.

Hae Jin memandang keadaan sekelilingnya. Kedai ini, adalah kedai yang sama seperti dulu. Kedai yang memakai ruang tamu sebagai tempatnya yang telah diberi sekat guna memberi ruang untuk berjualan bunga di sebelahnya. Kedai dan toko bunga yang selalu ramai oleh pengunjung, apalagi saat akhir pekan. Bahkan Hae Jin ingat kapan terakhir kali ia mengunjungi kedai ini.

“Kau melamun?”, Hae Jin kelabakan ketika mendapati Seung Hwan telah meletakkan dua piring Jjangmyeon di depannya.

“Tidak tidak. Hanya mengamati keadaan sekitarnya saja.”, jawab Hae Jin asal.

“Hmm…Apakah banyak perubahan menurutmu?”

“Tidak juga. Masih sama seperti dulu. Wah…Sepertinya Jjangmyeonnya siap untuk dimakan,ya?”, jika boleh jujur, Hae Jin sudah tidak dapat menahan nafsu makannya karena kelezatan dari aroma Jjangmyeon di depannya.

“Ah, silakan saja.”

Mereka makan dengan lahapnya sehingga keheningan menyelimuti keduanya. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan keadaan mereka di sekolah yang terkesan tidak akur.

“Seung Hwan. Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”

“Hm?”

“Kau merasa tidak kalau satu kelas selalu membicarakanmu.”

“Ya. Aku sangat merasakan hal itu. Mereka seolah-olah tidak ada topik lain yang lebih menarik. Lebih baik membicarakan siapa kandidat ketua ekskul basket periode ke depannya dari pada membicarakan anak tidak jelas sepertiku.”

Hae Jin memutar bola matanya jengah. “Kau itu unik. Lihatlah kelakuanmu selama ini di kelas. Hanya membawa buku sketsa sebagai alat tulis menulis, tapi kau selalu masuk peringkat tiga teratas.”

“Lalu, bagian mananya yang penting?”, Seung Hwan menanggapi celotehan Hae Jin sembari memainkan sumpitnya.

“Bagaimana bisa seperti itu? Kau membuatku merasa seolah-olah usahaku selama ini sia-sia.”, Hae Jin meletakkan sumpitnya dengan perasaan kesal. Kenapa manusia seperti Seung Hwan susah sekali tanggapnya?

“Kau pikir aku tidak ada usaha sama sekali? Jika kau hanya membaca buku dan mengikuti jam tambahan tanpa kerja lapangan secara langsung, aku jamin peringkatmu tidak akan naik, apalagi melebihiku.”, ucap Seung Hwan sekenanya.

“Kau arogan sekali,Lee Seung Hwan.”

“Bukan begitu maksudku. Aku berbicara serius. Ketika sekolah menengah pertama, aku menggunakan taman belakang sebagai sarana untuk belajar. Aku memelajari kehidupanku selama ini dan aku menyelaraskannya dengan pelajaran di sekolah. Jika kau sudah pernah memraktikannya secara langsung, tidak ada istilah lembur belajar ataupun sebagainya untuk ujian besok. Karena kau sudah belajar.”

Hae Jin memandang takjub seorang Seung Hwan. Ini pertama kali dalam seumur hidupnya ia mendengar Seung Hwan mengeluarkan kata-kata bijak seperti tadi. Seung Hwan belajar dari kehidupannya. Itu yang dapat ia ambil.

“Lalu, kau tidak takut tersaingi setelah kau membeberkan semua rahasia pintarmu itu padaku?”, tanya Hae Jin penuh selidik.

“Hahahaha. Apa yang aku takutkan? Kau hanya akan menyaingiku, tidak merenggut kebahagiaanku.”

“Kau ini aneh sekali. Oh iya, kau kemanakan bunga matahariku?”, Hae Jin baru ingat bahwa bunga mataharinya sedang dalam genggaman Seung Hwan.

“Ibuku yang menyimpannya. Kau tenang saja. Akhir pekanmu tidak akan ku buat suram dengan kehilangan bunga mataharimu untuk yang kedua kalinya.”

“Huft. Syukurlah. Aku pastikan akhir pekanmu akan kelam jika kau menghilangkan bunga matahariku untuk kedua kalinya.”, ancam Hae Jin kemudian sembari menodongkan sumpitnya pada Seung Hwan. Kemudian mereka tertawa bersama. Bagi Hae Jin, melihat Seung Hwan tertawa lepas seperti ini adalah hal yang langka dan jarang terjadi. Mengingat sikap Seung Hwan yang sedikit tertutup dengan sekitarnya dan hanya menghabiskan separuh hidupnya untuk menggambar ataupun melukis. Benar-benar unik. Ayahnya adalah koki sebuah kedai, sementara ibunya adalah pecinta bunga yang sekarang memiliki toko bunga sendiri. Lalu Seung Hwan? Ia adalah calon pelukis yang saat ini sedang menunggu objek lukisannya menjadi nyata. Tiba-tiba, Hae Jin tersadar dari lamunannya dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pantas saja kedai semakin ramai. Ternyata jam ini sudah menjelang malam akhir pekan.

“Seung Hwan. Sepertinya aku harus pamit.”

“Kau akan pulang sendiri?”, sementara yang ditanya Seung Hwan hanya mengangguk pelan.

“Mari aku antar.”

“Tidak perlu. Bukankah kau harus membantu ayah ibumu? Aku bisa menelpon ayah untuk menjemput. Aku sudah mengiriminya pesan.”

Seung Hwan hanya mengangguk mengerti dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Hae Jin yang sendirian di kedai mungil ini.

“Ini bunga mataharimu.”, Seung Hwan muncul tiba-tiba sembari memberikan bunga matahari itu pada Hae Jin.

“Aku hampir melupakannya. Terimakasih.”,dengan penuh kehati-hatian, Hae Jin mengambil bunga matahari dalam botol tersebut dari tangan Seung Hwan.

Tak lama setelahnya, Hae Jin mendengar suara klakson mobil dari depan. Ia hafal betul pemilik suara klakson itu, pasti mobil ayahnya. Hae Jin berpamitan terlebih dahulu dengan ayah ibu Seung Hwan, lalu pulang bersama ayahnya. Sepeninggal Hae Jin, Seung Hwan langsung masuk rumah dan membersihkan diri. Ia baru ingat jika sedari tadi ia belum mandi sama sekali. Setelah mandi, ia akan membantu ayah ibunya berjualan.

Seung Hwan benar-benar menjalankan niatnya dengan baik. Saat kedai sedang ramai seperti akhir pekan ini, ia akan bergerak begitu cekatan melayani pelanggan-pelanggan. Saat dirasa pelanggan sedang menikmati makanannya, Seung Hwan lebih memilih membantu ibunya di toko bunga.

“Seung Hwan! Bisa kau bantu ibu membungkus buket mawar ini? Ibu harus mengangkat telfon sebentar.”

Seung Hwan menjalankan perintah ibunya dengan baik sebelum pemandangan di depannya merusak semuanya.

“Selamat datang. Ada…Yang…Bisa saya…Bantu?”, Seung Hwan mendadak gugup dan hendak memaksakan senyumnya.

“Apakah pesanan saya sudah jadi? Sebuket bunga mawar merah?”, sementara Seung Hwan kehilangan fokusnya dan mengabaikan pertanyaan dari pemuda tadi.

“Ehm. Maaf, apakah Anda mendengar saya?”

“Oh. Iya? Maafkan saya. Saya kehilangan fokus. Em…Apakah ini pesanan Anda?”, Seung Hwan menyodorkan sebuket bunga mawar yang telah dibungkusnya tadi pada pemuda itu.

“Iya benar.”, pemuda itu tersenyum dan memberikan sejumlah uang kepada Seung Hwan.

“Terimakasih banyak. Silakan datang kembali.”

Seung Hwan terus-terusan menatap gadis bersama pemuda itu. Cho Minri telah memiliki kekasih. Ah…Betapa beruntungnya pemuda itu bisa memenangkan hati seorang Cho Minri. Bahkan, Seung Hwan sempat berpikir tentang apa yang dilakukannya terhadap Hae Jin tadi. Ia menjaga bunga matahari itu dengan baik. Tapi mengapa akhir pekannya sangat kelam sekali?

 

 

 

 

BAB II

‘Tidak ada rasa yang lebih pedih, kecuali meratapi nasib yang kelam di Sabtu malam.’ Seung Hwan menghela nafas pelan ketika ia meletakkan sebuket bunga mawar hitam yang sengaja ia petik di kebun kecil belakang rumahnya. Dan tak lupa ia juga telah menyelipkan secarik kertas bertuliskan perasaannya yang amat terdalam. Semoga Minri menyadarinya. Yah, meskipun hal itu tidak mungkin, dan tidak akan pernah terjadi. Biarkan mawar hitam ini yang menumpahkan segala emosi yang ada pada diri Seung Hwan. Biarkan ia kehilangan beberapa lembar won untuk sebuket mawar hitam ini saja, asalkan emosinya dapat tersampaikan.

‘Ceklek’ Seung Hwan berjenggit kaget dan langsung berlalu begitu saja. Gawat! Tuan rumahnya sudah bangun ternyata. Ia segera mengambil sepedanya yang terparkir rapi di depan rumah bercat coklat krem tersebut.

“Hoam….Eh? Apa ini?”, ternyata yang keluar adalah Minri. Minri memastikan bahwa ada jejak pengirim bunga tersebut. Tapi hasilnya nihil. Alhasil, ia hanya membawa sebuket mawar hitam tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Antara kaget dan penasaran.

Sementara si pengirim bunga tersebut –Seung Hwan- melajukan sepeda kunonya dengan kecepatan semaksimal mungkin. Berharap bahwa beban yang dirasakannya dapat melayang terbawa angin. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang melihat aksi ngebutnya dan hanya tersenyum canggung.

“Apakah itu Seung Hwan? Tumben sekali ia berolah raga pagi. Kkkk…”, ia hanya terkikik pelan.

Hae Jin tertawa terpingkal-pingkal tatkala mendengar cerita Seung Hwan. Bahkan ia kuasa untuk menahan air matanya keluar. Menurutnya, Seung Hwan sangatlah pengecut, mengingat Seung Hwan adalah seorang laki-laki. Kadang, itulah yang membuat Hae Jin merasa gemas sendiri dan bahkan ingin bertukar ruh dengan Seung Hwan, lalu menyatakan perasaan pemuda itu pada Minri. Setelahnya, dipikirkan nanti.

“Pantas saja kau didahului oleh oleh kapten sepak bola itu. Kau saja betindak sangat lemot sekali.”, celetuk Hae Jin di sela-sela tawanya.

“Bukannya didahului. Tapi aku memang sudah mutlak ditolak olehnya.”, Seung Hwan mengemukakan fakta, sementara Hae Jin hanya menghela nafasnya pelan sebagai penambah keheningan yang tercipta antara keduanya.

“Oh iya. Bulan depan sekolah kita mengadakan bazar bukan? Kau sudah memikirkan ide untuk mengisi stand kelas kita nanti? Yah, meskipun dari wajahmu saja kau tampak tidak tertarik dengan hal semacam itu sih…”, ucap Hae Jin memecah keheningan.

“Hm? Bazar di akhir semester nanti? Hah… Rupanya sekolah kita kebanyakan agenda juga ya. Setelah bazar langsung dilanjutkan dengan agenda pembagian makanan sehat di kawasan Insadong, lalu kunjungan ke Gwanghwamun.”, Seung hwan menengadahkan kepalanya sambil memikirkan beberapa agenda sekolahnya tersebut.

“Dan minggu depan kita diharuskan mengumpulkan konsep yang sudah disetujui oleh wali kelas, hah…Tapi sudahlah, lagipula bukan hanya kita berdua yang dibebani oleh tugas semacam ini.”

“Makanya jangan terlalu dipikirkan. Ngomong-ngomong, hari ini libur bukan? Ayo kita keliling Insadong. Aku harus mengirim beberapa buket bunga kepada pelanggan.”, nampaknya Seung Hwan tengah bersiap-siap.

Hae Jin nampaknya sedang berfikir. Antara mengiyakan atau justru menolaknya. Namun sepertinya Seung Hwan tidak memberinya waktu untuk berfikir lagi karena ia lebih sudah lebih dulu menarik tangan Hae Jin untuk berdiri dan mengikutinya.

“Eh? Apakah kita akan naik sepeda sendiri-sendiri?”, tanya Hae Jin bingung.

“Lebih baik naik sepedaku saja. Aku akan menaruh bunganya di keranjang.”, Seung Hwan perlahan tersenyum “Kajja![7]

Dan tak bisa dipungkiri bahwa Hae Jin perlahan tersipu malu dan tak dapat menahan senyumannya.

Jika akhir pekan seperti, kawasan Insadong menjadi kawasan yang paling ramai. Mulai dari padatnya jalanan, toko-toko yang turut menghiasi pinggiran jalan, serta penyanyi jalanan yang juga ingin menyumbangkan suara merdunya. Dan jangan lupakan dua pemuda yang tengah ikut berlalu lalang mengantarkan beberapa buket bungan sepeda kunonya. Seung Hwan masih rela membonceng Hae Jin yang terkadang mengomel karena Seung Hwan terlalu ngebut mengendarai sepedanya.

“Wah…Akhirnya tersisa satu buket lagi. Bahagianya aku!”

“Kau sepertinya tidak tulus mengantarkanku kesana kemari untuk mengantar beberapa buket bunga tadi. Padahal aku akan menraktirmu patbingsoo[8] hari ini.”, cibir Seung Hwan asal.

“Enak saja! Aku hanya kasihan kepadamu karena terus-terusan memboncengku.”, padahal dalam hatinya, Hae Jin tersenyum senang.

“Kalau begitu traktir aku patbingsoo sekarang! Aku haus sekali.”, Seung Hwan memarkirkan sepeda kunonya di depan kedai patbingsoo. Sementara Hae Jin hanya terdiam dan memandangnya dari kejauhan.

“Hei hei…Ayo kemari! Aku yang akan menraktirmu. Tidak perlu khawatir.”, dan lagi-lagi, Seung Hwan menarik tangan Hae Jin untuk turut serta dengannya.

Mereka duduk bersebelahan dan waktu itu kedai patbingsoo masih sepi pengunjung. Lagi-lagi keheningan menyelimuti keduanya. Seung Hwan yang asyik mengamati sekitarnya, dan Hae Jin yang nampaknya bingung ingin melakukan apa. Sampai pesanan mereka berdua datang dan mereka menikmatinya dengan suasana hening. Mungkin hanya terdengar dentingan sendok dengan mangkok penampung patbingsoo tersebut.

“Seung Hwan?”

“Hm…”, yang ditanya hanya membalasnya dengan gumaman.

“Bagaimana rasanya jatuh cinta?”, jujur saja, Hae Jin sudah berperang melawan egonya untuk menanyakan hal ini pada Seung Hwan atau tidak. Tapi pertanyaan itu terlontar begitu saja.

“Bagaimana rasanya jatuh cinta? Yang jelas seperti itu. Sulit untuk mendeskripsikannya dengan kata-kata karena kau belum memraktikannya langsung. Tapi menurutku…”, merasa kalimat Seung Hwan menggantung, Hae Jin hanya memandang Seung Hwan dengan tatapan bertanya.

“…menyakitkan di akhir.”, lanjut Seung Hwan tiba-tiba.

“Ini sama seperti ujian Fisika kemarin. Jika kau tidak memraktikannya langsung di lapangan, kau akan susah menghafal rumusnya. Apalagi jika nilai akhir semester nanti tidak mencapai target, pasti akan sakit. Hahaha…”

Hae Jin baru menyadari kemana arah pembicaraan Seung Hwan. Ia melirik Seung Hwan sinis dan berniat ingin memukulnya dengan sendok.

