education.art.culture.book&media

Mengenang Dia yang Sempurna

(Sebuah Review Cerpen Haruki Murakami yang berjudul On Seeing the 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning)

“Suatu pagi yang cerah di bulan April, di pinggiran jalan sempit di Harajuku, sebuah area perbelanjaan di Tokyo, aku berjalan melewati seorang gadis yang 100% sempurna” merupakan awal yang memikat dengan istilah gadis 100% sempurna yang terpikirkan olehku untuk memaknainya sebagai seseorang yang benar-benar dicintai untuk pertama kalinya yang sebutlah cinta pertama, yang diceritakan oleh seorang lelaki sebagai tokoh “Aku”.

Aku menginterpretasikan penggunaan kata 100% sempurnanya Haruki Murakami adalah sebagai metafor dari mabuk cinta pertama itu sendiri. Karena di paragraf selanjutnya ia menuliskan, “Sejujurnya, dia tidak terlalu cantik. Dia juga tidak terlalu menyolok. Pakaian yang dikenakannya tidak terlalu spesial. Dan rambutnya masih menyisakan jejak ranjang seolah tak disisir merata. Dia juga tidak terlalu muda—kuperkirakan usianya sekitar 30 tahun, dan sebenarnya tidak cocok dipanggil dengan kata ‘gadis’. Meski begitu, aku tahu saat melihatnya dari kejauhan 0.05 kilometer: bahwa dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku. Begitu aku melihatnya, ada gemuruh yang timbul di dadaku, lalu mulutku mendadak kering seperti padang pasir.” Yang mana artinya mau bagaimanapun rupa si gadis itu jika jatuh cinta ia tampak sempurna di matanya.

Tulisan Haruki Murakami pada paragraf itu mudah membuat kita menyadari bahwa kita bisa saja menyukai seseorang karena tertarik dengan pipinya yang chubby atau hidungnya yang pesek meskipun orang lain tentu tidak bersepakat bahwa itu hal yang menarik namun bagi kita wanita atau pria itu adalah yang tercantik atau tertampan di dunia. Maka demikianlah perasaan manusia itu sungguh teramat subyektif. Namun meskipun begitu kita tidak mudah menyanggahnya atau lebih tepatnya tidak mau repot-repot menyanggahnya. Karena memberi tahu keburukan tentang orang yang dicintai seseorang itu adalah kesia-siaan yang hakiki. Kata-katamu hanyalah akan menjadi daun-daun kering yang jatuh ke sungai.

Cerita lalu dilanjutkan dengan cerita si tokoh aku tentang bagaimana kesannya berjumpa gadis yang sempurnanya itu. Aku suka bagaimana Haruki Murakami membuat si tokoh bercerita tentang mengapa ketika berjumpa dengan gadis sempurnanya itu ia justru tidak menyapanya.

“Aku hanya numpang lewat di hadapannya.” Begitulah ucap si tokoh aku.

Kemudian disajikan juga cerita masa lalunya dengan sang gadis yang merupakan awal perjumpaan mereka dan bahwa sang gadis juga pernah menganggapnya sebagai pemuda 100% sempurna serta bagaimana kemudian mereka berpisah dan keduanya lalu menjalani hidupnya masing-masing, bahkan jatuh hati kepada orang lain.

Di sini Haruki mengesankan seolah-olah cinta itu seperti baterai yang dicas. Bahwa setelah cinta 100% kandas, seseorang bisa mengisinya lagi dengan orang lain meskipun terkadang hanya berisi 80% atau bahkan 70% saja.

Cerita lalu berakhir dengan ucapan tokoh “Aku”, “Cerita yang sedih bukan?” Yang dimaksudkannya untuk sang gadis yang sudah berlalu. Dan menggambarkan penyesalannya karena tidak berani mengatakan secara langsung yang tersirat dengan kalimat penutup, “Ya itu dia. Itu yang seharusnya kukatakan padanya.”

Aku lantas teringat seseorang di masa lalu. Ia adalah lelaki 100% sempurna bagi seseorang dan seseorang itu pernah amat yakin bahwa bagi lelaki itu ia adalah gadis 100% sempurnanya. Namun jika aku adalah Haruki Murakami dan hendak menuliskan kisah tentang kehidupan percintaan mereka maka aku akan menuliskannya dengan versi yang begini.

Pada suatu malam yang cerah di bulan September, ia menelepon seorang gadis 100% sempurna. Sejujurnya gadis itu tidak terlalu cantik baginya. Dia juga tidak terlalu menyolok. Dia juga tidak terlalu muda—usianya hampir mendekati 30 tahun, dan sebenarnya tidak cocok dipanggil dengan kata ‘gadis’. Meski begitu, saat mendengar suaranya dari kejauhan: ia yakin bahwa dia adalah gadis yang 100% sempurna untuknya. Begitu ia mengobrol dengannya, ada gemuruh yang timbul di dadanya, lalu mulutnya mendadak kering seperti padang pasir.

Lelaki itu sebenarnya ingin berkata pada gadis itu tentang betapa ia ingin waktu diputar seperti sedia kala. Ia ingin menghabiskan masa-masa seperti dulu lagi. Namun sayang pikiran keduanya tak lagi jernih seperti semula. Obrolan apapun tidak lagi bernilai bagi satu sama lain. Semuanya jadi terasa receh. Dan demikianlah satu malam itu hanya berakhir tanpa kesan apa-apa. Entah apalah yang dulu pernah ada sudah hilang selamanya. Selesai.

Bagaimana dengan cerita itu? Cerita yang sama sedihnya bukan?(*)

Comments
Loading...