education.art.culture.book&media

Berlian (Tugas BWC #3)

        Di sudut kota tua, yang beralaskan lantai dunia dan beratap langit sang pencipta, berdirilah sesosok gubuk reot tak berdaya yang di huni oleh keluarga kecil. Kenapa ku bilang gubuk, karena tempat itu jauh akan kemewahan. Kisah yang terukir di sudut dinding, menjadi saksi bahwa kebahagian tercipta bukan karena uang melainkan berbincang ria dan melepaskan penat dengan penuh rasa kasih dan sayang.

        Tepatnya, aku dilahirkan pada bulan februari. Dimana, kata orang pada bulan itu banyak rasa kasih dan sayang didalamnya. Wahh, terlalu beruntung aku dilahirkan pada bulan tersebut. Aku ditakdirkan untuk sendirian di dunia ini, tak ada kakak, ayuk, dan adik sekalipun. Kisahku di gubuk reot itu, telah menjadi catatan kecil pada puing-puing gubuk tersebut.

         Rasa kekurangan tak pernah ku temui di cerita bahagia tersebut, hanya saja kisah sedih itu datang ketika kehancuran sudah berada disekeliling ku. Dimana, tak ada yang bisa mengembalikan senyum pada raut sesosok wanita paruh bayah tersebut.

      Dia seakan berubah bak angin yang melahap debu-debu yang berterbangan. Seharusnya, dia bisa mempertahankan agar keluarganya tidak berpisah seperti ini. Karena untuk hal memilih, harus hidup dengan siapa merupakan pilihan terberat yang harus aku hadapin. Terkadang, rasa iri ku datang ketika melihat anak lain bisa merasakan peluk hangat dari seorang ayah. Tetapi, rasanya seperti hal mustahil yang tak kan terwujud.

         Aku selalu mengingat ujaran yang disampaikan oleh ayah, bahwa kasih sayangnya tak akan pernah tergantikan oleh lekangnya waktu. Ku rasa, untuk ujaran tersebut ada makna yang harus digantikan bahwa dia akan meninggalkanku untuk beberapa waktu.

        Sosok beliau, telah menjadi momok menakutkan bagi diriku. Mengapa demikian, karena beliau telah membuat kesan yang begitu dalam dikehidupanku. Rasa sayang terhadap beliau, telah kuganti dengan rasa benci yang semakin lama semakin menambah. Yang kusesali hanya, mengapa aku ditakdirkan untuk memiliki kisah yang sehancur ini.

       Walaupun begitu, ada ibu yang selalu memberiku rasa yang luar biasa berupa kehangatan saat sang lelaki tersebut meninggalkan kami. Dia menjadi dua peran didalam kehidupanku. Dia mencari nafkah untuk menghidupkanku, walaupun terik matahari tetap ia lalui demi memberi kehidupan pada anak satu-satunya.

           Saat itu, aku belum bisa apa-apa hanya didalam hati berkata bahwa kelak jika aku dewasa nanti, aku berjanji akan memberikan kebahagian kepada ibu. Agar lelaki tersebut dapat melihat jika kami dapat hidup tanpa adanya beliau. Bu, keringatmu bak batu baja yang sangat susah untuk dimusnakan. Semangat juang mu yang begitu tinggi membuatku beruntung telah memiliki ibu seperti dirimu. Tempatku mengadu hanya pada dirimu bu, tangisku telah kusandarkan pada tubuh tuamu bu.

          Ada yang membuatku begitu hancur ketika kebersamaan harus berakhir dengan perpisahan. Entah apa, yang membuat keluarga kecilku seolah menghilang ditelan bumi. Kehangatan yang kudapatkan telah berakhir di bulan kelahiranku sendiri. Tangan hangat dari dia, sosok lelaki yang sampai dengan detik ini begitu kurindukan. Rasanya sebuah mimpi jika tangan hangat tersebut dapat kutemui kembali di kisah hidupku.

          Ada sebuah cerita saat aku duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya saat sang guru menyuruh muridnya untuk membawa sang ayah agar dapat menonton pertunjukkan yang ditampilkan oleh para murid disana. Kalian tak tahu,begitu hancur diriku melihat genggaman erat sang ayah yang memegang tangan anak-anaknya. Sedangkan aku hanya seorang diri, tanpa seorang ayah.

       Aku hanya ingin melihat beliau, berdiri disampingnya dengan canda tawa yang dahulu sering kurasakan bersamanya. Tapi semua itu hanya sebuah mimpi yang tak akan mungkin menjadi sebuah kenyataan. Kurasa, dia telah memiliki kebahagian yang jauh lebih indah dibandingkan tetap bertahan bersama ku dan ibu.

       Yang kusesali adalah, mengapa harus ada rasa rindu terhadap beliau jika tak kunjung temu yang kudapatkan. Hanya sebuah tangisan yang tiap hari ku lakukan, saat rindu itu menjelma dikehidupanku. Kalian tak tahu, betapa rapuhnya diriku akan hal ini. Dia pernah menjadi nafas terbaikku, dia ajarkan ku menjadi orang yang terbaik tetapi mengapa dia dengan teganya meninggalkanku di saatku kehilangan arah seperti ini. Maaf jika ku membencimu, tapi inilah yang kurasakan saat ini.

