education.art.culture.book&media

Tetes Air Mata Safa (Tugas BWC #3)

Keluarga harmonis selalu menjadi dambaan setiap orang, keluarga yang selalu di hiasi dengan senyum dan canda tawa anggota keluarga menjadi kekaguman tersendiri oleh keluarga yang  lain. Terlebih jika anak-anak dalam keluarga telihat sangat bahagia hidup bersama keluarganya. Tetapi hal tersebut tidak dialami oleh sang putri kecil yang bernama Safa. Gadis kecil yang sangat baik, sopan, ramah, soleha dan sangat patuh kepada orang tua. Safa yang baru menduduki bangku SMP ini harus menerima kenyataan pahit karena ketidakharmonisan keluarganya, safa yang selalu di beda-bedakan oleh saudara tirinya, ibu tirinya Ibu Nurma yang sering sekali menyiksanya dan memperlakukan seperti pembantu, dan di tambah lagi sang ayah Pak Surya yang selalu memarahinya dan bahkan ayah kandungnya ini pun tak jarang menyiksa putri semata wayangnya ini. Sampai pada suatu ketika dengan sungguh tega dan mata yang sudah tertutup oleh hawa nafsu setan ayah kandung dan ibu tiri ini dengan teganya membunuh Safa.

Hal itu bermula ketika Safa ditinggal pergi oleh sang ibu tercinta ibu siti. Sudah dua tahun Safa di tinggal pergi oleh  ibunya untuk selama-lamanya. Pada saat itu umur Safa baru saja menginjak usia sepuluh tahun, ayah Safa yang bekerja di pabrik dan ibunya yang hanya sebagai ibu rumah tangga yang selalu dengan senang hati dan tekun mengurus anak semata wayang nya dan suami tercinta. Keluarga Pak Surya  pada saat itu sangatlah harmonis, jauh dari kata orang kaya tetapi keluarga Pak Surya selalu hidup bahagia walaupun hanya dengan apa yang mereka miliki saat ini.

Sebelum azan subuh berkumandang Ibu siti sudah terbangun lebih dahulu dari suami dan anaknya, Ibu siti bangun untuk beberes rumah dan memasak, sehingga ketika azan subuh terdengar ibu siti hanya tinggal membangunkan anak dan suaminya untuk shalat.yang pertama kali selalu dibangunkan oleh ibu Siti adalah Pak Surya “Ayah bangun yah” , “iya buk, sudah siang ya ?” sambil mengusap mukanya yang lesu. “udah subuh ini yah ayo kita shalat subuh bersama di masjid, ibu mau membangunkan Safa, ayah cepat bangun !”. beranjaklah ibu siti menuju kamar Safa untuk membangunkannya, terlihat begitu sayangnya ibu siti kepada Safa ibu siti membangunkan Safa pun dengan mengusap kening anaknya “Safa sayang bangun nak, udah subuh kita akan shalat bersama di masjid“, sambil membuka selimutnya perlahan Safa pun terbangun “iya bu, Safa bangun”, “ya sudah ibu tunggu di depan ya” ibunya pun keluar dari kamar Safa.

Keluarga Pak Surya yang tak pernah absen ketika shalat berjaah di masjid, hari itu pun mereka sekeluarga pergi ke masjid bersama untuk shalat subuh berjamaah. Safa selalu di ajarkan taat agama sejak dini oleh orang tuanya sehingga ia tumbuh sebagai gadis yang yang soleha. Sepulangnya dari masjid Ibu Siti menyiapkan sarapan untuk keluarganya, sedangkan Pak surya bergegas untuk bersiap-siap berangkat bekerja dan Safa pun ikut bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. Setelah semuanya sudah siap keluarga Pak Surya pun berkumpul diruang makan untuk sarapan bersama. Perbincangan pun terjadi “ayah mau sarapan apa ? nasi goreng atau roti saja”, Ibu Siti menawarkan sarapan kepada suaminya dengan penuh perhatian, “nasi goreng bu, tolong ambilkan !”. di ambilkanlah nasi goreng untuk sang suami. Dengan manjanya dan iri karena hanya ayahnya saja yang di perhatikan Safa pun meminta Ibu Siti melayaninya “jadi cuman ayah aja nih yang di ambilkan, Safa juga mau diambilkan ibu” , sambil mencubit pipi Safa Ibu Siti menggoda Safa “anak manja mau ibu ambilkan juga, ya sudah tunggu sebentar ya nak”, ibu siti pun dengan sigap melayani anak dan suaminya untuk sarapan pagi. Tidak lupa pula ibu siti menyiapkan bekal untuk di bawa Safa berangkat ke sekolah dan bekal untuk suaminya makan siang di tempat kerjanya. Ibu siti sangat perhatian kepada keluarganya. Setelah sarapan selesai, Safa berangkat ke sekolah diantar oleh ayahnya sebelum ayahnya pergi ke pabrik, mereka pergi menggunakan sepeda motor. Tidak lupa Safa mencium tangan ibunya dan berpamitan intuk berangkat, ibu siti pun juga selalu mencium tangan suaminya saat suami akan berangkat bekerja.

