education.art.culture.book&media

Kelopak Api

Bertahun-tahun yang lalu sebelum dia menjadi kelopak mata, dia adalah kawanku yang aku lupa namanya secara tiba-tiba. Pagi itu seorang remaja muram yang tumbuh sedih di kota kami sedang duduk gelisah di dekat parit sekolah kami. Kulihat dari caranya berjalan dan menatap, pastilah ia salah satu orang-orang yang tinggal di pinggiran rel kereta yang baru saja tertimpa penggusuran itu. Mereka memang orang khas yang memiliki bau yang khas pula. Konon, mereka datang dari desa yang sangat jauh dan memutuskan membangun kerajaan di pinggir-pinggir kota, mata, atau apapun sehingga memaksa sebagian orang memandang mereka sebelah mata. Tetapi baru-baru ini mereka harus mengungsi di pinggiran yang lain untuk tetap berada di kota kami.

Setelah cukup lama duduk sendirian, dia sudah berdiri saja di dekatku sambil mendengkus-dengkus, itu ia lakukan karena tidak tahan dengan bau pesing yang menguar dari parit di sebelahnya. Rupannya parit itu sering dijadikan WC dadakan siswa-siswa tengik di sekolah baru kami. Beberapa anak memang pernah tertangkap basah sedang kencing di parit yang alirannya sampai ke selokan luar sekolah, lalu berakhir ke kolam. Mereka berpendapat, buang air di parit itu lebih bisa dipercaya ke mana tujuan alirannya ketimbang WC sekolah yang sering mampet dan menguarkan bau busuk tak terkira.

Aku menatap anak itu. Dengan penuh wibawa, karena seperti itulah bapakku biasa lakukan jika bertemu orang asing, aku menyodorkan tanganku mengajaknya berkenalan.

“Aku Laru. Kau?”

Agak lama, ia kemudian menyebutkan namanya yang terdengar seperti nama salah satu jenis tumbuhan yang tumbuh di lautan. Bedanya dia berkulit hitam arang dan berbau apek sementara setahuku, lautan begitu biru dan harumnya khas. Jadi karena itulah aku putuskan memanggil namanya Api. Sebab matanya menyala-nyala seperti bunga api di malam tahun baru, ketika langit malam teramat gelap.

Hari-hari berikutnya, aku justru terus bersama dengan temanku yang bau apek itu. Kami seringkali saling berbagi apa saja yang menyenangkan bagi kami. Aku suka memperdengarkan lagu-lagu kesayanganku. Jika aku menyukai Gombloh, The Beattles, Kate Bush dan sebagainya ia akan menyukainya juga walau aku tahu dia suka menaikkan alis tiap mendengarkannya.

“Ini tentang apa?” tanyanya padaku ketika mendengar lagu Heathcliff-nya Kate Bush. Ia juga heran melihatku menyanyi dan menari-nari sambil menyeringai seperti video clip lagu itu. Karena tak tahan pada ekspresinya, secara serampangan—sebab aku pun tak tahu artinya apa—aku berkata kalau lagu itu tentang hantu yang ingin masuk ke rumah tetapi terkunci dari luar.

“Apakah seperti saat Ibuku mengunci Bapakku?” tanyanya kemudian. Dari situ aku tahu bapaknya adalah seorang pemabuk berat yang miskin. Ia sekarang tinggal di pinggiran sungai. Dan  peristiwa penggusuran itu membuatnya berpikir banyak-banyak. Entah apa.

Api kerap menceritakan tentang hantu di langit-langit rumahnya. Berbeda denganku, Api memang suka sekali berbagi cerita dan teka-teki dengan mata menyala seperti nama pemberianku padanya. Jika Api menceritakan padaku cerita kerajaan laut, aku akan mendengarkan dengan antusias seolah-olah yang ia ceritakan itu adalah bocoran soal ulangan yang sulitnya ampun-ampunan itu. Padahal contoh soal di buku teksnya saja tidak sesulit itu. Kalau sudah begitu, Api akan diledek oleh kawan-kawan kami yang lain. Bahkan, Maya, teman perempuan kami akan menertawai Api keras-keras tatkala Api mulai berceloteh tentang kerajaan bawah tanah. Terang saja Api merasa terhina tetapi ia hanya bungkam seribu bahasa, sebab aku tahu dia naksir Maya yang rambutnya berketombe itu.

Dan ketika Api mulai mengajakku bermain teka-teki, aku akan menjawabnya lebih serius lagi karena teka-teki Api sungguh lugu dan menyenangkan. Pernah suatu kali ia bertanya padaku tentang apa yang bisa membuat sesuatu itu tiba-tiba gelap dan tiba-tiba terang. Sekonyong-konyong aku menjawab saklar lampu. Mendengar itu, Api tersenyum bangga tanda jawabanku salah sama sekali.

“Lalu apa?” tanyaku penasaran.

“Tutup matamu, dan buka.” kata Api memerintah. Aku langsung menurut. Dan aku langsung sadar apa maksudnya.

“Zaman dahulu orang-orang menggunakan kelopak mata untuk simbol keberadaan. Apakah kau tahu kalau hantu tak punya kelopak mata?”

“Aku tidak tahu sama sekali hal itu.” kulihat Api tersenyum lagi. Ia selalu begitu kalau aku tak mengetahui apa-apa.

