education.art.culture.book&media

Raja Sebiduk

Putri ini lahir dari rahim ratu kerajaan Sebiduk. Putri ini lahir tepat pada saat kerajaan lagi memenangkan perang yang terbesar pada tahun ini, prajurit kerajaan menamainya perang koyong. Entah karena apa para prajurit menamainya koyong. Sang raja pun tak mengubris arti nama itu dan tak penting pula mencari asal usul nama perang, yang terpenting baginya sekarang perang ini harus menang dan saya harus kembali ke kerajaan dengan menggendong anak saya. Karena salah satu hal dalam hidup saya amat tunggu adalah menyaksikan dan mendengarkan tangis pertama anak saya.

Sang raja Sebiduk dan para prajuritnya berangkat dengan bara api yang menyala-nyala dan dengan gonggongan yang menyalak-nyalak seperti mencium darah yang benar-benar segar. Mereka melewati barisan panjang penduduk kerajaan sebiduk. Sesuai tradisi ketika sang raja pergi untuk perang penduduk kerajaan wajib menyuguhi para prajurit kopi yang sudah dijompa-jampi oleh dukun, sebagai isyarat kelak ketika salah satu prajurit gugur dimedan perang arwah/ruh tahu jalan pulang menuju kerajaan.

Barisan penduduk sudah semakin menggecil, sang raja memimpin barikade dari belakang. Mengatur barikade dengan penuh perhitungan dan rasa was-was yang teramat. Mungkin dalam kepala ada penyataan bagaimana jika pasukan saya tiba-tiba diserang ketika hendak menuju peperangan, bagaimana jika jalan yang kami lalaui ini sudah dipasang ranjau oleh musuh. Hal-hal seperti itu yang membuat raja sebiduk amat was-was.

Setengah perjalanan menuju peperangan para prajurit masih semangat, perasaan was-wasnya tak pernah hilang. Masih sama waktu berangkat berperang. Namun dalam perjalanan itu ajudan raja mulutnya mulai gatal ingin bertanya kepada raja. Dengan rasa hormat dan kehati-hatiaan supaya raja tak tersinggung dengan pertanyaannya maka ajudan pun bertanya.

“Raja, kenapa raja berada dibarisan paling belakang?, mohon maaf raja jika pertanyaan saya tak sopan masuk ke telinga raja”. Ucap ajudan dengan terbata-bata karena takut menyinggung hati raja.

“Alasan saya berada pada barisan paling belakang yaitu satu bulan yang lalu datang seorang pengembara tak tahu jelas dari mana sebab ia seorang pengembara. Ia memperkenalkan namanya sebagai tukang ngebudi. Saya tak pernah bertanya apa-apa tentang pengembaraannya ia sendiri yang berkicau tentang pengembaraannya mengasikkan itu. Ia bercerita tentang apa saja, tentang gajah menjadi raja, bajak laut bernama Mada. Lalu ketika burung-burung lebih berisik dari kicauanya, tukang ngebudi itu memberi petuah kepada saya, ia bilang jika raja ingin menang dalam pertempuran raja harus berada dibarisan paling belakang. Lalu saya terapkan petuah tukang ngebudi yang bercerita tentang gajah menjadi raja dan tentang bajak laut bernama mada.” Jawab raja dengan senang hati.

Merasa ada yang kurang  raja pun menyambung jawabannya. “Lalu tukang ngebudi itu menjelaskan bahwasannya ia mengamati segerombolan serigala di kutub, ketika serigala bergerombolan raja/ketua berada di belakang dan tukang ngebudi berasumsi kenapa segerombolan serigala bisa hidup semua tanpa adanya yang gugur karena pemimpinya berada di belakan barisan.” Ucap raja.

Ajudan pun mengangguk-angguk menandakan paham dengan jawaban raja.

Singkat cerita pasukan Sebiduk sudah sampai dimedan pertempuran pada petang ketika raja siang menenggelamkan diri kecakrawala. Melihat musuh diseberang sana sedang beristirahat, raja Sebiduk pun mengirim utusan untuk keseberang memberi surat bahwasannya perang akan dimulai ketika kedua kubu siap untuk berperang. Ketika utusan kembali jawaban musuh yakni perang akan dimulai pada saat raja siang mengusir gelap. Raja Sebiduk pun menyuruh utusannya untuk untuk mengibarkan bendera berwarna hijau menandakan setuju.

Melalui ajudan raja menyuruh para prajurit menenggakkan tenda untuk menyiapkan energy perang besok pagi. Siapkan 20 prajurit untuk berjaga malam disekitar tenda, siapa tahu musuh diam-diam menyerang. Sebagaimana prajurit perintah pun dilaksanakan begitu cepat dan rapih. Raja siang pun benar-benar tenggelam ke cakrawala, terang berganti gelap.

Disinari api unggun di tengah pertendaan, para prajurit tertawa riang, ada yang membakar daging bekal dari kerajaan tadi, ada yang saling berbagi cerita, ada pula prajurit tidur di dalam tenda menyiapkan tenaga untuk besok pagi. Semua berbahagia seperti esok adalah hari kematiannya.

