education.art.culture.book&media

Senjaku Tetap Kamu

Sore itu cuaca sangat bagus, tidak ada kelabu yang bersemayam di atas sana. Aku yang sejak tadi memandang keluar kelas di balik jendela, melihat banyak sekali siswa-siswi yang lalu-lalang. “Arrghh.. lama sekali istirahatnya.” Ucapku dalam hati. Melihat ekspresiku yang sebal, dan aku yang selalu memandang keluar membuat temanku bertanya, “kamu lapar ya?” ia menepuk pundakku.  “oh iya nih aku lapar, aku buru-buru tadi, jadi gak sempat makan.” “Ya sudah, sebelum kemasjid nanti kita jajan dulu kekantin, lagian belum masuk waktu Ashar `kan?”  temanku yang satu ini memang yang paling pengertian. Namanya Tami gadis yang sangat menyukai olahraga yang ditekuni oleh Aprilia Manganang. Dia hebat bagiku, tangguh dan bijaksana.

Tet tet tet !

Akhirnya dering bel sekolahku pun berbunyi, menandakan waktu istirahat telah tiba. aku bersama temanku Tami bergegas keluar menuju kekantin. Tak lupa dengan membawa tas ransel merah jambu kesayanganku serta buku-buku yang sengaja aku tinggal. Berat soalnya, lagian siapa juga yang mau mengambil buku pelajaran. Hehe

Seperti biasa, jajanan favorit versi kami adalah tempe goreng, dan minumnya adalah es gula batu. Meskipun dirumah mama sering masak tempe goreng tapi entah kenapa, tempe goreng dikantin pun tidak kalah menggoda apalagi dicocol dengan sambal racikan temanku, si tami. Hmmm… kenikmatan yang tiada tara ditambah disantap dalam kondisi perut yang keroncongan.

Kemudian aku dan Tami bergegas meninggalkan kantin dan pergi menuju kemasjid. kami tidak berdua saja ada beberapa teman lainnya yang ikut bersama kami. Rara dan Nay, mereka juga teman karibku kami sudah lama sekali berteman, mungkin orang lain juga bosan melihat kami selalu bersama.

“kita duduk disini saja.” ajakan dari temanku, Nay. Kami duduk didepan asrama putri milik yayasan sekolahku. Sambil memakan tempe goreng yang kami beli di kantin tadi. Sungguh, tempat ini mengingatku dengan seseorang, lelaki berbaju kokoh abu-abu dan bawahan sarung hitam pekat. Lelaki yang tidak bisa kupandang, bahkan kabarpun tak terdengar. Namun, janjinya tempo itu masih aku ingat dan kupegang.

Dua tahun yang lalu, aku bertemu lelaki yang hanya dengannya aku benar-benar terpatri. Pesonanya benar-benar mampu membuatku jatuh hati. Lantunan suara adzannya mampu membuatku berkata kepada mama, “Ma, suatu saat aku ingin mempunyai suami seperti dia.” Dan semesta selalu mempunyai banyak cara untuk mempertemukan dua insan sekalipun ia berjauhan. Selayaknya aku dan dia yang dipertemukan tanpa aba-aba dan dengan cara yang terduga.

Dia yang kubicarakan kepada mama dan keesokannya entah ada angin apa, dia memulai pembicaraan melalui akun facebook yang kami punya. Dia bilang, “aku tahu akunmu dari temanku. Kamu yang tadi berangkat sekolah `kan?” tempat ini benar-benar mempunyai banyak arti.

Adzan pun berkumandang, aku dan ketiga temanku bergegas menuju kemasjid. Lalu, menuaikan sholat Ashar. Setelah sholat aku pun merapihkan mukenahku, dan memasukkannya kedalam tas. Tapi tidak dengan temanku, mereka lama sekali. Mungkin jilbabnya susah untuk dibentuk.  jadi, ku putuskan untuk keluar duluan memakai kaos kaki dan sepatuku. Dan tak lama kemudian Nay, Rara, dan Tami pun keluar.

“kalian lama banget si? Untung gak jamuran ni.” Aku menggerutuk.

“kalau kamu jamuran nanti kami masak. haha”

“kalian mah, ya sudah Pakai sepatu sana!”

