education.art.culture.book&media

Teruntuk: Ibu yang baik hati

Ahad, 7 Juli 2019, diatas balkon rumah diselimuti awan malam yang mendung seakan menitahku untuk menulis surat ini.

Teruntuk: Ibu yang baik hati.
Ibu aku kembalikan putramu dengan keadaan utuh, tak ku sakiti ia sedikitpun, tak ada yang kurang juga dari aku meminjamnya darimu. Ibu sudah lebih dari 330hari aku mencoba untuk memahaminya, mengerti, mempelajari apa yang ia mau. Tapi ibu, mungkin memang tiada arah jodoh kita.


Ibu aku sayang padanya. memanglah ibu, ia bukan yang pertama kali memberiku cinta. Aku datang padanya dengan hati yang utuh dan kembali dengan hati yang hancur hingga tak dapat ku bawa pulang lagi.
🌹 🌹
Tak ku lukai hatinya, perasaannya sedikitpun ibu, tak pernah pula aku membandingkannya dengan yang lain, tak terpikir pula aku untuk mendua apalagi sampai aku berlari pergi meninggalkannya.
🍃
🍃
Kini ia telah bersama dengan yang lain ibu dan membiarkan aku patah luka melihatnya. Tak ada lagi kabar berita yang bisa kudengar lagi. Dengan sadarnya ia mendua, tak pernah ada dibenakku ia bisa sejahat ini.
🌺
🌺
Telah aku lakukan semua yang aku anggap baik dan bisa menjaga sekeping cinta ini, tapi ia mematahkannya hancur, luluh lantaklah segalanya.
💫
💫
Ibu maaf bila aku terlalu banyak bicara, tak tahu lagi bagaimana rasanya sakit ini aku puisikan. Aku tidak akan dendam apalagi berlaku sama, ibu tak usah khawatir. Ini juga bukan perkara ibu salah mengajarkannya tapi memang kesalahan ku menilai dirinya, begitu cepat meletakan hati yang belum sembuh semua.

Ibu bolehkah aku sesekali bertamu lagi kerumahmu sebagai orang lain walau hanya ingin bertanya kabar, mendengar cerita mu, dan membawakan kue kesukaanmu? tanpa ada namanya lagi dalam perbincangan kita.
Ibu tolong sampaikan pesanku ini pada putramu yang sekarang tengah berdiri dengan gagah karena berhasil membunuh hati dan perasaan bahkan harapan seorang wanita, demi wanita lain. Di suatu saat nanti takkan ia dapatkan lagi cinta, kasih, sayang seperti yang aku beri untuknya dan aku tidak terima kata menyesal dan ingin kembali. Aku memaafkan bukan berarti lupa hanya saja aku tidak ingin berlama lama dengan bodohnya berjuang sendiri. 💛 Terima kasih ibu, ada salam dari kedua orang tua ku yang hatinya sudah berhasil putramu kelabui. Tidak ada hati yang baik -baik saja.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757