education.art.culture.book&media

Untuk Apa Seniman Turun ke Desa?

Catatan Program Seniman Mengajkar 2017 Gelombang II di Bengkulu Tengah (8 Agustus-12 September 2017)

OLEH BENNY ARNAS

 

Pada pembekalan program Seniman Mengajar (SM) Gelombang II di Jakarta, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengemukakan hal menarik bahwa alasan (utama) diselenggarakannya SM adalah untuk mengatasi ketimpangan pembangunan mental masyarakat. Cetusan itu bukan hanya menunjukkan bagaimana turun gunungnya Negara dalam memproyeksikan masa depan warganya. Lebih jauh dan esensial, ia adalah rumusan penting untuk membangun bangsa ini dari bawah, dari desa, dari kebudayaan.

Adalah sebuah kabar gembira bahwa pembangunan yang biasanya lebih dekat dengan perspektif fisik, hari ini dilihat dalam konteks mental. Meskipun ia bukan temuan baru, tetap saja ia perlu diapresiasi. Bagaimana kesejahteraan sosial ternyata (juga) ditilik dalam kerangka immaterial dan Negara tampak serius menggarapnya. Namun, kita semua sepakat bahwa “tampak serius” saja tidaklah cukup.

 

Tujuan  Program

Bila Anda membuka laman daring Kemdikbud akan terbaca secara umum apa yang diinginkan SM: seniman mengajar di daerah untuk mengembangkan kesenian setempat. Bahkan dalam buku panduan yang dibagikan kepada paara seniman terpilih, ada 6 poin yang secara umum memberikan penekanan pada penggalian dan pengembangan (potensi) kesenian, memberikan wawasan kesenian kepada masyarakat setempat, dan membangun jejaring dengan seniman lokal.

Selama 20-30 hari masa penugasan seniman di desa, tujuan-tujuan di atas seperti sebuah utopia, kecuali pemerintah memang menghendaki program ini sekadar terlaksana. Masalah utamanya tentu saja bukan pada tujuan program yang keliru, melainkan parameter keberhasilan yang kurang jelas. Pernyataan Hilmar Farid tentang mengatasi ketimpangan pembangunan mental di atas tidak muncul sedikit pun.

Terbentuknya komunitas kesenian yang spesifik (sesuai dengan bidang keahlian seniman) dan lahirnya karya berumur panjang yang dalam proses penciptaannya melibatkan masyarakat lokal adalah dua hal yang seharusnya dijadikan standar keberhasilan seniman yang berproses kreatif di desa, yang lebih jauh akan menjadi tolok ukur keberhasilan Kemdikbud menjalankan program ini.

 

Informasi Awal

Bagaimana tugas dan kewajiban di atas bisa terlaksana dengan baik, sangat tergantung dengan kecakapan seniman dalam beradaptasi dengan masyarakat setempat sekaligus bersiasat dengan kearifan lokal dan karakter masyarakat setempat. Tentu, kita tidak akan membicarakan penguasaan seniman terhadap bidang kesenian yang ia ampu sebab mereka yang terpilih dianggap sudah selesai dengan urusan yang sangat teknis ini.

Siasat personal dapat memberikan efek sebagaimana diharapkan bila seniman yang bersangkutan memiliki pengetahuan memadai terhadap daerah tempatnya bertugas.  Bekal ini akan sangat membantu seniman untuk memahami sosiologi masyarakatnya. Pemahaman yang ‘cukup’ tentang daerah tujuan bukan hanya membantu seniman untuk menyiapkan (ancang-ancang) bahan ajar, namun yang lebih penting adalah meminimalisasi peluang terjadinya gegar budaya, gesekan psikologis, dan konflik, baik di antara seniman yang ditugaskan di tempat yang sama, maupun antara seniman, masyarakat, dan pemerintah setempat.

Penulis memilih Bengkulu Tengah sebagai wilayah kreatifnya karena penulis memiliki ketertarikan dengan karakter kebudayaan setempat yang plural. Laman daring SM menulis mkalau Panca Mukti dihuni oleh tiga suku—Jawa, Padang, dan Medan. Fakta bahwa Panca Mukti adalah desa dengan komposisi masyarakat yang homogen Jawa— Banyumas, Magelang, Pekalongan, Pati, dan Semarang)—bukan hanya mengejutkan penulis, tapi juga empat seniman yang lain.

