education.art.culture.book&media

Cinta Ibu

Ini adalah tahun keduaku di kota Jakarta, ibu kotanya Indonesia. Disini aku mengadu nasib untuk membawa sebuah kebanggan ketika aku pulang ke kampung halamanku nanti. Kampung halaman yang aku tinggalkan, keluarga, dan ibu tercintaku. Aku meninggalkan mereka demi harapan untuk sebuah kesuksesan. Keadaan disini jelas berbeda dengan keadaan di kampung halamanku yang tenang dan damai. Di malam yang hening ini aku teringgat pada cerita ibuku, sewaktu aku di kampung dulu.

Ibu bercerita tentang sebuah keluarga miskin yang hidup di sebuah perkotaan yang keras, dimana yang miskin selalu tertindas oleh yang kaya. Suatu hari sang ibu dari keluarga kecil tersebut, berangkat memulung seperti biasanya demi menghidupi ke emapat anaknya yang masih kecil. Ibu tersebut adalah orang tua tunggal, ia menjadi janda karena suami meninggal ditabrak oleh orang yang tidak bertanggung jawab ketika suaminya sedang memulung. Ya, nasib orang kecil sangat sulit untuk mendapatkan sebuah keadilan di kota yang keras begitu. Setelah suaminya meninggal, ibu berkerja sendiri demi menghidupi anak-anaknya. Setiap hari ia pergi memulung, berharap mendapatkan sedikit rezeki untuk makan anka-anaknya hari demi hari.

Hari ini ibu mendapatkan hasil mulung yang lebih sedikit dari biasanya, tapi ian tetap bersyuku karena masih diberi rezeki oleh sang Maha Kuasa. Hari semakin berlalu dan hampir menjelang malam, dengan pendapat yang sedikit itu ibu pergi ke pengepul barang rongsokan untuk menjual hasil cariannya hari ini. Walaupun sedikit, setidanya sore ini ia harus membawa pulang makanan untuk anak-anaknya yang menunggu nya di rumah gubuknya yang tak layak itu. Setelah menjual ke pengepul, akhirnya ibu mendapatkan uang dua puluh ribu rupiah. Setelah mendapatkan uang tersebuat, ibu langsung pergi untuk membeli makanan untuk anak-anaknya di rumah.

Tetapi di perjalanan ketika ibu hendak membeli makanan dari hasilnya menjual rongsokan tadi. Ia melihat seorang nenek tua yang menangis di tepi jalan sambil membawa sebuah keranjang berisikan baju-baju bekas. Ibu pun menghampiri nenek tersebut “Nek, nenek kenapa menangis disini?” Tanya ibu.

Dengan terisak-isak nenek menjawab “Daganganku dari tadi pagi tidak laku nak, aku membawa baju-baju bekas untuk dijual. Tapi tidak satu pun yang laku”

Ibu melihat ke arah nenek tersebut, badan kurus dan gemetar karena dinginya malam dan nenek itu pun pasti merasa lapar. Kira ibu didalam hati. Lalu ibu mengeluarkan uang hasil kerja kerasnya hari ini dan membaginya kepada nenek tersebut “Nek, ini aku punya sedikit rezeki. Meski pun tak banyak tapi aku harap nenek bisa membeli makanan untuk dimakan hari ini”

Mata nenek pu berbinar-binar dan nenek berkata “ Terimakasih nak, atas bantuan yang kau berikan. Semoga kau mendapatkan rezeki yang lebih dari ini”

“Amin, iya nek. Nek, aku pergi dulu ya, anak-anakku pasti sudah menungguku di rumah” ujar ibu”. Ibu pun lansung bergegas membeli makanan ke warung untuk anak-anaknya, meskin pun hanya mendapatkan satu bungkus nasi, karena uangnya tidak cukup untuk membeli lebih dari satu bungkus nasi, tapi ibu tetap bersyukur.

Sampailah ibu dirumah, wajah anak-anaknya yang begitu senang menyambut kedatangannya membuat rasa lelah ibu hari itu rasa hilang seketika.

“Nak, ini makanannya makan lah. Maaf ibu hanya bisa membelikan kalian satu bungkus nasi saja”ujar ibu.

“Tidak apa-apa bu yang penting kita bisa makan hari ini” ujar Rudi anak sulung ibu. “Ayo bu, kita makan bersama” ujar adik Rudi.

“Makanlah, ibu sudah kenyang. Ibu mendapatkan rezeki lebih tadi jadi ibu sudah makan duluan. Kalian makanlah ibu sudah kenyang” ujar ibu. “baik bu” jawab anak-anaknya. Melihat anak-anaknya makan dengan lahap rasa lelah dan lapar pun terasa hilang, meskinpun tak ada sesuap nasi pun di perutnya, ibu tesenyum melihat anak-anaknya yang begitu lahapnya memakan makanan yang ia bawah.

Menginggat kisah ini membuatku teringat dan semakin rindu pada ibuku di kampung. Malam ini, entah mengapa aku merasa sedih dan sangat merindukan ibuku, bayanganya rasanya tak lepas dari mataku. Aku tak sabar menunggu hari-hari perjuanganku ini berlalu dan ingin cepat kembali ke kampung halamanku demi bertemu ibu. Aku ingi memeluknya, menciumnya, dan bersujud ditelapak kakinya. Ibu aku sangat mencintaimu, tunggu aku pulang dengan kesuksesan ku nanti bu. Aku akan membanggakanmu, terimakasih untuk segalanya bu.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757