education.art.culture.book&media

Sungai Tenang

Oleh: Rido Amilin HE

Jompoku sayang jompoku sibuah hati, kado istimewah untuk mertua dan bapak. Mereka akan menatapmu dengan kasih sayang sedalam jurang nak, dan aku akan menjadi ayah yang setiap melindungimu.

****

            Setiap kali melintasi muara sungai bercabang dua, suasana hati Guber mendadak pilu, mendayu-dayu sekali rasanya, seakan tak ada pilihan yang lahir pada petang setengah malam itu.Seolah-olah tak ada harapan untuk hidup sampai mendengarkan azan subuh berkumandang kelak.

            Kini ia harus kembali turun dengan pengayoh[1], tak ada pilihan kecuali mencoba diam-diam menghanyutkan biduk[2]. Pelan menuruni tebing dibawah cahaya bulan yang pelan-pelan akan musnah. sungai muara ini airnya tak begitu deras, tapi hanyut. Sungai dengan dua cabang : sungai muara mati.

            Guber adalah seorang petani karet, tinggal dikebun.Hanya saja pada malam itu keluarga sudah menunggu. Jelang beberapa jam lagi takbiran sudah berkumandang sahut menyahut dari masjid kemasjid lainya. laillah yang berusaha membuka gembok biduk yang terikat dijamban, agak susah ia membukanya. Sebab jompo menggeliat-liat tak nyaman dalam Taliambin[3] ibunya yang tengah payah membuka gembok biduk.Sesekali jompo merengek-rengek menangis, Laillah berhenti, lalu meneteki anaknya, agar tak bersuara lebih kencang di tepi sungai. Laillah menunggu Guber yang menghanyutkan tiga karet berukuran kotak didalam air yang akan dijual untuk membeli daging, sebagai hasil pekerjaanya selama dikebun. Tubuhnya mengigil diterpa dinginya cuaca yang tak jadi hujan.Ditambah lagi ketakutan melewati rawa mati.

            Hati-hati sekali guber menuntun getah menghampiri biduknya, hampir tak ada suara gerah didalam air.Sungai sangat dalam airnya.Hanya berpaut pada getah yang mengapung. Pengangannya yang kuat pada tiga kotak getah, seperti ia sedang memegang sebuah tali dijurang terdalam, kembali pada tangkapan kepala jamban. Ia berlabuh dengan nafas yang sedang, dengan nada sedang ia meminta anak kunci biduk pada istrinya, matanya menatap Jompo yang tertidur pulas, juga mata istrinya yang menatap, matanya penuh air. Pandangan itu seolah-olah mengatakan pada guber untuk tidak jadi mudik malam ini, namun guber tidak berani menginap semalam lagi dikebun, karena banyak sekali akhir-akhir ini pembunuhan orang yang dibenam di dalam lumpur.Hal inilah yang merangkul niat setinggi gunung untuk mudik kedusun petang itu juga.

            Pelan-pelan mereka menghanyuti biduk, malam yang berbintang itu dalam sekejap berubah pelan menjadi sangat mendung, cahaya kilat menyambar di hulu sungai, was-was hati Guber, karena buah hati yang masih berumur dua hari itu akan terbangun dan menangis ketika mendengar suara Guntur, dalam pelan suara bisikan guber ‘’dik siapkanlah susu, jangan sampai Jompo menangis.

            Nada pelan itu mengiring pada derasnya angin yang berhembus, tubuh mereka berdua bergetar mengigil.Tak hanya itu Jompo kini terbangun mulai merengek. Namun Laillah dengan tangkas menyempalkan susu pada mulutnya yang mungil. Mereka sudah berada di tengah sungai, Guber mendayung pelan.Karena airnya tenang, sunyi sekali, suara Guntur semakin kacau.Guber sudah basah bajunya. Daun pisang yang ia pegang untuk melindungi ibu dan anak itu dari hujan, hujan begitu deras, guber dengan payah masih mengenggam daun pisang tanpa sedikitpun meletakanya.

            Sebelum Guber berangkat pulang untuk mudik,  Eman bertandang[4], Eman menahan Guber yang sudah mengemas barang-barangnya sejak siang. Sayangnya niat Eman yang menahan kepulangan guber tidak membuat keputusan guber untuk pulang mudik kedusun.Dua hari lalu istrinya berjuang hidup dan mati untuk mengeluarkan Jompo anaknya yang baru berusia senja itu.Dalam sedangnya angin senja. Guber merasa juga memilah kembali percakapannya dengan Eman, ia menatap mata mata istrinya yang lemah. Mata itu seolah berkata diam. Tetap disini, tinggalah.

