education.art.culture.book&media

TEH TAWAR ITU

Sudah lama saya tidak jalan pagi, bukan karena tidak suka tapi tidak ada yang mengajak duh… Tadi, begitu ada yang mengajak langsung saya iya-kan.

Dia menjemput saya jalan kaki dengan celana pendek ketat di atas lutut plus baju kaos ijo yang membuat bodinya bertambah luas. Sesaat dia memandangku iri, ‘ambil dagingku sedikit Mi…’ mungkin itu teriaknya dalam hati. Untung dia pria. Coba kalau wanita, sudah saya remas pasti.

Kami melewati jalan-jalan yang masih lengang, langit masih agak gelap saat seorang ibu paruh baya yang sedang menyapu jalanan itu menyapa kami. Wah pantesan komplek di sini selalu bersih, ada seseorang yang iklash menyapu tiap hari. Sepertinya jiwaku yang kotor ini perlu dibersihkan juga.

“Memang sering sih aku lihat ibu itu nyapu,” katanya membuka obrolan.

“Semacam olah gerak tubuh ya… Riang sekali si ibu tadi…”

“Yang banyak gerak akan jarang sakit, lari yuk, ” tawarnya.

Saya menggeleng cepat. Saya kurang suka melihat sesuatu di tubuh saya terguncang-guncang. “Aku tunggu kamu di bubur ayam sana ya,” saya suka sekali bubur ayam di dekat RS Ar. Bunda itu. Campurannya komplit, tidak terlalu enek untuk mengisi kebahagian di pagi ini, meskipun saya kurang suka teh tawarnya.

Baru beberapa keliling kulihat dia menyerah dan menghampiri saya yang sedang menyantap bubur. Dia ikut memesan. Makannya lahap sekali… Seperti tidak makan beberapa hari saja, hihihi…

“Yah kalau begini tiap hari, mau saja saya menemanimu,” kata saya sambil tersenyum.

“Kenapa?”

“Tehnya jadi manis sekarang…”

“Karena ada aku ya?” dia tersenyum lebar sekali, wajahnya berkilau ditimpa cahaya mentari pagi.

“bukan, karena kamu yang traktir…”

“haha…”

Minggu besok, kami akan bertemu kembali. Ah sudah lama saya tidak membuka hati.

💋💋💋

Comments
Loading...