education.art.culture.book&media

Terimakasih Ibu

Aku terlahir dari seorang wanita yang mulia bernama ibu. Seorang wanita yang kukenal sebagai sosok yang kuat, sabar, tabah, dan wanita kuanggap sebagai penyejuk kehidupanku. Setiap hari ibuku bangun petang untuk menyiapkan sarapan pagiku, setelah solat subuh ibuku pergi kekebun untuk membantu bapakku yang seorang petani karet. Iya, bapak dan ibuku hanyalah seorang petani karet dengan penghasilan yang cukup untuk membiayai sekolah kedua anaknya.
Ibuku tidak pernah mengeluh betapa capeknya ia setiap hari harus pergi kekebun dari subuh hingga siang hari. Walaupun terik panas matahari yang selalu menyengat ibuku selalu semangat itu semua ia lakukan hanya demi anak-anaknya bisa sukses dan tidak mengikuti jejak mereka sebagai petani. Ya, mungkin ibuku berbeda dengan ibu-ibu diluar sana yang hanya mengurus rumah. Tetapi ibuku lebih memilih untuk berkebun dan bisa melihat anaknya sukses dikemudian hari.
Ibuku pernah berkata “hidup ini butuh perjuangan nak. Peluh dan ketabahan kita setiap detik akan selalu dihargai oleh allah. Dan ibu yakin suatu saat perjuangan keras kita ini akan mendapatkan balasan yang setimpal atau malah lebih. Namun, apapun keadaannya kita harus selalu bersyukur dengan apa yang diberikan oleh allah. Dan ingat, ibu selalu tulus melakukan semua ini untuk anak-anak ibu”.
Ya tuhan! Begitu bijak perkataan ibu, ketika aku bertanya mengapa ibu rela setiap hari harus bangun petang lalu pergi kekebun, sampai siang hari berpanas-panasan hanya untuk membahagiakan anak-anaknya. Air mataku seketika menitih mendengar itu. Ibu… seorang ibu yang takkan pernah terganti, kalau kita lihat betapa besar kasih sayang ibu tidak akan pernah dapat dihitung dengan kalkulator tercanggih pun, semua itu tidak akan terhitung. Ibu yang mengandung, mengasuh, dan mendidik kita sampai akhir hayat. Terkadang aku berfikir bagaimana caraku untuk membalas semua yang sudah ia korbankan demi aku. Namun ibuku selalu berkata “melihat anak-anaknya tumbuh dewasa dan sukses itu sudah membuat ibu bangga nak”. Tetapi dalam benakku apa itu semua sebanding dengan apa yang sudah ibu korbankan? Ya, mungkin itu bisa membalas sedikit pengorbanannya tetapi belum semuanya bisa terbalas.
Tetapi ibu selalu memberiku motivasi agar aku lebih giat lagi untuk belajar agar bisa mendapatkan nilai yang membanggakan. Karena hanya aku yang bisa melanjutkan sekolah sampai kejenjang perguruan tinggi, jadi banyak beban yang kupikul demi kebahagian mereka. Aku akan berusaha membuat mereka bangga dan membayar semua usaha yang sudah ibu berikan kepada ku. Dan tak lupa juga ibu selalu berdoa diakhir solatnya semoga anak-anaknya kelak bisa sukses, karena doa ibulah yang bisa mengantarkan anak-anaknya hingga sukses kelak.
Selain itu, ibu juga pendengar setia semua keluh kesah yang aku hadapi. Ibu selalu mensupornt dalam setiap langkah kecil yang kuambil. Dan ibu selalu berpesan “jika kamu ingin menjadi orang yang sukses itu tidak mudah nak, walaupun banyak rintangan kamu harus semangat. Jika kamu lelah, jatuh, kamu harus bangkit buktikan kesemua orang yang menjatuhkanmu sampai iya tau bahwa kamu bisa sukses. Do’a ibu tidak akan terputus sampai kamu sukses nak”, dan ibulah orang yang selalu memberiku semangat.
Buatku ibu adalah harta termahal yang aku miliki didunia ini. Ku lewati 19th hidup didunia bersama ibu, walau pernah kucoba hidup ditempat berbeda jauh dari ibu, namun aku tak sanggup. Sering kuhabiskan waktuku bersama ibu, memasak bersama, membersihkan rumah dan mengikutinya dalam kegiatan agama. Banyak ilmu yang kudapat dari ibu, dia mengajariku banyak hal, terutama tentang kehidupan dan agama. Dunia dan akhirat yang sering dia ajarkan. Saat aku sakitpun ibulah penawar obatku.
Dari sinilah aku dapat mengambil ilmu yang yang beliau ajarkan, ilmu tentang sebuah perjuangan hidup yang panjang. Perjuangan seorang wanita mulia hanya untuk anak-anaknya. Dan air mataku semakin deras mengalir. Oh ibu… bagiku kau adalah pahlawan hidupku, lentera jiwa dikala aku lemah tak punya pegangan dan sosok malaikat dikala aku haus kasih sayang.
I love you mom, your compassion is infinite for me.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757