        Dengan kejadian ini, membuat ku terpuruk dan hancur. Perpisahan tersebut membuat ku ingin mengakhiri perjalanan hidupku. Menangis dan menyesali keadaan yang ada telah menjadi kebiasaanku pada saat itu. Mungkin diriku bodoh, tetapi taukah kalian bahwa lebih baik jika sama sekali tidak dikenalkan dengan seorang ayah daripada akhirnya beliau harus dengan teganya meninggalkan diriku dan ibu yang sangat menyayangi beliau.

             Perpisahan tersebut sudah kulalui hingga sekarang. Aku sudah meranjak dewasa, dan keriput wajah dari surga kehidupanku sudah tak muda lagi. Beliau yang menjadi penopang hidupku sampai saat ini. Untuk mengingat kejadian dahulu membuatku tak ingin mendengar kata itu. Entah mengapa, karena mungkin rasa benci lebih besar daripada rasa sayangku. Kehancuran diriku dibuat karenanya jadi jangan pernah salahkan aku jika dia tak ada lagi dipikiran ku hingga sampai kapanpun.

           Bu, semua lelahmu menjadi lilah untuk anakmu. Rasanya begitu malu jika aku hanya menadakan tangan kepadamu, tanpa memberikan sesuatu padamu bu. Kau pelangi yang memberikan penerang disetiap langkahku. Kau surga yang tuhan titipkan kepadaku, untuk kujaga dihari tua nanti. Senyummu membuatku kuat bu, untuk melewati jalan yang nantinya akan berliku.

        Akan ku buktikan bahwa, walaupun memiliki satu orang tua diriku mampu membahagiakan mu bu. Tetaplah menjadi penyemangat hidupku yang tak pernah bosan untuk menasehatiku jika aku salah dan mencarikan solusi untuk menyelesaikan permasalahanku.

          Tetap jadi orang yang memotivasiku untuk tetap berjuang kedepannya, karena kebahagian mu berada ditangan ku bu. Kuingin dimasa tuamu, aku lah yang akan terus berada disampingmu. Begitu besar rasa sayangku padamu bu, karena hanya dirimu lah yang menjadi tempatku bersandar ketika sang lelaki itu pergi meninggalkan kita.

           Untuk sosok lelaki yang dengan setianya berada disampingku, tempat kedua ku untuk menceritkan keluh kesahku. Dia merupakan orang yang paling sederhana yang pernah ku kenal. Banyak cerita yang telah aku dan dia lalui. Dia memberikan rasa tentang sosok ayah yang selama ini aku rindukan. Kedewasaannya mampu membimbingku untuk menjadi seorang gadis yang berkomitmen dan harus melangkah maju demi cita-cita yang akan kuraih nantinya.

             Banyak hal, yang tak bisa ku ungkapkan dari sosok dirinya. Dia menjadi motivasi kedua ku untuk mencapai kesuksesan. Banyak orang mengatakan jika kami berdua mirip, dan berdoa kelak nantinya kami akan berjodoh. Dia selalu memberikan hal-hal yang tak terduga yang membuatku tak ingin jauh dari dirinya. Terima kasih telah berada disampingku sampai detik ini.

         Kisah hidupku sudah sepenuhnya dia ketahui, hingga dia ingin aku tidak merasakan kesedihan lagi melainkan setiap saat ada hal bahagia yang dibuat olehnya. Bukan hanya sekedar kekasih, dia juga bisa menjadi seorang sahabat hanya untuk mendengarkan keluh kesahku. Dia memiliki orang tua yang begitu baik. Terasa nyaman jika aku berada diantara mereka. Kedekatan ku dengan orang tuanya, karena aku telah menganggap bahwa mereka telah menjadi orang tuaku juga.

             Dari kedua motivasi tadi, diriku tetap berjuang untuk kedepan. Walaupun, akan sangat banyak rintangan yang harus aku lalui tetapi buka sebuah permasalahan yang besar bagi diriku. Karena mereka berdua telah mengajarkan ku jika keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Tetapi keberhasilan itu datang karena kita yang menjemputnya. Melangkah maju kedepan untuk melewati anak tangga yang sangat banyak dan menunggu keberhasilan tersebut akan berpihak pada diriku.

            Ini merupakan tujuan akhir dari hidupku. Bisa membelikan rumah yang layak untuk ibuku. Walaupun tidak akan cukup untuk menggantikan semua pengorbanan yang telah dia berikan kepada diriku, tetapi setidaknya membuat dirinya bangga karena memiliki anak yang bisa mencapai kesusksesan tanpa memiliki seorang ayah di kehidupannya.

              Rumah tersebut, sangat beda jauh dari gubuk reot yang kutempati saat ku masih kecil. Karena bagiku kebahagian ibu merupakan kebahagian ku juga yang harus selalu ku berikan kepada beliau.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757