Kontradiksi antara bayangan penulis tentang karakter daerah tujuan dengan kenyataan di lapangan tentu berimbas pada mentalnya strategi pendekatan dan bahan ajar yang telah disiapkan sebelumnya, meskipun seniman tentu diharapkan memiliki kelenturan dalam berkarya. Di pekan pertama penugasan kami di Desa Panca Mukti, sudah muncul ketegangan ketika salah satu dari kami melihat wilayah kerjanya adalah kabupaten, bukan desa. Ia menolak menggarap kebudayaan Panca Mukti yang sangat Jawa, dan memilih menggali kebudayaan khas Bengkulu (Tengah) yang melayu. Hal ini, salah satunya, disebabkan tidak tertulisnya kata “desa” sebagai wilayah kreatif seniman dalam buku panduan. Untuk meredam ketegangan, kami akhirnya sepakat untuk tidak bersepakat. Ya, kami sepakat untuk menghormati wilayah garapan tiap seniman. Namun apa yang terjadi? Di pekan ketiga, pihak pemerintah desa Panca Mukti “tidak bisa menerima” apa yang dilakukan seniman yang bersangkutan. Maka, lahirlah ketegangan baru yang sangat kontraproduktif.

Begitu terbatasnya informasi tentang desa Panca Mukti yang ditampilkan Google atau laman daring SM dan Kemampuan bersosialisasi yang kurang adalah pemicu utama terjadinya gagap-adaptasi di atas.

Hal ini membuat penyesuaian menghabiskan waktu yang lebih panjang dari yang diprediksikan sebelumnya. Dalam keadaan seperti ini, bagaimana seniman yang bersangkutan bisa menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dan efektif?

 

Rekomendasi

Berdasarkan kondisi di atas, ada dua rekomendasi terkait Seniman Mengajar yang selayaknya menjadi perhatian Kemdikbud.

Pertama, permasalahan ketelatpahaman di atas seharusnya tidak (perlu) terjadi apabila penyelenggara menurunkan tim verifikasi yang solid di daerah-daerah yang akan menjadi sasaran program ini, khususnya daerah-daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang bukan menjadi prioritas wisata. Di laman resmi SM, hasil verifikasi ini tidak tampak. Sejatinya, laman tersebut tidak hanya menyajikan informasi seputar kontur alam dan kesenian lokal yang berkembang, tapi juga memberikan gambaran tentang kondisi masyarakat setempat dengan akurat. Selain itu, informasi lebih detail dan kaya dari segi lingusitik, kearifan lokal nonkesenian yang berkembang, dan karakter sosial masyarakat, sanggar-sanggar kesenian beserta kondisi mutakhirnya, daftar seniman lokal yang berpengaruh, atau bahkan sejarah singkat daerah, tentu akan sangat membantu seniman.

Kedua, seleksi seharusnya tidak hanya didasarkan pada motivation letter dan riawayat kekaryaan, tapi juga harus mampu menampilkan kemampuan seniman dalam berkomunikasi.


Presentasi

Di pengujung masa tugas kami di Bengkulu Tengah, Ari Dina Krestiawan (Seni Media) membuat video karaoke yang menjadikan warga setempat sebagai model klipnya dan pembuatan media pembelajaran PAUD setempat berupa video stop motion yang bekerjasama dengan Mushowir (Seni Rupa) dan melibatkan guru-guru setempat untuk membuat peralatannya. Mushowir membuat mural dengan tema Bunga Raflesia di MTs Panca Mukti, memfasilitasi pembuatan dan penerbitan komik karya remaja dan pemuda setempat, dan membuat alternatif motif batik Bengkulu.

Jamal Gentayangan (Seni Musik) mewariskan seperangkat musik bambu dengan mengarahkan pengrajin setempat dalam pembuatannya, mengaransmen ulang lagu popular dengan mengolaborasikan band dan hadrah, dan bersama saya (Seni Teater) beliau menciptakan Kilau di Panca Mukti, lagu desa yang sudah diputar di radio setempat dan beredar luas dari ponsel ke ponsel. Di bidang teater, selain saya menulis-terbitkan buku Panca Mukti, Setelah Petang, Komunitas Teater Panca Mukti juga telah menampilkan salah satu fragmen dalam buku tersebut saat peluncuran bukunya di malam presentasi Seniman Mengajar di Balai Desa Panca Mukti bersamaan dengan presentasi karya-karya seniman lainnya (9-9-2017),

Capaian-capaian di atas apakah memang penting ditampilkan atau dipresentasikan di akhir program?