Pemandangan yang indah selalu nampak pada keluarga pak Surya setiap harinya, keluarga yang terlihat selalu harmonis dan bahagia terlihat seperti keluarga yang tak pernah ada masalah. Tetapi di balik ketegaran ibu Siti, ternyata beliau sedang sakit, ibu Siti memiliki penyakit yang sangat parah. Ibu siti menyimpan rahasia besar itu dari suami dan anaknya, Ibu Siti tidak ingin membuat Safa dan Pak Surya khawatir akan keadaannya. Ibu Siti pun belum lama mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit yang sangat parah, ia baru mengetahui pada saat sering merasakan sakit di kepalanya dan ibi siti sering mimisan, beberapa kali ia merasakan hal tersebut tetapi ibu siti tidak menghiraukan dan menganggap hanya pusing biasa saja. Tetapi pada suatu hari ibu siti merasakan sakit yang melebihi biasanya dan ia sedang dirumah sendirian, ibu siti tidak bisa melakukan apa-apa sehingga hanya di bawa tidur saja olehnya. Setelah ia terbangun belum juga anak dan suaminya pulang karena masih agak pagi, lalu pergilah sendirian ibu siti kerumah sakit untuk memeriksakan keadaannya.

Ibu siti berjalan sendirian menuju tempat menunggu angkutan umum, tetangganya terheran tidak biasanya ibu siti pergi sendirian, biasanya kemana saja ibu siti pergi selalu di temani pak surya atau Safa, “selamat pagi ibu siti, mau kemana bu pagi-pagi sudah rapi?” tanya salah seorang tetangganya menyapa ibu siti. “oh ini bu hanya mau ke apotik sebentar membeli obat”, ibu siti tidak ingin tetangganya mengetahui kalau dirinya akan pergi ke rumah sakit, karena tetangga-tetangga ibu siti sangat baik kepadanya dan selalu memperhatikan keluarga ibu siti, hal itu terjadi karena keluarga ibu siti pula sangat baik kepada tetangga-tetangganya. Lagi pula ibu siti tidak ingin tetangganya tahu nanti tetangganya memberitahu suaminya. Sesampainya ditemapt menunggu angutan umum, tak lama kemudian angkutan pun datang, di berhentikanlah oleh ibu siti, “pak ke rumah sakit medika ya’’, “iya bu” kata supir angkot. Naiklah ibu siti ke dalam angkot tersebut.

Setelah setengah jam ibu siti duduk di bangku angkot, sampailah ia di rumah sakit tersebut. Ibu siti masuk kerumah sakit dan mendaftarkan dirinya untuk melakukan pemeriksaan, ibu siti menunggu gilirannya di panggil. Karena tidak terlalu banyak yang akan periksa maka tak lama kemudian suster memanggil nama ibu siti, “ibu siti silahkan masuk”. Masuklah ibu siti keruang pemeriksaan dokter sepesialis penyakit dalam. “ apa keluhan ibu sekarang ini ?”, kata dokter bertanya kepada ibu siti. “ini dok saya sering sekali merasakan sakit kepala yang sakitnya bukan kepalang, dan ketika saya sakit kepala saya langsung mimisan, pernah pada saat itu saya sampai pingsan dok”. “baiklah bu kita periksa keadaan ibu, dan ibu harus melakukan ronsen dan cek darah” kata dokter meminta ibu siti melakukan pemeriksaan. Ibu siti merasakan takut, ia takut apabila nanti ia mengidap penyakit yang serius, sampai-sampai ia keringat dingin. Setelah pemeriksaan selesai, ibu siti tinggal menunggu hasil dari pemeriksaan tersebut. Semuanya di proses sangat cepat, hanya menunggu lima belas menit saja hasilnya sudah keluar. Duduklah ibu siti dan berbincang kepada dokter, “jadi bagaimana dok hasil dari pemeriksaan saya tadi”, dengan melihat hasil ronsen dokter pun memberitahu hasilnya kepada ibu siti, “ibu yang sabar ya, hasilnya menunjukkan bahwa ibu positif mengidap penyakit kanker otak stadium akhir”. Ibu siti pun langsung menangis, terkejut dan sangatlah terkejut mendengar pernyataan dari dokter bahwa diriny mengidap penyakit separah itu, “dokter tidak bercanda kan dok kalau saya mengidap penyakit yang mematikan itu ?” , “tidak bu, untuk apa saya membohongi pasien saya. Ibu harus sering melakukan pemeriksaan dan kemoterapi agar sakit yang ibu rasakan berkurang”. Ibu siti sangat sedih sekali karena semua itu pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sedangkan perekonomian keluarganya hanya pas-pasan. Lalu ibu siti di berikan resep obat yang harus dibeli oleh ibu siti sebelum ia pulang. Sambil menangis dan fikiran yang sudah tidak karuan lagi, ibu siti pun cepat-cepat membeli obat dan kemudian ibu siti pulang kerumah.