“Kau berniat menyindirku,huh? Karena aku mendapatkan remidi Fisikaku yang kedua kalinya.”

“Dasar Nona Sensitiv. Aku tidak berniat menyindirmu, hanya menjelaskan rasanya jatuh cinta dengan konsep yang sederhana. Dan aku pikir, aku akan jatuh cinta dengan Aerin seosaengnim karena pelajaran Fisikanya. Semester depan aku akan belajar lagi.”, Seung Hwan melanjutkan menikmati patbingsoonya.

“Jangan terlalu rajin belajar. Nanti aku tersaingi.”

“Baiklah baiklah. Sebagai teman yang baik aku akan mengalah untuk satu semester ini. Tapi akan lebih baik jika aku mengalah demi temanku sendiri untuk hal-hal yang lebih penting lagi.”

Hae Jin merasa menyesal bertanya dengan Seung Hwan. Ia baru sadar jika sebenarnya Seung Hwan bukanlah tipe manusia normal yang akan sejurus jika diajak berpendapat ataupun ditanyai sesuatu. Pasti akan dijelaskan dengan konsep yang di luar akal. Tapi di sisi itu, ada benarnya juga.

***

Kesibukan siswa siswi tampak terlihat di sekolah Seung Hwan. Untuk melancarkan agenda tahunan sekolah, sekolah Seung Hwan mengadakan bazar di halaman sekolah yang terbilang sangat luas. Semua siswa di sekolah nampak bersemangat dan sibuk demi berpartisipasi dalam ajang ini. Lihat saja kelas Seung Hwan yang tampak berantakan karena penghuninya yang tengah memersiapkan beberapa keperluan untuk standnya nanti. Termasuk Seung Hwan yang sibuk memotong-motong kertas berwarna pink hingga memiliki bentuk menyerupai sebuah kupon.

“Hei! Kau tidak berniat menjual bunga-bunga atau jjangmyeon dari keluargamu? Aku jamin produk itu akan ludes secepat kilat.”, kata Yoon kepada Seung Hwan.

“Bukankah kita sudah berencana akan menjual hooteok[9] dan membagikan ini?”, Seung Hwan menunjukkan selembar kertas menyerupai kupon berwarna pink kepada Yoon.

“Ah iya, apakah setiap bungkus fortune hooteok tersedia satu kupon harapan?”, Yoon memastikannya kepada Seung Hwan.

“Semua sudah kupastikan. Hanya tinggal diangkut ke stand besok pagi. Titipkan saja produk-produk kita ke kantin. Lagipula aku sudah meminta izin kepada paman pemilik kantin itu.”, Yoon hanya mengacungkan jempolnya dan mengikuti instruktsi Seung Hwan.

“Kau selalu bisa diandalkan, Seung Hwan.”, puji Yoon.

“Kemarin, aku memborong semua supnya karena aku kelaparan. Makanya dia menjadi berbaik hati padaku.”, ujar Seung Hwan santai.

***

Usaha para murid untuk menyukseskan agenda tahunan sekolah sepertinya berjalan lancar. Berbagai konsep telah disajikan dan dikemas sangat sederhana namun elegan. Lihat saja kepala sekolah yang sedari tadi tersenyum dan tak henti-hentinya memuji kreativitas para murid sepanjang perjalanan di bazar. Ada yang megusung konsep musim dingin, kosep zaman Korea kuno seperti kelas Seung Hwan, konsep Jepang seperti kelas sebelah, dan masih banyak lagi. Jika kelas lainnya nampak santai dengan balutan busana yang bebas namun sopan, lain halnya dengan kelas Seung Hwan yang harus memaksa para penghuni kelasnya untuk berdandan seperti zaman Korea kuno.

“Benar-benar menyebalkan.”, keluh Seung Hwan.

“Jangan mengeluh. Bukan hanya kelas kita saja yang menjadi korban. Lihatlah kelas sebelah.”, Yoon menunjuk kelas sebelah yang ternyata tak lain tak bukan adalah kelas Minri.

“Siapa yang berdandan seperti gadis Jepang itu?”

“Kenapa?”, Yoon memasang tampang jahilnya tanpa diketahui oleh Seung Hwan.

“Dia terlalu cantik. Tapi aku sepertinya pernah kenal.”

“Dia orang yang menolakmu, kkkkk.”, kekehan Yoon ternyata membuyarkan lamunan Seung Hwan.

“APA?!”

“Yak! Santailah sedikit!”, Yoon yang kesal karena kaget dengan teriakan Seung Hwan.

“Kau tidak ingin berfoto dengannya?”, tanya Yoon sembari menaik turunkan alisnya.

“Tidak. Jika kau ingin berfoto dengannya silakan saja.”

“Yakin tidak mau?”

“Sudah kubilang aku tidak— Yak! Jangan memaksaku!”, Seung Hwan hanya bisa pasrah tatkala pergelangan tangannya ditarik paksa oleh Yoon. Hingga mempertemukannya dengan gadis di balik polesan kosmetik ala Jepang itu, Minri.

“Selamat pagi. Bolehkah Seung Hwan berfoto denganmu?”, Yoon mendapatkan pelototan tajam dari Seung Hwan karena menurutnya Yoon sangat lancang dan keterlaluan.

“Boleh saja.”, Minri mengangguk dan tersenyum sekilas pada Seung Hwan sebelum akhirnya Yoon berhasil mengabadikan momen mereka berdua.

“Satu…Dua…Tiga..” ‘CEKREK!’ “Wah…Hasil yang sangat memuaskan.”, setelah mendapatkan hasil yang menurutnya sangat memuaskan, Yoon menjadi kegirangan sendiri.

Gamsahamnida[10]”, Seung Hwan membungkukkan badannya dan hendak meninggalkan Yoon jika saja Minri tidak mencegahnya.

“Seung Hwan, tunggu!”, gadis itu berbalik menuju stand dan memberikan sekotak bento[11] untuk Seung Hwan dan juga Yoon.

“Kupon harapan?”, tanya Seung Hwan ketika menemukan selembar kertas kecil berwarna merah muda dengan tali kecil di atasnya.

“Kamu bisa menuliskan satu harapanmu di kertas itu, lalu menggantungkannya di pohon sakura.”, jelas Minri.

“Wah, ternyata rata-rata dari konsep kita sama semua ya. Memakai kupon harapan di setiap kudapan yang tersedia.”, imbuh Yoon.

Seung Hwan hanya memandangi kertas merah muda itu dengan seksama. Seperti memikirkan harapan apa yang akan ia tulis. Padahal biasanya, Seung Hwan menganggap itu tidak terlalu penting. Tapi entah kenapa ia percaya bahwa Tuhan akan berpihak padanya jika ia menuliskan kupon harapan itu dan menggantungkannya di pohon sakura itu. Dan ia telah menemukan apa yang ia tulis.

“Apa harapanmu?”, Yoon sepertinya berusaha untuk mencari tahu apa yang Seung Hwan tulis.

“Itu privasi. Lebih baik gantungkan saja dulu punyamu itu.”, Yoon hanya mengangkat bahunya dan memilih untuk menggantungkan kupon harapannya itu di pohon sakura. Sementara Seung Hwan memilih tempat dimana kupon harapannya itu akan susah dijangkau oleh orang lain. Setelahnya, Seung Hwan mengajak Yoon untuk kembali ke stand karena merasa malu tentang ocehan-ocehan yang terus dilontarkan oleh Yoon, apalagi sifat yang sangat ingin tahunya itu mendadak kambuh.

“Seung Hwan! Kau dari mana saja, sih?”, Seung Hwan mendadak kaget ketika mendapatkan teriakan dari teman dekatnya, Hae Jin.

“Kau mencariku? Ada apa?”

“Kau gila,hah? Ini jelas-jelas jadwalmu untuk menjaga stand, tapi kau malah keluyuran tidak jelas dan hey…apa itu? Seperti sekotak bento?”, Hae Jin memincingkan matanya.

“Aku mendapatkannya dari stand kelas sebelah. Inipun mumpung gratis. Kalau kau mau, pergilah ke stand sebelah untuk mendapatkan bento gratis ini. persediaannya sangat terbatas.”, jelas Seung Hwan santai yang dihadiahi anggukan kepala oleh Hae Jin.

“Sekalian kau bisa berfoto dengan gadis Jepang itu.”, tambah Yoon tiba-tiba.

“Hah? Gadis Jepang? Dia asli Jepang ya?”, rupanya Hae Jin mulai penasaran dan mengundang kekehan ringan dari dua pemuda itu.

“Bukan. Dia hanya seorang Minri yang didandani menjadi wanita Jepang. Jika kau berkenan, kau bisa berfoto dengannya, dapat bento pula.”

Hae Jin hanya manggut-manggut saja. Namun setelahnya, ia mendelik ke arah Seung Hwan dan hanya ditatap datar oleh Seung Hwan.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku bukan pencuri.”

“Jangan bilang…Kau pergi ke stand kelas sebelah hanya ingin mendekati Minri. Ayo mengaku!”, desak Hae Jin kemudian.

“Sumpah! Aku tidak berniat seperti itu. Aku hanya dipaksa oleh Yoon.”

“Kkkk…Kau seperti orang ketakutan saja. Sudahlah, aku ingin mengambil bento gratis itu sebelum kehabisan.”, Hae Jin melesat pergi begitu saja dan meninggalkan dua orang teman yang saling adu sikut.

Rupanya, Hae Jin cukup tertarik dengan promosi kecil-kecilan yang dilakukan oleh Yoon. Dengan langkah cepat, Hae Jin masuk dalam antrean pendek itu demi sekotak bento. Tak lupa ia juga memandangi banyaknya murid yang juga antre ingin berfoto bersama gadis Jepang di sebelahnya. Hingga tak terasa, ia telah sampai pada loket pengambilan bento gratis tersebut. Jujur saja, ia sudah menahan lapar sejak pagi yang diakibatkan oleh kurangnya porsi sarapan setiap paginya. Ia berfikir untuk mendapatkan konsumsi dari sekolah yang sayangnya, sekolah hanya memberikan konsumsi bagi siswanya pada saat jam makan siang saja. Hae Jin memandangi sekotak bento tersebut dan mendapati secarik kertas merah muda kecil seperti kupon. Dengar-dengar, ia bisa menuliskan satu harapannya dan menggantungkannya di pohon sakura.

‘Aku hanya berharap nilaiku dapat meningkat drastis di semester ini’, tulisnya pada kertas merah muda itu dan menggantungkannya di pohon sakura. Ia hendak beranjak pergi sebelum ia menangkap siluet yang menurutnya lebih menarik dari pada gadis Jepang yang sedang berfoto bersama banyak murid. Objek itu ada pada pohon sakura. Ah bukan! Lebih tepatnya ada pada secarik kupon yang menggantung indah dan sesekali melambai karena tiupan kipas angin.

‘Aku ingin dekat dengan Lee Seung Hwan lagi. Aku merelakan semua harapanku tertunda dahulu. Tapi aku harap, permintaanku yang satu ini akan terkabul.’

“Dia memiliki penggemar rahasia rupanya. Hahaha”, Hae Jin bermonolog ria dan diam-diam memfoto kupon tersebut dengan kamera di ponselnya.

***

Matahari telah undur diri untuk menyinari bumi. Namun bukan berarti segerombolan manusia di sekolah ini undur diri begitu saja dari keramaian acara tahunan yang diselenggarakan oleh sekolah. Berbagai macam hiburan tengah mereka nikmati dengan cara mereka sendiri-sendiri. Berhubung stand-stand telah tutup, maka para siswa dapat lebih fokus dengan hiburan di depan mata mereka. Drama kolosal, band, dan acara lainnya telah sukses membuat para siswa mendapatkan waktu berkualitas mereka. Namun hal itu tidak berlaku untuk Seung Hwan dan teman satu kelasnya. Mereka tampak sibuk menyiapkan keperluan untuk drama kolosal mereka yang sebentar lagi akan tampil. Berbagai properti telah selesai, hanya tinggal menyelesaikan polesan make up dari para pemainnya saja.

“Ah! Aku mendadak lupa naskah. Bagaimana ini?”

“Aku terlalu gugup. Semoga saja tidak sampai lupa.”

“Bagaimana penampilanku? Sempurna bukan?”

Setidaknya itu hanya beberapa kalimat yang terdengar oleh Seung Hwan dari para pemain drama kolosal. Lebih baik menjadi orang di balik layar seperti ini saja dari pada mendapatkan tekanan batin hanya karena gugup mendadak. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apakah aku boleh melihat dramanya setelah ini? Tugasku sudah selesai bukan?”, tanya Seung Hwan pada ketua kelasnya.

“Semua sudah kau angkut ke depan ‘kan? Baiklah, kau boleh melihat dramanya. Tapi pastikan bahwa ponselmu sudah kau seting ke mode getar. Tenagamu masih dibutuhkan sewaktu-waktu.”, Seung Hwan mengangguk tanda mengerti instruksi dari ketua kelasnya itu.

Seung Hwan mengambil lokasi paling strategis menurutnya dan membawa jjangmyeon kemasan dari rumahnya. Ia berencana akan memakan makanan itu sambil menonton drama kolosal dari kelasnya.

“Hmm…Sepertinya enak.”, Seung Hwan menoleh cepat ketika mendengar ada suara seorang gadis tepat di sebelahnya.

“YAK! Aku kira kau hantu gentayangan yang kelaparan.”

“Hahaha. Maafkan aku, Seung Hwan.”, Hae Jin mengambil posisi duduk di sebelah Seung Hwan dan merebut sumpit jjangmyeon milik Seung Hwan.

“Hmmm…Jjangmyeon buatan keluargamu memang terkenal enak se-Korea,ya. Pantas saja kedai keluargamu selalu ramai. Sayangnya kau hanya bawa satu bungkus.”

“Lagipula kau tidak pesan tadi.”, balas Seung Hwan.

“Hah, kau benar juga. Oh iya, aku punya sesuatu untukmu.”, gadis itu mengeluarkan benda kotak dari dalam tasnya dan membuka-buka galeri fotonya.

“Taraa!!! Bacalah dengan seksama!”, Seung Hwan membaca sesuatu yang terdapat dalam foto itu.

‘Aku ingin dekat dengan Lee Seung Hwan lagi. Aku merelakan semua harapanku tertunda dahulu. Tapi aku harap, permintaanku yang satu ini akan terkabul.’

“Kau memiliki penggemar rahasia rupanya. Benar-benar di luar dugaan.”

Tapi Seung Hwan tidak menggubris omongan Hae Jin yang terkesan menggodanya. Ia masih sibuk dan mencermati setiap kata yang telah ia baca tadi.

‘Aku ingin dekat dengan Lee Seung Hwan lagi.’ Lagi…Lagi..

“Ahh! Sudahlah! Nama Lee Seung Hwan itu banyak.”, ucap Seung Hwan akhirnya, meskipun ada yang masih mengganjal.

“Dari mana kau tahu? Jangan berlagak sok tahu. Jika nama Lee Seung Hwan itu banyak, pasti juga banyak murid yang akan maju ke podium waktu itu ketika namanya disebut ke jajaran ranking pararel.”, mau tak mau Seung Hwan mengiyakan omongan Hae Jin dan membuat Hae Jin tertawa penuh kemenangan.

“Permisi. Bolehkah saya duduk di sini?”, kedua insan itu sedikit mendongak tatkala mendapati seorang gadis yang meminta izin untuk bergabung bersama mereka berdua.

“Ya, silakan saja, Minri.”, Seung Hwan dan Hae Jin menggeser duduk mereka guna memberikan tempat untuk Minri duduk. Alhasil, Hae Jin mendapatkan posisi di tengah-tengah Seung Hwan dan Minri.