Setelah semua temanku siap, kami pun kembali ke sekolah. Sesampainya disana, kami masuk ke dalam kelas, kami berbincang-bincang saling melempar candaan.beginilah siswa akhir madrasah tidak ada lagi jam pelajaran. Sebenarnya kami diizinkan untuk tidak ke sekolah tapi karena suntuk, sesekali kami kesekolah saja.

Drrttt.drrttt.drtttt.. panggilan telepon dari nomor yang tidak aku kenal masuk.

“Nomer siapa ya ini?” tanyaku.

“coba kamu angkat, Aiy. Mungkin penting.”

Lalu aku mengangkat telfon tersebut, dengan nada yang ragu-ragu “Assalamualaikum, Hallo! Siapa ini?”

Belum sempat ia menjawab, guruku masuk ke dalam kelas dan menghampiri kami. Sontak aku pun mematikan telvon darinya. Dan fokus dengan apa yang disampaikan oleh guruku.

“besok kalian pengumuman kelulusan dan hari ini kalian boleh pulang lebih awal.” Ujar guruku.

Kami pun bergegas merapihkan buku-buku dan memasukannya kedalam tas. Tapi hari ini, aku dan temanku tidak langsung pulang. karena ada berkas-berkas yang harus kami selesaikan dan aku harus membantu temanku mendaftarkan dirinya masuk perguruan tinggi. Ya, hari ini aku, nampak sibuk sekali. Dan tak terasa, disaat kami pulang kami disambut dengan cahaya remang jingga yang menawan. Sungguh indah, aku mengabadikan melalui kamera ponselku. Iseng-iseng sambil menunggu temanku keluar dari tempat parkir. aku pulang dengan temanku, Nay. Tiba-tiba aku mendengar suara cempreng menganggetkanku.

“eh eh ayo pulang.”

“Astaghfirullah. Kukira siapa. Ayo atuh, pulang kita.”

Sepanjang perjalanan diatas motor, aku bercerita dengan Nay. Sambil sesekali menatap langit jingga aku mengatakan bahwa sejak dari tadi aku memikirkan dia Lalu, Nay menjawab. “Kamu rindu ya? Tapi kalau jodoh gak akan kemana`kan?” “iya, Nay. Lagian gak terlalu berharap.” Munafik bukan? mengatakan tidak berharap padahal setiap malam banyak harapan yang aku langitkan.

Akupun telah sampai di depan rumah, segera aku berpamitan dengan Nay dan mengucapkan terima kasih untuk setiap tumpangannya. Dia pun melanjutkan perjalanan dan aku masuk ke dalam rumah. Rumahku hari ini sepi sekali, tidak kudengar celoteh gadis kecil mungil kami.  “Assalamu`alaikum. Kok sepi ya?” “Waalaikumsalam. Pada pergi kerumah tante, Dek.”

“Ooalah” kemudian aku duduk diruang tamu dengan memegang Handphone, tapi aku tidak mengecek ulang nomor siapa yang tadi masuk, justeru aku ingin membuka akun facebookku saja. Dan, ternyata aku mendapatkan satu pesan dari Farza. Lelaki yang sangat aku rindukan.

“Hallo-hallo! Aiyna Oktavia, Apa kabar kamu?”

“Hai, Muhammad Farza. Aku baik, bagaimana kabarmu disana? Aku rindu tauukkk.”

“Aku baik, Aiy. Aku juga rindu, tapi maaf hanya sebentar aku bisa mengabarimu.”

“Sudah kuduga pasti jawabanmu begitu, Zaa.”

“Kamu jaga dirimu baik-baik ya, Aiy.’

“Siap! Zaa, kenapa sih kamu mau sama aku?”

“kok pertanyaannya gitu.”

“kan aku jauh, Zaa.”

“Jauh? kamu tinggal dimana emang? Jupiter? Venus? Atau Mars?

“Ya gak si, masih di bumi.”

“ya udah berarti gak jauh-jauh amat.”

Aku pun menghela nafas, kesal. dia memang pintar sekali bermain kata. Selalu saja aku dibuat bungkam oleh jawabannya. Membuat dada yang berdetak tak beraturan karena menunggu jawabannya menjadi berdetak beraturan karena jawabannya. Meski terlihat manis, tapi tidak semuanya berjalan lurus. Hubungan kami renggang, aku hilang kontak dan aku memaksa diriku untuk segera melupakan. Farza layak mendapatkan yang lebih dariku.