Pada saat ibu siti pulang kerumah untung saja Safa dan Pak Surya belum pulang, jadi tidak ada yang tahu akan kepergian ibu siti. Tetapi tak lama ibu siti dirumah Safa pun pulang kerumah memanggil-manggil ibunya, “assalamualaikum ibu, safa pulang bu” . “iya nak ibu lagi didapur, masuklah” , ibu siti cepat-cepat membasuh mukanya agar Safa tidak tahu kalu ia habis menangis, lalu ibu siti menghampiri safa. Ibu siti menyuruh safa untuk ganti pakaian cui muka dan makan siang, setelah itu  tidur siang. Ibu siti sangatlah perhatian kepada Safa, ketika safa sedang berganti pakaian ibu siti menyiapkan makan siang untuk safa. Pak surya yang selalu pulang sore maka mereka jarang sekali makan siang bersama pak surya kecualai pada saat pak surya libur bekerja.

Hari demi hari  telah dilewati ibu siti dengan menyembunyikan penyakitnya dari anak dan suaminya dan menopangnya sendirian tanpa mengeluh kepada siapapun. Hingga pada suatu ketika penyakit ibu siti kambuh, pada saat itu hari libur jadi Safa dan Pak Surya ada di rumah dan pada saat itulah pak surya dan safa mengetahui kalu ibu siti sakit. Ketika itu ibu siti sedang mencuci piring, lalu ibu siti merasakan kepalanya sangat sakit dan mimisannya lebih banyak dari biasanya sehingga membuat ibu siti pingsan dan tidak sengaja piringnya jatuh sehingga membuat safa dan pak surya terkejut. Pak surya yang tadinya masih membantu safa mengerjakan tugas sekolahnya lalu cepat menghampiri istrinya yang sudah terbaring pingsan di lantai. Melihat kondisi ibu siti safa pun menangis kencang, lalu dibawanya ibu siti kerumah sakit oleh pak surya.

Sesampainya dirumah sakit ibu siti langsung di bawa ke ICU untuk melakukan pemeriksaan, dengan sangat khawatir nya kepada ibu siti safa dan pak surya menangis dan bedoa untuk keselamatan ibu siti. Setelah dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah yang gelisah menannyakan keadaan istrinya ‘bagaimana dok keadaan istri saya, apakah dia baik-baik saja ?” ,dokter pun sedikit bingung apakah suami ibu siti tidak mengetahui penyakit yang di derita ibu siti “istri bapak saat ini kondisinya sangat kritis, penyakitnya semakin parah dan kemungkinan kecil untuk selamat” . mendengar pernyataan dokter tersebut pak surya semakin bingung sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada istrinya “sebenarnya apa yang terjadi dok ?” , “istri bapak mendidap penyakit kanker otak stadium akhir”. Pak surya sterkejut dan semakin khawatir, tak lama kemudian dokter di panggil suster karena keadaan ibu siti yang semakin kritis, doter sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi nyawa ibu siti tidak tertolong.