Ketika drama kolosal dimulai, Seung Hwan hanya duduk tenang dan menikmati alur cerita yang disajikan teman satu kelasnya. Namun berbanding terbalik dengan Hae Jin yang justru heboh menyoraki Yoon yang kala itu berperan sebagai kakek pengindap sakit rematik.

“Hahahaha. Seung Hwan, lihatlah Yoon. Dia sangat cocok sekali dengan perannya itu. Dia patut mendapatkan penghargaan jika ada. Hahahaha.”, berulang kali Hae Jin menepuk pundak Seung Hwan yang dibalas dengan gelengan ringan dari Seung Hwan. Dan hal itulah yang rupanya membuat Hae Jin kehilangan beberapa momen langka yang terjadi antara Seung Hwan dan Minri. Berulang kali, Seung Hwan dan Minri tampak sedang mencuri-curi pandang dan terlihat juga Minri yang sedang menawari Seung Hwan makanan ringan yang ia bawa dari rumah, namun berakhir tolakan halus dari Seung Hwan.

“LEE SEUNG HWAN! Kau sedari tadi hanya berdiam diri saja. Lihatlah, kelas kita sedang tampil.”, protes Hae Jin.

“Aku menikmatinya dengan caraku sendiri.”, ujar Seung Hwan santai.

‘Ya, dan aku tahu bagaimana caramu menikmatinya, Lee Seung Hwan.’, Hae Jin berujar dalam hatinya dan memilih melanjutkan menonton drama kolosal yang sebentar lagi mencapai detik-detik terakhir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Seung Hwan

Setiap kali selesai bazar, pasti sekolah meliburkan siswa-siswanya. Mungkin supaya siswa-siswanya bisa mendapatkan waktu istirahat setelah menempuh perjuangan yang lumayan menguras tenaga. Tapi bagiku tidak ada waktu libur meskipun itu hanya di rumah. Menjaga toko bunga dan sesekali membantu ayah melayani konsumen-konsumennya di kedai adalah tugasku ketika libur. Tapi hari ini, eomma lebih ingin membantu appa di kedai daripada menjaga toko bunganya. Ia berdalih agar ayah tidak terserang penyakit rematik seperti tadi. Alhasil, akulah yang menjaga toko bunga milik eomma. Kadang jika mengingat sakit rematik appa kambuh karena terlalu giat bekerja, aku menjadi sungkan meminta sesuatu kepada appa.

‘Tring tring’ Suara lonceng yang terpasang dipintu berbunyi nyaring. Menandakan bahwa ada seseorang yang tengah memasuki toko mungil ini. aku menghentikan pergerakan tanganku untuk bermain-main dengan pensil dan buku sketsaku guna melihat siapa yang akan menikmati beberapa bunga di toko mungil ini.

“Hm…Seharusnya aku masuk diam-diam saja, ya. Supaya bisa lihat siapa lagi yang kau gambar itu.”, ternyata itu Hae Jin, sudah kuduga.

“Kali ini kau boleh melihatnya. Karena ini untuk pajangan toko ini. Taraaa!”, aku menunjukkan sebuah objek yang terpampang jelas di atas buku sketsaku.

“Bunga matahari, di atas bulan. Benar-benar tidak masuk akal.”, Hae Jin memang pandai jika masalah mencibir.

“Jiwa senimu saja yang kurang memadahi. Sudahlah, ada yang bisa aku bantu?”

“Aku mencari bibit bunga matahari. Kau tahu, Mochi berlarian di sekitar ruang tengah dan tidak sengaja menyenggol bunga matahariku. Bahkan ada beberapa yang dijadikannya mainan. Huhu…Kasihan sekali bunga matahariku.”, Hae Jin memasang wajah yang sangat amat mendramatisir.

“Jika dipikir lagi, hewan tidak bisa membedakan mana yang sengaja maupun yang tida sengaja. Dan tunggu, siapa tadi katamu? Mochi? Kau sekarang punya kucing? Sejak kapan?”, aku mengambil bungkusan bibit bunga matahari yang diminta oleh Hae Jin.

“Seminggu yang lalu. Kapan-kapan aku akan membawanya kemari dan mengenalkannya padamu.”, ucapnya berbinar-binar seraya mengambil bingkisan berisi pesanannya tersebut. Ia hendak berbalik pulang sebelum akhirnya ia mengurungkan niatnya. Membuatku yang baru saja memegang buku sketsa dan pensil memilih untuk menatapnya kembali. Mungkin ada sesuatu yang akan dibelinya lagi?

“Ehm. Semalam, kau kencan dengan seseorang ya?”, ia menatapku intens.

“Maksudmu bersama Minri?”, tanyaku memastikan dan Hae Jin hanya mengangguk.

‘Wow! Kau benar-benar berkencan dengannya? Pantas saja kau hanya terfokus dengan Minri ketika melihat pertunjukkan semalam.”, bisa kulihat mata sipitnya yang tiba-tiba bisa melebar tiga kali lipat dari biasanya serta suaranya yang naik beberapa oktaf. Oh…Dan jangan lupakan juga nada kebahagiannya yang sayangnya…agak terkesan dipaksakan –menurutku-.

“Dasar penguntit, hahaha. Memangnya—“

“Ah! Aku hampir lupa jika Mochi belum aku beri makan.”, ia berlari kecil menuju pintu dan hendak keluar. Tapi sepertinya ia hendak berbalik dan—

“Dan jangan lupa!”

Benar,’kan?

“Besok aku akan kerumahmu jam lima sore dengan membawa setumpuk buku fisika. Seminggu lagi ujian bukan?”

“Seminggu lagi kita ada acara di Insadong.”

“Tidak tidak. Acara di Insadong ditunda sampai akhir semester nanti. Atau bisa jadi setelah ujian semester nanti.”

“Lalu kunjungan ke Gwanghwamun?”

“Itu dilakukan setelah kenaikan kelas.”, aku hanya diam menanggapi Hae Jin yang ternyata sudah melesat pergi begitu saja. Dan aku baru sadar jika beberapa konsumen sudah mengantri di depan meja kasir. Kuakui, aku sedikit malu.

***

Aku menikmati waktu istirahatku di perpustakaan. Menurutku, perpustakaan adalah tempat yang paling strategis karena salah satu penyebabnya adalah ruangan ini sangat penuh dengan AC. Jika kalian pikir aku ke perpustakaan untuk membaca buku atau sekedar melakukan riset, kalian salah besar. Aku hanya menumpang internet saja di sini hanya untuk mencari aplikasi-aplikasi terbaik yang cocok untuk membuat sketsa di komputer. Karena jujur saja, aplikasi yang baru aku unduh sebulan yang lalu kalah canggih dengan aplikasi-aplikasi terbaru saat ini. Aku sangat berkonsentrasi kala itu, namun akhirnya tergoyahkan dengan seorang gadis yang duduk di sebelahku.

“Kau ingin menggunakan komputer ini?”, aku melirik sekilas jam yang ada di perpustakaan. Masih ada waktu tiga puluh menit untuk menggunakan komputer perpustakaan ini, mengingat setiap siswa hanya dibatasi satu jam untuk setiap penggunaan komputernya.

“Tidak. Lanjutkan saja. Sebenarnya, aku hanya ingin bertemu denganmu saja, Seung Hwan.”, aku meletakkan mouse komputer dan beralih menatap gadis itu, Minri.

“Oh? Ada perlu apa”, sementara Minri hanya terdiam seribu kata sambil menundukkan kepalanya.

“Aku meminta maaf, karena aku telah menolakmu…dulu.”, saat ini ia telah berani menatapku lekat-lekat, sementara aku hanya tersenyum miris. Tolonglah Minri, jangan mengungkit hal itu lagi. Menurutku ini kurang logis.

“Tidak apa-apa. Lupakan saja.”, jawabku santai. Yah meskipun aku menahan sakit selama satu bulan, tapi setidaknya aku tidak merasakannya lagi sekarang. Tapi…ketika aku melihat sorotan matanya yang terlihat seperti orang yang bersalah, aku menjadi iba sendiri.

“Tidak perlu merasa bersalah. Kau sudah memiliki seseorang yang tepat,’kan?”

“Oh, Seung Hwan. Ternyata kau juga berfikir bahwa dia adalah kekasihku. Itu sama sekali salah. Dia hanya sepupuku.”, aku mengangguk mengerti. Dan entah kenapa rasa lega menyelimuti hatiku sehingga memancingku untuk tersenyum samar.

“Um…Seung Hwan!”,aku menunggu kelanjutan dari ucapannya. “Kau tidak ingin pergi kencan bersamaku? Seperti menonton di bioskop”, bibir dan mataku reflek membulat secara bersamaan. Wow! Baru kali ini ada seorang gadis yang mengajakku pergi berkencan. Hahaha…biasanya, yang mengajak berkencan itu seorang pria bukan? Lee Seung Hwan, jangan sia-siakan kesempatan ini.

“Minggu ini akan diadakan bazar dan pentas seni, ‘kan? Jadi untuk apa jauh-jauh pergi ke bioskop? Kita bisa berkencan dengan melihat drama kolosal dari kelasku nantinya.”, dapat kulihat pipi Minri bersemu merah dan perlahan mulai tersenyum.

“Apakah artinya kau tidak menolaknya?”, aku hanya mengangguk.

“Tapi tunggu dulu. Kau tiba-tiba datang ke sini dan meminta maaf padaku, lalu mengajakku berkencan. Menurutku itu kurang logis.”

“Kau menyatakan perasaan padaku di saat yang tidak tepat, sehingga aku menolakmu. Dan untuk bunganya waktu itu, aku ucapkan terimakasih.”

Aku menoleh dan menatapnya, meminta penjelasan lebih.

“Aku mendengar Hae Jin yang terus mengolok-olokmu karena kejadian hari Minggu itu.”, lagi-lagi karena Hae Jin.

“Oh, baiklah.”

Tidak banyak yang tahu bahwa aku dan Minri tengah berkencan. Namun, Hae Jin selalu berusaha menanyaiku hingga akhirnya aku mencapai titik dimana aku harus membongkar semuanya. Toh aku juga tidak tega melihat Hae Jin yang berlama-lama memendam rasa penasaran kepadaku. Kita teman dari kecil bukan?

Aku melanjutkan membuat sketsaku yang tak kunjung selesai. Biarkan imajinasiku terbebas untuk hari ini saja setelah beberapa hari terkurung karena kesibukanku. Jika coret-coretan ini berhasil, aku akan naik ke loteng dan melukiskan dua objek yang sedang tahap penyelsaian ini. Setelah itu, aku akan memajangnya di toko bunga kebanggaan eomma ini. Ketika aku melihat waktu sudah menunjukkan jam satu siang, aku bergegas pergi ke kedai ayahku dan berniat melakukan makan siang. Aku menggantungkan papan bertuliskan ‘istirahat’ di depan pintu toko dan bergegas pergi.

Eomma  kira kau melupakan makan siangmu.”, eomma yang tengah menyiapkan makan siang untuk keluarga kecilku hanya terkekeh melihatku.

“Aku akan menarik Seung Hwan jika saja anak itu melupakan makan siangnya. Sebentar lagi dia ujian bukan? Jangan sampai dia sakit hanya gara-gara keseringan di toko.”, kini appa mulai menimpali.

“Atau dia akan memakan semua bunga-bunga yang ada di toko.”, aku tertawa terbahak-bahak kala mendengar selera humor eomma yang lumayan bagus.

Appa dan eomma mengingatkanku pada acara sakral itu, hah…”, keluhku.

“Apakah Hae Jin akan kemari lagi dan mengajakmu belajar bersama?”, eomma sampai hafal jika setiap akan melaksanakan ujian semester, Hae Jin selalu datang kemari dan mengajakku yang ogah-ogahan ini untuk belajar bersama, lalu bertanya-tanya kepada ibu mengenai hobinya yang berkebun.

“Pasti dia akan datang,Eomma. Dia sudah membuat janji denganku. Aku heran, kenapa dia tidak mengundang teman-temannya yang lain ke rumahnya. Em…Maksudku, eomma tahu sendiri ‘kan aku anaknya ogah-ogahan.”

“Karena rumah kita yang tergolong dekat dengannya, sehingga kalian sudah terlanjur dekat begini. Ini sudah keseratus kalinya kau menanyakan pertanyaan ini pada eommamu.”, eomma hanya geleng-geleng kepala.

Begitu sup gingseng telah tersaji dihadapanku, aku langsung melahap sup gingseng tersebut dengan lahapnya setelah mengucapkan ‘selamat makan’ pada appa dan eomma. Seharusnya sup gingseng buatan eomma ditambahkan saja ke daftar menu kedaii milik appa. Tapi, appa selalu menolak dengan dalih supaya eomma bisa befokus pada toko bunganya dan tidak terlalu capek mengurus ini itu.

“Untuk minggu-minggu ini, kau tidak perlu membantu appa dan eomma berjualan ataupun menjaga toko. Fokuskan saja dengan ujianmu yang sebentar lagi dimulai.”, appaku yang selalu pengertian.

“Tapi aku bisa belajar di toko bunga ataupun di kedai.”, elakku sopan.

“Untuk minggu-minggu ini saja. Sekiranya sampai ujianmu berakhir. Setelah itu kau bisa kembali membantu appa dan eomma.”, jelas eomma yang diakhiri dengan senyuman khasnya.

“Baik, Eomma.”

 

Hae Jin

Aku terlihat kurang bersemangat akhir-akhir ini. Bahkan, aku sudah tiga kali menolak makan malam bersama keluarga. Alasanku tetap sama, mengurangi makan malam. Padahal aku sama sekali tidak memiliki nafsu makan. Dan belakangan ini, aku sering sekali mengunci diri di kamar. Alasanku, ya…ingin fokus belajar dulu. Seperti sepulang sekolah ini, aku langsung masuk kamar tanpa memedulikan Mochi yang tengah mengikutiku.

‘Tok tok’, aku mengabaikan suara yang berasal dari benda berwarna coklat tersebut. Aku memilih melanjutkan acara melamunku.

“Hae Jin, kau dicari Yoon. Keluarlah.”, ternyata itu eomma. Dan kenapa Yoon kesini? Karena rasa penasaranku, aku mulai keluar dari kamarku dan bergegas menemui Yoon. Dan benar saja. Yoon tengah duduk di depan teras rumahku dan terlihat menungguku.

“Yoon? Ada apa kau kesini?”, tanyaku pelan.

“Oh, ini.”, dia menyerahkan buku bersampul jingga kepadaku. Hei! Itu kan buku tulisku.

“Seung Hwan menemukan buku tulismu di kolong mejamu. Lalu dia menyerahkanku untuk mengembalikannya padamu.”, ujarnya setelah itu.

“Kenapa tidak Seung Hwan saja yang mengembalikan? Biasanya dia lewat depan rumaku.”, aku mengambil buku tulis dari tangan Yoon.

“Dia mengantarkan Minri tadi. Nampaknya dia sangat buru-buru.”, dia terdiam sesaat, sementara aku mendadak hilang mood lagi. Tapi tiba-tiba, Yoon mendadak bersemangat dan heboh sendiri. Apa dia tidak sadar dia seorang pria?

“Kau sudah tahu belum jika Seung Hwan berkencan dengan Minri? Satu kelas heboh sekali. Aku tidak menyangka jika anak sependiam Seung Hwan bisa—“

“Aku tadi ‘kan pulang duluan. Jadi mana aku tahu? Toh Seung Hwan juga sudah mengaku sendiri dihadapanku.”, aku tidak ingin mendengar perkataan Yoon lebih jauh lagi.

“Sampai-sampai buku tulismu ketinggalan ya, hehehe.”, cibirnya diselingi tawa renyahnya.

“Dan kau tahu? Bagaimana malunya Seung Hwan ketika diejek teman satu kelas tadi? Ah! Aku tidak sabar ingin membulinya besok. Kau biasanya juga ikut-ikutan membuli—“

“Sudah sudah. Aku capek. Lebih baik aku belajar daripada harus bergosip denganmu. Ingatlah Yoon, kau ini seorang pria.”, lagi-lagi aku memotong ucapan Yoon.

