education.art.culture.book&media

Kasih Setia Mentari (Tugas BWC #3)

Cahaya mentari kala menyapa pagi, membayangkanku sosok sahabat yang tertanam dalam benak ini. Entah energi apa yang ia pakai dikala pagi hingga bak alarm pagi hari membangkitkanku untuk tak bermimpi membayangkan kamu lagi(tersenyum tipis kala ku menatap mentari pagi hari). Di kala waktu SMA/SMK aku dan dia berjumpa satu forum latihan senam massal, yaitu dalam rangka PORPROV X Sumsel 2015 sejak itu kami melempar sapaan “Hai” tanpa anti senyuman, sebelum kegiatan tersebut kami udah saling mengenal nama di kala rangka natal okumene FKPAG di Bagas Raya dan saat itu aku mengikuti choir begitupun dia, namun dia mendapat bagian yang lain sebagai drama ilustrasi lilin. Seiringnya waktu lambat-laun kami berbagi kontak whatsapp sebagai tiang untuk semakin kokoh kehangatan kami, bertambahnya celotehan berbagai pengalaman di lontarkan sehingga zona nayman antar kami raih sejak itu, bahwa tidak cukup sebatas acara-acara tersebu sajat bertatap muka . waktu semakin berputar menunjukkan bahwa kami udah tamat SMA, dikala waktu itu kehangatan ini mulai memuncak menjadi kasih, apalagi ketepatan menjelang waktu hari natal dan tahun baru berikutnya Desember 2016 menjelang Tahun Baru 2017 kami ucap janji, berbincang “Hei, jangan lupa ya datang kerumah ku waktu tahun baru” kata kami berdua saling melemparkan ajakan, semakin hari semakin hangat pertemuan kami ini sehingga berubah menjadi persahabatan . Waktu ku dan dia itu waktu yang paling berkesan penuh cerita maupun tindakan, walau sekejap saja yang terhalang tembok jarak dan waktu berselisih, dia menempuh pendidikan di UNSRI Kota Palembang jurusan Hukum sedangkan aku menempuh pendidikan di STKIP-PGRI Lubuklinggau jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, kesempatan yang berharga bahkan tidak pernah kami lewatkan kala libur masa kuliah.
Sosok yang begitu banyak bagi nilai kehidupan baru bagiku mengenal kembali kertas putih persahabatan seiman ialah Dia, yang dikala sahabat-sahabat ku semasa kecil udah pergi jauh ke kota sana dan sangat sulit kembali ke kota ini hanya sebatas komunikasi via telepon masih gagah kami lakukan. Sosok sahabat ku ini bernama lengkap Shanca Nababan dipanggil Shanca yang mempunyai tinggi badan 168cm seperti polwan yang menawan walau bukan yang menjadi jalannya. Shanca ini lahir di kota Lubuklinggau, 01 November 1998 anak perempuan ke-4 dari pasangan ibu panjaitan dan bapak nababan ini berusia 20tahun, wajahnya yang cantik lewat parasnya rupawan dengan postur tubuh layaknya model, sahabat yang menjadi saudara kasih lewat pelayanan nya di gereja tak henti ku mengucap syukur, sahabat yang mengingatkan ku, dikala sedih cerita semua dalam “Doa” kepada Tuhan Yesus jangan berhenti ungkapkan segalanya sampai Roh Kudus Tuhan turun kedalam hatimu dan hadir sebagai penghibur memberi pembaharuan, yang mempunyai rambut panjang seperti gadis dewasa walau kadangkala kembali kanak-kanak, dengan kebiasaan nya terus merawat dirinya sendiri saat mencatok rambut, setiap kali ingin pergi kemanapun saat berkendaraan roda dua pasti tak lupa mencatok rambut dan di selang waktu malam memakai masker, jikalau sudah memakai dan hasilnya mantap banget, siap-siap ada pesan video atau foto hadir di ponsel ku “eh nang ini recommended banget loh maskernya, pakai lah nang” kata-kata itu terus di lemparkan, panggilan nang itu ciri khas orang batak menunjukkan kasih sayang terhadap sesama saudaranya, kebiasaanya tak pernah hilang, dikala kami jalan-jalan tak kan henti mampir ke warung bakso dan model selalu di ajaknya memakan bakso maupun model “Tambah kuah lagi mang” kata diucapkan untuk si penjual bakso atau model tersebut, cabai rawit yang tiada lupa. Di senggang waktu di kediaman rumah teman lainnya lantunan suara merdu lewat petikan gitar mulai hadir bahwa itu salah satu hobi shanca ditambah mendengar musik yang genre batak tak segan di kreasikan dalam tarian, sebab itu bagian hobi nya sampai membawaku ke zona nyamanny.
Sebelum ku mengenal lebih dekat dengan si Shanca Nababan, telah meraih prestasi yang diikutinya dalam hobinya ada yang nyangkut, sering bercerita dan berbagi pengalaman padaku.
Olimpiade Geografi tahun 2013
Juara 1 lomba menari tahun 2013
Juara 2 lomba basket tahun 2014
Purna Paskibra Indonesia tahun 2014
Sosok Sahabat seperti dia terhalang tembok jarakdan waktu sulit terlampaui. Namun persahabatan kami tak pernah pupus bahkan tak pernah kecil di darmaga kami, walau kami ini pernah mendapat konflik kecil, sekasatmata selesai. Sahabat sejati itu tak hanya mengenal sisi baiknya saja, namun sisi buruk menjadi tiang agar bisa saling melengkapi dan menutupi untuk erat genggaman antar sahabat.

Comments
Loading...