Lalu di dalam tenda raja ada ajudan sengaja disuruh ke tenda untuk membicarakan strategi perang untuk besok pagi. Di meja yang sudah dilengkapi replica dan atribu-atribut peperangan kecil. Raja mengusulkan pasukan pedang di garda depan,  lalu di tengah pasukan berkuda, dan pasukan panah di akhir barisan. Lalu tiba-tiba ajudan bertanya.

“Saya setuju dengan raja, tapi formasi apa untuk menyerang musuh?” Tanya ajudan

“Hmm… bagaimana dengan formasi anak panah?, pasukan pedang dan pasukan berkuda membentuk posisi seperti anak panah, lalu pemanah membentuk formasi setengah lingkaran di belakang barisan?.” Tanya raja

“Baiklah raja, saya mendapati informasi bahwasannya pasukan musuh lebih sedikit dari pasukan kita, dengan formasi anak panah ini kemungkinan pasukan kita akan menang telak.” Jawab ajudan dengan penuh semangat.

“Baguslah kalau begitu, kita tutup perbincangan ini. Terimakasih” Seru raja

“Baiklah raja” Ucap ajudan.

Embun pagi mulai turun dan mengambang diatas pohon-pohon dan rumput liar, kicau burung mulai riang, tupai-tupai melompat-lompat ke dahan pohon dengan penuh semangat. Raja siang lambat laun mulai menapaki anak-anak langit. Lalu dua kubu sudah siap saling serang, kuda-kuda sudah tegap berdiri, pedang dan perisai mengkilap terkena cahaya matahari, dan anak panah bedesakkan di tas punggung pemanah. Di tengah-tengah arena perperangan ada seekor anak tupai lugu sedang memakan biji-bijian, tupai memandang bingung ke arah kiri kanannya merasa heran kenapa ramai sekali pagi ini, apa yang mereka lakukan pada pagi buta ini. Merasa tak menemukan jawabannya tupai pun berlari mencari pohon untuk mencari sarapan paginya.

Perang pun dimulai tepat saat tupai kecil berlari ke pohon. Pasukan pedang raja sebiduk sesuasi instruksi membentuk ujung anak panah, lalu disusul oleh pasukan berkuda membentuk barisan lebar lurus mengikuti di belakang pasukan pedang. Pasukan musuh pun tak mau kalah, pasukannya mulai membentuk formasi bertahan, pasukan pertama diisi oleh pasukan pedang dan dieingkapi perisai. Lalu di belakangnya pasukan pemanah. Perang pun pecah mulai ada darah jatuh di tanah, mulai ada pasukan terbaring di tanah, kuda-kuda berlari lari tak terarah karena penunggangnya jatuh tertancam anak panah.

Tak mau kalah dari para prajuritnya raja sebiduk pun ke arena perang dengan menunggangi kuda dari pulau seberang. Tangan kanannya digenggam pedang dengan mantap, lalu di tangan kirinya tombak yang siap menancap ke tubuh musuh. Kudanya melaju dengan hati-hati, dipunggung kuda raja sibuk menyibak pedang tajamnya ke arah musuh. Tombak tajamnya ia lemparkan kearah musuh yang mau memanahnya.

Melihat raja sebiduk sudah turun ke arena perang, raja Muara pun mengambil panah beserta anak panahnya, mulai membidik raja sebiduk. Anak panah pertama pun lepas tapi meleset mengenai pasukannya sendiri. Ia ambil lagi anak panah untuk kedua kalinya membidik raja Sebiduk dengan konsentrasi penuh. Anak panah kedua pun melaju dengan begitu kencang dan tajam. Raja Sebiduk terjatuh dari kudanya karena ulah anak panah raja Muara tepat di dadanya. Melihat rajanya terjatuh dari kuda ajudan dengan sepontan berusaha melingdungi raja dari serangan musuh, namun apa hendak dikata anak panah raja Muara tepat menusuk jantung raja Sebiduk. Ajudannya memberi intruksi untuk mundur, dengan semangat yang tersisa ajudan membopong rajanya kembali ke tenda. Kerajaan Sebiduk di kalah telak oleh raja Muara. Entah ajimat apa yang digunakan oleh raja Muara sehingga anak panahnya tepat mengenai jantung raja Sebiduk.

Di kerajaan Sebiduk ratu berhasil melahirkan anak perempuan, tangisnya pecah diluasnya kerajaan Sebiduk, sayangnya tangis anaknya pecah tanpa disaksikan oleh bapaknya. Dukun kerajaan pun tiba menangis mengetahui arwah/ruh raja Sebiduk ada di depannya.

 

 

Biodata Penulis

Ardi Hamonangan Siregar, lahir di Lubuklinggau pada bulan November tahun 2000. Saat ini sedang menyelesaikan studinya di jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas.

 

Sumber Gambar: https://pin.it/3IwF8Gv

 

 

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 3783