“Yak yak yak! Kenapa kau jadi sensitiv seperti ini, hah? Seharusnya kau ikut senang jika temanmu— Oh atau jangan-jangan kau cemburu?”

Aku hanya bisa terdiam. Aku bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin aku cemburu. Aku hanya teman Seung Hwan, teman kecilnya dan sekarang pun masih temannya.

“Kalau diam berarti iya.”, Yoon menimpali.

“Jangan seenaknya menghakimi orang lain.”, tapi sebenarnya aku juga ingin menjawab iya.

“Ckckckckck. Aku baru sadar jika selama ini kau terjebak friendzone.”, istilah apalagi itu.

“Sudahlah Yoon, jangan membual lagi. Kau kelaparan, ya? Masuklah, aku akan memberimu makan.”, aku mulai jengah dengan topik pembicaraan ini.

“Hehehe. Aku akan pulang sekarang.”, ia mengambil motor kunonya dan mulai beranjak pergi.

“Ingat ingat itu,Hae Jin! Kau terjebak friendzone.”, setelahnya dia langsung pergi begitu saja, tidak memedulikanku yang terus-terusan mengomel dengannya.

Benarkah apa yang dikatakan Yoon?

***

Setelah sekolah memberikan libur, kini pelajaran mulai efektif kembali. Mengingat hari ujian semakin dekat, para guru tidak memberikan tugas kepada muridnya dan hanya mengajak siswanya untuk lebih mendalami soal lagi serta belajar bersama. Setelah mendengar bel istirahat, maka guru yang mengajar kami akan langsung keluar kelas dan menyuruh kami agar segera istirahat. Selalu seperti itu setiap harinya.

“Hae Jin! Sepertinya kita tidak bisa belajar di rumahku nanti.”, aku hanya meneguk ludah dan sudah berpikir macam-macam tentang Seung Hwan.

“Lagi pula aku tidak akan merusak acara kencanmu dengan Minri.”, jawabku ketus, terkesan sok tahu.

“Minri tidak akan mau diajak berkencan jika musim ujian seperti ini. Dan ternyata, kencan juga membuat bosan saja. Tidak ada bedanya dengan berteman. Mungkin kita juga bisa disebut berkencan.”, ucapnya santai, namun tidak denganku.

“Siapa yang kau maksud dengan kita?”, tanyaku ketus.

“Aku dan kamu.”, katanya sambil menunjuk-nunjuk dirinya dan diriku.

“Jangan seenaknya bicara kamu, Seung Hwan.”

“Setiap laki-laki dan perempuan yang pergi bersama patut disebut sebagai kencan.”

“Tapi kencan itu hanya bisa diberikan oleh sepasang kekasih. Seperti kau dan Minri.”, bibirku tiba-tiba saja bergetar ketika menyebutkan nama Minri.

‘Sudahlah. Nanti sore aku akan ke rumahmu. Bukannya aku tidak memerbolehkanmu belajar di rumahku. Tapi rumahku sedang tahap renovasi. Ayah menambah luas kedai hingga ke ruang tamu. Jadilah rumahku yang berantakan.”, oh…jadi seperti itu kronologinya. Aku sangat menerimanya.

“Baiklah”, kami melanjutkan menikmati waktu istirahat kami.

“Bagaimana bunga mataharimu? Apakah mereka tumbuh dengan baik?”

“Aku baru saja menanamnya kemarin. Mana mungkin bisa tumbuh secepat itu?”, jawabku cepat.

“Kenapa kau suka bunga matahari?”, Seung Hwan baru menanyakan hal ini.

“Aku suka warnanya yang terang benderang seperti matahari, dan kuningnya yang melambangkan sebuah keceriaan. Selebihnya, aku tidak memiliki alasan. Kalau suka ya suka.”

“Tapi jika matahari bisa bertemu bulan, kenapa bunga matahari tidak bisa bertemu dengan bulan?”, pertanyaan Seung Hwan aneh sekali.

“Hahahaha. Pertanyaanmu sangatlah konyol. Itu tidak mungkin terjadi Seung Hwan. Bunga matahari hanyalah tumbuhan di bumi, sementara bulan dan matahri adalah sama-sama benda langit.”

“Berarti kau sudah menjawab makna dari lukisanku kemarin.”, aku hanya terdiam.

“Tidak mungkin jika bunga matahari akan bertemu langsung dengan bulan. Apalagi sampai tidur di atasnya.”, mendengar kata-kata tidak mungkin dari Seung Hwan membuat pikiranku menjadi naif. Apakah Yoon telah mengatakan semuanya kepada Seung Hwan tentang kemarin sore itu, lalu Seung Hwan secara tidak langsung menjelaskannya dengan makna dari lukisan yang telah ia buat?

“Sudah sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kau serius sekali.”, aku kepergok tengah melamun dengan sejuta pikiran naifku.

Tapi yang membuatku heran adalah, kenapa Seung Hwan lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya bersamaku daripada bersama dengan Minri? Aku ingin menanyakannya, tapi aku tidak ingin membahas hal itu lagi. Biarkan aku menikmati waktu berkualitasku bersama Seung Hwan. Ya…Biarkan aku terjebak dalam zona yang lumayan rumit ini. Harus aku akui, perkataan Yoon kemarin benar adanya.

***

Seung Hwan mengunjungi rumah Haejin pada sore harinya. Dengan santainya ia berdiri di halaman rumah Hae Jin dan menunggu sang tuan rumah memersilahkannya masuk.

“TIDAK! BUNGA MATAHARIKU!!!”, Hae Jin berteriak histeris kala menyadari suatu hal. Seung Hwan tanpa sengaja menginjak beberapa bibit bunga mataharinya yang baru berusaha tumbuh.

“Siapa yang menyuruhmu menanam bunga matahari di tempat yang rawan terinjak.”

“Pokoknya kau harus tanggung jawab. TITIK!”, mau tak mau Seung Hwan menuruti perintah Hae Jin untuk memerbaiki kekacauan yang telah perbuat. Ia dengan telaten memilihkan tempat yang strategis untuk bunga matahari Hae Jin dan menanam bibit-bibit bunga berwarna kuning tersebut.

“Padahal baru beberapa yang terinjak. Tapi kau heboh sekali. Kau bisa menanamnya sendiri kapan-kapan, ‘kan?”, Seung Hwan sedikit menggerutu mengingat ia tidak sengaja menginjak bibit bunga matahari Hae Jin.

“Aku tidak mau tahu. Kau sama saja dengan Mochi. Sama-sama membuat bunga matahariku semua mati.”, sementara yang diomeli hanya mengangkat bahunya cuek.

“Jangan mengomel saja. Jadi tidak belajarnya? Atau aku pulang sekarang?”, ancam Seung Hwan yang berakhir dengan Hae Jin yang masih memberengut sebal.

 

 

 

BAB IV

Seung Hwan memutuskan untuk berdiam diri di pojok perpustakaan. Ia tanpa segan menolak ajakan Minri untuk makan di kantin bersama. Menurutnya, menyelesaikan sketsanya yang terbengkalai beberapa hari yang lalu lebih penting daripada harus makan di kantin bersama Minri, ataupun menertawakan hal-hal aneh bersama Yoon dan teman-temannya. Namun anehnya, Seung Hwan hanya menghabiskan berlembar-lembar buku sketsanya hanya untuk menggambar dua objek yang sama, bunga matahari dan bulan. Hanya yang membedakan adalah ada atau tidaknya daun yang terdapat dalam bunga matahari tersebut.

“Kau tidak bosan berlama-lama di sini hanya untuk berkutat dengan buku sketsa, pensil, dan objek gambar anehmu itu? Matahari dan bulan saja.”

“Ralat! Bunga matahari dan bulan. Matahari dan bunga matahari sangat jauh perbedaannya.”, Seung Hwan tidak menggubris kedatangan Hae Jin yang mendadak. Selalu seperti itu dan berhasil membuat Hae Jin memberengut sebal.

“Kenapa kau tidak pergi ke kantin?”

“Itu pertanyaan retoris. Sudahlah, lebih baik kau diam saja. Kau merusak rencanaku saja. Aku sudah bersusah payah menolak ajakan Minri demi berfokus pada gambaranku.”, namun memang dasarnya Hae Jin yang keras kepala. Ia malah mengambil tempat duduk di depan Seung Hwan dan memerhatikannya dengan seksama. Atau lebih tepatnya, tatapan menilai, yang membuat Seung Hwan meletakkan buku sketsa dan pensilnya begitu saja.

“Jangan menatapku seperti itu.”

“Tunggu sebentar! Aku melihat persamaan antara bulan ini dan wajahmu.”, Hae Jin merebut paksa buku sketsa Seung Hwan dan menatapnya lekat-lekat.

“Hahahaha. Ini benar-benar dirimu, Seung Hwan! Sungguh! Hahaha…Seorang seniman yang melukis wajahnya sendiri. Padahal ia sudah memiliki tambatan hati.”, Hae Jin menyeka air matanya yang hampir menetes karena terlalu banyak tertawa.

“Ini masih bulannya saja. Belum bunga mataharinya. Sementara ‘dia’ akan kulambangkan dengan bunga matahari.”

Hae Jin tidak bodoh untuk mengetahui siapa ‘dia’ yang dimaksudkan oleh Seung Hwan. Bahkan, ia menghindari bertanya kepada Seung Hwan siapa yang dimaksud dengan ‘dia’. Hae Jin mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang perpustakaan. Ia mendadak menjadi diam dan memulai aktivitas barunya –membuka-buka buku di depannya-.

“Seung Hwan! Aku mencarimu kemana-mana.”, Seung Hwan dan Hae Jin sama-sama terkejutnya dengan suara pelan yang bersumber dari gadis di belakang mereka.

“Minri? Bukannya aku sudah bilang jika aku ke perpustakaan. Kau bisa menyusulku ke sini, ‘kan?”

“Dan melihatmu berdua bersama Hae Jin?”, Minri tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya pelan. “Bahkan kau tega mengabaikan permintaanku tadi.”, merasa suara Minri mulai meninggi, Seung Hwan segera menarik tangan Minri dan keluar perpustakaan. Hae Jin mengekori mereka berdua sebelum akhirnya dicegah oleh Hae Jin.

“Tenangkan dirimu, Minri. Mungkin kau salah paham.”

“Lalu siapa gadis yang baru saja aku lihat,hah? Kembaran Hae Jin?”

“Kami tidak sengaja bertemu. Maafkan aku.”, Seung Hwan menenangkan Minri dengan memberinya pelukan sekilas.

“Baiklah. Aku percaya padamu. Yah, meskipun aku masih merasa ganjil dengan Hae Jin.”, Minri berdiri dan hendak meninggalkan Seung Hwan.

“Merasa ganjil?”, Minri hanya mengangguk. “Aku dan dia sama-sama perempuan, Seung Hwan. Aku memiliki firasat bahwa dia…”

Seung Hwan menaikkan sebelah alisnya dan menunggu kelanjutan dari Minri.

“Dia…Hae Jin…Mungkin dia menyukaimu.”

“Jangan berpikir terlalu naif. Dia hanya teman kecilku.”

Minri hanya terdiam melihat Seung Hwan berlalu begitu saja dari hadapannya. Ia merasa kurang puas dengan rekasi Seung Hwan dalam menyikapi hal ini. Seharusnya Seung Hwan memercayainya dan menjaga jarak dari Hae Jin. Tapi…Bukankah lebih baik jika Seung Hwan tidak perlu menjaga jarak dari Hae Jin? Dengan begitu ia bisa membuktikan kebenaran dari firasatnya tersebut.

***

Yoon dan teman-temannya mendatangi kedai keluarga Seung Hwan dan beramai-ramai menyantap jjangmyeon. Menurutnya, kedai Seung Hwan adalah kedai paling strategis dan memiliki rasa jjangmyeon yang tidak terkalahkan. Belum lagi, Yoon selalu mendapatkan potongan harga jika berhasil mengajak sepuluh temannya. Namun kali ini, Yoon malah mengajak teman pria satu kelasnya dan betah berlama-lama duduk di kedai keluarga tersebut. Membuat beberapa pelanggan terpaksa dialihkan ke teras toko bunga milik ibu Seung Hwan.

“Jika mengajak sepuluh orang, aku akan mendapatkan potongan dua puluh persen dari harga normal jjangmyeon. Dan sekarang aku membawa dua puluh orang untuk makan di kedai ini.”, ucap Yoon dengan bangganya.

“Heh. Potong saja dulu rambutmu itu sebelum mendapatkan potongan harga dari kedai ini.” Seung Hwan menimpali dengan santainya.

“Kau berniat membohongiku?”, Yoon yang secara tidak langsung tersindir karena penampilannya tersebut merasa tidak terima.

“Hahaha. Lanjutkan saja dulu makanmu.”

“Ngomong-ngomong, kau ada masalah dengan Minri?”, darimana Yoon tahu semuanya? Pikir Seung Hwan.

“Hanya masalah kecil saja. Jangan dibahas lagi.”

“Hae Jin menceritakannya padaku. Aku kasihan dengannya. Dia jadi takut mendekatimu lagi. Mungkin semenjak kau berhubungan dengan Minri. Dan…Dia juga meminta maaf padamu karena kejadian tadi—“

“Kenapa dia tidak meminta maaf?”

“Sudah kubilang sebelumnya,’kan? Dia merasa bersalah padamu.”

“Dia tidak seperti biasanya. Hahh…”, Seung Hwan tanpa sadar berkata demikian.

“Lee Seung Hwan! Dengarkan aku!”, Yoon menepuk pundak Seung Hwan. “Susah membedakan antara pertemanan dan cinta antara laki-laki dan perempuan. Jika pikiranmu masih terlalu kolot, lebih baik kau menyadarinya sekarang.”

Seung Hwan mengerutkan dahinya dalam dan menatap Yoon penuh pertanyaan. Menurutnya, Yoon semakin lama semakin tidak jelas. Apa mungkin karena pikirannya sebagai ketua kelas terlalu berat? Sejak kasus hilangnya salah satu bahan kimia di laboratorium kimia setelah praktikum kemarin –yang ternyata tidak sengaja di bawa oleh salah satu pengajar-.

“Yoon. Ini bukan pelajaran sastra atau semacamnya. Jadi berhentilah melantur. Atau kau sedang kebanyakan pikiran hari ini? Ambillah satu mangkuk jjangmyeon lagi dan  tenangkan pikiranmu dahulu.”

“Aish! Aku berbicara tentang kebenaran.”, Yoon mengunyah jjangmyeonnya dengan sangat gemas karena sikap Seung Hwan.

“Suatu saat kau akan membenarkan perkataanku.”, Seung Hwan hanya menanggapinya dengan terkikik geli, walaupun dalam hatinya sebenarnya ingin membenarkan perkataan Yoon.

Hae Jin

Sepulang sekolah tadi, perasaanku mendadak murung. Yah…Lebih murung dari sebelumnya. Ketika satu kelas telah pulang, aku hanya duduk termenung dan melamun. Yoon yang menyadari kejanggalanku, mendadak menghampiriku dan mengintrogasiku dengan dalih agar ia terlihat peduli terhadap warga kelas yang dipimpinnya. Aku sudah berusaha menghindari menjawab pertanyaannya. Tapi entah kenapa aku tidak kuat berlama-lama memendam semuanya sendirian. Dan berakhirlah aku dengan menceritakan semua yang terpendam di kepalaku dengan akhiran sebuah tangis. Yoon menatapku khawatir dan berkata akan menceritakan semuanya kepada Seung Hwan agar masalah ini cepat selesai. Namun aku menolaknya. Berbicara apa adanya kepada Seung Hwan bukan sebuah keputusan yang tepat. Melainkan hanya akan memerkeruh suasana saja. Lagi pula, aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menjaga jarak dengan Seung Hwan dan terlepas dari ‘zona pertemanan’ atau apalah semacamnya.

