education.art.culture.book&media

CASSANOVA

Dulu saya punya teman pria yang sangat tampan, macho, cerdas, lumayan tajir, humble, dan seabrek kelebihan lainnya yang buat saya terkaget-kaget. Suatu kali di-siang yang cukup terik, saat melintasi sebuah jalan yang sepi, tak sengaja pandangan kami menangkap seorang kakek berjalan sendiri dengan jalan terseok-seok. Dia segera memutar kendaraanya dan menepi. Kulihat dia dari spion sedang membujuk kakek itu untuk naik, dengan luwesnya dia merangkul kakek dan senyumnya mengembang. Tuhan makhluk jenis apakah dia? Begitu sulit untuk mengingkari bahwa dia begitu memesona!

Setelah diberi minum dan ditanya-tanya ‘mau ke-mana si kakek ini?’ Kami cukup lama terdiam setelah mendengar jawabannya. Kakek itu menangis tersedu-sedu sementara kami di depan juga hampir ikut-ikutan menangis. Kami mengajaknya makan sebelum mengantarnya pulang, makhluk rupawan di sebelahku menatapnya lekat. Kami berpandangan dengan bingung saat melihat gaya kakek ini makan.

Dengan saputanganya yang wangi, ‘aih langka sekali sekarang menemukan pria membawa sapu-tangan’, dia mengelap penuh kasih wajah kakek yang bergelimangan bubur.

Petugas menyambut kami dengan ramah dan menyatakan kakek itu adalah satu dari banyak penghuni panti yang terganggu ingatanya. Ia suka pergi sendiri. Yah, memang kebanyakan orang-tua yang terbuang, seperti itu keadaanya. “Entah apa yang diperbuatnya sewaktu muda dulu hingga anaknya tega menelantarkanya” komentar petugas itu.

Tanpa disadari, ternyata kami cukup lama menemaninya. Namun, sebenarnya saya tidak ingin berlama-lama di-sina tapi tidak denganya. Dia berkeliling dari satu bangsal kebangsal lainya, aroma yang tak enak menguar di-mana-mana.

“Kalau ada waktu luang, saya mau jadi sukarelawan di sini!” ungkapnya.

“Kamu ga jijik?” pertanyaan yang seharusnya tak perlu kutanyakan terlontar begitu saja saat mendapati seorang nenek yang buang air di tempat tidurnya.

“Tentu tidak! Di tempat seperti inilah semua doa dikabulkan!” ujarnya sambil tersenyum.

“Benarkah itu?”

“Buktikanlah sendiri!” lanjutnya.

Dia pria luar biasa. Sangat luar biasa. Sayangnya dia tidak pernah bisa menyukai wanita. Dia tak tahu kalau saat itu doa yang kuucapkan adalah “semoga dia bisa sembuh atau paling tidak cukuplah aku satu-satunya wanita beruntung yang bisa dicintainya, meskipun sedikit.”

Apa boleh Tuhan, doaku yang satu ini dikabulkan…?

Aku ingin membuktikan ucapanya waktu itu bahwa di sina semua doa akan dikabulkan.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 3783