Sebagai bentuk perayaan proses kreatif, tentu saja ia perlu. Masyarakat setempat tentu juga ingin dan berhak mendapat suguhan karya kesenian yang berasal dari desa mereka. Makin menarik sajiannya, makin luas daerah sebaran adrenalin berkesenian; makin banyak masyarakat melihat ada wilayah kegembiraan yang lain, yang tidak melulu materi. Dan bila hal itu tercapai, pembangunan mental itu perlahan-lahan menunjukkan lampu hijaunya.

Namun, presentasi itu tidak bisa menjadi tolok ukur keberhasilan secara keseluruhan.

Daya tahan komunitas kesenian tentu tidak bisa dipresentasikan dalam beberapa jam, karena ia akan dibuktikan oleh proses yang lebih panjang lagi. Karena itulah, seniman dituntut menjalin hubungan harmonis dengan seniman setempat agar dapat memelihara semangat perkumpulan kesenian yang telah diinisiasi. Karya seni yang berumur panjang—seperti video, lagu dan buku—akan memberi pengaruh kebudayaan ketika ia dipergunakan dan dimanfaatkan terus-menerus. Oleh karena itu, siasat untuk memanfaatkan teknologi terkini—Youtube, soundcloud, media sosial, dll.—dan menjalin kerjasama dengan radio setempat, atau mengadvokasi dinas terkait dalam penggandaan materi karya sehingga bisa dinikmati kalangan yang lebih luas adalah semacam “program lanjutan” yang semestinya diinisiasi seniman untuk ditindaklanjuti secara sinergis oleh seniman setempat, perangkat desa, instansi terkait, dan pihak media.

 

Spesifikasi

Spesifikasi tugas dan kewajiban di atas bukan hanya menjadi penting bagi program ini, tapi juga mendesak mengingat kultur berkarya seniman yang kerap menganut prinsip “proses kreatif lebih penting daripada hasil” sebagai dalih atau retorika atas kegagalan dalam menaklukkan medan sosial dan ketergantungan pada mood yang tak pernah terselesaikan. Bagaimanapun, orientasi sebuah kegiatan adalah karya sebab proses kreatif akan dengan sendirinya berjalan dalam ketika berproduksi.

Demikianlah catatan ringkas penulis terhadap SM yang diikutinya. Semoga esai ini tidak terbaca sebagai “Mengajari Ikan Berenang”. Ini adalah bentuk kepedulian penulis agar SM bisa memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan mental masyarakat di pedesaan dengan pendekatan kebudayaan. Catatan ini sekaligus menjadi laporan proses kreatif penulis untuk program Seniman Mengajar 2017 Gelombang II di Desa Panca Mukti, Bengkulu Tengah, yang berlangsung dari tanggal 8 Agustus hingga 12 September 2017.

Semoga berkenan.***

Panca Mukti, 10-9-2017

Salam Hangat,

BA

 

BENNY ARNAS Lahir di Lubuklinggau, 8 Mei 1983. Menggiati sastra, teater, dan dunia pertunjukan. Pada 2016 ia mengikuti residensi budaya Kemdikbud RI di Selandia Baru. Telah menerbitkan 22 buku. Karyanya Cinta Menggerakkan Segala (Republika, 2018) adalah versi novel atas film 212 The Power of Love (Warna Pictures, 2018). Buku terbarunya adalah Berburu Suami (Badan Bahasa, 2018) yang merupakan bunga rampai catatan perjalanannya di Seram Bagian Barat (2018)

 

5 Ketika esai ini ditulis, lagu Kilau Cinta di Panca Mukti (karya Jamal Gentayangan & Benny Arnas) sudah diputar di radio-radio dan tayang di Youtube. Buku naskah lakon “Panca Mukti, Setelah Petang” akan diperbanyak Kantor Perpustakaan & Arsip Daerah Kabupaten Bengkulu Tengah untuk disebarkan ke sekolah-sekolah.

6 Saya masih tak habis pikir, bagaimana bisa program dengan anggaran besar ini tidak mewajibkan para seniman terpilih untuk membuat laporan proses kreatif mereka di lapangan. Bagaiman Kemdikbud tahu kalau para seniman itu ‘bekerja’? Hemat saya, seniman harus membuat laporan dalam format yang dibebaskan, asalkan ia mampu menggambarkan “tugas dan kewajiban” mereka di desa: komunitas apa yang mereka bentuk (dan atau pelihara) dan karya kebudayaan berumur panjang apa yang mereka tinggalkan kepada masyarakat desa? Sebagai kontrol validitas, laporan tersebut mesti diketahui (baca: diperiksa untuk kemudian ditandatangani) oleh kades dan pandu desa yang mendampingi seniman selama bertugas di desa.    

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757