Setelah semuanya tercurahkan begitu saja kepada Yoon, aku mulai bisa pulang dengan keadaan tenang. Tapi sialnya lagi, aku terhadang oleh Minri di parkiran sepeda.

“Selamat sore.”, sapanya basa basi, sementara aku hanya tersenyum kikuk. Oh Tuhan! Jangan hadapkan aku pada masalah seperti ini.

“Ada sesuatu?”, tanyaku pada Minri.

“Bisa kita bicara sebentar?”. Minri justru tidak menjawab pertanyaanku dan malah balik bertanya padaku. Aku mengajaknya duduk di dekat lapangan utama dan terpaksa bergumul dengan keheningan selama beberapa saat.

“Hae Jin. Apa kau menyukai Seung Hwan?”, pertanyaan apa lagi ini?

“Hanya sebatas teman. Aku menyukainya hanya sebatas teman.”, itu jawaban yang sangat sederhana dan tentunya, bohong.

“Kau menyukainya hanya sebatas teman dan pada akhirnya terjebak dalam ‘zona pertemanan’. Benar, ‘kan?”, bibirku mengatup rapat-rapat dan bingung harus menjawab apa lagi.

“Jujur saja. Selama aku berkencan dengan Seung Hwan, aku tidak bisa merasakan kedekatan yang lebih. Dan hubungan kami, terasa sangat hambar.”, aku dapat menangkap senyuman miring dari Minri.

“Bahkan, sebelum aku berkencan dengannya, aku sempat mengira bahwa kalian berdua berpacaran. Ternyata aku salah. Aku baru mengetahui bahwa Seung Hwan masih berpendirian untuk mendapatkanku. Maka dari itu, aku berani mengajaknya berkencan.”, rasa sesak melandaku tiba-tiba saat Minri menceritakan awal-awal dia berkencan dengan Seung Hwan.

“Tenang saja. Aku tidak akan merebut Seung Hwan darimu. Aku hanya seorang teman yang  hanya bisa melihatnya bahagia.”, sebisa mungkin aku memaksakan senyumku.

“Aku tidak memermasalahkan status kalian. Aku hanya takut Seung Hwan menjadi cepat bosan denganku.”, kalau itu bukan urusanku lagi, Minri.

“Oh itu. Kalian hanya butuh adaptasi saja. Kamu tahu sendiri, ‘kan, bagaimana Seung Hwan itu?”, aku berdiri dan mulai beranjak pergi. Tapi sebelum aku pergi, aku menepuk pundaknya pelan. “Jangan terlalu mencurigai seseorang jika kau tidak ingin dicurigai.”, ucapku tersenyum dan kembali pegi ke parkiran. Semoga saja aku bisa cepat lupa dengan semua kejadian hari ini.

Sesampainya di rumah, aku disambut dengan laporan eomma yang berkata bahwa beberapa bunga matahariku di samping pekarangan rumah tidak tumbuh dengan subur. Dan aku baru ingat jika akhir-akhir ini aku tidak memberinya pupuk secara teratur karena pupuknya hampir habis. Eomma menyarankanku agar sesegera mungkin membeli pupuk di toko ibu Seung Hwan. Itu berarti, aku akan bertemu dengan Seung Hwan?

Aku berusaha mengelak dan berkata bahwa aku akan membeli pupuknya besok pagi. Lagi pula, bunga matahariku tidak akan mati,’kan? Tapi eomma terus menyuruhku agar aku membeli pupuknya hari ini juga supaya ia bisa menggunakannya besok pagi. Mau tidak mau, aku berangkat menuju toko bunga ibu Seung Hwan dan berharap agar penjaga toko nanti adalah ibu Seung Hwan. Mumpung hari ini belum terlalu sore, aku mengendarai sepedaku pelan-pelan sambil menikmati suasana sore ini. Berharap agar suasana sore ini dapat menetralkan hatiku kembali. Dari jarak beberapa meter saja, aku sudah bisa melihat bangunan dengan dinding berwarna krem dan beberapa kendaraan berjajar di depannya dengan rapi. Sudah pasti itu toko bunga ibu Seung Hwan. Aku memastikan sepedaku terparkir rapi dihalaman tersebut, lalu aku masuk toko itu pelan-pelan. Huft…Syukurlah, ternyata penjaga toko itu adalah ibu Seung Hwan. Aku menghampiri rak yang berisi berbagai jenis macam pupuk.

“Ada yang bisa saya bantu, Hae Jin?”, aku sedikit melompat kaget saat mengenali suara siapa itu. Itu suara pasti Seung Hwan. Dan anggapanku terjawab dengan benar ketika aku menolehkan kepalaku ke belakang dan mendapati wajah datarnya.

“Tidak ada. Terimakasih.”, aku kembali ke aktivitasku sebelumnya, mencari pupuk untuk bunga matahariku.

“Pupuk untuk bunga matahari sedang kosong. Aku masih belum mengemasinya.”

“Kalau begitu, aku akan kembali besok.”

‘SRET!’, Seung Hwan menahan tanganku dan buru-buru aku menepisnya.

“Kenapa? Bukankah pupuknya sedang kosong?” “Aku baru ingat bahwa ada satu kantong pupuk yang baru. Kau tunggu sebentar, akan aku ambilkan.”, Seung Hwan berlari kecil menuju rumahnya guna mengambilkanku pupuk. Aku menuruti perintahnya dengan duduk sembari menunggunya di dekat sekumpulan bunga lilly dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling toko. Hari ini lumayan ramai, bahkan aku dapat menangkap wajah lelah dari ibu Seung Hwan. Dan satu hal yang membuatku tertarik lagi adalah, sebuah lukisan di atas kanvas yang tergantung manis di salah satu sudut tembok ruangan ini. Lagi-lagi aku mendapati lukisan itu, bunga matahari yang tengah tertidur di atas bulan. Lukisan itu nampak seperti karya animasi biasa, namun memiliki makna mendalam. Selera seni Seung Hwan benar-benar aneh. Jika dipikir lagi, tidak mungkin rasanya bunga matahari dapat tertidur dengan lelapnya di atas bulan. Ya…tidak mungkin. Seperti aku dan Seung Hwan yang tidak mungkin bersatu.

“Sepertinya kau tertarik dengan lukisan itu. Ingin kubuatkan duplikatnya?”, lagi-lagi kau mengagetkanku, Seung Hwan. Tunggu tunggu! Seung Hwan ingin memberiku duplikat lukisan itu? Apa jangan-jangan ia ingin membalas perasaanku selama ini lewat makna dari lukisan itu?

“Tidak tidak. Lagi pula, aku sudah tidak memiliki ruangan yang longgar untuk memajang lukisan itu. Lagi pula, lukisanmu itu sangat aneh.”

“Tapi para pengunjung toko ini banyak yang memujinya. Bahkan ada yang hendak membelinya tadi. Tapi karena lukisan itu sangat berharga, aku tidak akan menjualnya kepada siapapun.”, jelasnya.

“Kenapa harus bunga matahari dan bulan? Kau jelas-jelas melukiskan sesuatu yang tidak mungkin, Seung Hwan.”

“Tapi itu semua menjadi mungkin,’kan? Berkat imajinasi, kanvas, cat minyak, dan paletku, bunga matahari dan bulan dapat bersatu. Meskipun semua manusia berpikir itu tidak mungkin, tapi untuk saat ini aku merubahnya menjadi mungkin karena aku pembuatnya.”

“Hah…omonganmu ada benarnya juga. Mana pupuk pesananku?”, aku mengambil sekarung kecil pupuk dari tangan Seung Hwan dan buru-buru membayarnya.

“Ngomong-ngomong, kau terlihat sangat murung akhir-akhir ini. Pantas saja bunga mataharimu tidak ada yang tumbuh subur.”, ia berdiri di sampingku saat aku membayar pupuk ini pada ibu Seung Hwan di kasir.

“Sejak kapan kau jadi perhatian padaku? Perhatikan saja kekasihmu yang protektif itu.”, semburku tiba-tiba lalu pergi begitu saja setelah berpamitan dengan ibu Seung Hwan.

***

Seung Hwan

Dia seperti bukan Hae Jin yang ku kenal. Semenjak kejadian kemarin di perpustakaan, dia secara tidak langsung terus menghindariku. Jujur saja, aku menjadi tidak enak dengannya. Terlebih lagi dia teman kecilku. Melihatnya menjadi murung seperti itu, perasaanku menjadi ganjil sendiri. Terlebih lagi, setelah aku mendengarkan celotehan Yoon yang menurutku hanya omong kosong belaka, kini mau tak mau malah ingin kubenarkan, dan parahnya lagi, aku terpengaruh oleh omongannya. Percuma aku berdiam diri dan murung di kamar seperti ini. Lebih baik aku menuju loteng pribadiku dan melanjutkan beberapa lukisanku yang terbengkalai.

Aku mendapati beberapa lukisan dengan berbagai ukuran yang berbeda. Kalau kupikir-pikir, semua lukisanku temanya masih monoton. Itulah mengapa aku senang menyembunyikan lukisanku di loteng pribadiku ini. Namun, ada satu lukisan yang menarik perhatianku, lukisan seorang gadis yang tengah tersenyum dan membawa setangkai bunga matahari. Siapa lagi jika bukan Hae Jin? Ah iya! Aku ingat, saat kami pertama kali menduduki bangku sekolah menengah atas, aku memintanya untuk menjadi model lukisanku. Rencananya, aku akan memberikan lukisan tersebut untuk hadiah ulang tahunnya. Tapi, ketika dia tengah membeli bunga bersama ibunya di toko bunga ibuku, dia tidak sengaja menemukanku tengah mempercantik lukisannya dan menurutnya, wajahnya terlalu kuning pada lukisan tersebut. Bahkan, tidak ada bedanya dengan bunga matahari yang tengah ia pegang. Merasa tak enak, akupun berjanji padanya untuk mengganti lukisan tersebut dengan lukisan yang baru. Namun, sampai sekarang aku belum bisa menepati janjiku. Bukannya aku lupa, hanya saja aku belum sempat untuk mulai berkutat dengan berbagai macam cat dan kanvasku. Mungkin malam ini adalah waktu yang tepat untuk memerbaiki lukisan itu. Masa bodoh dengan tes yang hanya tinggal menghitung hari. Dengan berbekal gambar yang hampir terbuang, aku kembali melukiskan wajah yang bertahun-tahun menemaniku. Aku pastikan jika wajah Hae Jin tidak akan berwarna terlalu kuning lagi seperti bunga matahari. Namun, akan kubuat senyumnya secerah bunga matahari yang sedang ia pegang.

***

Seung Hwan hampir tertidur saat pelajaran tengah berlangsung. Yoon, yang ternyata duduk didekatnya berulang memergokinya dan tengah membisikkan sesuatu ke telinga Seung Hwan dan membuat Seung Hwan terkejut setengah mati.

“Hae Jin sakit? Sejak kapan?”, dengan volume suara serendah mungkin, Seung Hwan mencoba bertanya kepada Yoon.

“Sejak hari ini. Orang tuanya menitipkan surat ijinnya padaku.”, Seung Hwan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas dan benar saja, ia mendapati kursi milik Hae Jin kosong begitu saja. Mendadak perasaan khawatir Seung Hwan muncul. Ia ingin mengirim pesan dan menanyakan bagaimana keadaan Hae Jin. Namun ia urungkan niatnya, mengingat ini masih waktu pelajaran.

“Hush hush”, Yoon mengibas-ngibaskan sebelah tangannya di depan muka Seung Hwan. “Jangan melamunkan Hae Jin. Setelah ini segera tanyakan keadaannya.”, Seung Hwan menoleh pada Yoon sebentar, lalu kembali fokus ke pelajaran. Menurutnya, pelajaran hari ini memakan waktu yang sangat lama dan menghambat Seung Hwan untuk segera menjenguk Hae Jin.

“Biasanya kau cuek dengan Hae Jin. Tapi sekarang?”

“Sudahlah, Yoon. Jangan ganggu konsentrasiku. Biarkan aku memecahkan soal ini terlebih dahulu.”, tanpa diganggu Yoon pun, konsentrasi Seung Hwan sudah berhamburan kemana-mana. Seung Hwan memang diminta Yoon untuk menemaninya belajar di dalam kelas dan berjanji akan menraktir Seung Hwan sekaleng jus jika sudah selesai.

“Selesai. Untuk rumusnya kau bisa lihat di halaman berikutnya.”, Seung Hwan segera beranjak dari bangkunya dan hendak pergi ke kantin disusul oleh Yoon. Sepanjang perjalanan menuju kantin, Yoon tetap dalam mode baik untuk berbicara dan terus-terusan berceloteh.

“Seung Hwan. Itu Minri!”, bisik Yoon dan seketika Seung Hwan berhenti. “Sepertinya dia akan menghampirimu.”

“Tidak mungkin,Yoon!” “Mungkin saja. Kau bisa buktikan ucapanku. Biar kuhitung…”

“Satu…dua…”

“Seung Hwan! Kebetulan sekali kita bertemu di sini.”, gadis itu menampilkan senyuman khasnya pada Seung Hwan, dan sekilas untuk Yoon.

“Y..ya? Ada apa?”

“Pulang sekolah nanti aku ingin mengajakmu mampir ke toko buku. Mungkin kau bisa merekomendasikan buku yang tepat untuk persiapan ujian nanti?”

“Maaf, Minri. Aku tidak jago dalam merekomendasikan hal semacam itu. Dan juga…pulang sekolah nanti aku tidak bisa menemanimu. Sekali lagi maafkan aku.”, ekspresi Minri mendadak berubah seratus delapan puluh derajat dan terlihat lebih murung.

“Memangnya kau mau kemana?”, tanyanya ketus.

“Aku akan menjenguk Hae Jin. Dan juga, aku memiliki tanggungan dengannya.”

“KAU BISA MENEMANIKU SEBENTAR, SEUNG HWAN! HAE JIN BARU SAKIT SATU HARI.”, Seung Hwan sempat shock karena tiba-tiba Minri menaikkan nada bicaranya dan pergi begitu saja.

“Lagi pula, kau lebih mementingkan sahabatmu daripada kekasihmu.”, Yoon geleng-geleng kepala melihat tingkah Seung Hwan.

“Dia bukan kekasihku, Yoon. Asal kau tahu itu.”, Yoon mulai mengejar Seung Hwan ketika sadar bahwa Seung Hwan sudah mendahuluinya pergi ke kantin.

“Lee Seung Hwan! Coba jelaskan padaku apa maksud dari omonganmu tadi!”, Yoon terus saja mengejar Seung Hwan sampai akhirnya mereka duduk berhadapan di kantin dan menghadap hidangan pesanan mereka. Seung Hwan tengah asyik meneguk jus jeruk kalengnya hingga melupakan fakta bahwa Yoon masih saja menyimpan rasa penasaran kepada Seung Hwan. Seung Hwan masih terdiam dengan seribu bahasa dan memilih untuk menyantap hidangan di depannya.

‘Kau harus jelaskan padaku Seung Hwan! Ini demi menyangkut Hae Jin juga, arghhh”, kini Yoon menjadi gemas setengah mati terhadap Seung Hwan, namun Seung Hwan sebaliknya.

“Hah…kenyangnya. Yoon, lebih baik kau habiskan makanmu dahulu. Tidak baik menyia-nyiakan makanan. Setelah itu, aku akan menjelaskan padamu keadaan yang sebenarnya. Dan ingat! Jangan tergesa-gesa!”, ucap Seung Hwan santai.