Pada saat itulah ibu siti pergi untuk selama-lamanya, Safa dan pak surya kini hanya tinggal berdua saja, mau tidak mau sekarang mereka yang mengurus rumah. Safa yang sangat terpuruk ditinggal pergi oleh ibu yang selalu memanjakannya terkadang sering melamun seorang diri. Begitu pula pak surya merasakan sedih yang mendalam di tinggal oleh sang istri tercinta yang selalu melayaninya dengan penuh kasih sayang. Hari demi hari telah di lewati oleh Safa dan Pak Surya tanpa adanya seorang ibu siti. Lalu terfikirlah di benak pak surya untuk mencari istri baru agar bisa mengurusnya dan mengurus safa, karena adik ipar pak surya tidak lain adalah adik kandung ibu siti telah lama menjanda dan baru memliki satu anak perempuan seumuran safa maka terfikirlah pak sura untuk menikahinya, bagi pak surya tidak ada masalah karena safa juga sudah begitu mengenal bibi dan anaknya itu.

Dengan seizin Safa menikahlah pak surya dengan bibinya, kini bibi dan anaknya yang bernama Sinta yang sekarang menjadi ibu dan saudara trinya tinggal satu atap bersama safa dan pak surya. Setelah tinggal bersama safa dan pak surya maka ibu tirinya itu bersikap selayaknya seorang istri, ia bersikap seperti apa yang dilakukan oleh kakaknya dahulu yaitu ibu siti untuk menyiapkan segala keperluan safa dan pak surya, tetapi itu semua terjadi hanya beberapa saat saja. Pak surya kini jabatannya di pabrik tempat ia bekeja sudah di naikkan, hal itu menjadikan ibu tiri besar kepala dan selalu meminta uang lebih kepada pak surya, sampai-samapi berbohong yang katanya untuk membeli kperluan rumah tetapi digunaknnya untuk foya-foya bersama Sinta anaknya.

Pak surya yang selalu memberikan uang jajan lebih kepada Safa membuat Sinta iri dan mengadukan hal tersebut kepada ibunya, hal itu yang menjadi pemula ibu tiri marah kepada Safa, saat itu pak surya sedang tidak ada dirumah maka dipanggillah safa oleh ibu tirinya “Safa kesini ibu mau bicara” ,”iya bu tunggu sebentar” . sambil meanrik tangan safa ibu meminta Safa mengeluarkan uang yang tadi di kasih oleh pak surya “mana uang yang tadi di kasih oleh ayahmu, sini kasih ke ibu. Kamu itu masih kecil tidak pantas memegang uang sebanyak ini” , “ada bu, untuk apa ibu menannyakan uang itu, bukankah ibu dan sinta juga sudah di beri uang oleh ayah”, safa menatap ibunya denagn raut wajah yang takut karena tidak biasanya ibu memarahinya. Karena safa sangat takut, dan tidak ingin di marah karena hal sepele maka di berikanlah uang itu kepada ibunya.

Ibu tiri safa semakin hari semakin semena-mena terhadap safa, kerap kali ibu dan adik tirinya itu memfitnah safa di depan pak surya, yang membuat pak surya marah kepada safa, padahal selama ini pak surya tidak pernah memarahi safa. Kala itu ibu tiri safa mengadu kapada pak surya, ia mengatakan bahwa Safa tidak pernah membantu ibunya dan Sinta untuk membereskan rumah, padahal yang setiap hari membereskan rumah dan mengurus segala keperluan rumah adalah safa. Semenjak ia tinggal bersama ibu tiri dan Sinta kerap kali ia di perlakukan seperti pembantu oleh mereka, terkadang mereka menyuruh sinta tidak kenal waktu, entah apakah Safa baru pulang sekolah yang masih capek atau malam hari ketika Sinta ingin dibuatkan makanan maka di suruhlah Safa yang mebuatkannya.

Karena kerap kali Sinta dan ibunya memfitnah Safa maka membuat pak surya saat ini lebih sayang terhadap sinta yang selalu di bangga-banggakan oleh ibunya, bahkan pak surya ayah kandung safa sering kali membeda-bedakan safa dan sinta. Pak surya sering menyanjung sinta di depan safa yang membuat safa merasa sakit hati, karena dahulu ayah yang begitu menyayanginya kini sudah tidak lagi memperdulikannya, ayah yang saat ini lebih menyayangi anak tirinya. Dan tidak jarang pak surya saat ini sering memukul safa kerena ulah dari sinta dan ibunya. Terkadang sebelum safa tidur ia sering kali menangis meratapi nasibnya saat ini, sekarang ayahnya yang sudah bisa meningkatkan perekonomian keluarga malah tidak bisa membuatnya bahagia, tidak seperti dahulu saat ibunya masih ada, walaupun mereka hidup pas-pasan tetapi kelurganya penuh dengan kebahagiaan. Rasanya ingin sekali safa pergi dari rumah karena tidak tahan lagi dengan perlakuan ayah dan ibunya tetapi ia selalu ingat pesan ibu kandungnya dahulu bahwa apapun yang terjadi ia harus selalu menjaga ayahnya.

