education.art.culture.book&media

29 Adalah Dua dan Sembilan

Dear kalian,

Apalah arti dua dan sembilan itu?

Apa kalian tahu kenapa aku tidak pernah menyukai momen ulang tahun? Itu karena setiap kali aku berulang tahun, aku selalu diingatkan bahwa usiaku tidak muda lagi. Aku selalu dikatakan tua setiap kali habis meniup lilin pada kue ulang tahun. (Betapa mahalnya harga yang harus kubayar untuk setiap kali meniup lilin-lilin itu). Makanya demi perdamaian dunia di dalam kepalaku tahun lalu aku ingat aku pernah menegaskan bahwa aku menolak menjadi tua. Aku ingin muda selamanya. Lagipula usia itu cuma angka kan? 29 itu cuma dua dan sembilan. Tidak lebih. (Ia tak berhak menjadi penentu tua dan mudanya seseorang).

Beberapa tahun silam aku sempat meyakini bahwa usiaku mungkin tidak sampai di angka 29. Keyakinan itu lalu menciptakan paradigma-paradigma baru. Alih-alih hidup untuk sepuluh atau dua puluh tahun lagi, aku berpikir untuk seharusnya hidup demi hari ini. Alih-alih memilih keamanan dan kenyamanan, aku memilih untuk melakukan apa-apa saja yang belum sempat kulakukan hingga hari ini. (Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari karena tidak pernah mengikuti kata hati yang baru ini). Dan aku tidak pernah menyesali pernah berpikir demikian. (Karena cara berpikir itulah yang justru  mempertemukanku dengan kalian semua).

Apa semuanya lantas happy ending ketika kita mengikuti kata hati?

Puluhan tahun yang lalu, ketika muda dan masih senaif kalian, aku pernah merasa yakin bahwa tujuan hidup itu adalah tentang satu orang itu saja—partner hidup. (Kata hatiku dulu berkata demikian—dan begitu pula yang dikatakan orang-orang). Namun aku ingat beberapa tahun yang lalu aku terpaksa harus menarik garis lurus—mulai mencoretnya dari keseharian sedikit demi sedikit. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana caranya bertahan jika sendirian. Makanya mulai saat itu aku tidak lupa mengumpulkan semua hal yang kelak akan mengingatkanku padanya—rekaman percakapan chat, telepon dan lain-lain. Suatu hari nanti jika aku membutuhkannya dan ia sudah tidak ada lagi, aku bisa menemukannya di sana—pada semua hal yang hanya hidup dalam pikiranku itu. (Meskipun pada akhirnya aku sadar bahwa aku sebenarnya tidak membutuhkan semua itu untuk bisa bertahan hidup).

Apa sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini?

(Kebahagiaan? Kebermanfaatan?) Entahlah. Sejujurnya aku tidak tahu. Semakin mencari semakin tidak kutemukan jawabannya. Tetapi yang pasti aku tahu satu hal yakni pada ulang tahunku yang keduapuluhsembilan ini aku tahu betapa kerasnya usaha kalian untuk membahagiakanku (dengan cara yang kalian yakini dapat membahagiakanku) meski pernah kukatakan dengan lugas bahwa aku tidak membutuhkan itu semua. (Apa kebahagiaan itu hanya datang di hari ulang tahun?) Bahwa hari ulang tahun itu tak ubahnya seperti hari-hari lainnya. Biasa saja. (Atau yang lebih tepat semua hari itu spesial jika bersama kalian).

Tetapi melihat kalian berusaha keras begitu (Sejujurnya kebohongan kalian kentara betul), meski aku tahu apa yang sedang kalian siapkan itu (Lampu Tumblr kan—soalnya kalian mendadak menyebutnya berulang-ulang kali dan itu benar-benar mencurigakan), aku memilih untuk berpura-pura tidak tahu, memilih berpura-pura terkejut atas Surprise Party yang telah disiapkan dari jauh-jauh hari itu. (Aku bayangkan kalian menyisihkan uang jajan sedikit demi sedikit—urunan untuk satu hari yang spesial itu. Ah, itu membuatku terharu dan… sedikit tidak tega sejujurnya. Meskipun sebenarnya kalian bisa menghadiahiku dengan hal lain yang tidak merepotkan dan mahal misalkan gambar, tulisan dan sebagainya karena bagiku ketulusan itu yang utama bukan harganya).

Akan tetapi aku akan memilih untuk diam saja. (Namun aku tidak bisa cuma “diam” saja. Jadi akan kutuliskan ya. Kutunjukkan sewaktu-waktu kepada siapa saja yang benar-benar beruntung). Lagipula untuk apa memaksakan kebenaran jika itu pada akhirnya tidak membahagiakan kita semua. Sedikit kebohongan itu rasanya tidak apa-apa kan ya. (Kebohongan yang putih—seperti yang dilakukan hampir semua orang tua. Meski uang di dompetnya tidak ada, tetapi uang saku anak-anaknya akan selalu tersedia—entah darimana uang saku itu muncul). Tetapi apa kalian tahu, dengan atau tanpa Surprise Party itu, sesungguhnya kalian tetap sama spesialnya kok.

Lagipula ulang tahun itu cuma sehari. Apalah ia jika dibandingkan dengan kebersamaan kita yang rutin dan berulang di sisa hari yang lain—yang lebih banyak tentu saja. (Namun aku harus mengakui bahwa Surprise Party itu tetap memberikan warna-warna baru bagi hari-hariku yang biasanya cuma hitam dan putih saja).(*)

Lubuklinggau, 07-09-2019 pukul 11:27

Beberapa jam sebelum Surprise Party

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757