Sembari menunggu Yoon, Seung Hwan tampak asyik dengan ponselnya. Ia memainkan jari-jarinya di atas tombol ponselnya dan tengah menghubungi seseorang. Raut mukanya menunjukkan kebahagiaan saat notifikasi ponselnya menunjukkan ada pesan baru.

[Segeralah kemari dan bawakan aku sesuatu agar cepat sembuh.]

***

“Aku tidak menyangka jika makhluk sepertimu bisa sakit juga.”, Hae Jin memelototi Seung Hwan yang dengan tidak sopannya berkata demikian. Seung Hwan menjulurkan tangannya agar mudah menggapai dahi Hae Jin dan memeriksa suhu badannya.

“Wah…demamnya sudah turun, ya? Apa ini karena ada aku?”

“Ada atau tidaknya dirimu sangat tidak memengaruhi kesembuhanku. Jadi hentikan sikap percaya dirimu yang terlalu berlebihan itu.”, Seung Hwan hanya terkekeh mendegar cibiran dari Hae Jin, kemudian ia mengambil sesuatu yang telah ia siapkan untuk Hae Jin.

“Wow! Sebuket bunga matahari?”, Hae Jin hendak mengambilnya, namun tertahan oleh Seung Hwan yang malah mengangkat bunganya tinggi-tinggi.

“Eits! Sebelumnya, kau harus menjawab beberapa pertanyaan untuk mendapatkan bunga ini. Bagaimana?”, Seung Hwan menaik turunkan alisnya.

“Kau itu tulus tidak sih memberikan bunganya?”

“Baiklah baiklah. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya kenapa belakangan ini kau tampak menghindar dariku? Seingatku kau tidak memiliki hutang di salah satu toko milik keluargaku.”

“Sejak kapan kau peduli padaku? Maaf, itu seperti pertanyaan retoris.”, jawab Hae Jin tak kalah ketus.

“Hargailah Seung Hwan yang susah payah kemari sampai dia bertengkar dengan Minri, Hae Jin.”, rupanya Seung Hwan hampir melupakan satu temannya lagi, Yoon, yang mendapat tatapan tajam dari Seung Hwan.

“Jangan bilang jika kekasihmu itu membaca pesanku tadi.”, Seung Hwan menggelengkan kepalanya cepat, tanda semua itu tak benar.

“Minri bukan kekasih Seung Hwan, Hae Jin. Mereka hanya berkencan.”, Seung Hwan belum sempat menjelaskan semuanya, namun terpotong oleh Yoon.

“Jangan dengarkan Yoon, Hae Jin. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”, Hae Jin bersandar pada sofa yang ia duduki, dengan perlahan ia menghela nafas panjang dan hendak menjawab pertanyaan Seung Hwan.

“Aku sedang dalam mode buruk. Maafkan aku.”, tentu saja ketika berbicara demikian, Hae Jin mengepalkan tangannya pada Yoon secara sembunyi-sembunyi dengan maksud membungkam mulut Yoon. Seung Hwan merasa bahwa percuma saja jika terus menanyai Hae Jin lebih lanjut lagi. Ia memberikan sebuket bunga matahari tersebut kepada Hae Jin dan membuat gadis itu tersenyum senang.

“Terimakasih.”, setelahnya, ibu Hae Jin muncul dengan membawa beberapa camilan ringan dan teh madu.

“Minumlah, kalian pasti lelah setelah pulang sekolah. Teh madu sangat bagus untuk mengembalikan energi kalian.”, kedua pemuda itu mengambil secangkir teh madu yang telah disiapkan oleh ibu Hae Jin, sementara Hae Jin mengambil semangkuk bubur wijen hitam buatan ibunya.

“Seung Hwan, bisa kau jelaskan maksudnya tadi?”, tidak ada pilihan lagi bagi Seung Hwan selain menjelaskan semuanya kepada Hae Jin. Lagipula, pertemenannya dengan Hae Jin sempat terancam hanya karena hal sepele itu.

“Tadi yang mana?”, Hae Jin semakin geram dengan Seung Hwan karena sikap pura-pura tidak tahunya tersebut. Membuatnya tanpa sengaja membanting sendok yang ada dalam mangkuk tersebut. Yoon yang menyadari hal itu langsung mengambil langkah untuk menenangkan Hae Jin.

“Baiklah baiklah. Jadi sebenarnya, apa yang dikatakan oleh Yoon memang benar adanya.”, Seung Hwan menghela nafasnya pelan lalu melanjutkan pembicaraannya. “Aku dan Minri bukan sepasang kekasih. Minri hanya mengajakku berkencan.”

“Dasar laki-laki pembohong! Kau tidak tahu seberapa takutnya Minri akan kehilanganmu.”

“Bukankah kencan dan berpacaran adalah hal yang berbeda? Kencan belum tentu sepasang kekasih, ‘kan?”

“Dasar bodoh! Kau hanya mengandalkan pemikiran akademikmu saja daripada perasaanmu.”, sahut Hae Jin yang tengah terselubungi oleh emosinya.

“Bersantailah sebentar, Hae Jin. Kau baru sakit bukan? Lagipula, aku juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Seung Hwan. Seung Hwan hanya sebatas jalan biasa dengan Minri. Tapi…rupanya Minri tengah memiliki perasaan lebih terhadap Seung Hwan.”, untuk kali ini, Seung Hwan sangat berterimakasih dengan Yoon yang telah menyelamatkannya.

“Seberapa banyak Seung Hwan menyuapmu, Yoon?”

“Eum…dia hanya membantuku mengerjakan soal-soal yang rumit saja tadi, hahahaha.”

“Yoon! Jangan diberitahukan!”, akhirnya Hae Jin dapat tertawa disertai dengan adegan Seung Hwan yang berhasil menjitak kepala Yoon. Jujur saja, Hae Jin merasa lega sekarang. Tapi perasaannya mendadak murung kembali. Bisa saja yang bermula hanya sebatas teman kencan, berubah menjadi sepasang kekasih. Pikiran Hae Jin benar-benar pusing saat itu. Mungkin benar tentang mitos-mitos yang diucapkan oleh orang-orang. Susah untuk membedakan perasaan teman ataupun perasaan suka antara laki-laki dan perempuan. Dan yang kedua, terjebak dalam friend zone itu sangat menyakitkan sekaligus menyulitkan.

***

‘Stay with me, please’ ‘KLIK’‘Aku sudah menyatakan perasaanku padanya, namun—‘ ‘KLIK’ “Membosankan sekali.”, dengan ditemani berbagai macam bunga di atas meja, Seung Hwan mencoba menghibur dirinya dengan memilih-milih program di televisi yang cocok untuknya. Sayangnya, semuanya justru membuatnya tambah bosan.

“Seung Hwan…”, pemuda itu menoleh cepat kepada ibunya. “Bisakah kau lebih cepat memotong bunga-bunganya? Oh…bahkan sebagian dari mereka hampir layu karena ulahmu. Pantas saja Hae Jin selalu memarahimu jika ternyata kau tidak berperasaan dengan tumbuhan-tumbuhan cantik ini.”

Eomma, lihatlah lingkaran hitamdi bawah mataku.”, Seung Hwan menunjuk-nunjuk kantung mata yang ia maksud kepada ibunya.

“Jangan gunakan alasan kantung mata itu jika faktanya kau bisa lembur semalaman untuk menyelesaikan satu lukisan gadismu itu.”, ibu Seung Hwan berniat menggoda anak semata wayangnya tersebut dan malah dibalas elakan oleh Seung Hwan.

Eomma sudah tahu semuanya, Seung Hwan. Tentang dirimu yang tiba-tiba berkencan dengan Minri, Hae Jin yang tiba-tiba menghindarimu, dan soal lukisan itu…”

Seung Hwan mengentikan aktivitasnya dengan bunga-bunga cantik itu. “Eomma jangan dilanjutkan lagi, aku mohon.”

“Pada awalnya, Eomma hanya merasa terkejut dengan berita kencan itu. Kau anaknya pendiam dan terkesan pemalu, tapi malah berkencan dengan diva sekolahanmu.”

“Aku hanya sebatas berkencan, tidak sampai menjadi kekasih.”

“Yoon berkata demikian.”, Seung Hwan sudah menduga bahwa Yoon pasti menceritakan semuanya kepada ibunya. Jika dilihat dari gelagat Yoon yang pasti mampir ke toko bunga ibunya secara cuma-cuma, Seung Hwan telah menaruh rasa curiganya. Pasti ada apa-apanya. Dan lagi, kenapa ibunya selalu menyangkut pautkan Hae Jin jika masalah seperti ini. Dan soal lukisan itu, wajar saja jika ibunya tahu jika ia telah melukis wajah Hae Jin.

Eomma pikir kau melukis kekasih— Eh maaf, teman kencanmu itu. Tapi nyatanya kau malah melukis Hae Jin.”

“Itu memang Hae Jin, Eomma. Dulu aku berniat melukisnya, tapi yang ada wajahnya menjadi terlalu kuning sekuning bunga matahari yang dipegangnya. Hahaha…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

Sore itu, Seung Hwan dipaksa oleh Yoon untuk pergi ke perpustakaan umum. Awalnya Seung Hwan menolak dengan alasan, ia ingin membantu orang ayahnya di kedai. Tapi, memang dasarnya Yoon yang memiliki bakat pandai membujuk. Yoon berkata bahwa orang tua Seung Hwan akan lebih bangga jika melihat Seung Hwan naik podium dan memberikan pidato atas prestasinya. Dan alhasil, Seung Hwan menganggap Yoon. Kondisi perpustakaan yang tidak terlalu ramai benar-benar membuat Seung Hwan dan Yoon semangat belajar untuk ujian akhir beberapa hari lagi.

“Seung Hwan! Sepertinya kita melewatkan sesuatu.”, tatapan Yoon terus tertuju pada dua orang berbeda gender tengah duduk di salah satu sudut ruang perpustakaan. Seung Hwan sama sekali tidak ingin menggubris temannya tersebut, namun aksi Yoon yang terus memaksa Seung Hwan dengan menarik-narik bajunya sukses membuat Seung Hwan meoleh dan membulatkan mata sipitnya sebentar.

“Oh itu? Kenapa?”, memang tidak mengherankan pertanyaan Seung Hwan karena Yoon telah hafal dengan sifat anehnya tersebut. Kurang peka terhadap lawan jenis. Mungkin itulah salah satunya yang membuat orang tua Seung Hwan kaget setengah mati ketika mengetahui anaknya berkencan dengan Minri. Namun Seung Hwan tetap menyangkal bahwa ia dan Minri hanya sebatas teman kencan dan bukan kekasih. Bahkan pernah satu kali, orang tua Seung Hwan hampir membawanya ke psikiater ataupun psikolog karena terlalu khawatir dengan tingkah lakunya.

“Kau tidak cemburu sama sekali? Benar-benar luar biasa, padahal kalian baru saja putus—“

“Oh tidak! Ini sudah jam empat. Jangan sampai Hae Jin menyuruhku untuk membersihkan kebunnya karena aku telat datang.”

“—‘kan. APA? Tttunguu…tunggu! Jangan bilang jika kau dan Hae Jin…”

“Lebih baik kau ikut denganku ke rumah Hae Jin jika ingin membahas soal lebih detail lagi, Yoon. Kita hanya belajar bersama.”, Seung Hwan sesegera mungkin menutup buku-buku di depannya dan beranjak pergi, Yoon sedikit kewalahan mengikuti Seung Hwan.

***

“Apa yang berubah dariku?”, Seung Hwan tetap melanjutkan berkutat dengan soal-soal di depannya sembari menunggu jawaban dari Hae Jin.

“Kau jelas berbeda dengan dulu. Sekarang, kau sudah berani pergi berkencan, berbicara dengan lawan jenis, dan yang pastinya…tambah rajin. Hah…Kadang aku khawatir jika nanti aku tetap tidak bisa bersaing denganmu. Hahaha…”

“Hey, kalian berdua! Jangan melupakanku yang tengah menikmati camilan sore ini. Dan khususnya kau, Seung Hwan! Berfokuslah dengan soal yang telah aku tanyakan padamu. Jangan sampai kau menggoda Hae Jin setelah putus dari Minri.”

Seung Hwan menghela nafas kasar, sepertinya sudah muak dengan topik pembicaraan ini. Seung Hwan hanya ingin segera lupa dan terbebas dari skandal kecil ini.

“Dan kau tahu, Seung Hwan? Saat kau berkencan dengan Minri, banyak gadis-gadis yang akhirnya mengakui jika tampangmu lumayan juga. Selain itu, mereka baru menyadari jika kaulah yang menjadi juara pararel semester-semester sebelumnya.”, tambah Hae Jin yang tidak mengetahui kode keras dari Seung Hwan.

“Hae Jin saja sampai sakit-sakitan ketika mendengar kabar kencan langsung darimu.”, perkataan Yoon membuat Seung Hwan berhenti menulis seketika dan menoleh kepada Hae Jin. Namun yang didapatinya, Hae Jin malah melotot tajam kepada Yoon, sebaliknya Yoon malah menjulurkan lidahnya tanda mengejek Hae Jin.

“Aku mempunyai sesuatu untukmu.”, Seung Hwan meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah gulungan kanvas yang diyakini Hae Jin berisi sebuah lukisan.

“Jangan memberiku lukisan anehmu itu. Karena sampai kapanpun bunga matahari tidak dapat hidup di ruang angkasa. Apalagi sampai bersebelahan dengan bulan.”

“Selera senimu sangat buruk. Tapi, apa yang kau katakan tadi benar adanya. Lukisan ini sangat aneh. Bahkan lebih aneh dari lukisan bunga matahari yang tertidur di bulan.”, ketika Seung Hwan membuka kanvas tersebut, Hae Jin hanya bisa menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Terkejut? Tentu saja. Karena apa yang ia lihat sekarang adalah potret wajahnya yang tengah membawa bunga dambaannya.

“Aku harap warna pada bagian wajahmu tidak kekuningan lagi.”

‘HUP!’, dan Hae Jin langsung memeluk Seung Hwan sebagai tanda ucapan terimakasih. Seung Hwan telah menepati janjinya. Meskipun terlambat, tapi Hae Jin tetap menerima lukisan tersebut dengan senang hati. Apalagi ia telah mendambakannya setahun belakangan ini.

“Ehm…ehm…lebih baik aku pulang saja.”

“YOON!”, Yoon mengangkat bahunya cuek meski Seung Hwan dan Hae Jin memanggilnya berulang kali. Di balik itu semua, Yoon hanya tersenyum tipis.

 

Belakangan ini, para guru pengajar di setiap kelas memberikan sosialisasi terkait ujian semester yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Meskipun pelajaran tetap efektif, namun beberapa guru pengajar menginginkan para siswanya agar lebih fokus ujian akhir. Bahkan banyak siswa yang rela menyumbangkan waktu luangnya untuk belajar di sekolahan.  Bahkan, beberapa siswa lainnya berencana untuk tidur di sekolahan saja jika saja tidak dihimbau oleh kepala sekolah.

“Kau masih betah di sekolah? Tidak ingin pulang?”, Yoon menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Seung Hwan. Seung Hwan hanya memandangi Yoon beserta beberapa soalnya dengan meminum sekaleng jus jeruk kesukaannya. Perlahan, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas dan mendapati Hae Jin sedang berkumpul dengan beberapa teman perempuannya. Mungkin juga belajar bersama. Ia juga mendengar rencana beberapa anak perempuan tersebut untuk tinggal lebih lama lagi di sekolahan. Yoon, yang mengalami hal sama seperti Seung Hwan, justru memanfaatkan kesempatan ini untuk menakut-nakuti mereka.