            Jompo adalah hal yang kuat untuk Guber mudik sore itu juga, jarak sangat jauh untuk menuju ke dusun.Tiada jembatan.Dan juga semua orang sudah mengunakan jalur air untuk berinteraksi dengan dusun.Karena jaalan air sedikit aman dibandingkan darat yang kalau lengah maka harimau menerkam punggung belakang.Dalam hati guber sangat senang. Sebab, ia membawakan sebuah kado untuk mertuanya.  Jompo bayi yang dihasilkan dari pernikahannya. Hingga ia harus berjuang melewati sungai mati. Tepat di tengah sungai mati biduk guber terdampar tak  berjalan. Hujan begitu deras terpaksa ia tidak coba mendayung biduk. Tubuhnya sudah kembali mengigil.Demi melindungi istri dan anaknya. Dalam bisikan sedang laillah menatap’’ bang aku mencium bau amis yang begitu pekat. Laillah ketakutan.

            Guber mencoba menenangkan istrinya, bau amis tercium sangat pekat. Dibawah hujan yang begitu tajam di tangan kirinya ia menggam pengayoh, sedangkan tangan kaknan tak terlepas daun pisang untuk melindungi buah hatinya. Dengan siaga ia menatap kekanan-kekiri.  Ia juga teringat banyak tentang bau amis di sungai mati itu, dalam ingatannya, bila bau amis sudah menghampirimu kemungkinan penghuni di dalam air akan menghampirimu juga. Bergegaslah, itulah ingatan spontan didalam kepala guber.Tapi diwaktu yang tegang dan tak mungkin untuk mendayung biduk dengan tangkas.Anaknya yang masih senja umurnya.Akan sakit parah bila terkena air huja.Nafas guber dan istrinya sudah tidak terarut lagi, beruntungnya simungil Jompo tak menggeliat lagi nangis, karena sepalan tetek ibunya yang meredam suara tangis.ia mulai terlelap.

Malam yang tak beruntung bagi siapapun bila terdampar ditengah sungai mati.Sungai yang haus darah. Tidak tahu apa penyebabnya. Hanya satu orang yang berhasil lolos dari buruan Atu aya[5], Wak Sulman ia melihat bentuk aneh keluar dari dalam air. Ia tak memiliki wajah bentuknya seperti rambut panjang tanpa tubuh. Hati guber begitu kacau saat ucapan siang tadi yang diucapkan oleh eman.Tak hanya itu yang membuat hatinya bergetar hebat, tali ambin Laillah yang sudah merembas masuk, hingga jompo mengeliat kedinginan. Tak dapat disepal tetek ia melolong menangis keras, lolongan jompo seolah mengundang penghuni sungai untuk bertandang kebiduknya, tak salah piker bapakanya, tiba-tiba perahu tanpa ombak oleng di tengah sungai. Lolongan jompo juga mengiringi ketegangan bapaknya.Seperti nafas perokok yang menggelilingi putaran sepuluh kali, begitulah nafas Guber bercampur takut, disamping takut harus berani.

Setelah kilat terakhir yang menyambar, suara jompo tiba-tiba hilang ditepis angin yang lewat, lolongan itu lenyap, perahu Guber pelan mengiring kehulu dusun, suara takbiran begitu ramai, sahut menyahut dari masjid kemasjid lainya, tapi tak membuat hati Guber bahagia, hingga malampun ditelan jauh menghilang dalam mata guber yang berair.

Pagi-pagi takbiran kembali berkumandang, shalat idul Fitri sudah dilaksanakan, Guber hanya menyesal, hatinya menyesali sangat dalam.Ia terduduk kaku ditanah basah kuburan Jompo dan laillah.

Suara tangis semakin tinggi, dunia semakin terang sampai jauh diatas hingga hilang.

            Bandung 1 Oktober 2015

[1]Pendayung perahu kecil.

[2] Perahu Kecil

[3] Kain pengendong bayi

[4] Bertamu kerumah

[5]Setan/hantu yang menunggu didalam air.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 3729