Aku pun lulus dan aku diterima masuk disalah satu Perguruan Tinggi di kota Palembang. Aku mencoba melupakan bayang-bayang kenangan bersama Farza dan fokus terhadap apa yang menjadi tujuanku saja. Aku benar-benar menyakinkan diriku bisa hidup lebih bahagia meski tanpanya. Tapi setelah beberapa bulan, ia datang lagi. Merusak dinding pertahananku lagi, sedangkan aku teryakinkan dengan segala ucapannya. “Aku akan berubah, aku janji akan membuatmu bahagia. April aku menemuimu, Aiy.” Bualannya terhadapku.

Kupikir tidak ada salahnya memberikan dia kesempatan kedua. Kami pun berkomitmen untuk melupakan segala luka masalalu dan merangkai kebahagiaan kembali. Sungguh, kebahagiaan kali ini luar biasa, aku sampai tidak berfikir kemana-mana. Aku hanya fokus menjalani apa yang ada di depan mata, bersama Farza tentunya. Farza adalah sosok yang selalu ada untukku, disaat aku kewalahan dengan segala rutinitas dia bersedia menyodorkan telinga untuk mendengarkanku. Dari sekian banyak manusia, Farza selalu berhasil memenangkan hatiku. Farza lelaki yang baik sangat baik, mungkin ini yang menjadi alasan kenapa ia sangat digandrungi. Dan, sungguh menjadi kebahagiaan tersediri bagiku mendapat kesempatan menemaninya dari awal hingga disaat ini. Tapi, aku lupa. Bahwa semesta pun mempunyai banyak cara untuk memisahkan dua insan apabila mereka tidak saling ditakdirkan. malam itu, Farza menelfonku. aku mengangkat telfonnya dengan penuh kebahagiaan. Tapi dia memulai pembicaraan dengan nada yang beda.

 “Sayang, aku ingin bicara serius denganmu?” “Bicara apa? Langsung saja.” “Tadi, aku berbicara kepada Ibu tentang hubungan kita. Tapi..” “Tapi apa?” “Tapi ibu tidak membolehkanku melanjutkan hubungan ini. Ibuku menginginkanku untuk menikah segera dan ia sudah mempersiapkan pilihannya. sedangkan kamu? aku tahu kamu masih ingin menggapai mimpimu.” Aku tidak bisa berkata apa-apa malam itu, bibirku keluh mataku tak sudah-sudah meneteskan air mata, aku tidak mengira hal ini akan terjadi. Dia pun begitu, kami sangat mencintai namun terpisahkan oleh marga yang ia miliki. “Kamu jangan menangis, aku tak kuasa mendengar dua tangisan darimu dan ibu.” Dan untuk pertama kalinya, aku mendengar rintihan tangis darinya.“Aiy, kamu tahu? Aku yang pertama menyukaimu sejak awal.” Lagi-lagi aku hanya diam, dibungkam dengan kenyataan pahit yang kuterima.

“Tak apa, Zaa. Aku baik-baik saja, kamu jaga diri baik-baik yaa. Nitip salam untuk ibu, terima kasih untuk semuanya.” Aku pun mengakhiri pembicaraan ini, aku mematikan handphone dan menangis sejadi-jadinya. Ini keputusan yang berat bagiku dan Farza, tapi aku juga tidak bisa memaksakan kehendakku dan menjadikannya durhaka. Berharap terlalu berlebihan kepada sesama manusia memang hanya akan menimbulkan kekecewaan. Dan aku akan menata kembali dan memperbaiki yang salah. menuliskan sesuatu tentangmu, akan banyak sekali yang terangkai. aku harap kamu baik-baik saja, maaf membuatmu terlalu lama berhenti. kamu bisa melanjutkan perjalananmu sekarang.

Zaa, selamat jalan aku mencintaimu meski tidak dibersamai lagi.

 

Puput Oktaviyani, panggil saja Puput. Gadis kelahiran Musi Rawas, 09 Oktober 2001. Alamat kertayasa kecamatan sukakarya. Cita-citaku menjadi seorang guru dan penulis meski belum bagus tapi aku akan berusaha belajar dan berproses. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan di STKIP-PGRI kota lubuklinggau. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757