Hari itu Sinta dan ibunya kembali memfitnah Safa, kali ini membuat sang ayah marah besar, dan merasa sangat kecewa kepada Safa. Pagi itu ibu tiri Safa berteriak-teriak sambil memanggil pak surya “yah..ayaahh, kemarilah ayah”, “iya bu, kenapa ibu ini pagi-pagi berteriak-teriak” . ibu menangis mengadu bahwa uangnya hilang “ayah uang ibu yang kemarin ayah kasih ke ibu tidak ada yah” , tanpa rasa takut Sintalangsung menuduh bahwa safa yang telah mengambil uang itu “ini pasti Safa yang mengambilnya yah, kemarin saja dia mau mengambil kalungku” , pak surya kurang percaya dengan apa yang dikatakan sinta, tetapi ibunya juga malah menyalahkan Safa “menurit ibu juga seperti itu yah, soalnya kemarin ibu melihat sendiri Safa masuk kamar Sinta dan mau mengambil kalungnya Sinta” . ayah memperjelasnya kembal dengan meminta Safa jujur kepadamya “Safa apakah benar yang dikatakan ibumu dan Sinta, jawab yang jujur”. Ibunya menatap ke wajah Safa dengan raut wajah yang seram agar sinta mengakui apa yang sebenarnya tidak ia perbuat, dengan sangat terpaksa Safa mengakui perbuatan yang sama sekali tidak ia lakukan sambil menagis “iya ayah, maafkan safa ayah safa terpaksa melakukan itu semua ayah” . karena pak surya sudah sangat kesal kepada safa dan sudah habis pula kesabarannya maka di tamparlah safa dan dihantamkannya ke tembok hingga kepalanya terbentur dan berdarah. Melihat keadaan safa yang sudah tidak sadarkan diri, pak surya merasa sangat bersalah dan langsung membawa safa ke rumah sakit, tetapi sinta dan ibunya malah tertawa melihat keadaan safa seperti itu.

Sesampainya pak surya dan istrinya bersama sinta di rumah skait mengantar safa, pak surya langsung meminta dokter untuk segera menangani safa, pak surya menangis merasa sangat bersalah dengan apa yang telah ia lakukan terhadap anak kandungnya sendiri. Pak surya tidak ingin kehilangan orang yang disayangi untuk kedua kalinya tetapi semuanya sudah terlambat, tanpa sengaja pak surya sudah membunuh anaknya. Nyawa safa sudah tidak bisa ditolong lagi, karena safa banyak kehilangan darah. Tidak ada yang tahu dengan kejadian tersebut yang sebenarnya kecuali sinta dan ibu tirinya, jadi kejadian tersebut tidak sampai ke meja hijau.

Kini hanya tinggallah pak surya bersama istri dan anak tirinya, hidup pak surya yang saat ini selalu di hantui rasa bersalah karena telah menghilngkan nyawa anaknya membuat dirinya sering melamun. Pak surya saat ini seperti orang stres yang selalu duduk sendiri dan selalu terbayang wajah safa yang membuat pak surya ketakutan, tetapi melihat kondisi pak surya saat ini istri dan anak tirinya tidak memperdulikannya sama sekali. Sinta dan ibunya malah sering kali berfoya-foya dengan uang pak surya yang saat ini pak surya tidak lagi mengurus uangnya itu. Pak surya hanya di beri makan dan minum saja selain itu sinta dan ibunya tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada pak surya.

Melihat kondisi pak surya yang semakin hari semakin parah, maka sinta dan ibunya memutuskan untuk membawa pak surya di panti sosial agar ada yang mengurus pak surya. Sekarang hanya tinggallah berdua Sinta dan ibunya dirumah pak surya, mereka berdua hidup bahagia dengan harta yang dimiliki pak surya yang kini sudah menjadi milik mereka.

Comments
Loading...

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/benny123/public_html/wp-includes/functions.php on line 4757