education.art.culture.book&media

Wanita Tercantik

Aku mengenal satu wanita yang keindahan parasnya dan kelembutan hatinya, tidak akan pernah ada yang dapat menyaingi keberadaannya. Seorang wanita yang menghabiskan sisa hidupnya  untuk tertawa; entah dusta atau nyata. Tapi hal itu akan menimbulkan kebahagiaan bagi setiap insan yang melihatnya. Sungguh, senyum wanita itu indah sekali. Kau tak akan bisa menukarnya dengan seberapa banyak harta yang kau miliki. Aku menyadari bahwa tanpanya aku sama sekali tidak berarti. Dan, setiap harinya tanpa ia sadari, ia telah mengajariku banyak hal sejak dini. jika sekarang kau bertanya “siapa wanita yang kau maksud itu?” maka jawabanku, “wanita tercantik itu adalah ibuku.” Ibuku yang tetap cantik meski ia tak muda lagi. Ibuku yang tetap cantik meski keriput menghiasi kulitnya kini. Ibuku yang rela kecantikannya hilang demi anak yang payah ini.

Aku pernah bertanya kepada ibu, “bu, tidak kah ibu menginginkan sesuatu?” lalu ibuku menjawab, “ada banyak hal yang ibu inginkan salah satunya adalah melihat anak-anak ibu bahagia. Suatu saat jika kamu telah menjadi seorang ibu, kamu akan mengerti dan merasakannya sendiri.” Aku terdiam. sembari memandang wajah ibuku dengan saksama. Ibuku terlalu tangguh sedangkan aku terlalu rapuh. Ibuku mampu menutupi segala lara yang dia rasa, meskipun kutahu ada banyak luka yang menganga. Apapun ia akan lakukan, dan menomorduakan kebahagiaannya. Semua demi apa? Demi melihat orang-orang yang ia cinta dalam keadaan bahagia.

Di pagi buta, aku selalu bersyukur karena Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk bisa melihat ibu. Mendengar celoteh ibu memarahiku, berbincang dengan ibu kapanpun yang aku mau. Aku tidak peduli perkataan orang yang bilang, “sudah besar tapi masih nempel dengan ibu.” Karena bagiku, kebersamaan seperti ini tidak akan terulang dua kali dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. karena sesuatu yang kita anggap sepele, bisa jadi sesuatu itu-lah yang akan kita rindukan suatu hari nanti. Mungkin kini, keadaan-lah yang memaksa kita berjalan lebih jauh dengan menjeda jarak dengan ibu. Namun, percayalah sejauh apapun kaki berpijak doa ibu akan selalu menyertaimu. Jadi, sudahkah kamu menghubungi ibu hari ini? jika belum segera kabari, sesederhana bertanya “Lagi apa, Bu? Ibu sehat `kan?” atau sapa-lah ibumu dengan doa-doa. Itu menenangkan, sungguh.

Menjadi orang dewasa sangat menyebalkan bukan? harus berpikir selangkah lebih maju, berkutat dengan berbagai tanggung jawab. Berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas. Terkadang aku rindu masa kecil, dimana menangis hanya karena dimarahi ibu. Dimana kecewa hanya sekedar tidak diizinkan mandi hujan, dimana menangis hanya karena kebandelanku di masa kecil lalu ibu berkata, “nanti gak jadi dibeliin sepeda loh.”  Ibu, ternyata menjadi dewasa tidak seindah ekspetasiku. Terkadang aku merasa nanar, sendu dan pilu karena cinta. Terkadang merasa kecewa, murka, dan hina karena hidup. Berulang kali aku merasa lelah, aku ingin mundur saja lah tapi aku malu denganmu, Bu. Yang selalu siap siaga mempersiapkan segala keperluanku, supaya aku bisa belajar dengan nyaman dan tenang.

Aku pernah membaca tulisan seseorang yang isinya, “selama dimuka bumi ini kamu masih bisa melihat senyum ibumu, maka hidupmu akan baik-baik saja.” Itu benar, Bu. Saat ini aku hanya takut mengecewakanmu, dan aku sadar bahwa apa yang aku keluhan hari ini tak sebanding dengan berpuluh-puluh keluh yang kau tanggung selama ini. aku tidak pernah membayangkan hidupku tanpamu, Bu. Dan aku bersyukur karena aku mempunyai ibu sehebat dirimu.

Aku pernah bercerita dengan ibu, perihal perlakuan buruk orang terhadapku. Ibu berkata, “kamu jangan seperti dia, kamu harus bisa memposisikan dirimu dengan orang lainnya. Kalau kamu tahu dia berbicara begini menyakiti hatimu, maka kamu tidak boleh memperlakukan hal yang sama ke orang lain. Siapapun dan dimanapun.” Perkataan ibu kala itu sangat membuatku tertampar dan ini yang menjadi peganganku sampai saat ini. meski tak sesempurna ibu, tapi segalanya tentang ibu akan selalu melekat dalam benak, termasuk setiap segala nasihat. Ibu tidak pernah mengajariku untuk membenci, aku belajar banyak perihal memanusiakan manusia lainnya dari ibu.

Ada salah satu cerita yang terekam dalam pelupuk sukma tentang wanita yang kupanggil ibu itu. Hari itu, ibu memintaku untuk menunggu mobil yang biasa mengangkut karet milik kami. Tapi karena kepayah-anku, aku ketiduran sehingga mobil yang tadinya berhenti cukup lamapun pergi. Dan ibu bertanya, “kenapa kamu tidak keluar?” ibu berbicara dengan nada kesal. Lalu aku menjawab, “aku ketiduran tadi, lagian kan bisa besok, Bu.” Karena biasanya pun begitu, tapi ternyata ibu mempunyai alasan lain kenapa ia memarahiku. Ia menjawab, “kamu tahu tidak? uang itu sangat dibutuhkan orang yang membantu kita dikebun itu. Istrinya sakit, dan hari ini dia harus segera mengantar istrinya berobat.” Saat ibu menjawab  aku pun merasa bersalah seandainya aku tahu dari awal mungkin aku akan tetap berjaga. Tapi saat itu ibuku terlihat sangat keren, dia paham betul kondisi orang lain meskipun terkadang ia tidak mendapat balasan yang sama. karena memang ia tidak meminta balasan apa-apa. luar biasa! 

Bu, terima kasih untuk segala hal yang ibu berikan dan yang ibu lakukan. dan maaf terlalu banyak kekecewaan. semoga Tuhan selalu membersamai kami, baik itu didunia atau setelah dunia berakhir. Aku mencintaimu, Bu. Dan menceritakan perihal dirimu membuat mataku banyak berair.

Puput Oktaviyani, biasa dipanggil Puput. Gadis kelahiran Musi rawas, 09 oktober 2001. Alamat ds. Ciptodadi kec. Sukakarya kab. Musi rawas. Prov. Sumatera selatan. Cita-cita saya menjadi seorang Guru. Menempuh pendidikan S1 program studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia di STKIP-PGRI Lubuklinggau.

 

 

 

 

Comments
Loading...