“Kalau besar nanti, aku akan memimpin kerajaan danau. Lalu aku akan membelikan bapakku rumah agar ia tak perlu dikunci dari luar lagi.” ujarnya lagi.

“Mengapa tak kau beli saja bir biar bapakmu minum di dalam rumah?” usulku kemudian. Aku kira ideku lebih visioner ketimbang memberikan rumah baru yang akan membuat bapak dan ibunya pisah ranjang. Ideku langsung tepat sasaran dan mengakhiri masalah. Dia terlihat berpikir, aku meneruskan joget-joget. Hari ini aku sedang mencoba mendengarkan lagu dangdut.

“Kalau sudah mabuk, bapakku akan mengamuk seperti babi gila.”

“Kalau begitu, kau harus membuatkan kamar khusus untuk bapakmu minum-minum sampai mabuk.”

Mendengar itu, dia tampak senang. Lalu menepuk-nepuk pundakku dengan keras. Api memang sayang pada bapaknya. Tapi mendadak ia akan menangis kalau bapak dan ibunya bertengkar hebat dan lama, kemudian semua itu berujung pada pipi ibunya yang merah muda berubah menjadi kebiruan. Pernah suatu pagi, aku lihat ia datang ke sekolah dengan sudut bibir yang luka. Sewaktu kutanya mengapa, dengan jujur ia berkata itu bekas tamparan bapaknya. Semenjak itu Api benar-benar serius dengan impiannya. Ia betulan ingin membuatkan kamar khusus untuk bapaknya kelak.

Berhari-hari kami bersama. Api semakin seru menceritakan apa-apa saja. Dan teman-teman kami pun semakin seru menertawainya. Pun ketika Api bercita-cita ingin menjadi raja di kerajaannya—yang boleh jadi kita samakan dengan Gubernur atau Presiden—mereka masih tetap menertawainya. Aku pun agak ragu dengan Api. Dia memang pandai, tetapi banyak pula yang lebih pandai dari dirinya.

Dan aku semakin ragu ketika kudengar Api harus terlunta-lunta lagi. Kali ini ia harus mengungsi ke suatu tempat sebab rumah barunya sudah digusur lagi. Petugas berkata kalau sisi sungai akan dibersihkan dari pemukiman demi keindahan kota. Orang-orang itu tak bisa berbuat banyak selain melakukan apapun yang bisa mereka lakukan. Para perempuan menangis dan memilih bertahan di dalam rumah sampai mereka diseret-seret petugas. Yang lelaki melakukan bentrok dan pergulatan antara manusia berbaju kumal dan manusia berseragam pun tak bisa dielakkan.

Dan sejak itu, dia tidak pernah datang ke sekolah.

Setelah Api pergi tanpa kabar berita, aku menghabiskan masa mudaku dengan biasa-biasa saja tanpa cerita-cerita dari Api yang memang mengada-ada tetapi lebih berkelas jika dibandingkan obrolan porno teman-temanku yang lain. Bukannya aku tak berusaha mencari dia, aku sudah pergi ke pinggir danau, ke pinggir sungai, ke pinggir rel kereta api, pinggir hutan. Tapi aku tak juga menemukan dirinya. Pun sampai sebesar seperti sekarang ini, aku masih sering menyempatkan diri untuk mampir ke warung kopi di sekitar tempat dulu Api pernah menetap dan tinggal begitu riang di pinggir-pinggir sungai.

“Nenek, kenalkah nenek pada anak yang legam kulitnya?” tanyaku lamat-lamat setelah mendapati kenyataan kalau nenek itu ibu yang pernah berjualan di warung ini juga, yang pernah aku dan Api sambangi sambil memakan kacang rebus. “Yang selalu mengajakmu bermain tebak-tebakan?” tanyanya lagi, terbatuk-batuk.

Nenek itu masih menduga-duga. Aku pun bertanya pada seorang bapak berbaju kumal tengah menghembuskan asap rokoknya sambil membaca koran dengan headline berjudul ‘Penggusuran Dusun Waru Bentrok’ tentang keberadaan pemuda bernama Api. Celakanya, Api bukanlah Api. Maksudku, Api punya nama, dan aku lupa namanya. Jadi aku tidak punya cara mencari Api.

**

Aku sudah bilang kalau di kota kami penggusuran sering terjadi. Aku duduk menatap benda bernama televisi, menyaksikan seorang lelaki berkulit gelap tengah memberi pidato di alun-alun kota kami. Dia berbicara mengenai penggusuran yang akan ia lakukan dan mengingatkan kepada kami untuk segera pindah dari tanah milik pemerintah itu. Cara bicara dan menatapnya teramat khas sehingga aku ingat benar kalau kami pernah bertemu.

Api pernah berkata perihal apa yang bisa membuat suatu hal berubah menjadi gelap dan terang seketika. Kami terus membicarakan dongeng-dongeng dulu bahwasanya kelopak adalah tanda keberadaan suatu makhluk. Kelopak bunga, kelopak bumi, kelopak mata, dan sebagainya. Dan kini aku ingat sekarang, lelaki berpakaian rapi yang berbicara di televisi itu bernama serupa nama salah satu tumbuhan di lautan.

Dia adalah Api. Rupanya dia telah menjadi kelopak di kota kami. Dan setelah penggusuran besar-besaran itu, dia benar-benar telah menjadi penentu akan menjadi gelap atau terang kota ini. []

 

(Tugas Kelas Menulis Daring FLP Jambi)

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757