“Kalian semua jangan sampai berfikiran untuk tinggal lebih lama lagi di sini. Kalian tidak tahu cerita yang turun temurun dari beberapa sumber? Hi…aku membayangkannya saja sudah ngeri. Yah…aku hanya mengingatkan kalian saja, mengingat jabatanku sebagai ketua kelas belum berakhir.”, Yoon tertawa puas melihat aksinya yang berhasil membuat beberapa anak perempuan berteriak ketakutan. Bahkan, tak jarang Yoon mendapat lemparan gulungan kertas tepat di kepalanya. Tapi sepertinya, usaha Yoon berdampak lebih panjang lagi. Beberapa anak perempuan di kelas itu satu persatu memutuskan untuk pulang. Dan jangan lupakan Seung Hwan yang juga menyusup diantara segerombolan murid perempuan tersebut.

“Seung Hwan! Rupanya kau takut juga ya?”, Seung Hwan menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban untuk Yoon. Setelahnya ia melenggang pergi dan tinggallah Yoon dengan beberapa anak laki-laki lainnya. Seung Hwan berpikir ia akan pulang sendiri. Tapi rupanya ia salah, ia justru bertemu dengan Hae Jin yang dengan sengaja tidak menaiki sepedanya. Dengan perlahan, Seung Hwan menghentikan kayuhan sepedanya dan beranjak turun dan berlari kecil menghampiri gadis di depannya.

“Ehm. Sedang melepaskan penat sebelum ujian?”

“Ya. Seperti yang kau lihat sendiri. Aku menyukai suasana sore akhir-akhir ini.”, mereka membuat keheningan sejenak yang menambah suasana sepi sore hari ini. Suara daun-daun yang tertiup oleh angin hanya sedikit membantu mengurangi keheningan diantara mereka.

“Soal lukisan itu…aku ucapkan terimakasih banyak. Aku pikir, kau akan melupakan janjimu dahulu. Apalagi, kau sudah memiliki Minri.”

“Itu dulu dan…hampir.”, jawab Seung Hwan lirih dan berujung dengan keheningan lagi.

“Um…dulu dan hampir? Maksudmu—Oh! Apa kalian sudah…sudah—“

“Iya. Kami sudah berakhir. Mengakhiri status kami sebagai teman kencan.”

“Jangan bodoh, Seung Hwan! Kau masih saja berpikir bahwa teman kencan dan kekasih itu berbeda. Jelas-jelas itu sama!.”

“Terserah apa katamu. Lebih baik kau pikirkan nasib ujianmu besok. Jangan terlalu mengurusiku.”

“Aku tidak ingin memiliki teman yang suka menyakiti. Sudah itu saja.”

“Aku tidak menyakitinya. Kita mengakhirinya secara baik-baik. Ngomong-ngomong, kau masih menganggapku sebagai teman? Hahaha…”

“Itu bukan candaan yang lucu.”, Hae Jin mempercepat langkahnya setelah berhasil mencubit lengan Seung Hwan.

Hanya tinggal beberapa meter lagi, Hae Jin sampai rumahnya, namun tidak bagi Seung Hwan. Mereka kembali tenggelam dalam keterdiaman mereka masing-masing dan tanpa terasa, mereka telah menginjak halaman rumah Hae Jin.

“Ngomong-ngomong, kehidupan semasa remaja itu klise sekali, ya. Dan anehnya, kita sebagai remaja tidak merasa bosan dengan semunya. Jika merasa bosan, itupun hanya terpaksa.”, apa yang Seung Hwan bicarakan berhasil menghentikan langkah Hae Jin untuk membuka pagar rumahnya.

“Yap! Benar sekali. Seklise lukisan anehmu itu.”, jawab Hae Jin santai.

“Pasti yang kau maksud itu lukisan bunga matahari dan bulan itu, ‘kan?”

“Akhirnya kau menyadarinya. Sebenarnya, makna bunga matahari yang tetidur di atas bulan itu, apa?”, tanya Hae Jin pelan.

“Karena kau sudah berkali-kali menyinggungnya, dengan terpaksa aku akan menjelaskannya.”, jawab Seung Hwan cepat.

“Jadi kau tidak tulus, begitu?”, sungut Hae Jin kemudian.

“Bukan begitu. Jadi lukisan itu ada makna terembunyinya. Artinya tidak mungkin.”

“Tidak mungkin? Jadi lukisan itu menggambarkan sebuah ketidakmungkinan? Berarti, jika ingin menolak perasaan seseorang bisa dengan lukisan itu, ya?”, hal itu terdengar seperti candaan di telinga Seung Hwan, namun berbeda dengan Hae Jin.

“Ketidak mungkinan yang menjadi mungkin. Dulu aku pernah bilang, ‘kan? Berkat ide dan alat-alat lukisku, bunga matahari dan bulan akhirnya bisa bersatu.”, Seung Hwan hendak menjalankan sepedanya sebelum mendapatkan pertanyaan beruntun dari Hae Jin. “Aku pulang dulu.”, Seung Hwan melambaikan tangannya seraya mengakhiri percakapan singkat sore hari itu tanpa menyadari senyuman tipis dari Hae Jin.

***

Para siswa yang berada dalam satu ruangan tersebut terlihat kompak membisukan suara mereka dengan sebuah pensil yang mereka genggam. Berlembar-lembar soal yang bergiliran untuk dijawab cukup membuat para siswa memilih untuk diam membisu. Bel pertanda ujian berakhir menjadi sesuatu yang sangat mereka tunggu. Dan Tuhan mengabulkan do’a mereka tepat setelah Seung Hwan mengumpulkan lembar jawabannya di meja guru.

“Kau baik-baik saja, Yoon? Kau tampak sangat kelelahan dengan soal-soal itu.”, Seung Hwan merangkul pundak Yoon dan memastikan bahwa anak itu baik-baik saja. Pasalnya, Seung Hwan mendapati Yoon tampak murung dan tidak bersemangat hari ini. Padahal hari ini adalah ujian.

‘BRUK!’ “YOON! Yoon! Yoon! Kau kenapa? Apa yang terjadi? Yoon!”, Seung Hwan terus menepuk-nepuk pipi Yoon setelah mendapati sahabatnya itu pingsan di koridor. Peristiwa itupun sempat menarik perhatian seluruh warga sekolah dan bahkan ada beberapa siswa yang dengan sukarela membawa Yoon ke ruang kesehatan bersama Seung Hwan.

“Ini seperti kebetulan atau apa. Kau pingsan ketika ujian telah berakhir.”, bagai mendapatkan telepati dari Seung Hwan, Yoon dengan perlahan membuka matanya dan sepertinya tengah mengumpulkan kesadarannya.

“Kenapa aku di sini?”, tanya Yoon. “Kau pingsa setelah ujian berakhir dan menjadi bahan tontonan seantereo sekolah. Kau mengingatnya?”

“Dasar aneh! Bagaimana mungkin aku mengingatnya sementara aku sudah pingsan dahulu.”, Yoon mencoba menyandarkan tubuhnya.

“Bagaimana bisa kau pingsan, Yoon. Sepertinya kau tidak kekurangan gizi.”

“Aku hanya merasa tegang saja. Dan tiba-tiba, leherku menjadi kaku.”, Yoon menunjuk-nujukkan lehernya dan mengurutnya pelan.

“Lebih baik kau istirahat saja. Jangan terlalu memikirkan ujianmu.”

“Tidak tidak.”,Yoon menggeleng pelan. “Aku sudah bertekad untuk menyelesaikan ujian ini tanpa ada surat izin. Lagipula, aku masih kuat.”

“Terserah kau sajalah.”

“Kau sudah memikirkan menu apa yang akan kita bagikan saat ke Insadong nanti?”, Seung Hwan mendorong Yoon untuk kembali memulihkan keadaan tanpa menjawab pertanyaan dari ketua kelasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

Jika ditanya hal apa yang paling ditunggu semasa masih sekolah, pasti salah satunya adalah berakhirnya ujian semester yang mencekam. Para siswa bersorak-sorak gembira dan dengan segera menyiapkan beberapa keperluan untuk kunjungan ke Insadong. Setiap kelas harus menyetorkan hasil jadi ide mereka ke wali kelas masing-masing sekaligus berkonsultasi. Dan sepertinya, kelas Seung Hwan memakai konsep yang sama seperti bazar kemarin, yaitu membuat kupon di setiap kemasan makanan yang akan mereka bagikan secara gratis.

“Aku akan membuat sebuah kupon sepesial. Sejenis love coupon.”, Seung Hwan berujar sembari menggambarkan sketsa kupon lucu di atas buku sketsanya.

“Jangan bilang kau akan memberikannya untuk ‘mantan teman kencanmu’ itu”, sebelum Seung Hwan menimpali perkataan Yoon, Hae Jin terlebih dahulu mendatangi bangku Seung Hwan dan membawakannya sekaleng jus jeruk.

“Wah wah. Sepertinya akan ada pasangan baru, ya?”, ejek Yoon disertai candaannya.

“Berhentilah membual, Yoon. Bukankah ini pemadangan yang tidak terlalu asing.”, Seung Hwan mengambil minuman berkaleng itu dan menenggaknya pelan-pelan. Hae Jin yang kini tengah duduk di depan Yoon memilih membantu Yoon mengguntingi kupon-kupon lucu buatan Seung Hwan.

“Tapi ini berbeda. Aku merasakan benih-benih cinta di sini.”, Yoon mengubah wajahnya menjadi seceria mungkin dan malah menurut Seung Hwan itu sangat aneh.

“Ada apa denganmu hari ini? Jangan terlalu membesar-besarkan masalah.”, Seung Hwan tidak sengaja membuat kesalahan saat menggoreskan pensilnya demi menimpali omongan Yoon.

“Yaampun! Aku hampir lupa. Seung Hwan yang aku kenal adalah makhluk berwujud laki-laki yang belum berkenalan dengan dunia percintaan. Berarti, Minri sangat hebat telah berhasil membawa seorang Seung Hwan menjelajah dunia percintaan.”

“Kadang, menjadi melankolis sepertimu adalah hal yang aku hindari. Nah! Sudah selesai. Yoon! Cepat potong kupon-kupon ini! aku ingin segera pulang.”
“Kau! Berani-beraninya memerintah ketua kelasmu seenak sendiri.”, sementara Seung Hwan hanya melambaikan tangannya ketika sampai di ambang pintu.

“Padahal aku sudah mencoba membuatnya sedikit…peka.”

“Aku tidak pernah memintamu untuk melakukan hal itu, Yoon. Jadi berhentilah untuk membantuku sekarang juga. Ini akan terlihat tabu mengingat aku hanya seorang perempuan.”, mereka sedikit berbisik saat mengingat apa topik pembicaraan mereka saat ini. Yoon yang sangat yakin akan perasaan Seung Hwan terhadap Hae Jin –begitu pula sebaliknya- mengupayakan berbagai cara untuk mendekatkan dua mahluk yang masih saja mengaku sahabat. Jika dipikir lagi, tindakan Yoon akan berdampak buruk juga. Menurutnya, persahabatan yang dibumbui dengan hal-hal berbau asmara, pasti tidak akan lama lagi.

“Maaf, telah salah menyebut nama tadi.”, Yoon merasa bersalah.

“Lagi pula, aku sudah nyaman dengan posisiku sebagai sahabatnya. Terimakasih karena telah membantuku, Yoon.”, gurat kekecewaan Hae Jin tertangkap jelas di mata Yoon.

***

“Bagaimana aku bisa menggunakan kostum ini,hah? Sementara aku juga harus membawa box berukuran sedang berisi susu dan yogurt.”, Yoon merasa tidak terima karena harus menjadi tersangka kostum pinguin kebesaran guna menarik anak-anak di sekitar jalanan Insadong.

“Itu tugasmu sebagai ketua kelas yang baik. Pasti susu dan yogurt kita akan habis dalam sekejap.”, Min Sung tertawa puas melihat penderitaan ketua kelasnya.

“Siapa yang mengusulkan seperti ini?”, sontak para siswa bangku Seung Hwan yang berada di  pojok kelas.

“Akan kupastikan rahasiamu terbongkar, Seung Hwan!”, geram Yoon.

Sementara Seung Hwan memilih pulang dahulu karena sudah berjanji dengan ibunya untuk menjaga toko bunga ibunya. Ia merasa aneh hari ini. ia seperti memiliki rasa bersalah dengan seseorang. Tapi siapa? Entahlah, ia hanya ingin berfokus dengan toko bunga ibunya serta kegiatan di Insadong nanti.

“Permisi. Saya ingin membayar, Seung Hwan.”

Seung Hwan terlonjak kaget saat ia telah sadar bahwa seseorang pelanggan telah berada di depannya. Pelanggan itu menyebutkan namanya dan membuat Seung Hwan sepenuhnya sadar jika itu adalah…

“Minri? Aku tidak melihatmu di sekolah akhir-akhir ini.”, Seung Hwan membungkuskan pesanan Minri dengan hati-hati. Mengingat Minri adalah salah satu pelanggan setia toko ibunya.

“Aku memutuskan liburan dahulu ke Busan. Tidak ada pelajaran sama sekali, ‘kan?”

“Tidak.”, Seung Hwan menggeleng. Minri hendak membalikkan badannya untuk pulang, namun niatnya tertahankan saat ia mengingat sesuatu.

“Seung Hwan. Aku ingin meminta maaf padamu.”, Seung Hwan mengerutkan keningnya dalam. Mengisyaratkan bahwa ia menuntut penjelasan dari Minri. Seingatnya, Minri tidak melakukan kesalahan apapun terhadapnya.

“Maaf jika aku telah sengaja membuatmu menutup perasaan terhadap Hae Jin. Kau masih ingat, ‘kan saat aku tiba-tiba mengajakmu pergi berkencan? Karena aku mengetahui jika sebenarnya Hae Jin menyukaimu. Aku mengetahuinya saat ia tidak sengaja bercerita kepada Yoon di kantin. Dan saat itu, aku terlalu membanggakan diriku karena behasil merebut hati seorang juara pararel yang bisa dibanggakan oleh guru-guru. Bisa dibilang, aku takut kedahuluan Hae Jin.”

Seung Hwan sedikit terkejut saat mendengar penjelasan yang sebenarnya dari Minri. Tapi untungnya, Seung Hwan tidak terlalu terbawa suasana saat berkencan dengan Minri. Sehingga ia tidak memermasalahkannya.

“Sekali lagi maafkan aku.” “Tidak usah terlalu dipikirkan. Semuanya sudah berlalu.”, merasa bahwa urusan terbesarnya dengan Seung Hwan selesai, Minri berbalik untuk pulang. “Berarti perasaanku selama ini, terbalaskan.”

BAB VII

Kawasan Insadong memang terkenal sangat ramai. Apalagi saat akhir pekan seperti saat ini. Hal inilah yang membuat kawasan ini menjadi sasaran sekolah Seung Hwan untuk tempat pembagian konsumsi gratis dalam rangka pengenalan makanan sehat untuk anak-anak usia dini maupun usia lanjut. Beberapa siswa memilih untuk menjaga meja stok mereka, sementara beberapa siswa lainnya memilih untuk berkeliling dan menawarkan konsumsi gratis kepada para pengunjung. Ada sedikit pemandangan yang cukup menarik, terutama bagi anak-anak. Di antara para siswa yang berpakaian serba kaos, terdapat satu siswa yang justru berpakaian agak nyeleneh. Tentu saja itu berasa dari kelas Seung Hwan dan tersangka utamanya adalah Yoon. Yoon yang ditemani oleh Hae Jin tampak kerepotan membawa satu box susu dan yogurt. Tapi hasilnya, susu dan yogurt yang dibawa dari kelas Seung Hwan langsung ludes diborong oleh anak-anak kecil. Bahkan ada beberapa anak kecil yang tak ingin melewatkan momen indah bersama tuan pinguin.

“Min Sung! Bisakah kau fotokan aku dengan Yoon?”, Hae Jin memberikan kamera poketnya kepada salah satu teman sekelasnya untuk mengambil gambarnya dengan pinguin Yoon. Namun, saat pengambilan gambar tengah berlangsung, sosok Seung Hwan malah lewat di depan Hae Jin dan Yoon begitu saja tanpa rasa bersalah dan membuat Hae Jin geram setengah mati.

“Lebih baik kau berfoto bersama mereka saja, Seung Hwan. Daripada kau terus-terusan merusak momen Hae Jin dengan pinguin Yoon.”

“Cepatlah! Kostum ini sangat panas!”, Yoon kegerahan rupanya.

“Baiklah.”, Seung Hwan segera bergabung bersama Hae Jin dan Yoon dengan pose senatural mungkin.

“Hah! Melelahkan sekali. Tahun depan tidak usah memakai kostum seperti ini lagi.”, gerutu Yoon yang tidak berbalaskan tanggapan karena kedua temannya sedang sibuk dengan acara mereka sendiri-sendiri. Merasa ia tengah berbicara sendiri, Yoon memilih untuk pergi saja dan berganti kostum di toilet umum terdekat. Meninggalkan Hae Jin yang tengah melihat foto-foto di kamera poketnya, dan Seung Hwan yang hanya berduduk santai.

“Hae Jin.”, saat Hae Jin menoleh, ia terkejut saat mendapati Seung Hwan memberikan sekotak susu stroberi kesukaannya dan sebuket bunga matahari yang sepertinya dirangkai khusus untuknya. Baiklah, biarkan Hae Jin berkhayal lebih tinggi lagi.

“Ini untukku?”, Hae Jin memastikan lagi.

“Menurutmu? Apakah ada orang lain di sisimu? Ambillah.”, Seung Hwan tersenyum tipis saat memberikan kedua benda itu untuk Hae Jin. Oh Tuhan! Ini kali pertamanya Hae Jin melihat Seung Hwan tersenyum. Dan tepat untuknya. Biarkan waktu berhenti sebentar demi melihat senyum langka itu sekali saja.

“Kotak susu ini juga memiliki kupon ternyata?”, Hae Jin membuka kupon berwarna pastel tersebut dan membacanya dengan hati-hati.

Bagaimana cara menjaga persahabatan dengan cara yang berbeda? (Pilihlah satu saja!)

  1. Membumbuinya dengan kisah percintaan
  2. Meneruskan persahabatan itu dengan menjadi sepasang kekasih
  3. Kembali pada opsi A

“Kkaau…kau…Seung Hwan…ini…Seung Hwan jelaskan padaku!”, semburat merah dapat tertangkap oleh mata Seung Hwan. Membuatnya terkikik geli karena kegugupan Hae Jin.

“Silahkan pilih saja opsinya. Tinggal bilang saja pilih A, B, atau C.”

“Tapi semua opsi sama saja, tidak ada bedanya!”, geram Hae Jin yang merasa dirinya sedikit dipermainkan.

“Oh, kau sudah menyadarinya. Jika semua opsi sama saja dan kau harus memilih, sama saja tidak ada pilihan lainnya, bukan?”

“SEUNG HWAN! JELASKAN PADAKU!”, padahal dalam hati Hae Jin tengah berbunga-bunga.

“Hae Jin. Dengarkan aku!”, Seung Hwan melemparkan tatapannya kepada Hae Jin. “Jangan kau kira aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dibalik sifatku yang masa bodoh, aku mengetahui semuanya. Yoon selalu memaksakan untuk memberi bantuannya padamu, ‘kan? Jawablah dengan jujur.”, tidak ada pilihan lain, Hae Jin hanya mengangguk.

“Aku tahu apa yang menyebabkan dirimu tiba-tiba menjauhiku dulu. Itu pasti karena ide Yoon, ‘kan?”

“Jika perlu, kau berpura-pura saja menjauhi Seung Hwan. Dengan begitu, kita bisa lihat bagaimana rekasinya. Jika dia masih menghawatirkanmu, berarti ada jalan lagi utnuk kita melangkah.”, Hae Jij ingat kata-kata itu.

“Tapi jika soal itu, aku benar-benar menjauhimu karena aku cemburu!”, gerutu Hae Jin.

“Ha! Kau mengakuinya sekarang! Mudah sekali ternyata memancingmu.”

Hae Jin masih menertralkan detak jantungnya. Semoga ini bukan halusinasinya saja.

“Dan yang menjadi pertanyaanku adalah, mengapa kau tiba-tiba menyatakan perasaanmu padaku? Dan mengapa kau baru menyadarinya?”

“Sunflower sleeps on the moon. Kau dan aku menyadari bahwa itu bukan sesuatu yang mungkin. Tapi ternyata, semuanya menjadi mungkin. Dulu aku pernah berpikir bahwa sepasang sahabat tidak mungkin akan menjalin sebuah hubungan percintaan satu sama lainnya. Mungkin, jika salah satu diantara keduanya memiliki pasangan, maka salah satunya juga akan memberikan dukungan penuh. Dan presepsiku selama ini salah besar. Aku menyadari jika aku termakan oleh omonganku sendiri. Aku…menyukaimu.”

‘Deg!’ Hae Jin bisa saja pingsan karena tidak dapat menahan euforianya yang amat bergejolak. Mungkin setelah ini, ia akan berterimakasih kepada Yoon dan akan menraktirnya jjangmyeon di kedai ayah Seung Hwan sepuasnya. Sementara dia akan berbincang-bincang sepuasnya bersama Seung Hwan— Tunggu dulu Hae Jin!

“Sepertinya, kau sudah bisa menebak bagaimana jawabanku tanpa aku menyebutkannya.”, Hae Jin menjawabnya disertai dengan kekehan ringan.

“Jadi, opsi mana yang akan kau pilih pada kupon itu?”

“Aku memilih bunga matahari ini. Kkk…Terimakasih banyak.”

“Tetaplah menjadi seperti bunga matahari, Hae Jin.” –Lee Seung Hwan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EPILOG

Dua minggu setelah ujian berakhir, para siswa nampak sabar menunggu pengumuman hasil ujian semester. Beberapa siswa lainnya juga sudah memboking tempat di depan papan pengumuman guna melihat nasib mereka selanjutnya. Mengulang atau tidak. Di antara kerumunan murid tersebut, sosok yang tak asing bagi Seung Hwan terlihat tengah melambai-lambaikan tangannya ke arahnya. Itu pasti Hae Jin, dan benar saja. Sesegera mungkin Seung Hwan membalas lambaian tangan gadis itu dan mengisyaratkan bahwa Seung Hwan akan menunggu di sekitar papan pengumuman saja. Selang sepuluh menit kemudian, pihak sekolah resmi mengumumkan hasil dari ujian semester kepada para siswanya. Seung Hwan memilih untuk melihat hasilnya belakangan saja atau jika tidak ia akan langsung pulang begitu saja. Soal Hae Jin, biar ia urusi nanti.

“Hosh hosh…Apakah aku ketinggalan infonya?”, rupanya itu Yoon yang dengan sekuat tenaga berlari demi melihat nasib ujian semesternya.

“Baru saja dipajang. Semoga beruntung.”, balas Seung Hwan.

“Kenapa nilai tertinggi selalu diraih oleh Seung Hwan?”

“Lee Seung Hwan? Anak perpustakaan itu? Tidak heran jika ia meraih nilai tertinggi lagi.”

Begitulah yang ia dengar dari beberapa siswa yang sudah melihat pengumuman. Seung Hwan awalnya tak menyangka akan tetap berada di peringkat teratas. Ia memutuskan untuk mnerobos segerombolan siswa dan memastikan bahwa omongan-omongan beberapa siswa tadi bukan sekedar rumor. Ia langsung mendongak dan melihat siapa yang berada dalam urutan pertama. Lee Seung Hwan. Benar! Ternyata itu namanya.

“Seharusnya kau mengalah pada kekasihmu, Seung Hwan. Dia mati-matian menahan emosi saat Minri ada pada peringkat kedua. Malah aku sempat mendengar namamu disebut-sebut sebagai mantannya Minri. Hahaha…”

“Kau tidak pingsan lagi, Yoon? Biasanya kau langsung pingsan jika sudah menyangkut hal seperti ini.”

“Hoho…itu beda lagi. Aku cukup senang berada pada peringkat lima belas teratas. Mungkin aku akan langsung pingsan jika sudah keluar dari angka dua puluh teratas.”, di tengah-tengah perbincangan mereka berdua, Hae Jin keluar dari gerombolan para siswa dengan muka yang sangat bersahabat.

“Jangan cemberut terus! Seharusnya kau bangga kekasihmu mendapat peringkat pertama, bukan malah kau hadiahi dengan muka cemberut.”, tegur Yoon diselingi candaannya.

“Kau tahu, Seung Hwan? Aku hampir panas mendengar mereka menyebut-nyebut namamu sebagai mantannya Minri. Belum lagi Minri berada pada posisi kedua. Dan yang lebih parahnya lagi…banyak dari mereka yang mendoa’kanmu kembali dengan Minri. Huwaaa…Aku tidak bisa mengontrol emosiku lagi.”, Hae Jin meluapkan segala jenis emosinya.

“Sudahlah…Lebih baik kita pulang dan mampir ke kedai patbingsoo. Kita lihat siapa yang paling banyak memakan patbingsoo. Bagaimana?”, tawar Seung Hwan.

“Yang menang akan dapat apa?”

“Lihat saja nanti.”, mereka bertiga bergegas menuju kedai patbingsoo.

***

Seung Hwan dan Hae Jin sama-sama memakan patbingsoo dengan cepat. Bahkan, tiga mangkok patbingsoo telah mereka habiskan. Yoon merasa ia tengah menjadi penjaga kencannya sepasang kekasih yang sambil santai menikmati setiap sedok patbingsoo yang masuk kemulutnya.

“Aku menyerah pada mangkok ke lima, Seung Hwan. Aku sudah tidak kuat menampung pabtingsoo ini di perutku.”, Hae Jin memegangi perutnya yang terasa sangat sesak.

“Padahal aku baru saja menghabiskan mangkok ke enam. Berarti, aku pemenangnya. Haha…”, ucap Seung Hwan girang.

“Oke, akan aku bayar sekarang.”

“Tidak ada perjanjian menang atau kalah harus berbuat apa. Ini aku tujukan karena aku sudah kecanduan dengan patbingsoo di kedai ini.”, Hae Jin lagi-lagi cemberut mendengar penjelasan Seung Hwan.

“Kalian hanya romantis saat awal-awalnya saja ternyata. Hari-hari berikutnya kalian tidak ada bosannya untuk bertengkar.”, ujar Yoon yang pada akhirnya berpamitan untuk pulang dahulu dan disusul oleh Seung Hwan dan Hae Jin.

***

“Ayo kapan-kapan kita ke Insadong lagi. Aku sungguh berterimakasih dengan tempat itu.”

“Kau ingin mengulangi hal yang sama dengan kejadian waktu itu? Aku bisa membuatkanmu seratus kupon perhari untuk mengingat kejadian itu.”, canda Seung Hwan akhirnya.

“Kotak susu yang kau berikan waktu itu saja masih aku simpan rapi. Termasuk bunga matahari spesial itu.”, tambah Hae Jin, ia masih melanjutkan jalan santainya bersama Seung Hwan.

Mereka berjalan menyusuri jalan yang sama. Bahkan setiap harinya. Mereka menyukai daun mapple yang berguguran dan hembusan angin yang dapat menenangkan siapapun yang lewat di sini. Tentunya suasana yang mereka rasakan berbeda dengan dulu saat mereka masih berteman. Saat Seung Hwan masih menyimpan rapat-rapat perasaannya kepada Hae Jin, saat itu pula Hae Jin yang harus memendam perasaannya kepada Seung Hwan. Mereka berhenti di sebuah jembatan kecil yang tidak jauh dari rumah mereka.

“Saat yang lain memberikan bunga mawar kepada pasangannya, aku hanya bisa memberikan bunga matahari pada pasanganku. Dan aku berharap, aku tetap dapat memberikan bunga matahari itu untuk pasanganku.”

“Seung Hwan yang sangat melankolis.”, Seung Hwan mengehela nafasnya kasar saat mendapatkan respon yang tidak ia inginkan.

“Ah, benarkah? Padahal aku menghindari yang namanya melankolis. Baiklah baiklah, ajari aku untuk berkata-kata tanpa menjadi melankolis.”

“Cukup mengucapkan kalimat yang sederhana, namun bermakna.”

“Okey. Hae Jin-ah…you’re my sunflower.”, Seung Hwan memberikan senyuman terbaiknya untuk Hae Jin dan mengajak Hae Jin untuk mengakhiri sore mereka dengan manis.

-TAMAT-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Penulis

Nama saya Dian Oktavia, biasa dipanggil Dian. Saya lahir di Lubuklinggau, 04 Februari 1998. Saya sekarang memasuki umur 20 tahun, tepat nya di bualn Februari nanti. Saat ini, saya tengah menikmati masa perkuliahan saya di STKIP PGRI Lubuklinggau dengan mengambil jurusan Bahasa dan Seni. Saya sangat menyukai dunia sastra, kepenulisan, dan musik. Sehingga, sedari kecil saya menghabiskan waktu saya menjelajahi dunia tersebut dengan beribu-ribu imajinasi saya. Menurut saya menulis merupakan hal yang indah karena dapat mencurahkan keluh kesah yang dirasakan tanpa orang lain akan mengetahuinya.

Saat saya menulis banyak sekali imajinasi yang berbeda-beda muncul nah, disini lah titik kesulitan saat saya akan memadukan tulisan saya dengan imajinasi yang sejalan dengan yang di tuliskan tersebut. Biasanya, saya menulis pada saat ada waktu luang dimana tidak akan menganggu aktivitas perkuliahan saya yang setiap harinya menumpuk. Bahagia, sedih, kecewa sudah saya rasakan saat saya mengenal itu cinta. Banyak sekali pergolakan di sini yang harus di benahi terutama tentang cinta dan pertemanan. Memang tidak salah jika menyukai sahabat sendiri tetapi konsekuensi yang harus di dapat jika berpisah yaitu kehilangan ke dua-dua nya sahabat dan kekasih.

Tetapi apabila mantan jadi sahabat itu lah hal yang harus di banggakan karena tak banyak orang yang seperti itu. Banyak sekali teman yang mensuport saat saya membuat novella ini, terutama sahabat-sahabat saya yang setiap harinya ingin mendengar kisah selanjutnya dari novella yang saya buat. Mereka seperti merasakan aura yang ada di dalam novella tersebut sehingga mereka sangat menyukainya. Memang benar jika novella yang di buat berlandaskan tentang cinta tidak di herankan lagi bakalan terjual habis karena remaja saat ini lagi identik dengan yang namanya galau da nggak bisa move on.

Dengan membeli novel tersebut dapat menyadarkan mereka bahwa tidak selamanya cinta itu sejalan dengan kebahagian pastilah ada yang namanya sedih di dalamnya walaupun tidak semuanya tetapi itu pasti ada. Impian saya sedari kecil adalah, minimal saya bisa membuat satu saja mini novel dan mendedikasikannya kepada kedua orang tua saya khususnya, sebagai bukti bahwa saya memang serius dengan hobi saya serta memiliki toko buku tersendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Seosaengnim:Panggilan untuk guru di Korea

[2] Ahjumma : Bibi

[3] Eomma : Ibu

[4] Jjangmyeon : mie yang dicampur dengan saus pasta kedelai hitam kental, sayuran, dan potongan daging.

[5] Appa : Ayah

[6] Anneyong haseyo,Ahjussi : Halo, Paman (sapaan formal)

 

[7] Kajja! : Ayo!

[8] Patbingsoo : Es serut kacang merah

[9] Hotteok : tepung nasi dicampur gula

[10] Gamsahamnida : Terimakasih

[11] Bento :  istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757